
Pria itu tiba-tiba menghilang sesaat dari posisinya ketika berteriak.
"Dimana dia?, apa yang terjadi?" Pimpinan pria bertopeng bertanya kepada kepada para anggotanya di belakang.
"Kau mencari ku?" Pria itu tiba-tiba muncul di belakang Pria bertopeng itu dan berbisik di telinganya.
Wajah pria bertopeng seketika membeku, keringat dingin mengucur dari wajahnya. Dia lalu memutar badannya ke belakang dan mencoba menyerang pria itu, namun belum sempat menyerang, pria itu menusuknya tepat di bagian perut.
"Selamat jalan di neraka" Pria itu berbisik di telinga pria bertopeng itu sebelum dia ambruk ketanah.
Setelah membunuh pimpinan pria bertopeng, kubah hitam yang menghalangi para pengawal lalu menghilang bersamaan dengan para pria bertopeng kecuali pemimpinnya yang telah dibunuh oleh pria itu.
Ratu Fotia mendekati pria itu dan bertanya padanya.
"Pria muda siapa namamu?"
Menyadari wanita yang berbicara padanya saat ini adalah seorang ratu, Pria itu membungkukkan badannya.
"Yang mulia ratu bisa memanggil saya Bivades"
"Terima kasih Bivades kau ksatria pemberani, tetapi aku tak bisa pulang begitu saja tanpa memberimu sesuatu. Mintalah apapun yang kau inginkan, aku mungkin bisa mengabulkannya"
"Jika boleh, aku ingin mengabdikan diriku pada kerajaan ini, aku mohon yang mulia ratu!!!"
Mendengar permintaan Bivades, Ratu Fotia lalu menyuruhnya berdiri.
"Tentu saja, mulai hari ini kau ku angkat menjadi pengawal ku"
Bivades yang memperhatikan sejak tadi menyadari pria yang ada didepannya adalah dirinya ketika masih muda karena kejadian saat ini adalah kejadian yang sama dengan yang dialaminya 20 tahun lalu. Dia lalu berjalan mendekati Bivades muda dan mencoba menyentuh wajahnya.
Saat itu juga, lingkungan sekitar Bivades kembali berubah. Dia kini berdiri di atas karpet merah yang familiar dibenaknya . Dia lalu mengangkat kepalanya dan melihat diujung karpet merah ada singgasana yang diduduki oleh pria dengan jubah emas kerajaan, sabuk permata giok nampak melingkar di pinggangnya.
__ADS_1
Bivades menyadari saat ini dia berada di salah satu ruangan dalam istana tepatnya singgasana raja. Pria berbalut jubah emas yang berada didepannya saat ini adalah Raja Fotia.
Tiba-tiba terdengar suara derap langkah dari luar ruangan.
"Hentikan langkahmu, kau harusnya tahu jika ingin menemui raja maka harus membuat janji terlebih dahulu. Karena itulah kami tidak bisa membiarkanmu masuk" ungkap seorang pengawal yang coba menghentikan seseorang yang ingin memasuki ruangan.
"Kumohon izinkanlah aku untuk menemui Raja, ada hal penting yang ingin ku sampaikan" seseorang yang ingin memasuki ruangan itu adalah Bivades muda. Kondisinya terlihat sangat memprihatinkan dengan darah yang berlumuran di baju zirah nya.
Raja Fotia mendengar kebisingan diluar. Ia lekas beranjak dari singgasananya, dan beranjak menuju sumber suara.
"Izinkan aku masuk!!!" Bivades berusahalah melewati kedua pengawal yang berjaga didepan pintu. Namun usahanya sia-sia dia malah didorong dan terjatuh 2 meter jauhnya.
Pintu yang berada di belakang dua pengawal itu tiba-tiba terbuka. Kedua pengawal sontak membalik badannya, Raja Fotia berdiri didepan mereka dengan wajah yang penuh penasaran. Kedua pengawal itu lalu membungkuk memberi rasa hormat pada Raja Fotia.
"Kebisingan apa ini???" Raja Fotia bertanya dengan
Bivades muda merasa lega melihat Raja Fotia ada didepannya sekarang, sebelum salah satu pengawal berbicara pada Raja. Dia menyela dan berkata dengan tegas.
Wajah Raja Fotia seketika membeku. Dia menjadi gelisah lalu bertanya.
"Bagaimana kondisi sang ratu?"
