
Part 6
Dimana Bayiku?
Pov: Mia
"Mobil sudah beres den. Sudah saya cuci bersih." Kata pak Yanto menghampiri suamiku.
"Loh sudah balik dari bengkel? Cepat sekali? "
"Sudah dicek den. Tidak ada yang rusak katanya. "
"Loh kok bisa ya? Kata mas Irgi heran.
Aku tertawa mendengarnya. Suamiku memang orang yang lurus. Sulit mempercai hal diluar logikanya.
" Kok tertawa? Ada yang lucu?"
Katanya mendelik ke arahku yang sedang menjemur Nuno di halaman. Sengaja hari ini aku tidak mendengarkan omongan mama. Dan benar saja mama tiba-tiba sudah menyusulku. Sebelum dia mengajakku ke belakang. Segera aku beraksi.
"Lihat Nuno itu oma.. Halo oma. Selamat pagi. " Kataku berbicara dengan suara keras agar mas Irgi mendengar. Aku ingin mas Irgi melihat bagaimana ibunya memperlakukan Nuno.
Mama terlihat gelisah ketika aku mendekat. Mungkin dia kebingungan harus bagaimana.
"Ma. Tolong jaga Nuno sebentar ya. Mia mau ke toilet." Kataku sambil menyodorkan Nuno.
Mama mendelik dan melihat ke arah mas Irgi. Dia terlihat kesal tetapi menahannya. Dengan enggan tangannya terjulur. Tetapi kemudian dia menarik tangannya kembali.
"Bi....! " Teriaknya memanggil tukang cuci harian kami.
"Bi Yum... Tolong kesini sebentar bantu Mia... "
"Tidak usah ma. Kalau mama tak mau gendong biar mas Irgi saja. " Kataku dengan suara lantang.
Mas irgi yang mendengarnya langsung menghampiriku. Akupun kegirangan dalam hati.
"Ada apa mia? "
"Mas tolong gendong sebentar aku mau ke toilet. "
Kataku sambil memindahkan Nuno ke tangannya.
"Mama tidak mau menggendong anak kita. Dia belum bisa menerima cucunya mas, cucu yang terlahir dari menantu yang tak diingankannya. Sungguh terbuat dari apa hati ibumu ini mas. " Kataku ketus.
Mama terlihat syok mendengar perkataanku. Seketika wajahnya menjadi merah padam.
"Mama sudah berusaha Irgi. Mama tidak bisa berpura-pura lagi. Lihat irgi!" Katanya sambil menunjuk ke arahku. " Kamu pikir kamu sudah tahu mana yang terbaik?" Katanya dengan suara bergetar. Kemudian mama berlari ke dalam rumah sambil. Menangis.
__ADS_1
Sungguh drama yang sempurna ma. Aku pun pergi meninggalkan mas Irgi. Mas irgi terlihat terpaku kebingungan. Pikirannya terbelah antara aku dan mama. Akhirnya mas Irgi pun memutuskan untuk mengejar mama. Ketika mereka berbicara empat mata di kamar. Aku menguping pembicaran mereka.
"Ma. Mengertilah sedikit kondisi Mia. Belakangan ini dia terlihat lemah. Sewaktu mama menginap di rumah tante Mer. Mia pingsan ma. Mia histeris. Dia baru bercerita kemarin. Belakangan ini dia merasa diganggu hal aneh. Dia melihat sosok yang mengerikan. Dan selama ini dia tidak bercerita karena hanya dia sendiri yang melihat dan mengalaminya. Dia ingin aku membawanya ke orang pintar"
"Orang pintar?? " Kata mama. "Kau itu mama sekolahkan dari kecil hingga besar irgi. Seharusnya kau tahu kemana harus kau bawa istri mu itu! "
Hatiku serasa teriris mendengar perkataan mama. Aku tahu benar maksudnya. Secara halus dia menuduhku tidak waras.
