Kaisar Cahaya

Kaisar Cahaya
Akademi Sihir Vasilias


__ADS_3

Di halaman istana yang sangat luas telah berjejer beberapa kuda berwarna putih dengan kereta emas dihiasi permata di belakangnya.


Beberapa pengawal yang menunggu kuda-kuda itu sejak tadi, berjalan mendekati pintu kereta dan membukakannya.


Tampak seorang anak lelaki keluar dari pintu itu. Ia mengenakan seragam berwarna biru tua yang dilengkapi simbol daun Semanggi kecil di dadanya.


Dari balkon istana, berdiri tiga tetua Vasilias yang sedang menatap tajam kearah anak lelaki itu dari kejauhan.


"Tak diragukan lagi dia adalah Biavas, sudah lama aku tak bertemu dengannya"ucap Hyobero sambil mengelus janggut putihnya.


"Jadi dia Biavas, aku ingat ketika ia lahir mana dalam tubuhnya bahkan sampai tumpah karena saking besarnya" balas Virgo salah satu tetua yang berdiri di sebelah kiri Hyobero.


Di sebelah kanan Hyobero, berdiri Victor dengan senyuman tipis di wajahnya sambil memegang tongkat ia berkata "Anak ini sangat dicintai oleh mana, aku yakin ia akan melampaui kita di masa depan"


Banyak sekali anak seumuran Biavas berada di tempat itu. Pakaian yang dikenakan mereka juga sama dengan yang dikenakan oleh Biavas karena pakaian itu khusus dibuat untuk dikenakan murid Akademi Vasilias saja.


"Baiklah semuanya!!!"


Semua murid sontak melempar pandangan kearah suara keras yang terdengar ditelinga mereka.


Orang yang bersuara keras itu adalah Yonas, seorang pria yang ditugaskan sebagai guru yang akan mengajari mereka di Vasilias.


Yonas menepuk tangannya tiga kali dan tiba-tiba muncul sebuah cermin raksasa yang membuat semua orang yang menyaksikannya sangat terkejut.


Cermin itu adalah pusaka sihir Vasilias yang dapat mengukur kapasitas mana, daya rusak, dan menentukan tingkatan seorang penyihir.


"Baiklah silahkan, Biavas!!!"


Mendengar suara Yonas, Biavas dengan santai berjalan dari dalam kerumunan. Saat ia menampakan wajahnya di depan cermin. Terdengar suara "Tingkat ke-2! Kapasitas mana: besar!" dari dalam cermin.


Mendengar cermin membacakan hasilnya, Biavas tersenyum dengan bangga.


"Bagaimana mungkin?"

__ADS_1


"Benar-benar bakat yang luar biasa!"


Pujian terus berdatangan dari gerombolan orang yang menyaksikan kejadian itu. Tak heran karena biasanya murid Vasilias yang baru masuk hanya mendapat peringkat ketiga saja karena itulah Biavas dianggap sebagai orang yang sangat spesial karena mendapat peringkat kedua.


"Selanjutnya, Alexander!"


Seorang murid Vasilias berjalan dengan wajah yang sangat pucat menatap tajam kearah cermin, tampak tangannya sangat gemetar.


"Tingkat ke-4! Kapasitas mana: Rendah!"


Segera setelah hasilnya diumumkan, murid-murid lain disekitarnya mulai mengejek dia.


"Tingkat 4?, Benar-benar tak pantas menjadi seorang bangsawan"


"Kau harusnya terlahir sebagai rakyat jelata saja!"


"Raja Gousya pasti malu memiliki penerus seperti mu!"


"Tunggu!"


Biavas menghampiri Alexander dan menghiburnya agar tak sedih mendengar ejekan murid lain. Namun Alexander masih memikirkan kejadian memalukan yang menimpanya. Tatapan matanya tampak seperti orang linglung.


Setelah tingkatan sihir semua murid baru sudah ditentukan maka Yonas menyuruh mereka untuk mengikutinya memasuki istana besar yang disebut sebagai Vasilias.


Didalam istana itu berdiri bendera dari seluruh kerajaan yang menjalin kerja sama dengan Vasilias. Tampak juga lukisan pemimpin Vasilias dari awal didirikan hingga saat ini.


Ketika semua murid sedang sibuk memperhatikan benda-benda yang berada di istana. Yonas menepuk tangannya kembali, seketika semua murid berpindah tempat dan berada didalam kamar masing-masing.


Biavas yang terkejut tiba-tiba berada didalam kamar langsung berlari membuka pintu dan keluar melihat sekelilingnya.