Bivades muda berusaha menenangkan Raja Fotia.
"Tenang saja Ratu aman yang mulia. Dia tidak ikut bersama kami kembali ke istana. Dia masih berada di Kerajaan Kaliwastera"
Setelah berkata seperti itu, Bivades muda lalu pingsan tersungkur ke lantai. Dia menderita banyak luka akibat pertarungan sebelumnya. Wajahnya terlihat pucat seperti tidak ada darah ditubuhnya.
Raja Fotia lalu menyuruh kedua pengawal itu untuk membawa Bivades muda ke tabib istana.
"Kalian berdua apa yang kalian lakukan?, Segera bawa ksatria ini menemui tabib istana!!!"
__ADS_1
"Baiklah Raja. Ayo segera bawa dia!" Kedua pengawal lalu mengangkat tubuh Bivades muda yang lemah tak berdaya menuju tabib istana.
Bivades yang hanya diam membisu, memperhatikan sejak tadi tersenyum tipis sambil memejamkan mata. Senyumannya seakan menegaskan bahwa dia tidak ada penyesalan sama sekali mengabdikan dirinya untuk Kerajaan Fotia. Meski dikatakan bodoh dan naif dia tak peduli. Menurutnya keputusan yang diambil olehnya adalah yang terbaik.
"Apa yang kau katakan?, apakah dia tidak bisa diselamatkan?, bagaimana kau ini. Inikah tabib istana terbaik di kerajaan. Kau benar-benar mengecewakan ku!!"
Terdengar suara tegas dari seorang pria di telinga Bivades. Ia sontak membuka matanya dan terkejut karena berada di dalam ruangan yang dipenuhi dengan banyak sekali ramuan disekitarnya. Ini menandakan lokasinya saat ini kembali berubah.
Didepannya seorang pria tua berjanggut sedang berdiri mengusap minyak yang berasal dari botol ditangannya ditubuh Bivades muda yang terbaring tak berdaya di ranjang.
Dibelakang pria tua itu, Raja Fotia dengan wajah serius tampak kesal dan marah karena Bivades tak kunjung sadar meski sudah beberapa hari dirawat oleh sang tabib.
"Jawablah pertanyaan ku!, kenapa kau hanya diam saja?"
Pria tua itu hanya bisa menggelengkan kepalanya dan berkata "Mohon maaf yang mulia, saya sudah semaksimal mungkin mengobati ksatria ini tetapi luka yang dideritanya sangat parah. Aku khawatir dia tak bisa....."
Raja Fotia terkejut dan seketika ekspresi wajahnya berubah. Dia menjadi sangat marah dan memukul beberapa botol ramuan yang ada dekatnya hingga pecah.
"Omong kosong!, kau adalah tabib istana yang paling ku percayai. Mengapa kau bisa berkata seperti itu?, Lakukanlah cara apapun untuk menyembuhkannya. Jika tidak kau tau apa yang bisa kulakukan terhadap keluargamu!!"
Tabib terdiam seketika saat mendengar ucapan Raja Fotia. Tubuhnya bergetar mengingat anak semata wayangnya yang masih kecil.
Tabib lalu berpikir sejenak. Dia lalu mendapatkan sebuah ide dan berkata "Baiklah Raja. Aku akan melakukan upaya terakhir untuk menyelamatkannya. Aku akan menyegel roh binatang Phoenix padanya. Ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkannya"
Roh binatang Phoenix adalah roh binatang berbentuk burung dengan aura api biru yang memiliki keabadian. Siapapun yang menjadi inangnya maka akan memiliki kemampuan regenerasi bagi setiap luka yang di deritanya. Karena itulah banyak sekali yang menginginkan kekuatan dari roh Phoenix ini.
Sang tabib lalu mengambil sebuah gulungan dan meletakkannya di perut Bivades muda. Dia lalu menghafalkan mantra tanda dimulainya penyegelan Roh Phoenix didalam tubuh Bivades muda.
Setelah beberapa saat menghafalkan mantra, api biru tiba-tiba muncul dan membakar gulungan itu.
"Berhasil..." Tabib bergumam. Dia tersenyum tipis. Ritual penyegelan yang dilakukannya berhasil tanpa ada kendala sama sekali.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, mata Bivades muda terbuka perlahan-lahan. Didepan matanya saat ini ada tabib yang tersenyum riang menyambut Bivades muda yang berhasil disembuhkan olehnya.