
Pagi itu Tina terbangun dan siap2 untuk menuju kampus. Bagian bawah Tina terasa sedikit nyeri akibat peristiwa semalam. Setelah selesai mandi dia pun keluar kamar dan pergi ke meja makan. Tampak Rika sudah menunggu sambil menyantap roti panggang. Rika menyiapkan roti panggang untuk Tina juga. Tina pun duduk dan memakannya.
"Kak Tito udah pulang Tin?"tanya Rika.
"Udah."jawab Tina. Tiba2 Tina tersadar kalau Rika tau ada Tito semalam.
"Gimana Tin rasanya?"tanya Rika.
"Rika? Kamu tau semalam Tito ada disini?"tanya Tina.
"Hmm... Iya aku tau. Aku juga tau kalau semalam kalian itu ngelakuin itu kan?"
"Rika darimana kau tau?"tanya Tina panik.
"Aku mendengar kau mendesah sambil menanggil nama Kak Tito. Dan sudah kuduga kalau kau pasti melakukannya dengan Kak Tito."jelas Rika.
"Mengapa Rika tak bereaksi apa2. Apa dia tidak marah padaku? "batin Tina.
"Rika apa kau tidak marah padaku?"tanya Tina.
"Mengapa aku harus marah? Itu adalah hakmu kan. Aku fikir semalam kalian melakukannya karena sama2 mau. Jadi kubiarkan saja."jelas Rika santai. Tina tak menyangka reaksi Rika akan seperti itu. Tina merasa malu karena aksinya ketahuan oleh Rika.
"Tina... Ada sesuatu yang harus aku omongin ke kamu. Aku sebenarnya sangat takut mengatakan ini padamu."jelas Rika.
"Kenapa? Apa yang ingin kau bicarakan?"tanya Tina.
"Tin... Sebenarnya aku juga sudah melakukan itu dengan kak Angga dua hari yang lalu."ucap Rika gugup.
"Apa?! Apa yang kau maksud melakukan itu adalah hubungan intim?"tanya Tina.
"Iya. Tapi ceritaku berbeda dengan ceritamu. Kau melakukannya dengan sadar dan kemauan kalian masing2. Sedangkan aku tidak. Saat itu kak Angga mabuk, jadi aku membawanya kesini. Aku membawanya ke kamarku. Kau ingat saat kau mengajakku makan malam waktu itu kan?"tanya Rika. Tina mengangguk.
"Saat itu kak Angga sudah ada dikamarku. Kak Angga mabuk2an karena cintanya ditolak oleh Nikita. Dia selalu menyebutkan nama Nikita. Jadi aku berpura2 menjadi Nikita untuk menenangkannya. Tapi siapa sangka kak Angga malah memperkosaku. Kak Angga merasa bersalah padahal bukan dia yang salah. Ini semua salahku kalau saja aku tidak berpura2 menjadi Nikita saat itu. Mungkin hal itu tidak terjadi. Akhirnya kak Angga memutuskan untuk pergi ke luar kota dan dia menyuruhku untuk melupakannya."jelas Rika.
"Itu tidak benar Rika. Kau tidak bersalah. Jangan terlalu merendahkan dirimu. Bagaimana pun juga Angga juga bersalah. Dia sudah merenggut keperawananmu dengan paksa. Seharusnya dia bertanggung jawab."ucap Tina sedikit kesal.
"Hm.. Kufikir juga begitu, Kak Angga bertanggung jawab dan menikahiku dan kami akan hidup bahagia. Tapi itu cuman halusinasi aku saja. Aku tidak memiliki tempat dihati kak Angga. Sepertinya kak Angga benar, Aku harus melupakannya."jelas Rika.
"Hm.. Apakah aku bisa melupakan kak Angga? "batin Rika.
2 bulan kemudian...
Tito dan Tina akhirnya menikah. Masalah perjodohan Tito dan Preety sudah dibatalkan. Dengan segala bujuk rayu akhirnya Tito berhasil membujuk orang tuanya untuk menyetujui pernikahan mereka. Pernikahan mereka dirayakan besar2an disebuah gedung milik ayahnya Tito.
"Selamat ya Tina."ucap Rika sambil melontarkan senyuman ke pengantin wanita yang ada didepannya.
"Makasih Rika."jawab Tina.
"Iya sama2. Kamu udah jadi istri kak Tito. Jadi kamu tinggal sama kak Tito dong. Aku jadi sendiri di apartemen."ucap Rika sedih.
"Gak papa Ka. Aku nanti sering2 main ke aparteman deh."bujuk Tina. Rika menangis dan Tina pun memeluknya. Mereka berpelukan melepaskan kesedihan.
Pesta pernikahan Tina dan Tito pun selesai. Para tamu undangan akan pulang kerumah masing2 termasuk Rika. Rika saat itu memesan ojek online karena sudah capek dan ingin cepat pulang. Tak lama setelah memesan ojek online;
__ADS_1
"Dengan mbak Rika?"tanya seorang laki2 tampan yang mengendarai motor dilengkapi dengan jaket hijau khas ojol.
"Iya. Mas yang saya pesen kan?"tanya Rika.
"Iya."jawab mas2 ojol tadi. Mas2 ojol itu langsung mengambil helm dan memberikannya pada Rika. Eitss.. Kali ini beda guys.. Si mas ojolnya bukan langsung ngasih gitu aja. Tapi langsung makein ke kepala Rika langsung.