Betapa herannya Biavas melihat murid lain yang ikut keluar dari dalam kamar, rupanya semua murid mengalami hal serupa dengan yang dialami oleh Biavas.


Ketika Biavas memejamkan matanya selama beberapa saat, tiba-tiba ia sudah berada di aula yang sangat luas bersama murid-murid lain.

__ADS_1


"Yang kalian lihat barusan adalah tehnik sihirku, aku dapat memindahkan objek sesuai dengan yang ku inginkan" Yonas menjelaskan tehnik sihirnya.


Di benua Petra tehnik sihir terbagi menjadi dua yaitu teknik bawaan dan tehnik dasar. Teknik bawaan adalah teknik yang menjadi ciri khas masing-masing penyihir dan hanya orang-orang tertentu yang bisa menguasainya . Setiap penyihir bisa saja memiliki teknik bawaan yang sama ataupun berbeda sedangkan teknik dasar adalah teknik yang bisa digunakan oleh semua penyihir jika dipelajari.


"Baik ... silahkan kalian semua baca buku sihir yang ada didepan kalian" Yonas menepuk tangannya dua kali dan muncul buku sihir dengan simbol daun semanggi. Buku itu terbuka dengan sendirinya dan berhenti dihalaman dengan gambar sayap berwarna hitam.


"Terbang adalah salah satu teknik dasar dalam dunia sihir. Perhatikan aku" Yonas memunculkan sayap dari punggungnya dan terbang perlahan-lahan.


"Cobalah cermati tulisan yang ada dibawah gambar sayap berwarna hitam" perintah Yonas.


Tertulis dihalaman itu, teknik terbang dibedakan menjadi dua tingkat: Tingkat yang pertama dapat terbang dengan memunculkan sayap dan tingkat kedua yang dapat terbang tanpa memunculkan sayap. Bagi penyihir, tingkat kedua adalah tingkat tertinggi dan sangat sulit untuk dipelajari. Tak harus mempelajari teknik terbang untuk melayang di udara, penyihir juga dapat terbang dengan menggunakan teknik bawaan dan senjata sihir mereka masing-masing.


Yonas lalu menyuruh mereka memfokuskan mana yang tersebar di seluruh tubuh ke bagian punggung mereka.


Mendengar perintah Yonas, Biavas berusaha memfokuskan mana dalam tubuhnya ke bagian punggung dengan mata yang terpejam dan tangan yang di kepalkan.


Terbayang dalam benaknya aliran mana yang seperti angin terserap dalam tubuhnya membentuk sayap di punggungnya.


Ketika Biavas kembali membuka matanya tanpa ia sadari dirinya sudah berada di udara, terbang di atas murid-murid lain yang belum berhasil menguasai tehnik terbang.


Semua murid sontak melempar pandangan mereka kearah Biavas, dengan wajah kebingungan mereka bertanya-tanya didalam pikiran mereka "Bagaimana mungkin dia dapat menguasainya dalam satu hari saja"


Biavas lalu turun kembali dan sayapnya langsung hilang ketika ia menyentuh permukaan lantai. Biavas menyadari teknik nya bisa berkembang lebih jauh lagi jika ia tekun berlatih. Setelah itu, banyak murid lain menghampiri Biavas dan meminta Biavas mengajari mereka cara menguasai teknik terbang, namun Biavas hanya menjawab "Lakukan saja yang diperintahkan Yonas!!!" Setelah berkata seperti itu, dengan senyuman membeku diwajahnya ia berjalan mendekati murid perempuan yang memperhatikan dirinya sejak tadi.


Wajah murid perempuan itu sekilas mirip dengan Biavas. Dia mengenakan seragam yang sama dengan Biavas, namun karena dia seorang perempuan maka dia mengenakan rok pendek dengan kaos putih panjang menutupi kakinya sama halnya dengan murid perempuan lainnya.


Pada telinga murid perempuan itu terpasang anting-anting batu giok ungu. Saat ia bergerak anting-anting itu akan berdenting bersama-sama.


"Baiklah Leoni hentikan tatapan mu itu, aku sangat tidak menyukainya" Biavas berjalan cepat dan membentak Leoni.


"Aku tidak mengerti maksud kakak, namun selain kakak aku juga bisa melakukannya" Leoni memejamkan matanya lalu sayap berwarna putih tiba-tiba muncul dari punggungnya dan terbang di udara tepat di atas Biavas.


Pemandangan itu membuat semua murid sangat kagum terlebih lagi Alexander, matanya bahkan berkaca-kaca melihat Leoni berhasil terbang di udara. Tampaknya timbul perasaan suka didalam hati Alexander padahal dia baru melihat Leoni saat itu.

__ADS_1


__ADS_2