
"Apa kamu sudah gila?!" tanyaku sambil berdiri, lantas mengusap bibir dengan kesal. Menyebalkan sekali.
"Itu yang kuinginkan. Aku sudah jujur dengan perasaanku tapi kamu malah mengacuhkanku," sahutnya santai. Tangannya mengisyaratkan agar aku kembali duduk.
Aku menyentak napas, menggeser kursi ke belakang lalu berlari pergi.
Kenapa ciuman pertamaku harus dia? Aku meludah kesal sambil terus berjalan menuju terminal. Semua angkot sudah penuh. Aku memutuskan membeli jus tak jauh dari warung makan Ayah dan duduk di bangku panjang.
Tin tin!
Sebuah mobil mewah berhenti di depanku. Perlahan kacanya terbuka.
"Masuklah. Kuantar kamu pulang."
Aku membuang pandang. Nun jauh di sana, langit tampak kelabu. Awan hitam berarak di kaki langit.
"Murid Baru, naiklah!" Tin tin!
Aku bersikukuh tak mau memandangnya. Memangnya, siapa dia mencoba mempermainkanku?
"Apa aku tidak boleh mengantarmu pulang?"
Aku tersentak saat menyadari tahu-tahu Andika sudah berdiri di sampingku. Kedua tangannya dimasukkan di saku switer bulunya dan angin yang berembus membuat rambutnya bergoyang ke sana kemari. Jika aku tak tahu ia ternyata sangat menyebalkan, aku pasti sudah mengagumi betapa elok ciptaan-Nya ini seperti kebanyakan mahasiswi di kampus. Sayang, berparas elok namun sangat menyebalkan, tak cukup membuatku terpikat.
"Kenapa kamu terus menggangguku? Aku tau kamu gak mencintaiku, jadi jangan terus mengajakku bermain-main. Itu hanya membuang waktu berhargaku."
"Di kantin tadi, aku melakukannya sebenarnya karena gengsi. Tapi ternyata, gengsi tak ada gunanya. Aku tidak bisa terus memungkiri perasaanku."
"Sayang sekali kamu bertepuk sebelah tangan."
Ia memicingkan sebelah mata. "Kurasa tidak."
"Kamu sangat percaya diri." Aku memandangnya sinis. Gerimis mulai turun. Aku menatap ke arah terminal. Ada satu angkot. Namun tak ada penumpangnya. Pasti menyebalkan jika harus menunggu sampai penumpang penuh di sana.
Kuraih HP yang berdering dalam tas. Satu pesan WA.
Aku melihatmu dan Andika. Apa kalian sudah jadian? Kalian terlihat mesra.
Mesra? Aku menoleh. Ternyata, Andika duduk begitu dekat denganku. Aku langsung bergeser menjauh.
__ADS_1
"Apa dari temanmu?" tanya Andika sambil memajukan tubuh. Langsung saja kumasukkan HPnke dalam tas.
"Dari pacarku!" sahutku jutek.
"Apa kamu serius pacaran dengan Kak Arga?" tanyanya dengan wajah tak percaya.
"Apa aku terlihat bohong?"
"Baiklah, jika memang kamu sudah punya pacar, aku tak ingin menggnggumu lagi."
Ia tersenyum sinis lalu berjalan santai ke arah mobilnya. Kurogoh HP-ku yang bergetar dan membelalak saat membaca sebuah pesan menginfokan bahwa ada sejumlah uang masuk ke rekeningku. Pasti dari Ana. Tebakanku terbukti saat HP kembali berbunyi. Nama 'Ana' tertera di layar.
"Sudah masuk, kan? Aku sekarang percaya bahwa kalian pacaran."
"An, aku ...."
Belum sempat menjelaskan, sambungan telah diputus. Aku berdiri, tanpa membuang waktu melangkah cepat ke arah Andika yang telah duduk di belakang kemudi. Ia mengerutkan kening saat menoleh.
"Ada apa?" tanyanya dengan sebelah mata terpicing.
Aku mengembuskan napas. Merasa gengsi mengatakannya, namun tak punya pilihan. Ana sudah terlanjur mentransfer uangnya, mau tidak mau aku harus menjalani permainan ini walau dengan berat hati.
"Apa kamu masih ingin mengantarku pulang?"
Kesal, aku memutuskan kembali menepi. Aku ternyata terlalu gengsi. Meskipun uang dari Ana membuatku senang, namun aku tak mau direndahkan. Aku menoleh ke kiri, angkot yang tadi tengah menunggu penumpang sudah tak ada. Warung makan Ayah sudah tutup. Mungkin, Ayah tengah beres-beres pulang. Aku menengadahkan tangan, gerimis semakin deras.
Lebih baik pulang bareng Ayah saja. Aku memutuskan menunggu Ayah dekat jembatan. Pelan, aku melangkah di pinggir jalan. Mobil Andika berjalan lambat melewatiku. Kaca jendelanya diturunkan.
