
Saat bersitatap dengan Andika yang perlahan duduk, aku merasa begitu malu. Ia meraih minuman yang kuletakkan di hadapannya lalu menyeruput perlahan.
"Terima kasih atas minumannya," katanya diiringi senyum menyebalkan.
Arga menggeleng sambil tersenyum, tangannya terangkat ke udara seolah berkata, 'Tak masalah.
Aku mengembuskan napas, tak berani menatap sekeliling yang berisik karena begitu malu. Wajahku terasa semakin memanas dari waktu ke waktu dan keringat dingin bergulir turun dari dahiku.
Apa sebaiknya aku berlari pergi saja? Tidak. Itu pasti akan membuatku menjadi bahan olokan. Aku akhirnya memberanikan diri menatap Andika lalu tersenyum sok imut. Aku pasti tampak menggelikan di mata semua orang.
"Kamu ... apa kamu tak bisa bilang ...." Aku menelan ludah. Ragu untuk mengungkapkannya. Tapi, ini salah satu cara agar aku tak terlalu merasa begitu malu.
"Ya?" Andika menatapku tajam.
"Apa kamu gak bisa bilang ... mencintaiku saja? Bukankah kemarin kamu mengajakku pacaran?"
Andika memicingkan sebelah mata. Aku menatapnya sinis. Cowok angkuh seperti Andika, sudah sepatutnya dipermalukan. Di sampingku berdiri, Arga terus membisu.
"Sekarang, aku mau memberikan jawaban. Karena aku sudah punya pacar yang juga mahasiswa di kampus ini, maka aku gak bisa jadi pacarmu. Sungguh menggelikan melihatmu begitu bangga. Apa kamu pikir aku menyukaimu?"
Andika tersenyum dingin. Satu matanya lagi-lagi terpicing. "Lalu kenapa kamu menyuruhku mengatakan ...."
"Untuk mempermalukanmu!" jawabku cepat.
Andika tersenyum mencemooh. Wajah angkuhnya terlihat sangsi. "Kalau begitu, mana pacarmu?" Ia mengernyit. Tatapannya menelusuri penampilanku.
"Bagaimana mungkin pacarmu tak ada di sini sekarang ini di jam istirahat? Apa dia begitu sibuk belajar sampai tak punya waktu menemani pacarnya makan?" Andika menatapku penuh kemenangan.
Aku membisu. Bodoh. Kenapa aku tak menyortir perkataan yang akan keluar lebih dulu? Benar juga yang dikatakan Andika. Mana mungkin pacarku tak ada di sampingku apalagi pada jam istirahat begini?
Tidak mau tertangkap basah tengah membual, maka aku menoleh ke kanan dan kiri sok mencari-cari. Aku tersentak dan langsung menoleh saat tanganku tiba-tiba digenggam erat. Arga tersenyum padaku lalu menebar senyum pada semua orang yang langsung menatap kemari.
"Tak udah disembunyikan lagi. Biar saja semua orang tau bahwa kita sebenarnya pacaran."
Terdengar celetukan. "Waah, hebat sekali murid baru itu, bisa pacaran dengan presiden mahasiswa. Hebat."
"Mungkin, Kak Arga dipelet."
Dadaku terasa panas mendengarnya. Tanganku perlahan terkepal. Belum sempat meluapkan kekesalan, tanganku ditarik keluar kantin. Arga baru melepas tanganku setibanya kami di depan perpustakaan yang lengang.
__ADS_1
"Kenapa kamu mempermalukan diri?" tanya Arga sambil duduk. Aku menyusul duduk.
"Terima kasih kamu sudah mau membantuku."
Arga tersenyum kecil.
Hening. Aku berharap jam istirahat segera berakhir sehingga aku punya alasan untuk segera pergi ke kelas. Duduk berdekatan dengan lelaki asing seperti ini, sungguh membuatku tak nyaman. Sesekali, aku menatap satu dua orang yang keluar dari perpustakaan.
"Tidak apa-apa jika tidak mau cerita. Tapi jika kamu mau mempercayaiku, aku sunggu bisa dipercaya."
Aku menoleh ke arahnya. Arga tersenyum kecil, memperlihatkan dekik kecil di pipi kirinya. Manis sekali.
Aku menghela napas.
"Jangan merasa terbebani. Aku tak memaksamu bercerita."
"Aku membutuhkan banyak yang," kataku akhirnya. Ragu untuk melanjutkan, namun akhirnya memilih mengatakannya. Arga sepertinya cowok baik.
"Saudara kembarnya ingin agar aku mendekatinya untuk mengetahui apakah ia benar-benar normal atau tidak. Jika aku berhasil menjadikan Andika pacar, aku akan mendapat sejumlah uang."
