
"Kurasa kalian lelah, lebih baik kalian beristirahat saja di rumahku untuk sementara waktu" ajak gadis kecil itu, ia berjalan didepan Bivades dan Adelio menunjukkan jalan kearah rumahnya.
"Ngomong-ngomong siapa namamu" tanya Bivades, ia mencoba berkenalan dengan gadis kecil yang ditolongnya tadi.
Nama gadis kecil itu adalah Viony. Dia adalah seorang gadis yatim piatu yang seumuran dengan Adelio. Di usianya yang belia, dia harus bekerja keras untuk menghidupi dirinya dan neneknya yang sakit-sakitan.
Setibanya di rumahnya, Viony segera membukakan pintu dan mempersilahkan Adelio dan Bivades untuk masuk. Vioni meminta mereka untuk duduk dan menunggu sebentar karena dia akan pergi ke kamar neneknya untuk memberikan pil penyembuhan tingkat 5 yang dicuri dengan susah payah dari tabib desa.
Ketika duduk, Adelio memperhatikan kondisi rumah Viony yang sangat memprihatinkan. Kayunya sudah mulai rapuh, kursinya mudah goyang, dan debu dimana-mana seperti rumah yang sudah lama tak terurus. Selain itu, rumahnya juga sangat sempit dan kecil, Adelio tak yakin bisa betah tinggal di rumah seperti itu apalagi ia merupakan pangeran kerajaan yang sudah terbiasa hidup mewah.
Bivades memandangi Adelio yang tampak risih, ia tersenyum tipis dan berkata "Aku tau apa yang kamu pikirkan. Untuk sekarang kita hanya bisa membiasakan diri dengan keadaan Kita sekarang"
Adelio tersenyum, dia memegang tangan pamannya dan berkata dengan lembut "Paman tak papa tak usah dipikirkan"
Wajah Bivades menjadi muram mendengar perkataan Adelio, ia merasa bersalah tak mampu memberikan tempat tinggal yang nyaman untuk Adelio. Dalam hatinya, ia berjanji akan mendidik Adelio menjadi penyihir terkuat di Benua Petra.
"Uhuk ... uhuk!!!"
Saat sedang sibuk berbincang, terdengar suara batuk-batuk yang berasal dari dalam kamar. Sontak Adelio dan Bivades berdiri dan berlari menuju kamar tempat dimana suara itu berasal.
"Apa yang terjadi???" betapa terkejutnya mereka melihat darah yang keluar dari mulut nenek membasahi permukaan lantai.
"Tak perlu khawatir ini adalah efek samping dari pil penyembuhan tingkat lima" Viony berusaha menenangkan Bivades dan Adelio yang khawatir dengan kondisi si nenek.
__ADS_1
Efek samping dari pil penyembuhan tingkat lima membuat orang yang meminumnya akan terus memuntahkan darah segar dari mulutnya, jika orang yang meminumnya dapat bertahan selama Lima menit maka dia akan sembuh tetapi jika tidak maka dia akan mati.
"Nenek kumohon bertahanlah lima menit saja" mulutnya mengeluarkan sedikit suara tangisan, air mata mengalir di pipinya, Perasaan dingin muncul menyebabkan kekhawatiran diwajahnya.
Melihat wajah sedih Viony, membuat Bivades merasa kasihan. Dia ingin sekali membantu tetapi tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Tiba-tiba terlintas ide dipikiran Adelio, api biru Phoenix pamannya bisa menyembuhkan dan meregenerasi bagian tubuh yang rusak. Ia kemudian menarik baju pamannya dengan lembut dan berkata "Paman bukankah api biru paman bisa menyembuhkan luka?, gunakanlah api biru paman pada nenek Viony mungkin itu bisa menyembuhkannya"
"Api biru paman memang dapat meregenerasi luka tetapi itu berlaku untuk paman sendiri" jawab Bivades. Wajahnya tampak ragu dan kepalanya tertunduk.
"Gunakan saja paman cobalah aku yakin itu akan berguna" Adelio mencoba meyakinkan pamannya untuk menggunakan kemampuan api biru miliknya, ia juga merasa kasihan dengan kondisi nenek Viony.
"Baiklah mungkin ini akan bekerja" Bivades menyelimuti tangan kanannya dengan api biru dan menaruhnya di atas kepala nenek itu.
"Hentikan!" tangis Viony tak terbendung, ia meneriakan kata itu berulang kali hingga Bivades mengangkat tangannya dan meniadakan api birunya.
