Kamu Milikku!

Kamu Milikku!
Bab 8


__ADS_3

Sepanjang jam pelajaran, aku tak henti tersenyum. Tadi sebelum mata kuliah dimulai, Ana berkali-kali mengatakan bahwa aku tak perlu mengembalikan uang yang telah ditransfernya. Ia berharap, aku mau menjadi pacar Andika, namun tak mau memaksa. Syukurlah. Uang darinya, bisa digunakan untuk menambah modal warung Ayah, juga memperbanyak selebaran untuk dibagikan.


Aku tersenyum senang memikirkan strategi yang semoga saja bisa membuat warung makan Ayah kembali berjaya. Aku menghela napas saat tiba-tiba teringat Ayah. Ayah selalu curigaan. Ia pasti akan bertanya-tanya aku mendapat kucuran dana dari siapa.


"Teman," gumamku, menjentikkan jari ke udara. Aku bisa mengatakan pada Ayah mendapat uang minjam dari teman. Ayah mungkin akan keberatan. Tapi, aku akan berusaha membujuknya.


"Dia aneh sekali, kan? Heran, kenapa Andika bisa menyatakan cinta padanya."


"Menurutku juga begitu, dia memang aneh."


Suara yang sengaja dikeraskan itu, membuatku menoleh ke belakang. Beberapa mahasiswi juga langsung menoleh ke sumber suara. Tak sengaja tatapanku bersirobok dengan Andika. Cowok menyebalkan itu berdiri, lalu pamit pada Pak Muhsin hendak ke toilet. Pak Muhsin mengangguk, tangannya yang memegang spidol mengetuk-ngetuk papan tulis.


"Perhatikan ke sini!" Perintah Pak Muhsin dengan suara keras.


Kini, semua perhatian kembali lurus ke depan, menyimak penjelasan Pak Muhsin dengan wajah sungguh-sungguh--aku yakin mereka sengaja terlihat berkosentrasi karena tak ingin mendapat nilai D dari dosen yang berdiri di depan papan tulis itu.


Sudah menjadi rahasia umum, Pak Muhlis suka diam-diam mengamati para mahasiswanya yang tak serius menyimak. Jika kedapatan 3 kali melakukannya di mata kuliahnya, maka siap-siap saja mendapat nilai D, jadi terpaksa harus mengambil semester pendek disaat mahasiswa lain menghabiskan waktu senggangnya.


Aku meregangkan tubuh saat Pak Muhlis mengakhiri mata kuliah karena bel istirahat berbunyi. Beberapa mahasiswi langsung ke luar.


"Ayo," ucap Andini antusias sambil merapikan jilbabnya. Cermin mungil ia dekatkan ke wajah baby facenya.


"Aku gak keluar. Mau kerjain tugas."


"Baiklah kalau begitu. Aku harus segera ke kantin karena aku sangat lapar. Nanti kubelikan batagor."


Aku mengangguk, memasukkan buku bahasa Arab ke dalam tas lalu mengeluarkan buku Tafsir. Andini menggeser kursi ke belakang lalu dengan langkah anggun berjalan ke luar kelas.


Baru saja aku mulai mengerjakan tugas, Andini memanggil namaku. Ia melangkah cepat ke arahku, mengatur napas, kemudian menarikku berdiri. Aku memandangnya heran, menerka-nerka dalam hati kenapa ia kembali ke kelas.


"Andika ingin kamu segera menemuinya di kantin."


Aku balas menatap Andini dengan heran. Andini terus menatapku memelas.


"Aku gak mau," sahutku akhirnya, kembali duduk dan mulai menulis.

__ADS_1


Tentu, lebih baik mengerjakan tugas daripada menemui cowok menyebalkan itu. Atau lebih baik, membaca komik lewat HP daripada harus menemui Andika.


"Kutunggu sampai kamu selesai ngerjain tugas, lalu kita temuin dia, ya?" Andini menatapku lagi-lagi dengan wajah memelas. Ia pernah mengatakan padaku tertarik pada Andika, lalu kenapa kini antusias ingin aku bertemu dengan cowok itu? Andini tahu benar dari grup WA khusus teman sekelas perihal Andika yang mengatakan cinta padaku kemarin.


"Nah, udah selesai. Ayo kita temuin Andika."


Aku menggeleng, meletakkan buku ke dalam tas, kemudian membuka aplikasi biasa aku membaca komik yang lucu-lucu.


"Apa kamu tetap nggak mau nemuin dia? Andika membuat pengumuman kalau kamu adalah pacarnya. Dan Andika ingin agar aku memberitahumu. Andika ingin kamu menemuinya," jelas Andini panjang lebar. Aku memerhatikan wajahnya, mencari-cari aura cemburu di wajahnya. Tapi, ia sama sekali tak terlihat kesal. Justru sebaliknya, wajah kekanakan sahabatku ini terlihat riang berseri.


