Kaisar Cahaya

Kaisar Cahaya
Binatang Roh Agung


__ADS_3

"Tingkat ke-4! Kapasitas mana: Rendah!" Ketika Adelio menyentuh bola itu, suara aneh terdengar ditelinga nya.


Dia mundur perlahan dan bertanya kepada Bivades "Paman apakah paman mendengar suara itu?"


"Hmm ... Adelio kau sama sepertiku" Tampak ekspresi kecewa dari wajah Bivades. Wajar saja jika ia kecewa, biasanya anak dari keluarga bangsawan harusnya memiliki kapasitas mana yang besar, meski tanpa berlatih sekalipun karena itu adalah bawaan dari keturunan.


Di benua Petra keturunan bangsawan yang memiliki mana rendah dianggap cacat dan sampah. Doktrin kekuatan diukur berdasarkan garis keturunan sudah melekat sejak zaman dahulu. Satu-satunya cara mengatasi masalah ini adalah dengan menyegel binatang roh agung kedalam jiwa seorang bangsawan yang dianggap cacat. Otomatis kekuatan dan kapasitas mananya akan meningkat pesat dan sejajar dengan bangsawan yang terlahir dengan mana besar.


Adelio sangat sedih mendengar Bivades berkata seperti itu, ia menegaskan walaupun dirinya terlahir dengan mana yang sangat rendah tetapi dengan kerja keras dan terus berlatih. Menjadi penyihir terkuat bukankah sesuatu yang mustahil baginya.


Perkataan Adelio membuat Bivades terharu dan bangga memiliki murid seperti Adelio. Setelah itu, Bivades menyuruh Adelio meniru gerakan yang ia lakukan. Dibanding mengajarkan sihir Bivades lebih mengutamakan ketahanan fisik, oleh karena itu ia mengajarkan bela diri kepada Adelio.


Adelio berhasil meniru gerakan yang diperagakan oleh Bivades dengan sangat mudah. namun pelatihan ini membuatnya kelelahan. Ia meminta untuk diberi waktu istirahat sebentar.


Permintaan Adelio disetujui oleh Bivades, ia juga merasa bahwa dirinya terlalu keras kepada Adelio padahal Adelio hanyalah anak kecil berusia delapan tahun tetapi ia memaksanya berlatih dengan porsi orang dewasa.


"Paman aku lapar, apakah paman mempunyai makanan?" pinta Adelio terdengar suara keroncongan dari perutnya ketika ia berbicara.


"Tentu saja, kau tunggu sebentar disini dan jangan kemana-mana!!!" Bivades segera berubah menjadi bentuk Phoenix sempurna dan terbang mencarikan Adelio makanan.


Sembari menunggu, Adelio terus melatih gerakan yang diajarkan oleh Bivades padanya sampai ia kelelahan dan tertidur pulas dibawah pohon beringin besar. Saat ia tertidur terdengar teriakan seorang wanita yang membuatnya terbangun.


"Dari mana asal suara ini" Adelio berdiri perlahan-lahan dan mencari asal suara yang mengganggunya.


Adelio berjalan selangkah demi selangkah dan berhenti tepat dibelakang batu besar yang berada di dekat sungai. Tampak seorang gadis muda dengan gaun bangsawan yang basah sedang memarahi pria yang berada di sampingnya.


"Hahahaha ... rasakan itu!!!" Pria yang berada di sampingnya menunjuk kearah gadis muda itu dan tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


"Ihhhh ... Aku akan menghajarmu Agusto!!!" Gadis muda itu sangat marah, wajahnya memerah dan mengejar Agusto yang mendorongnya hingga basah.


"Meliona ayo kejar aku" Agusto mengejek dengan tersenyum dan terus berlari menghindari Meliona.


Adelio yang sedang mengintip dari jauh berusaha mendekatkan pandangannya, namun ia justru terpeleset dan jatuh tercebur ke sungai.


Meliona dan Agusto yang sedang kejar-kejaran sontak terkejut mendengar suara yang berasal dari sungai. Mereka langsung mengarahkan pandangannya kepada Adelio yang sedang berenang mendekati mereka. Betapa kagetnya mereka melihat seorang anak lelaki seumuran mereka muncul dari balik sungai.


"Hey rakyat jelata siapa kau" Agusto bertanya dengan menunjuk dada Adelio dan merendahkannya.


"Jangan sentuh aku!!!" Adelio tersinggung dengan ucapan Agusto, ia mengangkat tangannya dan menyingkirkan tangan Agusto yang menunjuknya.


