
Bivades berdiri melihat dirinya sendiri yang lebih muda 20 tahun dengan senyuman. Ia lalu mengangkat kepalanya keatas menatap langit-langit rumah. Tiba-tiba dia kembali ke masa sekarang.
Dari jauh Bivades memandang seorang dengan baju zirah yang memegang pedang berlumuran darah. Seperti ada kepala seseorang yang terbaring didepannya. Ia menduga kepala itu adalah korban tebasan sosok baju zirah itu. Dia lalu mendekati sosok itu.
"Dia adalah aku?" Mata Bivades melebar. Kepala seseorang yang dilihatnya tadi adalah kepala dirinya sendiri. Dia memperhatikan tubuhnya yang berlumuran darah.
"Jadi aku sudah mati. Lalu ini apa?, kenapa aku masih ada disini?" Bivades mengangkat tangannya searah dengan wajahnya dan melihatnya sambil menggelengkan kepala.
Dia lalu menoleh kesamping kirinya. Wajahnya membeku melihat tatapan dingin dan bercak darah di wajah Lanara. Ia sedikit terkejut karena mengiranya adalah pria.
Dia lalu memejamkan matanya sesaat sambil menggertakan giginya dan mengepalkan tinjunya "Sialan, mati kau!!!" Bivades berteriak meninju wajah Lanara, namun serangannya hanya menembus Wajahnya. Dia terdiam beberapa saat merasa apapun yang dia lakukan tidak ada gunanya.
"Bivades!!!, aku yakin kau masih hidup!!!"
Teriakan seorang anak lelaki datang dari balik puing-puing rumah yang sudah hancur.
Bivades, Dite , dan Lanara sontak menoleh kearah suara itu. Dari puing-puing rumah yang hancur mereka melihat bayangan seorang anak lelaki. Bivades menyadari bayangan anak lelaki itu adalah bayangan Adelio. Dia sontak berteriak "Adelio selamatkan dirimu, lari lah sejauh mungkin!!!" namun teriakan itu percuma saja karena tak sampai di telinga Adelio.
Dite menatap dengan niat membunuh kearah Adelio bersembunyi. Dia membuat gelembung ditangannya dan menggenggamnya hingga pecah. Udara disekitar Dite retak dan beberapa detik kemudian hancur menyebabkan gelombang kejut yang mengangkat tanah didepannya ke udara.
Suara aneh mengaung di telinga Adelio. Dia terkejut melihat bayangan besar dibawah kakinya. Bayangan itu semakin gelap dan membuatnya merinding. Dia lalu mengangkat kepalanya keatas. Dia hanya bisa terdiam melihat bayangan tanah berada diatasnya . Tubuhnya tak bisa digerakkan sekalipun bisa digerakkan dia juga tidak bisa kabur. Bayangan tanah itu mendekatinya dan menghantam tubuhnya.
__ADS_1
Air mata perlahan-lahan mengalir di wajah Bivades. Ia jatuh berlutut memejamkan matanya dengan erat. Pikirannya menjadi resah karena tidak mampu menjaga Adelio dengan baik.
Dia lalu membuka matanya dan melihat tangannya sudah berubah menjadi butiran cahaya. Perlahan-lahan seluruh tubuhnya juga ikut berubah terangkat ke udara.
Dite menarik nafas panjang dan berkata "Bawa Maghad bersamamu!, kita pergi dari sini sekarang juga. Putri Leoni tidak suka menunggu" Setelah berkata seperti itu, Dite tiba-tiba menghilang disusul Lanara yang membawa Maghad bersamanya.
Beberapa saat kemudian tubuh Bivades yang tergeletak di tanah tiba-tiba memunculkan burung kecil yang diselubungi api biru.
Burung kecil itu terbang berputar-putar di atas timbunan tanah dan pengaruh sihirnya membuat tanah itu bergeser membentuk celah. Dia lalu memasuki celah itu.
Dalam gelap burung itu terbang sampai ke ujung celah dan menemukan Adelio dalam keadaan sekarat. Tangan kiri dan kaki kanannya terlihat hancur serta mata kanannya benjol kebiruan.
Burung kecil itu lalu mencengkram baju Adelio erat-erat dan membawanya keatas permukaan tanah. Kemudian dia hinggap di atas perut Adelio dan berubah menjadi api biru yang membakar seluruh tubuhnya. Tiba-tiba tangan dan kaki Adelio yang hancur secara ajaib tumbuh kembali.
Semuanya tampak seperti mimpi.
Tapi, kalau melihat tubuh Bivades yang tak bernyawa, ia tahu bahwa semua itu benar.
Dia mulai merenung, menggelengkan kepalanya, pergi ke arah timur tanpa tujuan yang jelas. Mulut Adelio menggumamkan beberapa gumaman "Lemah... payah" Ia terus bergumam sambil berjalan.
Setelah berjalan jauh, malam pun tiba. Saat itu turun hujan deras membasahi wajah Adelio. Dia telah sampai di sebuah desa yang tak ia ketahui namanya. Dia terus berjalan tanpa henti melewati rumah demi rumah dengan tatapan kosong.
__ADS_1
Seorang warga desa melihat Adelio. Ia bertanya pada teman disampingnya " Anak itu tampak asing di mataku. Apakah kau mengenalinya?"
Temannya hanya bisa menggelengkan kepala karena dia juga tak mengenali Adelio.
Adelio sontak menarik perhatian seluruh warga desa yang melihatnya. Mereka mulai bergosip mengatakan Adelio adalah orang gila yang tersesat karena terlihat berbicara sendiri dan berjalan tanpa henti meski hujan turun.
"Berhenti!!!"
Terdengar suara teriakan dari belakang Adelio, namun dia tetap acuh tak acuh.
Tiba-tiba tangannya ditarik oleh sesuatu. Dia sontak menoleh kebelakang "Hei siapa kau?"
Dia melihat pria tua dengan rambut panjang berdiri didepannya dan menggenggam erat tangannya.
Pria tua itu tidak menanggapi, dia terus berjalan membawa Adelio sampai kedalam gubuk kecil di pinggir sungai.
Adelio memelototi pria tua itu dan menarik tangannya yang digenggam dengan paksa. Dia kembali bertanya "Hei, siapa kamu? mengapa kamu membawaku kesini?"
Pria tua itu berbalik menatap Adelio dengan sinis. Tatapan itu membuat jantung Adelio berdebar-debar, tubuhnya mengeluarkan keringat dingin, dan gemetar.
Dalam kepalanya, ia berpikir "Apakah aku akan mati?"
__ADS_1
Pikiran itu terus menghantui dirinya, dan membuat dia pingsan tak sadarkan diri.