
Setelah kejadian yang menimpa Tina digudang kampus itu, Tina menjadi sedikit trauma dengan cowok, kecuali Tito. Tina keluar dari gudang kampus itu dengan tetap memegang tangan Tito. Beberapa teman2 Tito yang melihatnya tampak menggoda Tito.
"Cie... Tito... Cewek baru lu.."goda salah satu teman Tito. Tito hanya membalasnya dengan senyuman. Tina hanya bisa menunduk dan mengikuti langkah Tito saja karena sekitarnya banyak laki2 yang memperhatikan. Tito mengantar Tina ke kelasnya. Sampai dikelasnya tampak Rika berlari menuju Tina dan memeluknya.
"Tina.. Kamu gak papa kan?"tanya Rika khawatir.
"Gak papa kok Ka. Maaf ya udah buat kamu khawatir."ucap Tina meyakinkan Rika.
"Iya.. Tapi kamu gak papa kan? Oh iya.. Kak Tito ketemu Tina dimana?"tanya Rika penasaran. Tito tampak bingung untuk menjelaskan kejadiannya.
"Udah.. udah Rika nanti aku ceritain di rumah aja ya."bujuk Tina.
"Hm.. yaudah deh. Yuk kita duduk, bentar lagi pak dosen datang."ajak Rika. Tina membalasnya dengan anggukan.
"Oh iya.. Aku mau balik ke kelas juga ya."ucap Tito dan memutar balikkan tubuhnya.
"Tito... "panggil Tina.
"Iya? Kenapa Tin?"tanya Tito.
"Makasih To. Aku gak tau mau balasnya gimana."ucap Tina.
"Iya sama2. Lain kali hati2 ya. Yaudah aku mau ke kelas dulu. Bye.. bye.. "ucap Tito dan melambaikan tangan meninggalkan ruangan itu.
Tina dan Rika mengambil posisi duduk. Mereka duduk berdampingan. Tina memperhatikan sekitarnya memastikan tidak ada cowok yang terlalu dekat dengannya. Rika heran dengan sikap Tina.
"Kenapa Tin? Kok kamu kayak ketakutan gitu?"tanya Rika.
"Gak papa kok Ka. Aku gak papa. Oh...iya ka, Angga kemana ya tumben tu orang kagak nongol hari ini."ucap Tina mengalihkan perhatian.
"Engh.. Kak Angga.. Aku gak tau Tin."jawab Rika lemas.
"Eh.. kok gitu sih Ka. Kamu ada masalah sama Angga?"tanya Tina heran.
"Gak kok Tin. Gak ada apa2."jawab Rika.
"Ehmm... Yaudah deh. Kalo gitu."
Tak lama pak dosen datang, dan mereka memulai pelajarannya.
Skipp...
Waktu istirahat pun tiba. Rika dan Tina memutuskan untuk makan di kantin. Tiba2 Tito mengejutkan mereka dari balik pintu.
"Agh... "kejut Tito.
"Aaa.... "teriak dua wanita itu. Tito tertawa puas karena berhasil membuat mereka terkejut.
__ADS_1
"Kak Tito bikin kita kaget aja. Tumben kak Tito kesini. Nyari kak Angga ya?"tanya Rika.
" Sebenarnya sih bukan nyariin Angga. Tapi gak papalah, jual mahal aja dulu." batin Tito.
"Iya nih.. Nyariin Angga. Angga mana ya?"tanya Tito.
"Kirain aku kakak tadi mau ngajak Tina makan dikantin."ucap Rika tak berdosa. Muka Tina memerah menahan malu. Rika sepertinya tidak sadar mengatakannya. Yasudahlah.
"Angga gak masuk hari ini."jawab Tina.
"Lah.. Tumben tu anak kagak masuk."ucap Tito heran. "Kamu gak tau Angga kemana ka?" tanya Tito pada Rika. Rika langsung terkejut mendengar Tito menanyakan hal itu padanya.
"Aku gak tau kak. Kok kakak nanya aku sih. Kan kakak temennya."ucap Rika mengelak.
"Iya sih aku temennya. Tapi kan kamu biasanya selalu up to date tentang Angga."jawab Tito. Rika tampak malu dikatain sama Tito.
"Engh.. Kalian mau kemana ni? Aku join ya!! Gak ada temen soalnya."ucap Tito.
"Oh.. gak papa kak. Join aja. Kita mau ke kantin."ucap Rika. Tina tampak diam saja.
Mereka pun pergi ke kantin bertiga. Mereka memesan makanan dan berbincang2 ria.
"Tin, Kayaknya kamu gak pakai baju kayak gitu deh tadi."tanya Rika. Tina terkekeh dengan pertanyaan Rika.
"Mana mungkin aku bilang kalau ini jaketnya Tito nanti dikirain aneh2 lagi sama Rika."batin Tina. Tina melihat Tito memasang wajah santai saja. Sesekali dia menyungging senyum diujung bibirnya.
