
Di mana Bayiku?
Part 8
Pov : Irgi.
Peristiwa semalam sungguh membuat batinku tersiksa. Semalam setelah aku menemukan Mia Histeris di pemakaman, aku semakin di hinggapi perasaan bersalah. Aku ingat, sejak awal aku tak pernah berlaku benar pada Mia. setiap keputusan yang kuambil malah membuat hidupnya menderita.
Saat pertamakali Mia memberitahuku bahwa ia hamil. aku malah menyuruhnya untuk menggugurkan kandungannya. aku sangat egois. aku hanya memikirkan diriku dan nama baik keluarga. sedangkan Mia memilih untuk kuat menghadapi semua. sampai akhirnya peristiwa kecelakaan itu terjadi.
Aku baru menyadari Mia hanya manusia biasa yang juga bisa rapuh. aku terlambat melindunginya. apakah sekarang akupun terlambat untuk melakukan hal yang benar untuknya. Mama masih memaksaku untuk membawa Mia ke psikiater. sedangkan Mia memintaku membawanya ke orang pintar. Apa yang harus ku perbuat??
"Nuno...... Dimana anakku??. Dasar sialan kau Yuni. Kau ambil bayiku. " Pekik mia dari kamar.
Aku segera menyusul Mia di kamar. Semalam setelah sampai di rumah, Mia langsung melompat dari mobil berlari untuk mengecek Nuno dan meninggalkanku di belakang.
Mia histeris melihat ranjang Nuno yang kosong. Kemudian dia pingsan. Aku segera memindahkannya ke tempat tidur. Mama, ira dan papa panik berlari menuju kamar kami. Mendapati Mia pingsan Ira segera bergegas mengambil kotak obat. Papa segera menelpon rumah sakit. Menyiapkan jadwal untuk pengobatan Mia. Kemudian perlahan mama menghampiriku lalu mengelus punggungku.
"Besok kau harus segera membawanya Irgi. Jangan kau tunda lagi! " Kata mama.
Aku merasa semakin kacau mendengar perkataan mama. Ku tinggalkan mereka bedua di kamar. Karena menyerah pada tekanan yang kuhadapi.
***
Keesokan harinya aku dan Mia pergi ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan dia hanya diam, matanya kosong, kulihat cahaya kehidupan mulai hilang dari dirinya. Dia seperti bukan Mia yang ku kukenal.
"Mengapa kita ke sini mas?" Katanya kebingungan ketika menyadari kami sudah tiba di rumah sakit tempat ia kemarin di rawat.
"Jangan-jangan mas mau mencari Yuni di sini? " Katanya bertanya. Kemudian dia teringat sesuatu.
"Ponsel ku mana mas?" Tanya nya panik.
" Aku tidak tau dimana ponsel mu. Mungkin kau meninggalkannya. " Jawab ku. " Ayo kita turun. "
Kemudian aku mengajaknya turun dan membawanya masuk ke dalam. Ku temui suster di meja pendaftaran.
"Permeisi, maaf suster saya sudah buat janji dengan dokter Widia." Kataku pada suster.
"Suster Widia poli klinik kejiwaan 10 menit lagi datang. