
"Liat, deh, An, murid baru itu sepertinya tergila-gila padamu. Sudah berulangkali ia mencuri pandang ke sini. Liaat!"
Aku lekas mengalihkan pandang. Sialan. Suara Ana keras sekali sampai aku dapat mendengarnya dengan jelas. Beberapa mahasiswa juga mahasiswi yang tengah menikmati makanannya langsung menatap kemari, membuat wajahku perlahan menghangat. Dengan gugup, kuusap keringat di kening.
"Apa kamu tertarik padanya?" tanya Dini nyaris berbisik. Keningnya berkerut curiga, membuat mata bulatnya sedikit menyipit.
Aku menarik napas panjang, berusaha mengontrol jantung yang berdegup kencang. Pelan, kuraih gelas lalu meraih gelas es tehku yang berembun.
"Jawab, apa kamu tertarik padanya?" Gadis bertubuh semampai di hadapanku lagi-lagi menatap curiga. Menjadi rahasia kami berdua, bahwa ia naksir berat pada Andika. Walau baru berteman sepuluh hari, namun aku dan Dini cepat sekali menjadi akrab.
"Gak, lah. Masa aku tertarik padanya. Nggak mungkin, laah," jawabku cepat untuk mengusir perasaan gugup. Tetapi bukan gugup karena aku tertarik padanya, melainkan ada yang lebih parah dari itu.
Aku mengembuskan napas. Tiba-tiba merasa begitu pesimis. Bagaimana aku bisa melakukannya? Aku berusaha untuk tak melihat ke arah Andika yang mungkin saja, sekarang ini tengah memperhatikanku. Andika begitu dingin. Cute sih, tapi sayangnya begitu dingin. Apa lelaki seperti itu bisa jatuh cinta pada perempuan? Walau kebanyakan cowok di kampusku dulu selalu bilang aku cantik dan menarik, tapi untuk ukuran Andika ....
Aku menggeleng putusasa. Tiba-tiba merasa tak yakin.
Sungguh, jika bukan karena tawaran Ana, gadis berkulit langsat berpakaian modis yang duduk di samping Andika, tentu tak sudi tiga hari berturut-turut ini, aku terus memperhatikan cowok berambut jabrik yang terlihat sangat angkuh itu.
Memperhatikan, adalah satu-satunya cara yang bisa kulakukan selain langsung mengajak cowok dingin bermata sipit itu bertutur sapa. Para mahasiswi pasti akan terkejut jika melihatku menghampiri Andika, cowok populer di kampus ini dan mengajaknya berkenalan. Pasti sebagian mahasiswi mengataiku kelewat berani. Aku juga tak mungkin melakukannya karena gengsi. Yaa ... bayangkan saja. Di kampusku dulu, banyak cowok tajir dan tampan mengutarakan cinta. Namun, selalu kutolak. Namun kini ....
Suka tidak suka, demi tawaran menggiurkan Ana yang tak lain adalah saudara kembar Andika, maka aku harus menembak cowok itu untuk dijadikan pacar. Gila, bukan? Jika tak terpaksa, tentu aku tak sudi menerima tawaran Ana. Semua ini kulakukan demi sejumlah uang yang bisa menolong warung makan Ayah yang nyaris bangkrut.
"Yakin kamu beneran nggak tertarik padanya?" Suara Dini kembali terdengar. Wajah imut kekanakannya terlihat tak percaya. Aku meminum es lagi dan menatapnya sungguh-sungguh.
"Gak. Aku gak tertarik pada cowok angkuh itu. Suka padanya? Yang benar a-jaa."
"Baguslah."
Suara itu begitu tak asing. Aku menatap Dini yang segera membalasku dengan menudingkan jari. Refleks aku menoleh ke belakang. Saking terkejutnya, aku sampai menyemburkan minuman di mulut dan mengenai wajah Andika. Ana segera berlari mendekat lalu menyeka wajah Andika dengan tisu. Mata bening gadis berjilbab mungil ini menatapku memperingatkan.
Aku mengembuskan napas, memberanikan diri menatap sosok tubuh yang menjulang tinggi dengan bibir melekuk sinis. Ekspresi wajah Andika jangan ditanya ... sungguh seperti hewan buas kelaparan tengah mengintai mangsa. Sungguh membuatku bergidik ngeri.
__ADS_1
Kalau sudah begini, bagaimana bisa aku mendekatinya? Aku harus minta maaf. Dengan jantung berdetak kencang, aku berdiri. Memberanikan diri menatap Andika.
"Maaf," kataku dengan suara bergetar.
Andika mengernyit. "Maaf untuk apa, Murid Baru?"
Hening.
"Tentang ...." Lidahku mendadak kelu.
Aku menatap sekeliling. Tepat seperti yang kupikirkan, para mahasiswa dan mahasiswi tengah memperhatikanku. Tidak. Meskipun aku tengah membutuhkan uang, aku tetap tak boleh terlihat hina di depan banyak orang.
"Oh, kenapa kamu tiba-tiba berdiri di hadapanku? Apa kamu ingin memintaku membantu mengerjakan tugas makalah lagi? Karenaku, IP-mu selalu tinggi."
Andika mengernyit. Bibir tipisnya terus melekuk sinis. Aku menggigit bibir. Gila. Apa yang sebenarnya telah kuperbuat? Beberapa mahasiswi teman sekelas langsung tersenyum mencemooh. Tahu betul kalau aku mengada-ada. Ya jelas, aku kan murid baru, pindahan dari Unila.
Andika menatapku tajam. Ooh, Tuhan ... untuk mengajaknya berkenalan dengan baik, ke depannya pasti akan sulit sekali. Apalagi menjadikannya pacar seperti yang diminta Ana.
Sementara aku terbengong tak percaya, Andika melenggang santai ke arah dua temannya yang terus menatap kemari. Bagaimana ini? Kenapa bisa seperti ini?
"Apa benar dia sering memintamu mengerjakan makalah? Bukankah dia mahasiswa paling pintar di kelas? Bahkan di kampus ini. Dan lagi, kamu kan pindahan dari Karang, Yan."
Aku tak menjawab pertanyaan Dini. Aku tahu ia sengaja menyindir.
***
Tidak! Aku telah memutuskan tak akan menemui Andika. Dari perpus lantai dua ini, aku dengan jelas melihatnya berdiri di depan gerbang bersama dua orang temannya.
Dering HP di saku celana yang membuatku melenggak-lenggok kegelian, membuatku buru-buru merogohnya. 1 pesan WA dari Ana.
Jangan buat saudara kembarku menunggu. Kamu harus jadi pacarnya lalu aku akan mentransfer uang ke rekeningmu.
__ADS_1
Aku mengembuskan napas. Aku benar-benar butuh kucuran dana dari Ana. Tetapi untuk bertatap muka dengan Andika lagi ... aku bergidik saat membayangkan tatapan tajamnya yang seolah menembus jantung. Sungguh mengerikan.
Aku menggeleng, tiba-tiba berpikir lebih baik menyerah saja. Mungkin, jika aku mau berusaha sedikit, restoran Ayah bisa saja selamat dari kebangkrutan. Lebih baik aku berusaha lebih keras daripada menuruti keinginan Ana yang berarti harus siap dilemparkan ke kandang singa.
Aku menatap ke arah gerbang. Andika dan dua temannya sudah tak ada. Syukurlah. Maka aku segera turun, lalu dengan langkah cepat keluar dari perpustakaan. Aku tersentak kaget saat tiba-tiba tanganku disambar cukup keras. Aku mendongak dan langsung beradu tatap dengan mata tajam Andika.
"Lepaskan!"
Andika tersenyum sinis. "Kukira, kamu sudah pulang. Sungguh kebetulan kita bisa bertemu di sini."
Aku membisu. Sial. Seharusnya begitu mata kuliah usai, aku langsung pulang saja. Moment Andika tak masuk pada mata kuliah terakhir, seharusnya tak kusia-siakan. Pikirku, ia tak serius dengan perkataannya.
"Ayo, temani aku makan."
Aku menatapnya heran. "Apa?"
"Ikuti aku!"
Jantungku lagi-lagi berdetak cepat. Kenapa ia tak langsung marah-marah saja dan malah bersikap seperti ini? Aku jadi bingung mau bertindak.
"Kenapa diam di situ seperti orang bodoh? Ayo ke kantin!" Ia menoleh dan menyentak napas keras.
Setelah meyakinkan diri bahwa bersamanya aku akan baik-baik saja, aku mulai melangkah pelan di belakangnya menuju kantin yang ramai. Beberapa mahasiswa dan mahasiswi langsung menatap kemari. Suara bincang-bincang yang semula terdengar, mendadak hening. Lalu terdengar suitan dari dua teman Andika yang duduk di meja paling pojok, tempat Andika biasa duduk.
Andika menggeser kursi ke belakang lalu mendudukinya. Matanya mengisyaratkan agar aku duduk. Aku menggeleng, memilih tetap berdiri.
"Nggak usah basa-basi. Sebenarnya, apa yang ingin kamu katakan?" tanyaku tanpa memandangnya.
"Dia aneh sekali. Bicara denganmu, tapi yang ditatap malah lantai," gumam Ihsan.
Ikhsan, cowok bertampang pas-pasan bertubuh tinggi cungkring itu langsung nyengir saat bersitatap denganku. Sementara Saputra, cowok tegap berkulit sawo matang itu pura-pura membetulkan kaca matanya.
__ADS_1
Sekarang, aku ganti menatap Andika. Ia tengah menatapku tajam.