Kamu Milikku!

Kamu Milikku!
Bab 4


__ADS_3

Ayah meraih tanganku lalu meletakkan ke pangkuannya, wajahnya mendongak menatap bintang.


"Jika tinggal bersama ibumu, pasti kamu bisa hidup makmur. Ayah akan segera mengurus kepindahanmu."


Rasa sakit menelusup masuk ke dalam dadaku. Aku memandang Ayah dengan mata memanas menahan tangis. Jelas-jelas, Ayah tahu aku benci Ibu.


"Jika tinggal dengannya, kamu akan hidup lebih baik lagi. Akan tetap kuliah, dan yang pasti, tidak akan sengsara seperti saat tinggal dengan ayah."


Kuusap air mata yang meleleh perlahan di pipiku. "Aku gak merasa sengsara, Yah."


Ayah menyentuh bahuku. "Hanya untuk sementara, ayah janji."


"Gak, Yah. Aku gak mau tinggal sama Ibu." Aku bersikukuh. Tanganku lagi-lagi mengusap pipi yang basah.


"Ayah sudah mengabari ibumu. Satu bulan lagi, ayah antar kamu ke sana."


Aku tersengal.


"Ayah akan mengurus kepindahanmu secepatnya."


"Apa Ayah ingin aku pergi karena warung makan sepi? Jika warung makan kembali ramai, apa Ayah tak akan mengusirku?"


"Itu tak mungkin terjadi." Ayah memandangku dengan wajah pesimis. Ia membuka tutup botol lalu menenggaknya. Aku merebutnya cepat.


"Cukup minumnya, Yah. Minuman bersoda gak baik untuk ginjal Ayah," kataku mengingatkan.


Ayah mengangguk. Aku menghela napas. Ayah selalu saja seperti ini. Mengiyakan, tapi biasanya selalu diulangi lagi.


Sepertinya, keputusanku pindah kuliah adalah hal yang tepat. Karena, walau kepindahanku mulanya karena warung makan Ayah yang tak lagi menghasilkan banyak uang sehingga aku tak mungkin terus membayar kontrakan di Karang, belum lagi untuk biaya makan, untuk membeli buku-buku cetak dan lainnya, tapi aku bersyukur karena dengan pindah, aku bisa mengawasi Ayah.


Aku memandang ke atas. Langit terang. Bintang-gemintang terus berpijar indah. Ayah ikut mendongak.


"Setelah kamu pergi, ayah pasti akan kesepian."


"Aku gak akan pernah tinggal bersama Ibu, Yah. Kalau warung terpaksa harus dijual, aku lebih memilih gak kuliah daripada tinggal sama Ibu."


Ayah memandangku. Angin yang berembus membuat jilbabku bergoyang ke sana-kemari.

__ADS_1


Ayah menggenggam tanganku. Aku berdiri lalu mengajak Ayah masuk.


"Ayah tidur, ya? Udah malam." Aku membuka pintu kamar Ayah. "Jangan minum minuman bersoda lagi," lanjutku.


Kututup pintu kamar Ayah lalu melangkah menuju lantai atas dan duduk di balkon. Aku menghela napas, lalu terisak pelan saat memikirkan perkataan Ayah tadi. Ibu ....


Aku menggigit bibir. Aku benci wanita itu. Aku tak mau tinggal bersamanya.


Aku juga benci pada pemilik warung makan di seberang jalan. Gara-gara warung makan itu, pendapatan Ayah menurun dan kini aku berada dalam masa sulit.


Aku menggeleng, lagi-lagi terisak saat memikirkan aku harus tinggal bersama Ibu. Wanita yang lebih memilih selingkuhan daripada suaminya sendiri. Wanita yang bahkan tak memikirkan anaknya sama sekali. Aku sangat membencinya.


***


"Ini, dari pacarmu."


Aku menatap gelas plastik berembun berwarna oranye lalu menatap si pembawa minuman. Tenggorokan yang terasa kering membuatku ingin segera menerimanya, namun, aku mengurungkan niat. Pacar? Aku mengernyit.


"Siapa pacarku?" tanyaku.


Aku tergesa menyambar HP saat merasakan benda itu bergetar di saku androk, membuatku kegelian. Ada dua pesan WA. Semuanya dari Ana.


Beredar gosip kalau kalian pacaran. Tapi, kamu belum bisa menerima uang dariku karena aku belum melihat secara langsung baik kamu atau Andika mengatakan di hadapan banyak orang dengan serius bahwa kalian pacaran. Bisa saja, Andika hanya menggodamu.


