Kaisar Cahaya

Kaisar Cahaya
Amarah Jillua


__ADS_3

"Aku tak akan membiarkan orang seperti mu lolos dari tempat ini"


Jione mengeluarkan gulungan mantra sihir. Dia dengan mata tertutup menghafalkan mantra yang ada di gulungan itu, seketika muncul sosok prajurit berbaju besi di belakangnya.


"Habisi mereka semua!!!"


Prajurit besi itu bergerak maju dengan tombak di tangannya mencoba menusuk Leoni, namun berhasil ditahan oleh Lanara dengan pedangnya.


"Bangsawan sampah sepertimu!!!, layak mendapatkan ini!!!"


Tak tahan mendengar majikannya dihina, Jillua bergerak dengan cepat meraih kerah baju Jione dan mengangkatnya keatas.


"Mati kau!!!"


Jillua meninju wajah Jione berkali-kali hingga membuat hidungnya mengeluarkan darah. Dengan penuh tenaga dia mengangkat Jione ke atas dan membantingnya ke lantai.


"Dia sudah tewas" Lanara berkata dengan lembut. Tampak ekspresi dingin di wajahnya melihat darah bercucuran membasahi lantai.


Bersamaan dengan tewasnya Jione, prajurit besi yang menyerang Lanara tiba-tiba menghilang.


Setelah berhasil membunuh Jione, Jillua menggunakan teknik sihir bawaannya. Tampak bola tak berwarna dengan retakan di tangan kirinya.


Bola itu jika dipecahkan akan membuat udara disekitarnya retak seperti pecahan kaca dan menghasilkan gelombang kejut yang sangat dahsyat.


Sebelum memecahkan bola itu, Jillua mengambil tiga buah kartu dan memberikannya pada Lanara dan Leoni.


"Kartu ini bisa membuat kalian berpindah tempat dari sini, pakailah dan kabur dari sini karena aku akan menghancurkan tempat ini"


"Aku takkan meninggalkan mu Jillua, sebagai sesama jendral yang mengabdi pada kaisar sudah sepatutnya kita tak meninggalkan satu sama lain"


"Kau sangat keras kepala Lanara, ... baiklah jika kau memaksa. Aku perintahkan kau untuk melindungi putri Leoni dan menghabisi siapapun yang menghalangi"


Setelah selesai berbincang. Leoni dan Lanara melempar kartu yang diberikan Jillua kelantai. Setelah beberapa detik, simbol kerajaan Lypinos tercipta di bawah mereka membuat mereka menghilang dalam sekejap.

__ADS_1


Jillua lalu mencekram bola ditangan kirinya dengan sangat keras hingga terpecah membuat udara disekitarnya ikut retak. Retakan itu menghasilkan gelombang kejut yang sangat kuat.


Diluar balai desa, penduduk yang sangat banyak sedang berkumpul mengepung balai desa. Mereka merasakan tekanan yang sangat besar dari dalam balai desa.


"Duarr!!!"


Tiba-tiba terdengar ledakan dari dalam balai desa. Seketika pada penduduk merasakan getaran yang sangat kencang dari dalam tanah membuat tubuh mereka tak seimbang.


Bersamaan dengan suara ledakan, balai desa runtuh dan mengeluarkan gelombang kejut yang menyapu area disekitarnya.


Belum sempat melarikan diri, para penduduk yang berada disekitar balai desa tertimbun tanah akibat ledakan yang dihasilkan Jillua.


Di puncak gunung bambu, Bivades dan Adelio yang sedang berlatih merasakan getaran yang luar biasa dari pusat desa. Bivades merasa ada yang tidak beres karena setahunya gempa tak pernah terjadi di Desa Harmes. Dia menghawatirkan keadaan Viony dan neneknya yang berada di bawah.


"Paman lihatlah tidak ada lagi perumahan yang terlihat dari atas sini" Adelio menarik baju Bivades dan menunjuk kebawah.


Mendengar perkataan Adelio, Bivades sontak menoleh. Dengan ekspresi wajah terkejut dia menyadari bahwa perumahan warga desa sudah rata dengan tanah.


"Adelio pergilah yang jauh dari tempat ini, aku akan menyusul mu nanti" Setelah berkata seperti itu, Bivades berubah menjadi bentuk Phoenix dan terbang menuju arah desa yang telah hancur tertimbun tanah.


"Apa ini!!!"


Bivades berteriak melihat kondisi desa yang tertimbun tanah dan beberapa penduduk yang terbaring di tanah dengan berlumuran darah.