"Aku gak mau nemuin orang sinting," kataku sambil terus membaca komik.


Andini memonyongkan bibir, membuat wajah kekanakannya terlihat menggemaskan. Sayup-sayup, terdengar suara ribut-ribut di bawah sana. Lalu terdengar suara Andika menggunakan pengeras suara.


"Yana, turunlah."


"Yana, bisakah turun sebentar saja? Andika mencarimu." Suara Ana melalui pengeras suara. Gadis itu, pasti saat ini berada di dekat saudara kembarnya.


"Turunlah sebentar. Andika ingin bicara padamu."


"Yana, cepat turun!"


Apa manusia bernama Andika itu tak punya mulut? Kenapa menyuruh saudaranya terus berkata-kata seperti kambing congek? Sungguh menyebalkan. Aku mendengkus sebal saat teringat ciumannya di warung makan seberang warung makan Ayah.


"Apa kamu benar-benar tak mau turun?"


Aku tersentak saat Dini menepuk bahuku cukup keras, tatapan sahabatku ini tertuju ke arah pintu, di mana Andika berdiri. Di belakangnya, mahasiswi kelas sebelas tampak menatap penuh kecemburuan. Jelas sekali ditujukan padaku. Aku pura-pura tak melihat saat Andika duduk di kursi sebelahku.


"Aku sedang bicara padamu."


Andini yang sejak tadi berdiri di sebelahku, mencubit pinggangku.


"Apa kamu ingin mengajakku bermain-main?" Aku menatap Andika tak suka. Ia langsung menggeleng. Ia sedekapkan tangannya ke meja, lalu menoleh menatapku.


"Tidak." Ia menatapku dalam.

__ADS_1


Aku melengos.


"Lalu kenapa bertingkah konyol? Menyuruhku turun melalui Andini seolah ia budakmu." Aku menatapnya mengejek.


"Aku tak menganggapnya seperti yang kamu katakan. Aku hanya minta tolong agar menyuruhmu turun."


Aku menatap layar HP, melanjutkan membaca komik.


"Jadilah pacarku."


Beberapa mahasiswi di luar kelas terus menatapku, begitu pun yang ada di dalam. Pasti, mereka tak menyangka cowok sepopuler Andika akan mengemis cinta padaku. Sayang sekali mereka tak tahu seperti apa Andika yang sebenarnya. Andika tak sebaik kelihatannya. Dia jahat sekali. Mana ada orang berhati baik membalas dendam?


"Terima. Terima. Terima!" kata lima mahasiswa teman sekelas yang baru masuk nyaris kompak. Mereka melangkah menuju kursi sambil mengerling ke arah Andika. Sementara dua sahabat karib Andika, melangkah ke arahku sambil mengacungkan ibu jari ke udara.


"Jadilah pacarku."


Andika menjentikkan jari ke udara. Ana melangkah masuk bersama 4 teman sekelasku, membawa buket bunga warna-warni. Andika meraih dua bunga yang disodorkan Ana dan Sintia lalu menyodorkannya ke arahku.


"Terimaa. Terimaa. Terimaa."


Nyaris semua mahasiswa maupun mahasiswi yang menyaksikan kekonyolan Andika bertepuk tangan dengan riang. Aku memandang Andika yang memandangku penuh harap, lalu memberinya senyuman kecil, setelah itu, menerima dua bunga yang diulurkannya.


"Terima kasih, ini indah sekali." Kudekatkan bunga ke Indra penciuman, menghidunya. Saat kulihat Andika tersenyum lebar, segera kuberikan satu bunganya pada Andini, satunya lagi kuberikan pada cewek yang tadi paling antusias berteriak.


"Harganya pasti mahal. Jadi daripada dibuang, lebih baik kuberikan pada cewek yang jelas-jelas mengidolakanmu."


Lalu, aku melenggang santai keluar kelas dengan hati bahagia. Bisa mempermalukan Andika, rasanya sungguh menyenangkan.


"Kamu!"


Suara Andika sama sekali tak kupedulikan. Mungkin, sekarang ia tengah menahan malu.


"Memperlakukanku seperti ini, kamu pasti akan menyesal!"


#Kamu pengen cerita ini lanjut tiap hari apa? Jangan lupa dikomentari biar aku semangat nulis.

__ADS_1


#Yuk baca juga ceritaku yang lain 'Terpaksa Nikah'. Klik profilku, lalu klik 'Karya.


__ADS_2