Setelah api biru dinonaktifkan, nenek itu pingsan membuat Viony menjadi cemas. Dia kemudian menempelkan telinganya pada dada sang nenek, alangkah terkejutnya dia mendengar suara jantung neneknya yang masih berdetak. Sebelumnya dia sempat mengira neneknya akan meninggal tetapi pengobatan api biru berhasil. Ia sangat berterimakasih pada Bivades dan Adelio yang telah membantu mengobati neneknya.
"Ku rasa ada suatu rahasia mengenai api biru yang belom ku ketahui. Aku sempat mengira api biru ku hanya dapat mengobati diriku sendiri tetapi juga dapat mengobati orang lain " Bivades berkata dalam hatinya.
"Paman sihir api biru paman sangat hebat, aku juga ingin memiliki kekuatan seperti paman" pinta Adelio.
"Kau tenang saja, paman akan mewariskan semua ilmu paman pada mu"
__ADS_1
"Bagaimana caranya paman?" tanya Adelio dengan tegas. Ia ingin segera menjadi penyihir yang kuat agar bisa membalaskan dendam kedua orangtuanya dan merebut kembali tanah kelahirannya.
"Esok bangunlah lebih awal, akan kutunjukan padamu cara menjadi lebih kuat"
Saat fajar tiba Adelio bangun lebih awal. Ia mendapati Bivades sudah tak ada lagi di sampingnya. Ia segera bergegas keluar rumah dan mendapati Bivades yang sedang berdiri menatap fajar.
"Baguslah kalau kamu sudah bangun. Sudah waktunya kita pergi. Paman akan menunjukkan sesuatu padamu"
Bivades berjalan di depan dan memimpin perjalanan. Ia tak memberitahu tempat yang akan dituju. Keduanya terus berjalan melewati hutan bambu yang sangat luas hingga siang pun tiba.
"Huu ... paman ... paman"Adelio menghela nafas. Dia duduk di tanah dan menatap Bivades yang terus berjalan tanpa memperdulikan nya. Setelah beberapa saat, dia berdiri, dan sambil terhuyung-huyung, dia bergegas mengejar Bivades yang sudah menjauh darinya. Nafasnya terengah-engah, dia sekali lagi memanggil Bivades tetapi usahanya sia-sia, Bivades tetap tak memperdulikannya dan terus berjalan.
"Oke kita sudah sampai"
Setelah berjalan cukup jauh akhirnya mereka sampai di puncak gunung bambu. Adelio menghela nafas, dia sangat lelah dan langsung terbaring di atas tanah.
"Adelio berdirilah dan lihat pemandangan ini" Bivades berteriak dengan posisi tangan berada di belakang, tangan sebelah kiri menggenggam tangan sebelah kanan.
Adelio berdiri dan menatap tajam sekelilingnya, tampak hutan yang sangat lebat dan desa Hermes dari atas puncak. Ia bertanya-tanya kepada pamannya "Ada apa di puncak ini?"
Bivades tersenyum tipis dan menjawab "Adelio apa yang kau lihat adalah bagian dari benua Petra, tempat dimana yang kuat akan jadi pemenang dan yang lemah akan jadi pecundang. Untuk bertahan di benua ini kau harus menjadi penyihir terkuat"
Bivades lalu memunculkan bola sihir dari tangannya dan menyuruh Adelio menyentuhnya.
__ADS_1
Bola sihir itu dapat mengetahui kapasitas mana yang dimiliki oleh penyihir ketika disentuh, serta dapat menentukan tingkatan penyihir. Di benua Petra tingkatan penyihir terbagi menjadi lima tingkatan yang pertama dari yang paling rendah adalah tingkat empat, di tingkatan ini biasanya berisi penyihir pemula yang baru mempelajari sihir dengan kapasitas mana rendah. Di tingkat selanjutnya adalah tingkat tiga, orang yang sudah mencapai tingkatan ini dinilai sudah cukup terampil dalam menggunakan sihir. lanjut di tingkat kedua, biasanya yang berada di tingkat kedua adalah penyihir berpengalaman yang memiliki kapasitas mana besar dan mampu menggunakan teknik sihir dengan baik. Setelah tingkat kedua kini tingkat pertama, orang yang mencapai tingkat ini adalah penyihir berpengalaman dengan kapasitas mana yang sangat besar, kemampuan menggunakan teknik sihir di atas rata-rata, dan semangat tempur yang luar biasa. Setelah tingkat pertama masih ada tingkat selanjutnya, yaitu tingkat spesial, tingkatan penyihir dengan kekuatan yang sangat besar dan daya rusak serangan yang mampu menghancurkan wilayah musuh. Meski tingkat spesial terdengar menakutkan bukan berarti tingkat dibawahnya tak bisa mengalahkannya, semua tergantung kemampuan masing-masing penyihir dalam berpikir dan bertarung.