
Pagi hari, hujan akhirnya berhenti. Adelio terbangun, tiba-tiba duduk, terengah-engah, tangannya sedikit gemetar. Ketika dia pingsan, pikirannya penuh dengan wajah Bivades dan darah yang mengalir dari kepalanya, mimpi buruk yang mengerikan.
Dia menenangkan diri, memandang sekitarnya. Melihat ini adalah kamar yang sempit, ada satu jendela, terdapat satu meja dan kursi di depannya. Selain tempat tidur dimana dia berbaring, Ada tempat tidur lain disebelahnya, tempat tidur itu sedikit berantakan, seolah-olah seseorang baru saja bangun tidur.
Adelio duduk beberapa saat, Di hatinya terlintas pemikiran "Bagaimana aku bisa tidur disini?, Apa yang terjadi dengan pria tua itu?, Aku harus keluar dari sini secepatnya!"
Dia perlahan-lahan bangkit dari tempat tidur, pergi ke pintu yang setengah tertutup, dari pintu sedikit angin sepoi-sepoi bertiup ke dalam ruangan.
Dia menghela nafas pergi ke pintu masuk dan menarik gagangnya "Sret..." suara pintu berderit saat ia membukanya.
Cahaya terang dari luar tiba-tiba menyinari wajahnya, menyebabkan matanya menyipit. Sinar matahari bersinar di tubuhnya membuatnya merasa hangat.
Saat ini dia berada di halaman kecil diluar pintu. Dia tercengang melihat banyaknya jati dan pohon Cemara serta beberapa bunga. Di depannya ada sebuah batang kayu berdiri vertikal.
Dia lalu duduk di batang kayu itu, menghela nafas. Udara saat itu terasa segar apalagi bau harum dari beberapa bunga membuat perasaan Adelio menjadi tenang. Dia ingin terus berada di tempat itu, tetapi suara misterius tiba-tiba memanggilnya dari belakang "Kau sudah bangun?"
Adelio sontak menoleh kebelakang dan melihat seorang pria tua yang sama dengan yang menakutinya kemarin.
Pria tua itu mengenakan pakaian pemotong kayu, janggutnya sangat lebat. Dia menatap Adelio dengan sinis dan berkata "Kau sepertinya lapar. Mari ikuti aku"
Mengikuti pria tua, Adelio meninggalkan halaman, masuk kembali kedalam gubuk. Dia melihat dua mangkuk sup diletakkan di atas meja.
Tanpa pikir panjang, Adelio langsung meraih mangkuk itu dan tak sampai satu menit dia menghabiskan makanannya. Saking laparanya dia mengambil mangkuk lain yang bukan miliknya.
__ADS_1
Pria tua itu membiarkannya begitu saja, dia menunggu Adelio selesai makan dan menatapnya dengan dingin.
Setelah selesai makan, Adelio memelototi pria tua itu. Dia merasa takut dan langsung tertunduk, namun satu hal yang sudah pasti dia yakin pria tua itu adalah orang baik-baik.
"Anak muda jelaskan asal usulmu?" Pria tua itu bertanya. Dia tahu bahwa Adelio bukan berasal dari desa ini.
Adelio menjawab "Aku berasal dari Kerajaan Fot ..." suaranya tak terdengar lagi dan dia terisak, matanya berkaca-kaca.
Dia lalu mengangkat tangannya untuk menggosok matanya dengan kuat, menghela nafas lalu berkata "Aku berasal dari Kerajaan Fotia. Sebuah negeri yang sudah hancur".
Mendengar perkataan Adelio, Pria tua itu menggeleng sedih. Seraya mengusap kepala Adelio dia berkata "Jika mau kau boleh tinggal denganku. Kau bisa memanggilku Daskalos".
Adelio hanya bisa menganggukkan kepala, dia sebenarnya ingin menolak tetapi ia bingung karena tidak tau lagi harus pergi kemana.
Daskalos lalu mengajak Adelio pergi memasuki hutan. Dia membawa sebuah pedang besar berbentuk pisau daging dipunggung nya.
