
Di dalam bis, pak Wahyu dan pak Zakaria makin bertambah dekat, karena memang sifat keduanya yang terbuka. Akhirnya pak Zakaria bertanya tujuan pak Wahyu dan anaknya ke Bandung, tiba-tiba pak Wahyu terdiam.
"Wahyu, kenapa kok bengong?". pak Zakaria mencoba membangunkan lamunan pak Wahyu
"Oh, gak zak. saya rencananya mau memasukkan Alina ke pesantren, kamu tau gak sekolah yang lumayan murah di daerah sini?" jawab pak Wahyu.
"oh, kebetulan saya memimpin di sebuah pondok pesantren di daerah Bandung, gimana kalau Alina dimasukkan ke pondok saya aja. kalau masalah biaya, bisa diurus dengan jalur prestasi biar mendapatkan beasiswa full termasuk uang jajan atau bisa juga mendaftar beasiswa kurang mampu biar lebih murah. Kualitas belajar disana Alhamdulillah termasuk dalam kategori pesantren unggul, kalau untuk pendaftaran awal biar saya yang tanggung nanti, bagaimana yu mau gak? tawar pak Zakaria.
__ADS_1
"Aduh, gimana ya zak, dari kamu ceritakan tadi sih menarik, tapi masalah uang pendaftaran yang membuat saya gak enak sama kamu"
"gak apalah yu, saya senang bisa bantu kamu, masalah uang pendaftaran bisa gratis kalau Alina mendapatkan beasiswa prestasi full, saya akan membantu untuk itu, tapi sebelumnya apa saya bisa melihat berkas-berkas Alina?." pak Zakaria mencoba memberi pengertian sekaligus meminta berkas-berkas Alina.
"Iya, zak. Sebentar ya"
"Masyaallah, prestasi Alina luar biasa Lo, saya yakin kalau Alina akan lulus. Bagaimana nanti kalau Alina berkerja di cafe pesantren, biasanya santriwati yang memiliki minat memasak akan ikut membantu disana dan mereka juga akan diberikan upah. Dan berkerja disana juga gak setiap hari lho, ada jadwalnya. Biasanya seminggu 2 atau 3 kali. Bagaimana, apa pak Wahyu dan nak Alina tertarik." tanya pak Zakaria setelah memberikan penjelasan yang lebih mendalam guna membantu kedua orang ini.
__ADS_1
"kalau Alina tertarik ustad, jadi ayah gak perlu memikirkan jajan Alina lagi, gimana yah". Alina menjawab dengan wajah yang berbinar.
"kalau kamu suka, ayah pasti setuju Lin"
"ya sudah kita ke pondok aja sekarang ya".
Sesampainya di pusat terminal Bandung, ustad Zakaria, pak Wahyu dan Alina langsung pulang dengan taxi on line. Alina yang sangat jarang untuk bisa naik mobil sangat antusias, karena masyarakat kaum menengah ke bawah seperti mereka, mobil tersebut sangat luar biasa. pemandangan kota Bandung Yang sangat Astri membuat jiwa siapapun tenang, terlebih kota tersebut tidak banyak polusi seperti kota asalnya Jakarta.
__ADS_1
Di dalam perjalanan hanya ada keheningan, hingga terdengar gumaman pak Wahyu yang selalu menyebutkan nama putri bungsunya yang di Jakarta. Entah kenapa perasaannya tak enak, seolah-olah terjadi hal buruk terhadap si bungsu Zahra, gadis itu sangat manja selama ini Alina yang selalu mengurus Zahra dan Zahra hanya dekat dengannya dan Alina saja, bahkan dengan ibu kandungnya sekalipun mereka sering berdebat, walau Esti sangat memanjakan Zahra dari pada kedua putrinya yang lain. Tapi yang membuat pak Wahyu khawatir adalah ketika tidak ada Yang meredupkan amarah Zahra, saat perdebatan acap kali terjadi antara ibu dan anak itu atau bahkan pendekatan antara adik dan kakak, karena sejak kecil gadis itu selalu bergantung pada Alina, dia takut Zahra akan sulit diatur seperti di sulung Felly saat Alina jauh dari sisinya. Tapi sungguh dia tidak memiliki rencana lain, jika seandainya Alina masih tinggal dengan mereka di Jakarta. Dia tidak ingin Alina menjadi korban dari masalah yang menimpa keluarganya saat ini, dia ingin anak-anaknya mendapatkan masa depan yang cerah dan hidup bahagia.