
Alina dan teman-temannya sudah berada di dalam kelas, mereka sedang menunggu bel berbunyi dan sambil menunggu mereka asik bercanda ria. tak lupa juga Alina memperkenalkan diri ke teman-teman sekelasnya yang lain, setelah semalam ba'da isya Alina juga sudah memperkenalkan dirinya kepada teman-teman yang ada di asrama. dan kebetulan tidak semua anak yang sekelas dengan Alina berada di asrama yang sama dengannya, jadi sudah sepantasnya dia memperkenalkan diri batinnya. Dan Alhamdulillah mereka juga welcome semua dengan kehadirannya, yang pastinya tidak membuat Alina Sulit beradaptasi di sekolah ini, berbeda dengan sekolah-sekolah Alina sebelumnya, sangat banyak orang yang tidak menyukainya dulu. Bahkan sangking gak sukanya sama Alina mereka selalu mengerjainya.
"oh ya sa, kamu jadi gak sih pigi ke rumah Fara akhir pekan?" tanya Nadia tiba-tiba.
"ya Allah ana belum izin sama Abi dan umi gimana ya, emmh.... nanti ingatin Aisa lagi ya nad". bujuk Aisa dengan wajah yang dibuat seimut mungkin lah. tapi bukannya Nadia mengiyakan malah tertawa.
"ihhh kok ketawa sih Nad, gak seru ah" nah kan malah pura-pura merajuk. dan sekarang bukan hanya Nadia yang ketawa, melainkan di sambut lagi dengan gelak tawa Fara dan Nadia. yang membuat Aisa mekin bete hingga memilih pergi dari kelas. Sebenarnya Nadia emang sengaja menanyakan hal itu pada Aisa karena mereka memang sudah hafal dengan kebiasaan buruk Aisa yang satu itu.
Dan setelah gelak tawa mereka mereda, Alina menyadari bahwa Aisa udah pergi jadi khawatir. pasalnya Lina gak mau sampai Aisa ngambek, maklumlah Lina selama ini belum pernah punya kawan tulus seperti teman-temannya ini. tapi melihat Fara dan Nadia biasa saja membuat Lina heran hingga akhirnya dia memberanikan diri untuk bertanya. " Far itu Aisa sampai pergi gitu, kok kalian biasa aja sih, yok kita susulin yok, lina khawatir ni".
Nadia dan Fara hanya tertawa melihat kekhawatiran Alina, sedangkan Alina malah tambah bengong. "kalian ni kenapa sih, kok malah ketawa".
"Santai aja kali Lin, ntar juga nongol" lanjut Fara setelah menyelesaikan sesi katawanya entah yang ke sesi berapa. "oh ya akhir pekan nanti Lina ikot ke rumah aku ya, Fara sama Aisa juga ikot kok tengang aja. Lina telpon orang tua aja nanti buat izin dan aku gak mau dengar penolakan ya Lin".
"caelah buk, itu mah namanya ancaman bukan ngajak" celutuk Nadia lagi. sedangkan Alina yang gak mau melihat mereka berdebat lagi langsung mengiyakan kemauan Fara.
"iya far tenang, insyaallah aku akan datang kok." jawab Alina kemudian.
###
(sedangkan di sisi lain...)
Aisa yang kesal akan kelakuan teman-teman greseknya itu memilih keluar ke belakang area kelas, yang menenangkan pikiran lebih baik pikirnya dari pada malah tambah berdebat nanti.
__ADS_1
"masa ngambek terus sih Ai?"
Deg Aisa Sangat kenal dengan suara berat seseorang yang berdiri di belakang punggungnya ini. "Gak baik lho Ai, ntar yang ada cantik ilang lagi" dan setelah itu terdengar gelak tawa yang seperti di tahan oleh sosok orang di belakangnya itu.
"ihh kak Arya nyebelin banget sih, bukan di hibur malah di ketawain" sosor Aisa dengan suara yang sedikit meninggi seraya bibirnya yang monyong mirip bebek. dan selanjutnya Aisa malah menjewer telinga Arya.