"Dengar Irgi kau itu orang terpelajar. Kau percaya perkataannya? Pikirkan baik-baik irgi! "
Mas Irgi terlihat diam saja mendengar hasutan mama. Aku tidak bisa tinggal diam. Jika mas Irgi percaya pada mama. Tidak ada yang dapat menolongku. Sebab Ira dan papa tak pernah bisa membantah mama. Kuputuskan untuk kembali ke rumah sakit untuk mencari tahu semuanya. Di sana lah semua bermula pikirku. Dan kejadian kemarin malam dimana aku tiba-tiba berada di ruang bayi, seolah menjadi pertanda bagiku.
Bergegas aku ke kamar mengambil tas. Kemudian mengendap endap keluar rumah sebelum malam kembali datang dan sosok itu kembali menerorku.
Aku menaiki taksi. Saat di dalam taksi aku teringat peristiwa malam dimana aku mengalami kecelakaan. Kemudian tak lama aku melewati lokasi dimana mobilku terjungkal. Sekarang lokasi itu sudah diberi tanda rawan kecelakaan.
Aku tiba di rumah sakit dan bertemu satpam berkumis lagi di pos jaga. Satpam itu tampak sedang mengobrol santai dengan seorang suster.
"Pak kumis. Semalam saya jaga malam lagi. Mba kunti tidak datang. Alhamdulilah... " Kata suster itu senang. Aku mendengarkan percakapan mereka dari jauh.
"Berarti sudah 2 hari ini dia absen pak." Kata suster itu.
"Kamu kangen ya Marni sama si mba kunti? " Kata pak kumis meledek.
"Ih amit-amit pak. Semoga mba kunti absen terus saja sampai kena sp terus dipecat! " Balas suster yang bernama Marni itu.
"Kapan pak? " Tanya marni penasaran.
"Ya sekitar 3 hari yang lalu. Sekitar jam 7 malam saya menyapa pasien yang mau pulang. Terus tahu-tahu mba kunti di belakang pasien itu ngikutin. Saya langsung cabut Mar. Ngeri banget. Masih merinding nih kalau cerita. "
"Haha. Pak kumis bukanya say goodbye ya sama dia. Kan terkahir kali ketemu katanya. " Balas suster Marni meledek.
"Hush kamu ini. Semoga saja mba kunti ngga mampir ke sini lagi ya. Rasanya kangen suasana tenang kaya gini. Damai banget sebelum ada mba kunti. "
"Pak kumis... Suster...! Tolong saya. " Kataku tiba tiba membuat mereka terkejut.
"Tolong ceritakan pada saya. Siapa mba kunti itu. Kenapa dia mengikuti saya? "
" Maaf ibu siapa? Ada keperluan apa? " Tanya pak kumis padaku canggung.
"Saya korban kecelakaan yang pernah dirawat disini pak. Saya melahirkan disini dan sekarang Mba kunti yang sedang kalian bicarakan, dia mengikui saya dan anak saya. " Kataku menjelaskan singkat. "Tolong jelaskan semuanya saya mohon. Anak saya dalam bahaya. "
Suster Marni dan pak Kumis terdiam dan saling berpandangan. Kemudian suster Marni terlihat menghindar.
"Pak kumis saya permisi dulu ya saya harus mengurus berkas. Orang yayasan sebentar lagi datang menjemput. " Katanya pamit.
"Oh iya Mar. Kasian bayi itu sendirian terus selama ada mba..., eh semoga lancar urusannya ya..! "
__ADS_1
Pak kumis terbata saat menyebut nama mba kunti. Panggilan untuk sosok yang selama ini menerorku. Mungkin karena masih enggan berterus terang padaku.
Aku mulai mengajaknya berbicara. Dan beruntungnya aku, ternyata pak kumis ini orang yang sangat baik. Dia mau membantu dan diapun menceritakan semua nya padaku. Sosok kunti bukanlah penunggu rs. Dia memang datang berkunjung karna menyukai bayi. Sebelum aku datang, Rs sudah mencekam karena Ada bayi yang selalu ia kunjungi. Tetapi ketika aku datang. Mba Kunti seolah berpindah haluan dan tertarik padaku dan bayiku. Lalu siapa sosok mbak kunti sebenarnya masih menjadi misteri.
