
Setelah mengikuti kupu-kupu Jione, Rombongan Jillua akhirnya sampai di balai desa Harmes. Mereka disambut oleh wanita dan pria yang menari diiringi suara musik yang berasal dari harpa.
Dari depan pintu balai desa, berdiri Rizieq dengan senyuman tipis di wajahnya.
"Tuan silahkan lewat sini, Ayah saya sudah menunggu anda di dalam" ucap Rizieq sambil mengarahkan tangannya kedalam pintu balai desa.
Meski sudah disambut dengan baik, tetap saja Jillua masih menyimpan keraguan dalam hatinya. Ia terus berpikir sambil melangkahkan kakinya memasuki salah satu ruang yang ditunjukan oleh Rizieq.
Di ruang itu, terdapat meja besar dengan banyak sekali makanan diatasnya. tersusun empat buah kursi di sebelah kanan dan kiri meja itu serta satu kursi di bagian depan dan belakang.
Jione yang sedang duduk di kursi paling belakang menyapa rombongan Jillua dan mempersilahkannya duduk.
"Tuan-tuan pasti sangat lelah menempuh perjalanan yang jauh, silahkan nikmati makanan yang sudah kami siapkan" Jione berkata dengan ramah dan senyum tipis di wajahnya.
Leoni sangat senang sekali melihat banyak makanan berada didepannya, tanpa keraguan sedikitpun dia langsung mengambil sendok dan pisau yang sudah disiapkan di meja lalu mengambil makanan yang ada didepannya.
Jillua memandangi makanan didepannya dengan tatapan kosong. Dia berpikir makanan yang disediakan mungkin saja diberi racun. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk tak memakan apapun karena takut hal buruk yang ada dipikirannya akan terjadi.
Namun perilaku Jillua disadari oleh Jione, dengan lembut dia menegur Jillua.
"Tuan mengapa anda diam saja, ayo makan makanan yang sudah kami siapkan. Hati kami akan sakit jika tuan tidak memakan satu jenis makanan pun"
"Maaf tetapi aku sangat kenyang, perut ku sekarang bahkan serasa ingin meledak karena banyak sekali makanan yang ku makan tadi hahahhahhaha......" balas Jillua, dia tertawa terbahak-bahak diikuti Jione yang juga ikut tertawa.
Setelah selesai makan, Leoni tiba-tiba ingin buang air kecil. Dia bertanya kepada Jione letak kamar mandi. Merespon pertanyaan Leoni, Jione kembali memunculkan kupu-kupu pengantar arah dan memerintahkannya untuk menunjukan arah kamar mandi pada Leoni.
Dengan cepat Leoni berjalan mengikuti kupu-kupu pengantar arah dan sampai di kamar mandi yang di tunjukan kupu-kupu itu.
Setelah selesai buang air kecil, Leoni segera pergi dari kamar mandi mengikuti kupu-kupu pengantar arah yang menunggunya sejak tadi.
__ADS_1
Ketika berjalan kembali ke tempat sebelumnya, Leoni melihat ruangan dengan sedikit pintu terbuka, tampak sedikit cahaya berwarna biru dari balik pintu yang terbuka.
"Cahaya apa itu?" tanya Leoni penasaran sambil melangkahkan kakinya perlahan-lahan menuju asal cahaya biru.
Ketika sampai di depan pintu ruangan, Leoni memutar kepalanya 90° ke belakang untuk memastikan tidak ada orang yang memperhatikannya.
Dengan hati-hati Leoni memasuki ruangan itu dan menutupnya kembali ketika dia sudah merasa sampai di dalam. Terlihat bola cahaya biru yang disimpan di sebuah peti keemasan.
Dengan wajah penasaran, Leoni mendekati bola itu dan menyentuhnya. Dia meraba-raba bola itu dan merasakan tekanan mana yang sangat besar dari bola itu.
"Bola ini dapat meningkatkan kekuatan sihir ku, aku akan membawanya pulang kembali ke Lypinos" Leoni berpikir untuk mencuri bola itu dan membawanya pulang ke Lypinos.