"Loh kok bisa dipakai sama Tina, kak?"tanya Rika.
"Ya bisa. Gara2 laki2 brengsek itu Tina jadi kek gitu. Gua gak akan maafin tu cowok."kesal Tito.
"Kakak ngomong apaan sih? Aku gak ngerti."
"Rika.. Tina itu tadi di..... "
Uwekk... Uwekk...
Tiba2 Rika mual. Tito belum sempat menjelaskannya, namun Rika sudah berlari menuju toilet karena mual. Tina menawarkan diri untuk menemaninya namun Rika menolak. Rika pergi sendiri ke toilet. Dia memuntahkan semua isi perutnya berharap rasa mual itu hilang.
"Kenapa aku tiba2 mual?"tanya Rika pada dirinya sendiri. Tiba2 Rika mengingat sesuatu.
"Apa?!! Tidak mungkin!! Aku yakin ini bukan hamil. Benar. Ini bukan hamil."ucap Rika meyakinkan dirinya. Tapi perasaan khawatirnya itu masih menghantuinya. Dia memutuskan untuk mengecek kondisinya ke rumah sakit nanti sepulang dari kuliah.
***
Tina dan Tito masih menunggu Rika dari toilet.
"Tito... Kamu bisa tolong sembunyiin kejadian digudang tadi dari orang2 gak? Aku takut soalnya kalo orang2 tau."ucap Tina memohon.
__ADS_1
"Hmm.. iya Tin. Gua bisa kok."jawab Tito.
"Sekali lagi makasih ya To. Oh iya... Aku boleh minta alamat kamu gak To?"tanya Tina.
"Buat apa?"
"Buat balikin jaket kamu ini."
"Gak usah repot2. Besok aja balikinnya di kampus."ucap Tito.
"Yaudah deh kalau gitu. Besok aja aku balikinnya."jawab Tina.
Tito tampak sedang sibuk dengan handphone-nya. Dia kelihatan sedang chat-an dengan seseorang.
"Selesaikan pekerjaanmu sekarang. Jangan biarkan bajing*n itu tetap hidup." tulis Tito dan mengirimkannya ke seseorang.
Tito melirik ke arah Tina. Sepertinya kesedihan karena sudah disentuh oleh pria bajing*n tadi masih membekas difikirannya. Rahang Tito mengeras menahan emosi. Tito pun berdiri dan menarik tangan Tina menuju suatu ruangan. Di sandarkannya Tina di dinding dan ditatapinya wajah Tina itu dengan tatapan redup.
"Tito.. Ada apa... Mmhh.... " Tina tidak bisa melanjutkan kata2nya, karena Tito telah menciuminya. Tito melakukannya dengan sangat lembut. Tina dibuat terbuai oleh ciuman itu. Tina pun sesekali membalas ciuman itu. Mereka bercumbu dengan penuh nafsu dan kelembutan. Merasa Tina tidak menolak tindakannya, Tito pun mulai melanjutkan aksinya. Dia membuka resleting jaket yang dipakai Tina dan di pegangnya gunung kembar milik Tina itu dengan posisi tetap berciuman. Tina sadar tubuhnya dipegangi oleh Tito dan mendorong tubuh Tito.
"Tito.. Kenapa kau melakukan ini?"tanya Tina sambil menangis.
"Tina kumohon... Biarkan aku menghapus semua sentuhan pria bajing*an itu dari tubuhmu."ucap Tito memohon.
"Apa maksudmu?"
Tito pun mendekati Tina lagi dan menciuminya dengan liar. Entah mengapa bibir Tito membuat Tina menjadi tenang. Tina menangis sambil menikmati ciuman Tito. Rasa asin air mata Tina tak menghalangi ciuman mereka. Tina membiarkan Tito membuka jaketnya dan memegangi gunung kembar milikknya. Dilepasnya bra yang digunakan oleh Tina. Dan diremas2nya lah gunung itu. Sesekali dia memainkan jarinya di tonjolan yang ada dipuncak gunung milik Tina itu. Tito melakukannya dengan penuh nafsu. Diapun menurunkan ciumannya keleher Tina. Tampak Tina mendesah kecil karena kegelian dijilati oleh Tito. Ciuman dan jilatan itu pun turun dan semakin menurun. Seluruh tubuh bagian atas Tina sudah penuh dengan liur Tito. Rasa yang dirasakannya saat Tito melakukannya sangat berbeda dengan yang dilakukan oleh pria bajing*n tadi.
Bersambung...
Maaf ya part ini kayaknya horror2 gimana gitu..
Tapi gak papa. Mudah2an aja kalian suka dan tertarik buat baca lanjutannya.
Jangan lupa like, komen and vote ya manteman 😊
Yang udah baca+like komen dan vote
Aku ucapin..
ありがとうございます
Arigatou gozaimasu
Terima kasih..
Bye... bye.... 👋
__ADS_1