Mas Irgi dan mama bisa saja tak percaya padaku. Tetapi orang-orang di RS ini merasakan hal yang sama denganku. Namun mereka tidak akan berkata apapun demi nama baik tempat mereka bekerja. Lalu kuputuskan untuk mencari bukti yang akan kutunjukan pada mas Irgi. Aku meminta tolong pak Kumis untuk memperlihatkan rekaman cctv saat aku keluar dari rumah sakit. Pak Kumis sangat hati-hati dia tidak mengijinkanku begitu saja. Lalu kukatakan padanya aku hanya ingin menyelamatkan anaku. Dan untuk itu aku harus tahu segalanya. Setelah kubujuk Pak Kumis pun akhirnya setuju tetapi dengan syarat aku hanya diperbolehkan melihat saja.
Kemudian dibantu rekannya yang lain pak kumis memutar rekaman cctv malam itu. Diam-diam aku merekam nya dengan ponselku. Aku berharap rekaman itu akan menangkap sosok mba kunti dengan jelas. Dan keberutungan berpihak padaku. Rekaman itu menangkap sosoknya yang terbang melayang pelan mengikuti aku dan mas Irgi dari belakang.
"Astagfirullah!! " Rekan pak kumis terkejut melihat rekaman itu.
"Bener kan Din?. Saya sudah cerita waktu itu kamu malah nggak percaya. Tuh liat. " Katanya menunjuk ke arah monitor sosok mba kunti.
"Benar pak. Itu sosok yang mengikuti saya dan anak saya pak." Kataku.
Pak Kumis dan temannya Pak Udin saling berpandangan terlihat kengerian di wajah mereka.
"Terimakasih pak sudah membantu saya, saya berjanji akan merahasiakan semua. " Kataku pamit.
"Mba... Kalo sudah berhasil mengusir mba kunti. Jangan disuruh balik ke sini ya. " Kata mereka memelas.
***
Aku bergegas pulang karna hari sudah menjelang sore. Dan matahari sebentar lagi matahari akan terbenam. Aku tak berani membuka ponsel karna sudah ada 39 miss call dari mas Irgi. Mungkin dia sedang kebingungan mencariku. Karna aku hanya meninggalkan pesan agar dia menjaga Nuno untuku. Di dalam taksi yang kutumpangi aku tak berhenti bertanya sebenarnya apa yang diinginkan kan kunti dari ku? Mengapa harus aku dan anakku??
Lamunan ku pun terganggu ketika tiba-tiba bunyi klakson panjang mengagetkan ku.
"Ada apa pak? " Tanyaku pada pak supir.
Aku lihat tidak terjadi apa-apa di jalan. Tanpa sadar aku sudah berada di lokasi tempat kecelakaan lagi.
"Maaf bu kaget ya? Tidak ada apa-apa kok bu. Saya hanya ngasih tanda saja. Mau permisi lewat sini. "
"Memangnya kenapa pak? " Tanyaku.
"Barusan tempat yang kita lewati angker bu. Ada penunggunya. Teman saya baru aja kecelakaan di situ. Mana bawa penumpang ibu hamil lagi. " Cerita pak supir.
"Terus mereka gimana pak? " Tanyaku penasaran. Mungkinkah ia sedang menceritakan kisahku.
"Teman saya selamat bu. Tapi katanya ibu hamil itu meninggal. Terus kata teman saya dia liat orang nyebrang tiba-tiba bu, makanya mobilnya jadi terjungkal. Padahal nggak ada siapa-siapa di jalan.
Jantugku berdegup cepat mendengar cerita pak supir. Kenangan akan peristiwa kecelakaan langsung berputar dikepala ku. Aku ingat supir yang ramah dan baik itu. Sepanjang jalan dia menanyakan kenapa aku menangis dan dia berusaha menasihatiku. Dia juga yang menggendongku keluar dari dalam mobil yang sudah terjungkal. Lalu aku ingat bagian dimana tiba tiba ia berteriak. Keras sambil membanting setir
"Allahu Akbar"
Aku juga melihat sosok yang menabrak mobil kami. Sosok wanita berpakaian putih. Ya benar. Ternyata di situlah pertama kali aku bertemu dengan nya. Bukan di ruang bayi itu.
Bersambung....
__ADS_1