
Bivades mendapatkan kembali kesadarannya, kini dia berada di tempat yang sangat gelap. Tempat yang terasa begitu asing baginya. Dia perlahan menyadari bahwa dia sedang berada di alam bawah sadarnya.
Bivades lalu berjalan tanpa arah menelusuri tempat itu dengan harapan menemukan setitik cahaya yang dapat mengeluarkannya dari tempat itu.
"Cahaya apa itu?" Bivades melihat setitik cahaya biru dari kejauhan karena penasaran dia berlari menuju titik cahaya itu.
Setelah berlari cukup lama, kini Bivades sampai di depan sebuah penjara besi yang memisahkan dirinya dan titik cahaya itu.
Dengan nafas terengah-engah, Bivades berjalan mendekati penjara itu dan berniat membukanya.
Ketika tangannya menyentuh tiang besi penjara, cahaya biru yang sangat terang muncul tiba-tiba di depannya. Rupanya titik cahaya yang ia lihat adalah roh binatang miliknya sendiri, Phoenix.
"Aku tau niat mu datang kemari Bivades, kita sudah lama bersama sebelumnya. Tak ku sangka kau berakhir seperti ini" Seakan mengetahui niat Bivades, Phoenix berkata dengan lembut, namun ekspresi tegang tampak di wajahnya.
Bivades menundukkan kepalanya dan mengigit giginya satu sama lain lalu berkata sambil meneteskan air mata dari wajahnya.
"Dari dulu aku memang sangat menyedihkan bahkan sampai akhir hayat ku. Aku bahkan tak mampu menjaga Adelio dengan baik. Apalagi membalas dendam pada Lypinos, perbedaan kekuatannya terlalu jauh"
"Ya, pada akhirnya kita akan berpisah juga. Aku bisa menebak apa yang kau pikirkan sekarang. Kau pasti akan meminta padaku untuk menjaga Adelio selagi kau pergi. Itu merepotkan"
"Kau sudah tahu rupanya. Tak ada yang bisa kuharapkan selain kau untuk menjaga Adelio. Oleh karena itu aku memohon padamu" Bivades bersujud dan memohon pada Phoenix sambil menangis.
"Ya apa boleh buat, aku sendiri ingin melihat perkembangan anak itu"
"Terima kasih Phoenix, ku mohon jagalah Adelio bantu dia membalaskan dendam Fotia!!!"
Tepat setelah berkata seperti itu, Bivades kembali sadar dari pingsannya dan kini tepat di depan matanya. Lanara sudah berada di depannya dengan pedang yang dihunuskan di atas kepalanya.
Ingatan tentang masa kecilnya bersama ibunya tiba-tiba terlintas dipikirannya.
Dia tiba-tiba berada di depan rumah kecil yang tampak dikenalinya. Tiba-tiba seorang anak kecil membuka pintu keluar dari rumah itu disusul ibunya. Kedua orang itu meski hidup di tempat yang kumuh, namun kebahagiaan tampak dari senyuman wajah mereka.
__ADS_1
Bivades dengan wajah yang suram menatap anak itu dengan sinis. Dia menyadari anak itu adalah dirinya dan ibu yang berada di belakangnya adalah ibunya.
Anak itu lalu berlari menjauhi ibunya dan berputar kembali mendekati ibunya, namun tiba-tiba anak itu berubah menjadi orang dewasa dengan air mata yang menetes dari wajahnya, dia berlari dengan penuh emosi menendang pintu rumahnya hingga terdorong kebelakang.
Melihat anak itu yang tak lain adalah dirinya sendiri, mata Bivades terbuka seakan mau keluar. Dia kembali mengingat sesuatu tentang asal usulnya.
Sambil berlari, Bivades mengikuti anak itu sampai ke dalam. Wajahnya seketika membeku melihat anak itu menangis di samping ibunya yang terbaring di kasur sambil memejamkan mata. Wajah ibu itu terlihat sangat pucat.
Bivades lalu memfokuskan pandangannya pada sebuah lukisan yang terletak di meja tepatnya di sebelah kasur ibu itu. Tampak lukisan seorang pria dengan baju zirah bersama seorang anak kecil berumur delapan tahun dan seorang wanita yang raut wajahnya sama dengan ibu itu.
