Kakak Kelasku

Kakak Kelasku
part 10


__ADS_3

Suasana semakin mencekam tapi entah kenapa ustad Zakaria masih diam membisu, hingga membuat umi Fatimah angkat bicara. "Abi katanya mau jelasin tapi kenapa masih diam bi".


"Maaf sebelumnya, tapi Abi hanya ingin melihat reaksi umi kalian aja. Karena Abi cukup kecewa atas sambutan umi ketika Abi sudah sampai di rumah". ucap sang Abi dengan wajah yang dibuat sekecewa mungkin. sehingga membuat semua yang ada dalam ruangan tersebut geleng-geleng kepala karna kebucinan abinya itu yang memang luar biasa. hingga seolah-olah ia tidak sadar kalau telah membuat semua orang menunggu sedari tadi.


setelah melihat mimik wajah semua orang, ustad Zakaria menggenggam tangan umi Fatimah lembut, lalu berkata "baiklah, Abi jelaskan. kalian ini sih serius banget dari tadi."


"Abiiiiii" (kan pada demo kan, ni si Abi sih gak tau penempatan aja🤣🤣)


"Iya-iya, nah dengar baik-baik"


"Sebenarnya Abi sama nak Alina itu gak ada hubungan spesial seperti yang kalian pikirkan, atau seperti yang Aisa tanyakan di kantor tadi". ucap Abi Zakaria, diam sejenak lalu kembali menatap satu persatu wajah semua yang ada di dalam ruangan ini.


"Terus kalo gak ada hubungan apapun kenapa bisa barengan bi." tanya Aisa yang dari tadi memang sangat penasaran, karna jujur Aisa tidak menemukan keganjalan di antara keduanya, bahkan sang Abi juga terkesan menjaga batasan


"Jadi tadi itu kami bertiga di dalam taxi on line dengan ayahnya Alina, tapi ayahnya nak Alina harus pulang ke Jakarta karena adik dan kakaknya Alina sedang dalam bahaya." suasana masih tetap hening sampai Abi menceritakan pertemuan mereka tadi.


"kok Abi bisa bareng sama Alina dan ayahnya bi?" tanya Rifqi penuh selidik. akhirnya ustad Zakaria menceritakan pertemuan mereka tanpa di tutupi sedikitpun. Dan mereka semua juga mendengarkan dengan seksama.

__ADS_1


"Gimana? apa masih ada yang mau di tanyakan lagi?"


"emmh keknya gak deh bi" jawab Aisa dengan kekehan khasnya dan disetujui oleh yang lain.


"Yasudah karna semua sudah jelas, skarang kita makan ya, pasti semuanya udah pada laper benget kan!". umi Fatimah mengalihkan pembicaraan.


"Wokeh mi" jawab semuanya kompak, emang kalau udah ada makanan semua yang di pikiran mendadak hilang semua ya bund🤭


"Nak Alina yok, kita makan dulu pasti udah laper banget kan"


"eh apa gak merepotkan umi?" tanya balik Alina dengan tutur kata yang lembut.


"yaudah deh"


Tanpa mereka sadari ada seseorang yang terus memperhatikan mereka dalam diam.


####

__ADS_1


(selesai makan)


"Oh ya Alina kenalin ini sahabatnya Aisa, ini namanya Fara dan ini Nadia". Aisa memperkenalkan sahabatnya kepada Alina. "dan mereka juga akan menjadi teman kamu juga kok, karena sakarang kita itukan sahabat", ucap Aisa lagi


Tapi entah kenapa ucapan Aisa seperti tidak di gubris oleh Alina, hingga membuat semua menoleh ke arahnya. Aisa dan yang lain berkali-kali memanggil Alina akan tetapi tidak ada jawaban, hingga akhirnya Fara menepuk pundak Alina pelan.


"Lin, kok melamun sih ada yg salah ya sama ucapan Aisa tadi, kalau kamu emang bel siap berkawan sama kami gak papa kok, kami ngerti Alina pasti butuh adaptasi dulu di sini". Fara akhirnya membuka suara dan menjelaskan panjang kali lebar takut-takut Alina masih risih sama mereka.


"Eh... maaf-maaf tadi Alina cuman terharu aja ternyata masih ada yang mau menganggap Alina kawan, karena selama ini gak ada yang mau berkawan sama aku, soalnya aku bukan orang kaya".


"Astaghfirullah... kasian sekali kamu nak, semoga kamu betah ya belajar disini". jawab umi Fatimah karena beliau sangat terharu dengan kisah Alina. karena ternyata masih ada orang yang bersifat kuno dengan membeda-bedakan teman, padahal itu sangat dilarang dalam agama.


.


.


.

__ADS_1


🍀🍀


__ADS_2