Aku menghela napas. Lalu membaca pesan satunya.


Aku ingin kamu secara resmi memintanya menjadi pacarmu. Jika dia menerimamu, aku akan langsung transfer uangnya.


Aku langsung membalas.


Kurasa, Andika gak sedang menggodaku. Kalau aku harus mengatakan cinta padanya, aku memilih mundur.


Aku menatap Ana. Gadis itu meraih HP-nya dalam tas. Aku menghela napas, mencoba meyakinkan diri bahwa tanpa menerima uang dari Ana, warung makan Ayah tetap bisa pulih dari situasi mencekam. Pasti ada cara untuk membuat warung makan Ayah kembali ramai.


Aku menatap HP yang bergetar. 1 pesan WA dari Ana.


Sepertinya kamu benar. Tapi aku ingin mendengar dia bilang sendiri dengan lantang bahwa kamu adalah pacarnya. Atau, dia bilang mencintaimu di hadapan banyak orang. Kamu tak bisa mundur. Kalau kamu mundur, akan kusebar WA ini.

__ADS_1


Kesal, aku menggebrak meja. Apa Ana sebenarnya tengah mempermainkanku? Bukankah waktu itu dia bilang yang penting beredar kabar bahwa kami pacaran?


Aku menyentak napas, merasa sangat kesal mengingat fakta bahwa aku tengah diancam. Pasti akan sangat memalukan jika semua mahasiswi membaca screenshot WA-ku dan Ana. Tetapi memilih mengatakan cinta pada Andika ....


Aku memutar otak dan tersenyum saat mendapatkan ide yang tak akan membuatku merasa malu. Saat aku menatap sekeliling, tampak semua orang terdiam. Beberapa mahasiswi tengah menatap ke arahku. Apa menggebrak meja adalah suatu kesalahan?


Aku menyentak napas. Masa bodoh dengan mahasiswa ataupun mahasiswi yang terus menatapku aneh. Kuraih gelas plastik berembun yang tadi diberikan si gadis, lalu membawanya menuju ke arah Andika dan teman-temannya duduk. Saat aku tiba di hadapan mereka, Ihsan berdeham. Ana menatapku tak berkedip. Kuletakkan gelas di meja depan Andika dengan keras lalu berkata dengan suara lantang.


"Apa aku ini pacarmu?!"


Terdengar bisik-bisik yang sengaja dikeraskan. Bisik-bisik itu, semakin terdengar dari berbagai arah saat seorang cowok yang duduk membelakangiku berdiri. Saat ia menoleh, aku langsung mengenalinya. Arga.


"Jawab, apa aku adalah pacarmu?!"


Bisik-bisik yang tadinya terdengar seperti dengungan lebah mendadak lenyap saat Arga tiba-tiba melangkah ke arahku. Semua perhatian kini tertuju padaku, membuatku sangat malu. Seandainya aku tak sedang terdesak, aku tak sudi melakukan ini.


"Tidak!" sahut Andika tegas. Dadaku berdebar keras. Beberapa orang mulai terdengar mencemooh.


"Kalau begitu, kenapa kamu mengatakan pada gadis yang memberiku minuman tadi bahwa itu dari pacarku?"


Dadaku terasa panas. Apa Andika sengaja membuatku malu? Sungguh, aku merasa sangat kesal, namun terus berusaha menekan amarah agar tak meledak.


"Jangan mengada-ada, Murid Baru! Apa sebenarnya kamu yang telah merencanakan semuanya? Kamu menyuruh cewek itu untuk membeli minuman, lalu menyuruhnya mengatakan bahwa itu dariku?" Andika menatapku tajam. Ekspresi mengejeknya, sungguh membuatku kesal setengah mati.


"Kamu!" Aku mengepalkan tangan.


Andika tersenyum dingin. "Iya, kan?" tanyanya.


Kesal, kudorong tubuhnya sekuat tenaga. Saat aku hendak mendorongnya lagi, tiba-tiba tanganku dicekal dari belakang. Aku membalikkan badan, langsung bersitatap dengan Arga.


"Minuman itu dariku."


Aku tercekat.


"Teman sekelasku itu memang suka mengada-ada," ucap Arga pelan. "Senang bertemu denganmu lagi."


Aku tak menyahut. Saat bersitatap dengan Andika yang perlahan duduk, aku merasa begitu malu.

__ADS_1


__ADS_2