Kamu Milikku!

Kamu Milikku!
Bab 3


__ADS_3

Sama seperti beberapa waktu lalu, warung ini tak begitu ramai. Hanya ada beberapa orang yang sedang makan sambil mengobrol. Ibu Andika menatapku sekilas lalu berdiri dengan gerakan anggun. Diangsurkannya beberapa lembar uang ke Ayah lalu melangkah keluar.


Aku menghela napas. Mencoba memaklumi saat melihat ke arah meja, terlihat beberapa makanan yang dipesan ibu Andika seperti belum dijamah. Hanya jus mangga saja yang tinggal sedikit dalam gelas ukuran besar. Aku mendekat, lalu membawa semua makanan itu ke dapur kemudian membungkusnya. Daripada mubazir, lebih baik diberikan pada pengemis.


"Di mana pacarmu?"


Aku memandang Ayah sekilas.


"Kenapa tak cerita pada ayah kalau kamu punya pacar?"


"Gak ada yang perlu diceritakan, Yah. Kami hanya temenan," kataku sambil meraih plastik lalu memasukkan tiga bungkus makanan ke dalamnya. Setelah itu kuraih beberapa piring kotor kemudian meletakkannya di wastafel, menyalakan kran, kemudian membasahi busa dan memberinya cairan pencuci piring.


"Ayah tidak melarangmu. Hanya sa--"


"Yah." Potongku cepat. "Aku beneran gak pacaran sama dia kok, sungguh. Sungguuh!" Kuangkat dua jari ke udara. Ayah mengangguk pelan. Namun wajah hitam manisnya terlihat tak percaya.


"Ayah percaya padamu. Ayah tak melarangmu pacaran. Asal, dia lelaki baik-baik."


Ayah memang tak mudah percaya. Aku memandang Ayah lalu mengangguk. "Siap, Ayah. Tapi, aku dan dia memang gak pacaran." Aku menata piring ke dalam rak kecil yang menempel di dinding lalu berjalan meninggalkan Ayah. Ayah mengikuti.


"Yaah, aku pulang dulu, yaa? Ada tugas makalah soalnya, aku harus kerjakan."


Ayah mengangguk. Aku melambaikan tangan sambil melangkah mundur.


Di sinilah aku sekarang, duduk di mikrolet dengan beberapa orang ibu-ibu dengan keranjang belanjaan di depan kakinya. Dua lelaki tua duduk di depanku, dengan tak berperasaan terus mengembuskan asap rokok. Tak tahan dengan bahunya, segera kukeluarkan tisu lalu menutupi hidung.


Dulu, saat Ayah dan Ibu belum bercerai, tak pernah aku menaiki mikrolet. Saban berangkat dan pulang sekolah, atau kemanapun, selalu ada sopir yang siap mengantar jemput. Andai Ibu tak selingkuh, tentu tak akan ada pembagian harta. Mungkin juga, kehidupan kami semakin jaya.


Ayah waktu itu sedang berada pada puncak kejayaan karirnya saat Ibu mengajukan gugatan cerai. Ayah sedih berlarut-larut hingga tanpa sadar melakukan beberapa kesalahan yang membuat perusahaan tempatnya bekerja mengalami kerugian besar. Ayah akhirnya diberhentikan dengan pesangon.


"Apa yang kamu lamunkan?"


Aku refleks menoleh ke samping. Seorang cowok berkulit sawo matang dengan rambut acak-acakan tengah menatapku. Ia mengenakan jas almamater. Tangannya membawa dua buku cetak tebal.


Aku tersenyum kecil. "Gak ada," sahutku sambil terus membekap hidung.


"Pak, maaf, temanku ini alergi asap rokok. Bisa tolong matikan?"


Teman? Aku mengernyit. Kenal saja tidak. Ia langsung memberiku kode dengan mengedipkan mata.

__ADS_1


Dua bapak di hadapan kami menatapku cukup lama dan akhirnya melempar batang rokoknya yang tersisa keluar mikrolet. Aku mengembuskan napas lega.


"Terima kasih."


Ia tersenyum kecil. Lalu membuka salah satu buku yang dibawanya.


Dua puluh menit kemudian, aku berseru menyuruh berhenti, memberikan ongkos pada sang supir, lalu masuk ke dalam gang.


"Tunggu!"


Aku menoleh. Cowok bertubuh tinggi yang dimikrolet tadi.


"Apa kamu kenal dengan Rama? Aku temannya Rama."


"Mahasiswa IAIN sementer 6 bukan?" tanyaku sambil melanjutkan langkah. Ia ikut melangkah di sampingku. Udara yang begitu panas membuatku ingin segera cepat sampai rumah.


"Iya, katanya sedang sakit. Aku teman sekelasnya."