Gerimis semakin menderas. Aku terus melangkah sambil bersidekap. Tidak mau Ayah berpikir aku telah pulang, maka kurogoh HP dalam tas berniat mengirim pesan pada Ayah. Baru saja mulai mengetik, HP berdering. Sederet nomer asing.
"Murid Baru, cepat ke sini dan naiklah."
Aku mengernyit. Tangan mengusap setetes air yang menjatuhi layar HP. Dari mana Andika tahu nomerku? Apakah Ana yang memberitahunya? Mungkin saja. Karena mereka saudara kembar.
Kutekan tombol merah lalu menjatuhkan HP ke dalam tas. Hujan ditambah angin yang berembus kencang membuat tulang terasa ngilu. Di depan sana, Andika melongokkan kepala. Tangannya melambai ke arahku.
"Apa kamu tidak mau masuk?!" katanya setengah berteriak. Tiba di samping mobilnya, aku berhenti. Tapi aku tak berniat masuk. Sebentar lagi, motor Ayah pasti lewat.
"Cepat masuk!"
__ADS_1
Aku memilih berteduh di teras toko bersama beberapa pengendara motor. Andika terus memandangku dari mobilnya. Lima menit. Sepuluh menit. Rinai hujan terus mengguyur jalanan yang basah. Aku memeluk tubuh karena mulai menggigil.
"Ayo!"
Aku memperhatikan Andika turun, meraih tanganku.
"Apa kamu sedang akan balas dendam?"
Ia tersenyum sinis. "Tidak."
Aneh. Hanya kata sederhana itu, membuatku tanpa pikir panjang langsung mengikutinya. Pasti, ini efek karena aku sudah sangat kedinginan. Andika mengemudikan mobilnya perlahan, sesekali menoleh ke arahku. Entahlah apa yang dipikirkannya saat ini. Tingkahnya yang sebentar-sebentar menatap kemari sungguh membuatku tak nyaman. Untunglah, jalanan cukup lengang sehingga kami cepat sampai. Baru saja aku membuka pintu mobil hendak turun, Andika menyambar tanganku.
"Hujannya sangat deras. Tunggulah sampai benar-benar reda." Ia tersenyum kecil.
Aku memperhatikannya. Saat bersikap ramah seperti ini, ia terlihat begitu menarik. Lihatlah tatapannya yang kini lembut. Tak ingin terus menatapnya yang membuatku semakin canggung, aku memilih memandang ke arah lain. Memerhatikan dedaunan yang bertiup kencang. Beberapa daun kekuningan melayang-layang turun, jatuh menimpa rumput hijau yang tertanam rapi di halaman rumahku.
"Pertanyaanku tadi belum dijawab." Andika berkata lirih.
"Apa yang sebenarnya kamu rencanakan padaku?" Aku sama sekali tak memandangnya. Tetapi karena ucapanku tak dijawab, aku jadi penasaran. Jangan-jangan, ia tidur. Aku memutuskan menoleh, langsung beringsut mundur saat menyadari wajahnya begitu dekat dengan wajahku.
"Aku hanya ingin memilikimu, itu saja."
"Aneh sekali kamu bisa berubah pikiran dengan cepat. Bagaimana mungkin kamu ingin memiliki sesuatu yang jelas-jelas gak kamu sukai? Apa kamu pikir aku bodoh?" Aku menatapnya, mengacuhkan getar tak biasa dalam dada.
"Terima kasih sudah mengantarku. Aku akan membalas budi baikmu kapan-kapan."
Lalu tanpa menghiraukan hujan yang terus mengguyur deras, aku berlari menuju teras. Saat aku membuka pintu dan siap masuk, HP-ku berdering. Dari Ana.
"An," ucapku sambil membuka pintu.
"Sudah masuk, kan'?"
Aku menghela napas. Merasa galau. Satu sisi benar-benar membutuhkan uang dari Ana, namun menjadi pacar Andika ... aku menggeleng. Tidak. Cowok angkuh itu pasti akan merasa di atas angin jika aku mengiyakan menjadi pacarnya.
"An, aku akan kembalikan uang darimu."
"Kenapa?"
"Aku gak mau jadi pacar saudaramu. Ia begitu menyebalkan. Akan kukembalikan segera uangmu."
__ADS_1
"Yan, Yan, jangan dimatikan dulu. Kamu tak perlu mengembalikan uangnya. Tak masalah jika kalian tak pacaran. Aku sebenarnya, hanya ingin tau saja sebenarnya Andika normal atau tidak. Jangan dikembalikan, ya, aku akan marah kalau sampai kamu mengembalikannya."
Klik. Sambungan diputus. Aku mengembuskan napas. Syukurlah, jika aku memang tak harus menjadi pacar Andika.