"ih sakit ai, lagian itu suaranya pelanin dikit Napa sih, nanti kok ada yang dengar gimana?"
"lagian kak Arya ni, kurang kerjaan sih jadi orang" dan di hadiahkan lagi cubitan di pinggangnya oleh Aisa.
"Ampun sa ampun, kamu ni bukan muhrim coba". dan setelah diam beberapa menit Arya kembali melanjutkan ucapannya. "Kangen Ai". dan seketika raut wajah Aisa langsung merona hingga membuatnya berbalik badan memunggungi Arya, dan seketika itu juga arya langsung terkekeh.
"hadap sini ai, masa orang ngomong malah di cuekin gitu sih". Aisa pun langsung membalikkan badannya. "kenapa kak? pasti ada hal yang serius yang mau kakak omongin kan?" tanya Aisa beruntun.
"oh lomba debat itu akhir pekan ini acaranya ya kak? dimana di Adain kak?"
"iya ai, doain kakak ya. dan lombanya di Adain di Jakarta ai."
"iya kak pasti. Aisa juga mau kasih tau kalau akhir pekan ini Aisa dan teman-teman mau ke rumah Fara, karena ada acara kak"
"oh ya, bagus dong"
"kenapa kak". Tanya Aisa bingung.
__ADS_1
"iya kita bisa saling bertukar kabar dong ai gimana sih". jawab Arya yang kembali dengan mode datar nya, dari tadi soalnya es udah cair, ehh tapi ni tiba-tiba malah mode on lagi datar nya si Arya.
Sedangkan Aisa malah memasang wajah seimut mungkin agar mode es sang kekasih kembali mencair. "hehehehe maaf kak, insyaallah kok kakak udah siap lomba kita telponan, tapi kok lombanya belum siap jangan dulu ya kak, karna ai gak mau ganggu kakak"
"siap sayang, yaudah gih balek ke kelas. nanti keburu gurunya masok lho. kakak juga mau ke perpus ni, cari beberapa bahan lagi buat lomba besok. ai belajar yang rajin ya, dan sekarang simpang dulu marah ke kawan-kawan. kakak janji deh bakal kasih novel baru kesukaan ai, nanti novelnya kakak tarok di belakang bunga mawar depan kamarnya ai, tapi jangan ngambekan lagi ya sayang". oh sangat lembut sekali tutur kata Arya hingga membuat Aisa semakin bersemu dan tanpa bantahan langsung mengiyakan kemauan Arya. 'Duh kok aku makin nerves sih, mana kak Arya lembut banget lagi. untung aja kak Arya cuman lembut sama Aisa, coba aja kok kak Arya lembut ke semua orang dah cemburu tiap saat ni aku' . Batin aisa.
"emmh ya udah deh kak, Aisa ke kelas dulu ya". Akhirnya aisa menurut juga, emang orang kek Aisa cuman bisa di atasi oleh pawangnya aja dah.
Arya pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum yang membuat wajahnya semakin teduh, dan pastinya Aisa semakin bersemu merah di wajahnya. Dan setelah itu Aisa memilih langsung pamit dengan mengucapkan salam. "Duluan ya kak, assalamualaikum"
"waalaikumsalam, ai semangat belajarnya ya, hati-hati juga ke kelasnya". lanjut Arya yang semakin bertambah sikap posesifnya.
"iya kak" lalu Aisa langsung pergi dari area tersebut dan langsung menuju ke kelasnya.
Sedangkan Arya hanya mampu meratapi kepergian Arya, dengan wajah gembira yang membuatnya semakin bersinar. karena bukan tanpa sengaja ia mengikuti Aisa ke sini, tapi karna arya melihat Aisa keluar dari kelasnya dengan raut wajah kesal. Dan Arya pun yang paham apa masalah Aisa, langsung menyusul dan menghibur sang kekasih. Arya sangat senang kalau Aisa sedang dalam mode ngambek, karna baginya Aisa sangat menggemaskan jika marah. Mungkin terdengar lucu, tapi bagi Arya itu adalah keistimewaan sang kekasih yang mesti di syukuri.
.
.
.
.
__ADS_1
🍀🍀🍀