
Dimana Bayiku?
#fiksi
Part 10
Pov: Mia
Petunjuk yang dikatakan mister Leo membuatku bingung. Sepanjang perjalanan pulang ke rumah aku mencoba memahami apa yang dimaksud. Seandainya saja mas Irgi tidak berprasangka buruk dan menuduh mister. Mungkin aku sudah mendapatkan jalan keluar nya.
Mas irgi tidak percaya padaku. aku tak bisa menunjukan bukti yang ada di ponselku yang hilang. Sesampainya di rumah aku mencoba untuk berpikir keras. Aku rangkai semua puzzel misteri yang terjadi.
Arwah Yuni mendatangi rumah sakit karena mencari bayinya. Tetapi kemudian Yuni mengikutiku dan mengincar anaku. Mungkin hal itu karena aku sempat mengalami koma. Aku sangat dekat dengan kematian sehingga ia mengikutiku seperti yang mister katakan.
Lalu lokasi tempat aku mengalami kecelakaan juga ada kaitannya. Aku melihat Yuni sebelum mobilku tergelincir. Mungkinkah dia yang menjadi penyebabnya?.
Tetapi mister mengatakan bahwa sosok penunggu disana marah karena tidak mendapatkan tumbalnya. Akulah tumbal itu. Aku selamat dari kecelakaan. Karena itu kemarin malam sosok arwah anak kecil misterius itu berlari menyelamatkanku dari sosok penunggu yang mengejar. Sampai akhirnya aku sadar aku sudah berada di pemakaman.
Mister juga mengatakan bahwa jika aku lemah sosok yang mengikutiku akan mendapatkan apa yang ia inginkan. Yuni menginginkan anakku. Karena itu kemungkinan besar ia menginginkan aku mati. Malam itu juga ia memperlihatkan makam bertuliskan namaku dan nama Nuno. Ia ingin memperdayaiku. Ia ingin melihatku mati menyusul bayiku.
__ADS_1
Petunjuk terakhir yang dikatakan mister adalah ia ingin melakukan sebuah pertukaran. Ia akan mengembalikan apa yang telah ia ambil jika aku melakukannya. Tetapi apa yang harus kulakukan? Mister belum selesai mengatakan nya. Akun harus menemukan sendiri apa yang Yuni inginkan agar ia mengembalikan Nuno padaku.
Anaknya
Ya aku harus segera menemukan dimana bayi Yuni. Bayi yang sering ia kunjungi dirumah sakit itu. Seluruh jiwa dan pikiranku berusaha keras berjuang untuk menyelamatkan Nuno. Tetapi tubuhku seperti tak dapat ku kendalikan. Entah obat apa yang diberikan mas Irgi padaku. Kepalaku terasa berat dan mengantuk. Lalu kemudian aku jatuh tertidur sasaat.
***
Aku tersadar beberapa saat kemudian dan kepalaku terasa pusing. Tetapi aku masih ingat apa yang harus kulakukan. Karena itu aku berusaha bangkit. Aku berjalan terhuyung menuju pintu kamar. Ku buka sedikit pintu untuk mengintip keadaan.
Sepertinya di luar ada banyak orang. Ku lihat mama sedang bersama seseorang. Aku mengenalnya. Dia tante Mer sahabat mama. Aku menegndap keluar pintu kamar tanpa seorang pun yang menyadari. Kemudian aku mendengar suara mas Irgi. Sepertinya mas Irgi sedang berbicara denganseseorang.
"Kau tampak lelah Irgi."
"Beristirahatlah sebentar, akan ku temani kau melepas stress. Bagaimana kalau kita pergi ke kafe. Disana sedang ada band favoritmu yang tampil. " Kata Ziana kepada suamiku.
Aku tak kuasa mendengarnya. Hatiku hancur. Mas Irgi ternyata belum berubah. Perhatiannya selama ini palsu. Bisa bisa nya ia tidak menghawatirkan Nuno dan masih ingin bersenang senang dengan Ziana. Dadaku terasa sesak melihat mama dengan sahabatnya dan mas Irgi dengan ziana bercengkrama di ruang itu. Seolah tidak terjadi apa-apa. Hanya aku sendiri yang seakan ingin mati memikirkan keadaan anaku yang hilang.
Aku kembali ke kamarku sambil menangis. Ketika kubuka pintu, aku terkejut dengan apa yang ku lihat. Aku masuk ke dalam kamarku yang kini menjadi ruang bayi.
__ADS_1
Krrreeeet...
Suara pintu kamar perlahan tertutup dengan sendirinya. Gelap dan mencekam, ranjang bayi kosong di sekelilingku secara tiba tiba mengeluarkan suara tangis bayi. Aku berjalan melihat kesekeliling ku mencari Nuno. Kali ini apa yang akan terjadi. Apa yang akan Yuni lakukan padaku.
Kemudian di sudut ruangan itu kembali kulihat sosok Yuni. Ia berdiri membelakangiku. Bersenandung menyanyikan lagu nina bobo sambil menggendong bayi. Perlahan ia berbalik mengahadapku. Kali ini ia menampakan wajah yang tidak menyeramkan. Wajahnya cantik dan keibuan namun pucat tanpa ekspresi.
"Kembalikan anakku Yuni. Itu bukan bayimu" Kataku tanpa sedikit pun rasa takut.
Lalu tiba tiba ia melayang ke arahku. Ia menatapku dengan ekspresi aneh. Suhu diruangan pun mendadak beubah drastis. Suara tangisan bayi terdengar semakin kencang dan menggetarkan seluruh barang di sekelilingku. Kini Yuni berada di hadapanku. Ia mengulurkan tangannya memberikan bayi yang ia dekap.
Aku terkejut dan berteriak.
Tidaaak,,.... !!!
Ia menyodorkanku sosok bayi yang terbungkus kain putih penuh noda tanah.
Aku ketakutan. Itu bukan anaku ini hanya halusinasiku saja. Aku sedang di kamarku. Kataku dalam hati menguatkan pikiranku.
Bersambung...
__ADS_1