Agusto tak terima dengan perlakuan Adelio terhadapnya. Ia memunculkan bola api kecil dari tangannya dan melemparkannya kearah Adelio.


Merespon serangan Agusto, Adelio lalu memiringkan badannya dan berhasil menghindar dari serangan Agusto. Ia lalu berlari mendekati Agusto dan memukulnya hingga terbaring ketanah.


"Kau pantas mendapatkannya" Alih-alih mendukung Agusto, Meliona justru mengejeknya dan mendukung Adelio.


Meliona sangat kagum melihat Adelio, ia segera menghampirinya dan berkata "Pukulan mu sangat bagus, perkenalkan aku Meliona kalau kau siapa namamu?"


"Aku Adelio, aku ingin bertanya apakah kau sekarang bangsawan?"


"Ya, aku berasal dari kerajaan florist. Kerajaan kami dan Lypinos bersaudara karena Ayahku adalah adik dari Kaisar William"


Adelio terkejut mendengar pernyataan Meliona. Wajahnya menjadi cemberut karena Meliona mempunyai hubungan dengan orang yang paling ia benci dan ingin dia bunuh.


"Kau tidak apa-apa kan?" Meliona heran melihat Adelio memandanginya dengan tatapan kosong, ia lalu melambaikan tangannya di depan wajah Adelio.

__ADS_1


"Oh maaf aku tidak apa-apa" Adelio sontak mengedipkan matanya ketika Meliona melambai didepan wajahnya dan menggaruk kepalanya dengan senyum kebingungan.


"Meliona kemarilah!!!"


Terdengar teriakan keras memanggil Meliona dari arah belakangnya. Meliona lalu berpamitan kepada Adelio dan berjanji "Aku pasti akan menemuimu lagi" setelah itu, ia berlari meninggalkan Adelio menuju asal suara yang memanggilnya.


Adelio tersenyum tipis ketika Meliona berpamitan kepadanya. Tak lama setelah itu, muncul Bivades yang terbang mendekati Adelio.


"Kau ini darimana saja, aku kesulitan mencari mu" Bivades mendarat disamping Adelio, wajahnya tampak kesal karena Adelio tak menuruti perintahnya.p


"Paman aku minta maaf tadi aku mendengar suara misterius yang berasal dari tempat ini tetapi aku tak menemukan apapun" Adelio berbohong soal pertemuannya dengan Meliona dan Agusto.


"Tidak apa-apa sekarang naiklah kita akan kembali ke tempat pelatihan tadi dan menyantap buah yang aku dapatkan di hutan" Adelio menaiki punggung Bivades dan terbang menuju tempat pelatihan tadi.


Ketika sampai mereka berdua disambut oleh banyak sekali buah-buahan seperti pisang, apel, mangga, dan nanas. Buah-buahan ini didapat oleh Bivades ketika menyusuri hutan.


Sambil memakan buah-buahan, Bivades menjelaskan bahwa buah sangat bagus untuk tubuh dan dapat meningkatkan kekuatan fisik seseorang.


Mendengar perkataan pamannya, Adelio semakin bersemangat memakan buah-buahan yang ada didepannya. Saking semangatnya dalam waktu lima menit saja seluruh buah tersedia habis tak tersisa dimakan oleh Adelio.


Bivades sangat heran melihat kemampuan Adelio yang dapat menghabiskan banyak makanan dalam waktu yang sangat cepat. Ia membuka mulutnya sedikit dan menatap Adelio dengan ekspresi bingung karena baru kali ini dia melihat pemandangan seperti itu.


Setelah selesai makan, Bivades menyuruh Adelio untuk berlari menyusuri hutan sejauh yang ia bisa. Adelio pada awalnya menolak permintaan ini tetapi Bivades membentaknya sehingga mau tak mau ia harus melakukannya.


"Paman apakah tidak ada pelatihan lain" Adelio mengeluh dan berusaha merayu Bivades untuk menggantinya dengan metode lain.


"Tidak ada segera lakukan!!!" Bivades membentak Adelio dan menyuruhnya melakukan apa yang ia minta.

__ADS_1


Adelio berusaha berlari sekuat tenaganya dan melihat sebentar keatas langit, tampak Bivades dengan wujud Phoenix sempurna sedang memantaunya.


Setelah lama berlari, Adelio tidak mampu lagi melangkahkan kakinya dan langsung terbaring ke tanah dengan lidah menonjol dari mulutnya, ia sangat kehausan dan lelah.


__ADS_2