
"Terima! Terima! Terimaa!"
Menolak, artinya membalas perbuatan Andika di kantin tadi. Menerima, berarti mendapatkan sejumlah uang dari Ana. Tentu saja salah satunya begitu menarik. Haruskah memilih yang kedua?
Baru saja aku akan menjawab, Arga melangkah masuk, melambaikan tangan dengan senyum tersungging di bibir. Ia berjalan ke arahku, lalu menarik tanganku pergi. Arga menoleh ke belakang tepat di ambang pintu keluar dan berkata, "Jangan usik lagi pacarku!"
***
Aku mempersilakan Arga duduk, lalu membuatkannya segelas besar jus mangga. Arga langsung mengucap terima kasih saat kuletakkan di meja di hadapannya.
"Ini warung makan ayahmu?" Ia memandang sekeliling. Terminal tampak ramai. Begitu pun warung di seberang jalan. Terlihat satu dua orang tengah menyeberang jalan.
"Berikan aku menu utama warung ini."
Aku menatapnya penuh selidik. "Apa kamu akan membandingkannya dengan warung di seberang sana?" tanyaku sambil menunjuk lurus ke depan. Arga tersenyum lebar.
"Jangan khawatir. Selain menilai, aku juga akan membayarnya." Lagi-lagi ia tersenyum, memamerkan dekil indah di pipinya. Sungguh tampan. Pantas saja banyak mahasiswi mengidolakannya.
Aku duduk di hadapannya. "Bukan begitu." Aku tersenyum malu-malu.
"Apa kamu akan mentraktirku karena aku kembali menolongmu?" Ia mengerling menggoda.
"Tapi, tentu saja bukan di warung ayahku."
Ia mengangkat dua jari ke udara. "Aku hanya bercanda. Sungguh."
Aku beranjak berdiri. "Aku akan membuatkanmu menu utama warung ini. Tunggu sebentar, ya?" Aku bergegas meninggalkannya.
"Ayah kan sudah bilang kamu tak perlu datang. Ayah bisa sendiri," kata Ayah saat aku mendekat padanya lalu mengambil nasi, menyiramnya dengan kuah dan meletakkan gulai kepala kakap di atasnya.
"Aku kan putrimu, Yah. Masa gak boleh bantuin," sahutku sambil menyendok sambal hijau.
"Seperti yang kamu lihat, warung sangat sepi. Jadi tak perlu datang."
Aku memandang sekeliling. Memang sepi. Hanya ada tiga pelanggan yang sedang makan. Sementara di seberang jalan, orang-orang berderet mengantri. Apa makanan di sana begitu enak sampai dikerubungi banyak pembeli? Sungguh membuat itu.
Ayah menatapku, lalu mendesah kecewa. "Tak perlu membawa pelanggan ke sini. Kamu membuat Ayah merasa begitu tak berguna."
Aku tersentak. Tak menyangka Ayah akan berkata seperti ini.
"Lain kali, jangan melakukannya lagi. Biarkan pelanggan datang sendiri."
__ADS_1
"Dia yang memaksa, Yah." Aku menatap ke arah Arga. Cowok itu balas menatap, tersenyum lebar, lalu kembali dengan buku cetak tebal yang tengah dibacanya.
Ayah masuk ke dapur dan kembali lagi dengan mangkuk berisi gulai panas yang mengepulkan uap tipis. Aromanya yang gurih menguar memenuhi ruangan. Masakan Ayah memang selalu mengundang selera. Beberapa bulan lalu saat aku liburan dan membantu Ayah di sini, masih banyak pelanggan yang memesan dengan tak sabar karena begitu ramai. Orang-orang ingin segera dilayani. Dua pelayan dengan tergesa membungkus makanan. Namun kini, jangankan pelayan, mendapat 50 pembeli saja sudah merupakan keajaiban.
Mataku memanas saat mengingat Ayah sering sekali meneleponku dengan senyum terkembang. Terkadang memamerkan segepok uang. Aku selalu menanggapi dengan senyum girang. Namun, semua berubah saat warung di seberang jalan selesai dibangun. Aku mau tak mau harus pindah dari Unila karena biaya sekolah di sana lumayan banyak. Untuk membeli buku-buku cetak, makan, dan banyak lagi.
"Yan."
Aku tersentak saat Ayah menyentuh bahuku lembut. Aku lekas mengusap sudut mata. Ayah mengisyaratkan dengan matanya agar aku segera membawa makanan yang telah disediakannya dalam nampan besar ke arah Arga. Cowok itu, tampak asyik dengan bacaannya. Ia langsung mendongak saat kuletakkan nampan di meja.
"Bagaimana rasanya, menurutmu?" tanyaku saat ia meraih sendok lalu mencicipinya perlahan.
"Enak," sahutnya pada suapan kedua.
"Kalau enak, kenapa begitu sepi?"
Arga kembali menyuap, lalu menggeleng. Aku terus memandangnya.
