
Sudah 10 menit. Aku menatap jam yang melingkar manis di tangan dengan gelisah. Ayah pasti sedang menunggu. Di depanku duduk, Andika terus mengunyah makanannya dengan pelan. Sementara Ikhsan dan Saputra saling pandang.
Aku mengembuskan napas perlahan. Sungguh, situasi seperti ini membuatku tak nyaman. Kutatap soto yang sama sekali belum tersentuh dan akhirnya meraih sendok.
"Sebenarnya, apa yang ingin kamu bicarakan?" Andika meletakkan sendoknya dan bertopang dagu, memandangku tanpa kedip.
Aku tercengang. "Aku?" Aku balas memandangnya dengan dada bergemuruh. Tatap. Jika tidak, ia bisa kegeeran menyangka aku seperti mahasiswi lain yang begitu mendambakannya. Huh. Tidak sama sekali. Tipe lelaki idolaku yang romantis dan pengertian. Bukan membuat takut seperti Andika.
"Dari tadi aku menunggumu bicara tapi kamu diam saja. Setidaknya, kamu jelaskan apa maksud ucapanmu tadi. Aku sering memintamu membantuku membuat makalah? Yang benar saja." Ia memicingkan matanya.
Aku meraih gelas es teh, berusaha bersikap santai walau sebenarnya begitu gugup. Di teras kelas, beberapa mahasiswi jam pelajaran siang memandang kemari. Terlihat satu dua orang tengah berbisik-bisik.
"Aku ...."
Andika mencondongakan tubuh mendekat. Menatapku dengan jarak yang bisa membuat orang salah paham. "Ya?" katanya. Terus menatapku tanpa riak emosi.
"Apa aku pernah dalam keadaan tidur berjalan ke arahmu lalu memintamu mengajariku? Apakah itu alasan tadi kamu terus memperhatikanku?"
Terasa dingin keringat di kening. Jantungku mengentak kuat saat tiba-tiba Andika menarik tisu di meja lalu menyeka wajahku.
"Sekarang, kamu tampak gugup. Apa jangan-jangan kamu ... menyukaiku?" Ia memicingkan sebelah matanya. Senyum sinis perlahan mencuat di bibirnya.
Hening. Ini seperti yang kuharapkan. Moment ini, sebenarnya pas untuk membuatku mengangguk, lalu tanpa tahu malu memintanya menjadi pacarku seperti yang diinginkan Ana. Akan tetapi, harga diriku mengatakan tidak. Aku tak ingin dipermalukan lalu terlihat bodoh di depan banyak orang. Tidak.
Kuseruput es tehku kemudian berdiri. "Kamu GR sekali. Aku gak menyukaimu."
Andika tertawa. Anehnya bukannya terlihat menjengkelkan, ia malah terlihat sangat tampan.
"Lalu, kenapa beberapa hari ini kamu terus memperhatikanku? Jangan dikira aku tidak tau," katanya santai. Tangannya mengetuk-ngetuk meja. Senyum sinis terpatri di bibirnya, juga kedua temannya. Untung saja saat ini kantin tak begitu ramai. Teras kelas juga telah sepi. Sayup terdengar Bu Eva tengah memberikan materi.
"Karena aku ingin."
Andika kembali tertawa.
"Lebih tepatnya, karena kamu menyukaiku."
Aku tersenyum mengejek. "Iya, aku memang menyukaimu. Suka kalau kamu diam. Permisi."
__ADS_1
Lalu, aku melangkah tergesa meninggalkannya. Kutatap jam yang melingkar manis di tangan. Pukul satu. Aku harus segera pulang lalu membantu Ayah berjualan.
"Tunggu dulu!"
Aku berhenti. Namun tidak menoleh.
Terdengar bunyi sepatu mendekat. Aku mengembuskan napas saat Andika berdiri di hadapanku.
"Kamu tahu, Murid Baru? Aku akhir-akhir ini begitu kesepian dan butuh kekasih untuk hiburan. Dari sekian banyak cewek di kampus ini, anehnya, aku malah ingin kamu yang menjadi pacarku. Jadi, kalau kamu menyukaiku, katakan saja. Aku akan menjadikanmu pacarku. Jadilah pacarku."
Aku menatapnya tak percaya. Apa benar ini Andika, cowok populer rebutan para gadis?
Andika tersenyum. "Bagaimana?"