Aku memandang Arga cukup lama. Ia tak terlihat terkejut sedikit pun. Juga tak terlihat kesal mengetahui aku cewek seperti itu. Ia juga tak tersenyum geli. Ia sungguh pendengar yang baik.
Arga mengusap puncak kepalaku. Aku memandangnya dengan dada bergemuruh.
"Masih banyak cara untuk mendapatkan uang," katanya dengan tatapan meyakinkan.
Aku mengangguk dan tersenyum miris. "Mungkin saja. Tapi waktu satu bulan, apakah cukup untuk mendapatkan banyak uang? Jika warung makan ayahku tetap sepi, aku gak akan kuliah di sini lagi," kataku pesimis.
"Kamu bisa kerja paruh waktu, " sahut Arga. Tatapannya lekat ke wajahku. Saat sedang sedih seperti ini dan ada yang mencoba menenangkan, rasanya sedikit membuatku merasa tenang.
***
Langsung kumasukkan buku-buku yang berserak di atas meja saat dosen mata kuliah terakhir mengakhiri materi lalu melangkah cepat keluar kelas.
"Beberapa orang mengataimu. Andai aku nggak sedang puasa, aku pasti membantumu, Yan." Andini menatapku dengan wajah menyesal. Ia meraih cermin mini dari tasnya lalu merapikan jilbabnya. Setelah selesai, ia segera memberikannya padaku. Ganti aku yang sekarang merapikan jilbab.
"Ya, hallo? Kak Evaan! Kan, aku udah bilang nggak usah jemput. Oke. Okee. Bilang pada Kak Tari, suruh sabar tungguin aku. Aku segera turun." Andini memasukkan HP-nya ke dalam tas lalu menatapku.
"Yan, aku pulang duluan, yaa? Kakakku dan tunangannya sudah nunggu di depan gerbang. Jika nggak segera sampai sana, aku pasti diomeli Kak Evan."
__ADS_1
Aku memberikan cermin padanya lalu mengangguk. Andini segera melangkah pergi. Aku kembali memasukkan buku-buku dan mendongak saat sebuah tangan mengetuk-ngetuk sudut mejaku.
"Kamu!" Aku menatapnya tak senang saat tatapanku bersirobok dengan mata tajam di cowok menyebalkan.
"Ayo kita bicara."
Kuselempangkan tas di pundah lalu berdiri.
"Kamu pasti sudah gila!" kataku kesal sambil melangkah meninggalkannya.
Aku menoleh terkejut saat tiba-tiba Andika menyambar tanganku, memaksaku menghadapnya. Di belakangnya, beberapa teman sekelas menatap kami dengan pandangan tak percaya.
Aku menyentak napas. "Lepas!"
"Coba saja kalau bisa," sahutnya dengan wajah menantang. Ihsan berjalan menghampiri, ia mengernyit saat tatapannya berpijak pada tangan Andika yang mencengkeram tanganku erat.
"Apa sebenarnya yang kamu inginkan?!" Suaraku terdengar lantang.
"Aku ingin jujur padamu, Murid Baru. Aku sepertinya sudah jatuh cinta padamu."
Beberapa mahasiswi di belakang kami tampak tercengang.
Untuk mengusir keheningan yang tiba-tiba menyelimuti ruangan ini, aku tertawa kecil.
"Cukup sudah berguraunya. Aku mau pulang."
Tetapi saat melangkah, aku baru sadar tanganku masih digenggamnya dengan erat. Aku membalikkan badan, kembali menghadapnya.
"Lepas!" Aku mencoba menyentak tangannya namun tak berhasil. Andika malah mempererat cengkeramannya.
"Maumu apa sebenarnya? Bukankah di kantin tadi kamu bilang aku bukan pacarmu?" Tatapku mencemooh. Tidak kusangka lelaki ini sungguh menjengkelkan.
"Apa semalam kamu mengiyakan mau menjadi pacarku?" Andika balas bertanya dengan satu mata disipitkan.
"Karena semalam kamu tak mengiyakan, maka kamu bukan pacarku. Sekarang, aku mau menanyakannya lagi. Apa kamu mau menjadi pacarku?"
Beberapa mahasiswa teman sekelas juga mahasiswa jam siang datang mendekat, tahu-tahu sudah mengerumi kami. Ana terlihat menyeruak kerumunan, akhirnya berdiri tak jauh dari kami. Gadis itu bergantian memandangku lalu ke saudara kembarnya. Apa sekarang ia yakin bahwa Andika cowok normal tak seperti yang dikhawatirkannya?
Setelah hening yang panjang, orang-orang akhirnya berkata setengah berteriak, "Terima! Terima! Terimaa!"
__ADS_1