"Oi ... teriakan mu sangat menggangu sekali" Maghad tiba-tiba muncul dari belakang Bivades dan menegur Bivades dengan santai.


Mendengar ada orang yang menegurnya, Bivades sontak menoleh kebelakang. Tiba-tiba petir keluar dari tongkat Maghad dan menembus dada Bivades hingga menembus tubuhnya.


Namun, Bivades berhasil meregenerasi dadanya yang diserang karena saat Maghad menyerangnya, dia dalam wujud Phoenix.


Bivades merasa Maghad ada kaitannya dengan kehancuran Desa Harmes untuk memastikannya ia bertanya "Apakah kau yang menyebabkan kekacauan ini?"


"Ya akulah yang membantai mereka semua hahahha...."

__ADS_1


Niat membunuh terlihat jelas dari mata Bivades begitu mendengar jawaban dari Maghad. Sambil mengepakkan sayapnya dia terbang sangat cepat kearah Maghad. Ketika sudah berada dekat dengan Maghad, Bivades mengayunkan kaki kanannya kearah Maghad, namun berhasil ditahan dengan tongkatnya.


Terlintas ingatan jasa orang-orang Desa Harmes yang sudah memberikan bantuan pada Bivades terutama Viony dan neneknya yang telah memberikan tempat tinggal untuk dia dan Adelio.


Ingatan akan kebaikan orang-orang Desa Harmes seolah memberikan kekuatan pada Bivades. Dengan penuh tenaga dia mendorong kakinya sekuat tenaga hingga membuat tangan dan tongkat Maghad gemetar.


"Terimalah ini sialan!!!"


Sambil berteriak, Maghad mengalirkan listrik dari tubuhnya ke tongkat yang ia pegang. Petir itu lalu mengalir ke tubuh Bivades yang menyentuhnya dan membuatnya tersetrum, namun Bivades tidak melepaskan kakinya dari tongkat Maghad.


"Itu sia-sia, aku ini bisa meregenerasi tubuhku yang terluka hanya dalam waktu satu detik"


Pernyataan Bivades membuat Maghad berkeringat dingin, dia teringat kemampuan Lanara yang sama persis dengan Bivades bedanya Lanara tak perlu menjadi Phoenix karena dia menggunakan teknik sihir bawaan bukan kekuatan roh binatang.


"Yahhhhh!!!"


Bersamaan dengan teriakannya, kaki Bivades berhasil mematahkan tongkat awan surgawi Maghad serta mengenai dada Maghad hingga membuatnya terhempas dan memuntahkan darah dari mulutnya.


Tongkat awan surgawi adalah senjata warisan pemberian Ayah Maghad. Senjata ini dapat mengendalikan cuaca dan diwariskan secara turun-temurun. Tongkat awan surgawi berada di tingkat 1 untuk level senjata sihir.


Meski terluka, Maghad masing sanggup berdiri dan menciptakan 2 tongkat petir di masing-masing tangannya lalu menyatukannya dan memutarnya.


Dengan wajah kesal. Maghad menantang Bivades untuk menyerangnya.


"Majulah burung iblis"


Menjawab tantangan Maghad, Bivades memutarkan badannya dan sayapnya dengan cepat membentuk pusaran api biru besar untuk menyerang Maghad.


"Bommm!!!"


Ketika dua kekuatan itu bersentuhan Mengakibatkan ledakan besar disertai banyak sekali asap. Dari balik asap Maghad muncul dalam kondisi pingsan dan jatuh menuju tanah. Tak lama kemudian, Bivades juga muncul dengan keadaan sedikit terluka dan masih berada dalam wujud Phoenix-nya.


Melihat kesempatan besar untuk membunuh Maghad, Bivades terbang dengan sangat cepat kebawah untuk meraih Maghad dan mencabik-cabik-nya. Namun ketika hampir meraih Maghad. Tiba-tiba Jillua melompat dengan sangat tinggi dengan bola gempa ditangannya dan menghantam wajah Bivades hingga terbentuk retakan di sekitar wajahnya lalu meledak menghempaskan tubuh Bivades dengan sangat kuat menghantam tanah.

__ADS_1


Tubuh Phoenix-nya hancur, kepalanya sangat pusing, tubuhnya terasa sudah tak dapat digerakan lagi.


Adelio yang melihat Bivades dari kejauhan, tanpa ia sadari air mata sudah membasahi wajahnya.


__ADS_2