"Ooh, gitu. Kebetulan kita searah. Rumahnya pas di samping rumahku."


Ia mengangguk-angguk, memperhatikan penampilanku sejenak, lalu berkata, "Kamu kuliah di IAIN juga?"


"Ooh, pantas tak pernah melihatmu. Aku Arga, kamu?"


"Aiyana." Aku menjabat uluran tangannya. Ia tersenyum kecil.


"Terima kasih, ya? Aku memang agak sesak kalau mencium asap rokok."


Ia mengangguk. "Sama, aku juga."


"Kamu bukan perokok?" Aku memandangnya sangsi. Jaman sekarang, bahkan anak SD pun sudah ada yang merokok. Arga tersenyum, lalu mengangguk meyakinkan.


"Aku sudah sampai. Itu rumah Rama."


Ia tersenyum. "Sampai jumpai, Ai." Lalu ia melangkah cepat meninggalkanku. Aku segera membuka pintu lalu berjalan menuju kulkas, meraih botol air mineral berembun dan meminumnya cepat. Nikmat sekali rasanya.


***


Aku langsung bangkit berdiri saat mendengar pintu kamarku diketuk dan bergegas membukanya. Di hadapanku, Ayah berdiri dengan wajah lelah.

__ADS_1


"Apa ayah mengganggumu?" tanyanya sambil melongok ke dalam kamar. Ayah menggeleng saat tatapannya terpantik pada meja belajarku yang tampak berantakan oleh buku-buku. Tak hanya di meja, lantai pun dipenuhi oleh kepalan kertas.


"Ayah kan selalu bilang, anak gadis harus rajin."


Aku spontan merentangkan tangan menghalau Ayah agar tidak masuk. Biasanya, sambil mengoceh, Ayah akan membereskannya.


"Aku sedang belajar, Yah. Nanti kuberesi kalau udah selesai."


Ayah mengembuskan napas, lalu mengangguk. "Jika sudah, nanti temui ayah. Ada hal penting yang ingin ayah bicarakan."


"Kalau mau bicara, bicara saja sekarang, Yah."


Ayah menggeleng. "Selesaikan dulu belajarmu. Dan itu, jangan lupa beresi."


Kuletakkan tangan ke dahi seperti sedang hormat. "Siap, Yaah."


Ayah menutup pintu kamarku dari luar. Aku mengembuskan napas, menerka-nerka apa gerangan yang hendak dikatakan Ayah. Apa mengenai warung makannya?


Aku perlahan duduk lalu kembali menulis materi yang sedang kurangkum, namun tak bisa fokus karena pikiranku terus berkutat ke arah itu. Bagaimana jika Ayah benar-benar berniat menjual warung makannya seperti yang pernah dikatakannya beberapa hari lalu? Lalu, bagaimana dengan biaya kuliahku?


Karena semakin tak konsentrasi, akhirnya kuraih buku-buku, menumpuknya menjadi satu di sudut meja kemudian berjalan menuju halaman di mana Ayah tengah duduk di kursi panjang. Kepalanya mendongak ke atas, pada langit yang diterangi kerlip bintang. Di samping kanan Ayah duduk, ada dua botol minuman bersoda.


"Duduklah."


Dengan patuh aku segera duduk.


Ayah menoleh. "Apa kamu merindukan ibumu?" tanyanya pelan. Dari sinar lampu jalan, wajah Ayah terlihat sedih.


Aku menatap Ayah penuh selidik. Sejak perceraiannya dan Ibu tiga tahun lalu, baru kali ini Ayah membicarakan Ibu. Ayah pernah berkata padaku saat ia kehilangan pekerjaan dulu, kata Ayah, aku tak punya Ibu. Ibuku ya, Ayah.


Tentu saja aku sedih saat Ayah mengatakan agar aku menganggap Ibu telah mati. Namun, aku selalu menutupi kesedihanku mengingat Ayah begitu terluka pada perceraiannya. Aku mencoba selalu bersikap ceria di hadapan Ayah, walau diam-diam mengharap Ibu kembali.


Namun, Ibu tak pernah kembali. Bahkan, hanya menemuiku di sekolah pun tak pernah. Maka, lambat laun aku mulai membenci Ibu, membakar habis semua kenangan yang pernah tercipta bersamanya tak peduli ia wanita yang telah melahirkanku.


"Jika kamu begitu merindukannya, Ayah tidak apa-apa jika untuk sementara kamu tinggal di rumahnya sampai lulus."


Aku mencium gelagat tak baik. Apa Ayah ingin mendepakku pergi dari sini karena kondisi keuangannya yang tak stabil? Aku sungguh tak apa-apa meskipun Ayah tak punya uang. Tetapi tinggal bersama Ibu ....


Aku menggeleng tegas. Aku benci Ibu. Sangat benci.

__ADS_1


__ADS_2