Wajar saja jika dia berpikir seperti itu, karena dengan posisinya sebagai putri bangsawan tentu saja setiap hal yang dia lakukan baik atau buruk akan dimaafkan oleh sang kaisar. Apalagi Leoni adalah tipe orang yang sangat tak peduli pada orang lain. Asal sesuatu yang diinginkannya tercapai, apapun akan dikorbankannya tak peduli nyawa manusia dan sebagainya.
Namun dari belakang tanpa Leoni sadari, berdiri Rizieq yang menatap tajam kearahnya.
Leoni sontak menoleh kebelakang mendengar teriakan Rizieq yang menyebut namanya.
"Berani sekali kau berkata seperti itu pada tuan putri sepertiku, setelah ini kau akan kuhukum"
Dengan wajah kesal, Rizieq berkata pada Leoni "Asal kau tau saja. Bola Efrouti yang kau pegang telah banyak membantu kami dalam meningkatkan kekuatan sihir kami, jika bola itu tidak ada maka tingkatan sihir kami tak berkembang lebih jauh lagi"
Bola Efrouti adalah senjata sihir yang dapat meningkatkan kapasitas mana pemakainya sehingga secara tak langsung juga dapat meningkatkan tingkatan sihir seseorang. Bola ini sangat berguna bagi penyihir karena fungsinya dan biasa digunakan untuk latihan. Bola Efrouti sangat berjasa pada Desa Harmes karena sudah 100 tahun bola ini membantu para penduduk.
Mendengar penjelasan Rizieq, Leoni menjadi semakin bersemangat untuk membawa bola itu pulang karena dia akan menggunakannya untuk meningkatkan kemampuan sihirnya.
"Jadi begitu ya, sebagai oleh-oleh dari tempat ini aku akan membawanya pulang" Leoni mengejek Rizieq sambil memegang bola Efrouti dengan kedua tangannya.
Mendengar ejekan Leoni, Rizieq menjadi semakin kesal. Dengan penuh amarah dia berjalan dengan sangat cepat menuju Leoni dan ketika sudah berada di depan Leoni, dia menamparnya dengan sangat keras hingga wajah Leoni terhempas dan memerah.
__ADS_1
"Beraninya kau!!!" Teriakan Leoni menggema di seluruh ruangan hingga terdengar di telinga semua orang yang berada di ruang perjamuan.
Jillua yang mendengar teriakan itu sontak berdiri dari kursinya dan berlari diikuti Lanara, Jione dan beberapa pengawal berototnya menuju arah suara itu.
Setelah berlari sebentar, akhirnya mereka sampai di depan ruang dengan pintu tertutup. Terdengar suara cekcok dari dalam ruangan itu.
Dari Wajah Jione sepertinya ia cukup familiar dengan tempat itu. Dia lalu memerintahkan pengawal berototnya untuk mendobrak pintu itu.
Setelah didobrak betapa terkejutnya Jione melihat putra semata wayangnya sudah beku menjadi patung es.
"Apa ini!!!" Jione bertanya dengan penasaran, wajahnya tampak marah.
"Ini adalah akibat melawan bangsawan seperti ku" Dengan enteng Leoni mendorong patung Rizieq dengan satu tangan hingga hancur berkeping-keping.
Sambil meneteskan air mata, Jione mengepalkan tinjunya erat-erat
"Kau bukanlah bangsawan melainkan seorang pelacur!!!" Jione berteriak dengan keras melihat putra semata wayangnya dibunuh tepat dihadapannya.
Jillua tak berani menatap mata Jione karena dia bisa merasakan amarah Jione yang seperti haus darah di setiap kata yang diucapkannya.
Berbeda dengan Lanara, dia langsung menghadang beberapa penjaga yang hendak mendekati Leoni dengan masing-masing tombak di tangan mereka.
"Bunuh mereka!!!"
Mendengar teriakan pemimpin mereka, para penjaga lalu mengangkat tombak mereka keatas Lanara dan mencoba menusuk kepalanya.
Namun Lanara dapat menghindarinya dengan mudah, ia bahkan berhasil melancarkan serangan balik yang membuat para penjaga itu terbunuh dengan pedangnya.
"Aku perintahkan seluruh pengawal dan penduduk desa untuk membunuh pendatang sialan ini" Jione menggunakan teknik telepatinya dan menghubungkan pikirannya dengan seluruh penduduk desa.
__ADS_1