
Jakarta
Esti kebingungan, dia benar-benar tidak bisa menyelamatkan kedua putrinya. Jujur dia sangat khawatir, rasa takut menyelimuti dirinya, dia sangat bingung bagaimana jika suaminya tau apa yang terjadi selama beberapa hari ini, pasti sang suami sangat terpukul dan dapat dipastikan kalau sang suami tentu akan membencinya.
"Ya Tuhan, kenapa tidak diangkat sih!". , gerutu Esti kesekian kalinya.
☘️🍀🍀🍀
__ADS_1
pesantren Al-fatah Boarding School
Para santri sudah menunggu kepulangan pimpinan pesantren mereka di sekitar taman utama sembari bershalawat bersama. begitu juga dengan para keluarga pak Zakaria yang menunggu kepulangannya sembari berbaur dengan santri lainnya.
Tidak lama, mungkin sekitar 15 menit mereka menunggu mobil sedan hitam yang mereka yakini sebagai taxi on line itu masuk ke pekarangan pesantren. Dan seluruh santri serta putra putri ustad Zakaria tambah semangat dalam melantunkan shalawat, hingga membuat suasana menjadi semakin haru. Ditambah lagi mereka berdiri sejajar disepanjang jalan, mulai dari gerbang masuk sampai kantor utama pesantren, pas didepan pintu masuk kantor utama berdirilah Aqila sang putri kecil kesayangannya itu dengan digendong oleh istri tercintanya. Pak Zakaria tidak bisa menahan haru nya lagi, begitu mebil tersebut berhenti beliau Langsung keluar dari mobil untuk menemui istri dan putra Putri mereka.
"Abiii....Qila rindu". ucapan sederhana yang keluar dari mulut mungilnya Aqila membuat laki-laki paruh baya yang memiliki 5 orang anak itu sangat terharu. Ditambah dengan air mata kebahagiaan istri dan anak-anaknya dalam menyambut kepulangannya dengan sangat luar biasa. Jujur dia sangat terharu dengan semuanya, Pesta penyambutan yang luar biasa tentunya.
__ADS_1
Adegan itu terus berlanjut sampai suara Rifqi menyadari bahwa mereka tidaklah sedang berdua. "sudah cukup adegan kangen-kangennya Abi, nanti pas sampai dikamar umi sama Abi bisa bebas kok, biar qila Rifqi yang jagain dijamin aman deh" seloroh Rifqi tanpa dosa, sungguh dia yang melihat kelakuan orang tuanya yang tidak tahu tempat itu saja sangat malu, apa mereka gak ada malu ya, begitulah kiranya pemikiran si sulung itu.
Umi Fathimah langsung melepaskan pelukan dari suaminya, dan langsung menyembunyikan wajahnya di tubuh si bungsu Aqila. Sungguh dia sangat malu dan merutuki kebodohannya, apalagi saat mengetahui semua orang melihat adegan tak senonoh itu. Sedangkan si pelaku hanya menggaruk-garuk kepalanya saja, sebenarnya dia sangat malu tapi ya mau bagaimana lagi, kerinduan terhadap sang istri sangat memuncak. Bahkan ustad Zakaria sempat-sempatnya berfikir untuk langsung membawa sang istri ke kamar mereka dan mengukungnya hingga mereka sama-sama tepar, oh tidak sangat jauh jika harus kerumah lagi lebih baik mereka melakukannya di ruangan kantor saja fikirnya, toh ruangannya ada penyadap suara jadi gak akan ada yang mendengar suara indah mereka. begitulah kira-kira fikiran pak Zakaria dan tak menunggu lama beliau langsung membisikkan rancananya pada sang istri dan disambut dengan cubitan di pinggangnya.
Ustad Zakaria langsung menatap sang istri dengan tatapan meringis dan di balas tatapan melotot sang istri yang tentu membuat nyalinya menciut. "Dasar, udah tua juga masih aja gak tau tempat, apa gak cukup malu dengan kejadian barusan".
Tentu siapapun yang melihat interaksi mereka tau apa yang mereka bicarakan. Tapi semuanya hanya mampu menggelengkan kepalanya saja, atau tertawa kecil melihat keharmonisan keduanya. Karena jujur mereka tidak melihat aksi intim dari pasangan halal tersebut, karna keduanya sangat tau dimana tempat yang cocok untuk bermesraan, lain dengan anak-anaknya yang sudah jengah dengan sikap keduanya. Tapi sepertinya perpisahan 3 bulan bisa mengubah segalanya ya bund.
__ADS_1
Semua berjalan sesuai rencana, dan semuanya bahagia hingga keluarlah seorang gadis muda dibalik mobil yang dinaiki ustadz Zakaria tadi. Hal itu tentu mengandung tanya besar dari semua orang, terutama istri dan anak-anaknya. Hingga terdengar suara ustad Zakaria yang memecahkan keheningan.
"Ya Allah saya hampir melupakan kamu, kenapa Lin?"