"Apa kamu ingin mencoba makan di warung seberang untuk membandingkannya?" Ia meletakkan sendoknya. Aku menatapnya tak percaya.
"Maaf. Kukira, kamu begitu penasaran." Ia meraih gelas jus lalu meminumnya hingga tak bersisa.
"Aku memang penasaran. Sayang, harganya begitu mahal. Kamu lihat sendiri, kan, warung makan ini begitu sepi?"
"Aku sungguh gak punya uang untuk membayarnya."
Arga tersenyum. "Aku yang akan mentraktirmu."
Aku menghela napas. Merasa tak enak hati. "Aku lagi-lagi merepotkanmu."
"Tak masalah."
"Katakan. Bagaimana caranya aku membalasmu?"
Arga menoleh. "Cukup menjadi pacarku yang baik saja."
"Apa?"
Arga tersenyum lebar. "Bukankah semua orang di kampus tahunya kamu adalah pacarku?" Arga mengerling menggoda. Aku tertawa lebar.
"Terima kasih kamu sudah begitu baik. Suatu saat nanti, jika kamu memintaku sesuatu, aku pasti mengabulkannya."
__ADS_1
Arga berhenti dan memandangku cukup lama. Aku mengedikkan bahu dan tersenyum riang. "Aku sungguh-sungguh. Apa kamu gak percaya?"
Arga membalas senyumku. "Baiklah, aku percaya. Ayo, masuk."
Seperti keadaan luarnya yang tampak mewah, ternyata dalamnya lebih mencengangkan lagi. Yang membuat mata memandang tak percaya, adalah daftar menu disertai harga yang begitu murah ditempel di dinding. Sungguh aku tak menyangka warung makan ini harganya jauh lebih murah ketimbang warung makan Ayah. Mungkin, inilah sebab pelanggan Ayah kabur ke sini. Omong-omong, apa harga segitu tidak rugi?
"Duduk. Pesanlah apa pun yang kamu suka. Aku keluar sebentar," ucap Arga sambil merogoh HP-nya yang berbunyi dalam tasnya. Aku mengangguk.
Sepeninggal Arga, aku kembali memperhatikan daftar menu di dinding. Sama sekali tak percaya pada deretan harga yang tercantum di sana. Sungguh sangat murah. Apakah tidak rugi menjual satu porsi gulai dengan harga 8000 saja?
Aku tersentak saat kursi di hadapanku ditarik mundur, lalu seseorang mendudukinya dengan santai. Orang yang begitu kubenci. Aku bersikap cuek dengan pura-pura tak melihatnya dan memandang ke arah lain saat tatapan kami bertemu. Menyebalkan! Apa ia tak punya kegiatan lain selain menggangguku?
Aku menyentak napas saat mendengar suara kursi digeser, lalu Andika berjongkok di depanku, tersenyum sok manis. "Apa sekarang aku terlihat?"
Aku kembali mengalihkan pandang. Andika akhirnya kembali duduk di kursi.
"Apa sebenarnya motifmu? Kenapa kamu terus mengusikku?"
"Karena kamu belum menjawab pertanyaanku."
Untung saja sebelum aku meninju wajah tampannya karena terus bersikap menyebalkan, HP-ku berdering. Kuangkat cepat.
"Apa? Ibumu masuk rumah sakit? Baiklah, aku akan mencicipinya sendiri."
"Maaf aku tidak bisa menemani. Oh, ya, aku sudah bilang akan mentraktirmu, kan? Kukirim fotoku, ya? Aku sering datang ke situ. Kamu tinggal tunjukkan fotoku, aku akan membayarnya besok."
"Aku bisa membayarnya sendiri, kok. Ternyata harganya sangat murah. Semoga ibumu cepat sembuh."
"Baiklah. Sampai jumpa."
Aku mematikan HP. Menyentak napas saat melihat Andika menyedekapkan tangan di meja, tatapannya lekat ke wajahku.
"Aku sedikit mendengar. Pesanlah yang kamu inginkan. Aku akan mentraktirmu."
Aku langsung berdiri, berniat pindah tempat duduk. Namun, belum sempat melangkah, Andika cepat berdiri lalu menekan kedua pundakku perlahan sehingga aku kembali duduk.
"Temani aku makan."
Aku membuang napas, berpaling saat tak sengaja bersitatap dengannya.
"Katakan yang sebenarnya kamu inginkan." Aku mencoba melunak meski sikapnya di kantin tadi membuatku muak dan malu. Padahal, ia hanya tinggal mengiyakan bahwa kami pacaran. Ah, sudahlah. Mengingatnya, hanya akan membuat dadaku bergemuruh kesal saja.
__ADS_1
Andika tersenyum tipis. Lalu mendekatkan wajahnya ke wajahku, dengan gerakan cepat, menempelkan bibirnya ke bibirku. Aku membelalak dan mendorongnya sekuat tenaga.