Mereka berjalan santai melewati pepohonan. Daskalos memperhatikan sekitarnya. Langkahnya tiba-tiba terhenti, Pandangannya jatuh pada pohon pinus di barat.
Dia lalu mendekati pohon pinus itu. Diikuti Adelio. Kini mereka berdiri tepat di depan pohon itu. Daskalos lalu menarik pedangnya dan menebas pohon itu dalam sekali ayunan hingga tumbang.
Tebasan itu menghasilkan suara yang menggema di seluruh hutan.
Beberapa burung yang mendengarnya langsung menjauh dari suara itu.
__ADS_1
Adelio ternganga melihat lima pohon lain dibelakang pohon yang ditebas ikut tumbang. Dia bertanya-tanya "Bagaimana mungkin?" baru kali pertama dia melihat pemandangan seperti itu.
Di Benua Petra orang yang bisa menebas seperti itu hanyalah golongan pendekar pedang yang berada di tingkat satu. Siapapun yang mencapai tingkat itu konon bisa membelah gunung, namun orang yang mencapai tingkat ini bisa dihitung dalam hitungan jari saja.
Adelio melihat Daskalos dengan kagum. Dia teringat legenda tentang "Dewa Pedang". Seorang pendekar yang tak menguasai sihir sama sekali, namun berkat kemahirannya berpedang, ia berhasil membunuh seribu penyihir.
Daskalos lalu mengangkat dua batang kayu besar dan mengapitnya di bahunya. Setelah selesai, dia bergegas pulang diikuti Adelio. Ketika berjalan menyusuri hutan, Adelio bertanya tentang kekuatan yang dia miliki seperti "Bagaimana cara memperolehnya?"
"... hahahaha itu sangat mudah kau harus berlatih sungguh-sungguh" Daskalos tertawa ringan.
"Aku tahu tetapi aku membutuhkan seorang guru untuk mengajariku" Adelio membuang mukanya, ia malu ingin meminta Daskalos mengajarinya.
Daskalos tiba-tiba berhenti, wajahnya menjadi serius. Dia berbalik dan menatap tajam Adelio sambil berkata "Aku sudah lama tidak memiliki murid yang dapat ku percaya, namun aku melihat ada sesuatu yang berbeda darimu" wajah Daskalos berubah senyum, dia menganggukkan kepalanya.
Dia lalu berjalan masuk ketengah hutan. Disana ia melempar batang kayu di bahunya dan menarik pedang dipunggung nya dengan kuat. Kemudian dia memperagakan beberapa gerakan berpedang dengan menebas udara disekitarnya. Setelah selesai dia mengambil batang kayu kecil tetapi panjang dan melemparnya kearah Adelio.
Adelio sontak meraihnya, dia terdiam sesaat melihat kayu yang digenggamnya seperti orang linglung.
"Tirulah gerakan yang kau lihat barusan. Kau harus tekun berlatih jika ingin melampaui aku" Daskalos menyuruh Adelio meniru gerakannya.
Awalnya Adelio kesulitan mengingat gerakan Daskalos, namun wajah Bivades yang tersenyum tiba-tiba terlintas dipikirannya. Sontak wajahnya berubah marah dan dia menebas sekitarnya tak karuan.
Setelah delapan tahun berlalu, terlihat seorang pria muda dengan terampil mengayunkan pedangnya. Ayunan pedangnya sangat lembut tetapi sangat kuat. Pohon disekitarnya bahkan bertumbangan begitu dia memasukkan pedangnya kembali ke sarungnya.
__ADS_1
Pria muda itu adalah Adelio. Dia sudah tumbuh menjadi pendekar pedang dengan wajah tampan. Selama delapan tahun dia diajarkan ilmu berpedang dan ilmu pengetahuan oleh Daskalos. Sebagai balas budi, dia membantu Daskalos menebang pohon di hutan dan mengantarnya pada pelanggan.
"Tolong ... tolong ... tol" Ketika berjalan melewati hutan, tiba-tiba suara misterius menggema ditelinga Adelio. Dia sontak bergegas kearah suara itu.