Jika aku menerima tawaran Ana, maka kesempatan inilah yang kuharapkan. Tetapi, kenapa tiba-tiba Andika terlihat begitu menakutkan?
Tanpa menjawab, aku melangkah cepat meninggalkannya.
***
"Apa yang kamu pikirkan?"
Kusunggingkan senyum ceria pada Ayah.
"Gak ada, Yah."
"Tidak belajar?"
Seperti biasa, wajah tembam Ayah selalu tampak bahagia. Ayah memang selalu pintar menyembunyikan kesedihan. Meski begitu, aku tahu Ayah tak sedang baik-baik saja. Sejak warung makan megah dibangun di seberan warung makan ini, pendapatan kami langsung menurun dengan drastis. Pelanggan satu demi satu mulai mencoba warung makan yang tampak megah itu.
"Jika tidak, kenapa tidak main?"
Ayah menyentuh kedua bahuku. Aku kembali tersenyum kecil. "Aku ingin bantu Ayah," sahutku. Lalu aku melepaskan diri dari Ayah dan berjalan menuju kursi yang baru saja ditinggalkan pelanggan. Sambil membersihkan meja, aku bersenandung, sesekali mengerling pada Ayah berusaha menghiburnya. Ayah tertawa kecil. Riak bahagia yang melekat di wajah Ayah selalu membuatku senang.
Plok. Plok. Plok.
Aku mendongak, langsung tersenyum tak senang saat bersitatap dengan Andika. Sungguh menyebalkan. Awalnya, aku ingin menyuekinya saja, tapi setelah berpikir bahwa dia adalah pelanggan, alih-alih menunjukkan sikap tak suka, akhirnya dengan senyum ramah aku mempersilakannya duduk. Ia segera duduk yang segera disusul oleh wanita cantik berpakaian modis.
__ADS_1
"Kamu bekerja di sini rupanya." Andika mengerutkan kening. Matanya menelusuri penampilanku.
Aku hanya tersenyum kecil karena wanita di sampingnya duduk tiba-tiba menatapku menyelidik. Melihat wajah keduanya yang hampir mirip, aku jadi yakin dia adalah ibunya.
"Apa dia sekampus denganmu?" tanya wanita itu datar.
"Dia pacarku."
Wanita itu tersentak. Begitu pun ayah. Apa-apaan ini!
"Aku dan Andika gak ...."
Belum sempat aku meralat, Andika tiba-tiba berdiri lalu menyeretku menuju pintu keluar. Saat aku menoleh ke belakang, ibunya dan Ayah tengah saling pandang. Ayah pasti shock sekali. Karena selama ini, masalah apa pun itu, aku pasti selalu menceritakan padanya.
"Apa yang baru saja kamu lakukan?" Aku menatapnya tak suka setibanya di luar. Bukanya menjawab, Andika malah tersenyum kecil. Manis juga.
"Aku hanya baru mengatakan kalau kamu adalah pacarku." Ia melipat tangan di dada, menatapku mencemooh. Benar-benar cowok aneh. Heran. Kenapa cowok dingin menyebalkan seperti ini menjadi idola?
"Kenapa kamu melakukannya?" Aku menatapnya tak senang.
"Aku hanya bercanda. Kenapa kamu serius sekali menanggapinya?"
Aku mengembuskan napas. Bagaimana tidak serius? Karena ulahnya, Ayah bisa saja salah paham.
"Jika kamu keberatan ucapanku tadi hanya bercanda, bagaimana kalau kita pacaran saja? Bagaimana, apa kamu mau jadi pacarku?"
Aku ternganga. Cowok ini apa sebenarnya mengidap penyakit gila? Sejak di kampus tadi, aku yakin bahwa ia sebenarnya tidak beres. Sikapnya sama sekali diluar perkiraan.
"Katakan, apa kamu mau menjadi pacarku?"
Aku membisu. Jika aku tahu sikapnya ternyata mengerikan begini, aku jelas tak mau terlibat. Heran, kenapa ia bisa bertolak belakang dengan Ana yang begitu lemah lembut.
"Membisu berarti menerima," ujarnya santai sambil menjentikkan ibu jari dan jari telunjuknya ke udara.
Aku tersenyum mengejek. "Kamu sangat aneh."
Lalu, aku berlari masuk ke dalam.
__ADS_1