
FIKSI
Pov suster Marni
"Marni. Hari ini piket malam ya? " Tanya pak kumis.
"Iya pak, pak kumis jaga malam juga kan?" Tanya ku balik.
"Bapak ambil cuti dlu 1 hari Mar. Ngga kuat. " Jawabnya.
3 hari ini tempat kerja ku dibuat mencekam. Aku bekerja sebagai suster di rumah sakit. Sebenarnya aku sudah terbiasa dengan suasana tempat kerjaku. Tempat tempat berpenunggu di rumah sakit pun aku hafal dan hampir terbiasa. Tetapi kejadian belakangan ini terbilang unik. Setiap hari selepas magrib hingga lewat tengah malam. Kami di teror sosok kunti. Kata pak kumis yang sudah puluhan tahun menjadi penjaga. Si kunti ini arwah penasaran yang berkunjung. Para penunggu lama di rumah sakit tak pernah berkeliaran dan hanya usil kalau tempatnya di ganggu. Si kunti ini beda. Dia buakan lah penunggu di rumah sakit. Dia kerap bergentayangan di sekitar lorong kamar inap persalinan.
Karna kunjungan si kunti, hampir setiap magrib lorong pav anggrek sepi. Suster senior yang berpengalaman pun tak berani berjaga. Si kunti kerap menampakan diri mengendong bayi bayi di ruang rawat bayi. Pasien yang sedang rawat inap pun ketakutan. Sehingga mereka memilih membawa bayi mereka ke kamar. Biasanya jam kunjungan selalu ramai baik siang maupun sore. Akibat teror si kunti lorong pun menjadi sunyi sejak sore menjelang malam. Si kunti sangat menyukai bayi. Pengunjung yang datang sering mencium wangi melati di lorong. Jika yang datang sendirian kemungkinan besar akan disapa si kunti di dalam lift. Pak kumis sering mendapati mereka ketakutan ketika keluar.
__ADS_1
Ketika pasien bersalin sepi, perasaan kami menjadi tenang. Sebab si kunti tidak akan berkunjung. Tetapi ketika pasien hamil yang datang jantung kami pun berdegup kencang. Malam ini aku berjaga tanpa pak kumis menemaniku. Aku semakin grogi. Apalagi pasien yang baru datang kemarin ternyata bukan dirawat karna kecelakaan saja, aku baru tahu kalau dia juga melahirkan. Betarti malam ini si kunti akan berkunjung.
Aku duduk di meja piket pav anggrek. Reni menemaniku. Dia sibuk membaca ayat ayat dalam ponselnya. Ditemani Reni malah semakin membuat ku tegang. Bukannya mengajakku mengobrol atau bergurau untuk mencairkan suasana aku malah sibuk mengerjakan semua pekerjaan sendiri. Sementara dia terdiam kaku. Tak berapa lama Wangi melati pun mulai tercium. Aura disekitar pun berubah 180 derajat. Aku dan Reni mulai saling berpandangan. Lampu berkedip menyala dan mati. Reni mulai panik membaca ayat pendek dengan keras. Sambil bersembunyi di belakang punggungku. Aku takut sekali tetapi melihat Reni seperti itu malah mebuatku terpaksa tampil sebagai pemberani.
"Assalamialaikum mba kunti... "
Entah apa yang ada dalam pikiran panik ku malah menyapa hangat mahluk itu.
Suara pelan tanpa ekspresi menyahut membuat sekujur tubuh merinding. Tak lama kunti muncul dengan sopannya melewati kami. Dia melayang menuju kamar bayi. Wajahnya pucat dan matanya merah. menembus dinding lalu masuk ke ruang bayi. Sekarang kami berdua ketakutan setengah mati. Reni menarikku agar berlari keluar. Tiba tiba bel pasien berbunyi dari kamar Vvip.
"Tidak usah di jawab. Ayo kita lari Mar! " Kata Reni.
Bel berbunyi berkali kali, pasien di kamar Vvip korban kecelakaan yang sempat koma saat melahirkan. Mungkin terjadi sesuatu yang gawat padanya, aku tidak bisa mengabaikannya.
__ADS_1
"Aku yang lihat, kamu tunggu disini. " Kataku meninggalkan marni di bibir pintu.
"Kamu gila Mar! Aku kau suruh tunggu disini sendirian. Ayo lekas pergi Mar! " Marni terus merengek.
Aku melangkah perlahan menuju kamar pasien, mengabaikan Reni yang terus memanggilku. jantungku berdegup kencang memompa keras seluruh darahku. Keringat mengalir deras. Ketika melewati ruang Bayi aku berusaha untuk tidak melihat ke arah kaca. Tetapi terdengar suara ketukan dari kaca berkali kali. Tok...tok...tok...Aku tak ingin menoleh tetapi tubuh ku tidak bisa diajak kompromi. Leher ku malah berputar dan mataku pun fokus ke wajah kunti yang menempel di kaca. Seram sekali. Wajah nya bulat lebar dan rambutnya tergerai ke atas mata nya melototi ku dan lidahnya terjulur. Aku panik dan langsung berlari menuju ke kamar pasien.
Setibanya di sana. Syukurlah pasien tidak apa apa. Dia hanya ingin bertemu anaknya. Aku yang baru saja kehilangan sebagian nyawaku untuk mencapai kamar ini, syok jika harus kembali ke adegan horor tadi. Ditambah harus masuk ke ruang bayi. Aku katakan padanya untuk menunggu besok pagi. Lalu aku meninggalkannya.
Mulailah kembali perjuangan ku untuk melewati lorong. Aku mengintip ke arah jendela kamar bayi. Kunti sudah tidak menempel di sana. Kulihat Reni sudah menghilang kabur. Dasar teman tidak berperasaan kataku dalam hati. Aku pun memutuskan untuk berlari cepat. Sialnya aku malah terjatuh persis di dekat jendela. Aku bangun dengan kaki agak terkilir. Tahu bakal seperti ini seharusnya ku pakai sepatu lari saat berjaga malam pikirku. Lagi lagi secara otomatis leherku menoleh ke arah ruang bayi. Kali ini ku dapati si Kunti sedang menimang bayi. Sambil bersenandung manja ia tersenyum menatap bayi dalam dekapannya. Lalu ia menoleh ke arahku yang tak sengaja memperhatikannya. Tak ingin cari masalah, Aku pun segera mengambil langkah seribu. Terseok seok dengan kaki terkilir meninggalkan pav anggrek.
Bersambung...
(Salam kenal. Saya baru belajar menulis cerita. Kebetulan sangat suka cerita misteri. Saya belajar banyak dari grup ini bagai mana menulis kisah misteri. Karna kurang pengalaman mistis. Mohon maaf jika masih banyak kesalahan penulisan. Terimakasih yang sudah membaca cerita saya 🙏)
__ADS_1