"Itu aku kemudian ibuku dan ayah ku yang meninggal karena perang" Bivades bergumam sambil mengingat masa lalunya. Tiba-tiba tanpa ia sadari air mata sudah menetas dari wajahnya, sontak Bivades mengangkat tangannya untuk mengusap air matanya.
"Apa ini???" Bivades sangat terkejut, tiba-tiba tempat disekitarnya berubah menjadi sebuah jalan lurus dengan hutan yang sangat lebat disekitarnya. Dia berada ditengah-tengah jalan.
"Hik ... hik ... hi... hik"
Mendengar suara kuda, Bivades sontak mengarahkan pandangannya pada arah suara itu. Dia melihat sebuah kereta kuda dengan beberapa pengawal berkuda bersenjata tombak berjalan kearahnya.
Terbesit di benak Bivades mereka tidak dapat melihatnya, ia lalu berlari menghampiri salah satu pengawal berkuda dan menyentuh kudanya. Wajahnya seketika membeku ketika tangannya bisa menembus tubuh kuda itu.
"Kalian semua berhenti!!!" muncul beberapa orang dengan jubah hitam mengenakan topeng diwajahnya menghadang kereta kuda yang ingin melewati jalan itu.
"Kalian ini siapa?" salah satu pengawal berkuda maju mendekati orang bertopeng diikuti pengawal lainnya.
"Serahkan seluruh harta yang kalian bawa pada kami" Orang bertopeng lalu memunculkan pedang hitam dari tangannya dan menancapkan-nya ke tanah.
Tiba-tiba terbentuk kubah hitam tembus pandang disekitar pengawal yang menghalangi mereka untuk mendekati orang bertopeng.
"Sialan!!!, keluarkan kami dari sini!!!" salah satu pengawal berteriak karena kesal tak dapat melewati kubah hitam itu.
"Hahahha ... Kami akan mengeluarkan kalian jika berhasil merebut harta yang ada di dalam kereta itu" Sambil berjalan dengan santai, beberapa orang bertopeng mendekati kareta itu.
__ADS_1
Kusir yang ketakutan langsung melompat dari keretanya dan berlari sekencang-kencangnya menjauh kereta itu.
"Keributan apa ini?" Terdengar suara lembut wanita dari dalam kereta bersamaan dengan pintu kereta yang terbuka.
Bivades yang hanya memperhatikan sejak tadi, ternganga karena terkejut. Dia sangat mengenali wajah wanita yang keluar dari kereta itu.
"Bukankah kau ratu dari Kerajaan Fotia. Hahahaha..., kau pasti memiliki banyak sekali harta di kereta mu?"
"Jika kau memang menginginkannya ambilah tetapi lepaskan para pengawal ku!!!"
"Kau pikir kami bodoh, jika kami melepaskan mereka. Sudah pasti mereka akan menghabisi kami"
"Kalau begitu, ambilah semua harta yang ada di kereta ini dan kalian bisa pergi dari sini"
"Kami rasa kami akan membawamu juga hahahaha...." tertawa orang bertopeng yang berada paling depan, dia adalah pemimpin mereka.
Wajah Bivades terlihat kesal, sambil mengepalkan tangannya dia berlari kearah orang bertopeng dan memukulnya, namun usahanya sia-sia karena pukulannya malah menembus wajah orang bertopeng itu tanpa memberikan luka sedikitpun.
"Kalian para bandit hentikan perbuatan kalian!!!"
Sontak semua orang yang ada di tempat itu mengarahkan pandangan mereka kearah asal suara.
Dari belakang orang bertopeng muncul seorang pria dengan badan kekar berteriak dengan keras. Sambil menarik gagang pedang dari pinggangnya, ia menantang orang bertopeng itu untuk berduel.
"Kau ini siapa?, sok jago sekali, kau pikir bisa mengalahkan kami?" tanya pemimpin orang bertopeng dengan nada meremehkan.
"Kalian sudah menghabisi dan merampok nyawa teman baikku. Kali ini aku tak akan melepaskan kalian semua!!!"
"Ohh..., yang kemarin ya. Salahkan saja dia kenapa dia terlalu lemah?"
"Kalian!!!!" Dengan serangai gigi yang tampak dari wajahnya, Pria itu maju. Niat membunuh tampak dari tatapan wajahnya.
__ADS_1