"Sudah siap. Sekarang kita berangkat."ucap mas ojol setelah selesai memasangkan helm. Rika tersipu malu dengan sikapnya mas ojol itu.
Mereka pun pergi ke arah aprtemen Rika. Disepanjang perjalanan mereka berbincang2.
"Engh... Mbak masih kuliah?"tanya mas ojol.
"Iya."jawab Rika.
"Kalo boleh tau umur mbak berapa ya?"tanya mas ojol.
"20."jawab Rika singkat.
"Oh.. berarti kita beda 2 tahun mbak. Saya 22."
"Oh.."jawab Rika.
"Engh.. Nama saya Randi Mahardika. Mbak bisa manggil saya Randi."
"Iya. Salam kenal juga. Nama saya Rika."jelas Rika.
"Iya mbak."
"Jangan manggil mbak. Saya jadi gak enakan."ucap Rika.
Sedang asik berbicara tiba2 Rika merasa pusing dan mual. Dia menyuruh Randi untuk berhenti. Randi pun menepikan motornya.
"Kenapa?"tanya Randi.
Uwekk.. Uwek..
Tampak Rika sedang berusaha untuk memuntahkannya. Randi pun membantu Rika dengan memijit2 tengkuk Rika. Rika pun sudah sedikit enakan.
"Makasih."ucap Rika.
"Iya sama2. Kamu udah enakan? Apa kita ke rumah sakit aja?"tawar Randi.
"Gak usah... Udah enakan kok."tolak Rika.
"Yaudah. Yuk lanjut jalan lagi."ajak Randi.
"Iya." Rika pun naik ke motor dan mereka melanjutkan perjalanan. Selama diperjalanan Rika berusaha menahan mualnya. Kepalanya terasa pusing. Randi turut khawatir dengan penumpangnya itu. Tak lama tiba2 Rika menyenderkan kepalanya di pundak Randi.
"Rika? Kamu gak papa?"tanya Randi heran. Namun tidak ada jawaban. Randi pun menepi sebentar dan mengecek keadaan Rika. Randi terkejut ternyata Rika pingsan. Randi pun buru2 melajukan motornya ke rumah sakit terdekat. Di lingkarkannya kedua tangan Rika di pinggangnya supaya Rika tidak jatuh.
Sampainya di depan rumah sakit. Tanpa berfikir panjang Randi langsung menggendong Rika di depan dadanya layak seorang pangeran sedang menggendong seorang putri.
Setelah di periksa oleh dokter....
__ADS_1
"Selamat ya mas. Anda akan memiliki seorang anak. Sekarang istri anda sedang hamil. Usia kandungannya sudah 6 minggu. Mas harus lebih hati2 karena kondisi kandungannya sangat lemah."jelas dokter kepada Randi. Randi tertegun mendengar perkataan dokter. Rika yang berbaring di ranjang itu pun terkejut.
"Apa? Aku hamil? "batin Rika tak percaya.
"Kalau begitu saya pamit."ucap dokter.
"Baik dok. Terima kasih."ucap Randi. Randi pun melihat Rika menangis.
"Rika? Kamu gak papa?"tanya Randi. Rika tak menjawab. Rika hanya menangis sambil sesekali menggelengkan kepalanya.
"Maaf Rika. Mungkin terlalu lancang untuk menanyakan ini. Apakah kau hamil diluar nikah?"tanya Randi takut2. Rika malah memperkuat tangisnya.
"Maafkan aku. Maaf. Jangan menangis. Aku tidak akan menanyakannya lagi."ucap Randi panik.
Randi dan Rika pun lanjut pulang. Sampainya di apartemen Rika tampak murung.
"Rika.. Ini vitamin dari dokter. Kau harus meminumnya tepat waktu agar kau dan bayimu tetap sehat."ucap Randi.
"Iya. Terima kasih atas bantuannya. Aku akan masuk sekarang."ucap Rika dan menuju kedalam apartemen.
"Rika.. "panggil Randi.
"Ada apa?"tanya Rika menoleh.
"Helm nya belum kau lepas."ucap Randi.
"Oh.. iya. Maaf."ucap Rika melepaskan helm dikepalanya dan memberikannya kepada Randi.
"Rika... Jangan mengambil keputusan dalam keadaan emosi atau sedih. Jernihkan fikiranmu barulah kau bisa ambil keputusan. Jangan segan2 untuk meminta bantuan dariku. Berikan hp mu. Akan ku tuliskan nomorku dihpmu."ucap Randi sambil menjulurkan tangan.
Rika pun memberikan hp nya dan Randi pun menuliskan nomornya di hp Rika.
"Sekali lagi terima kasih atas bantuannya."ucap Rika.
"Iya sama2. Kalau gitu aku pergi sekarang."jawab Randi.
Bersambung...
Segini dulu ya guys ceritanya..
Besok lanjut.
Kalo kalian suka kasih like dan vote dong.
Sama komen juga kalo misalnya ada kritik atau saran gitu buat author..
Yang udah baca+like komen dan vote
Aku ucapin..
ありがとうございます
Arigatou gozaimasu
__ADS_1
Terima kasih..
Bye... bye.... 👋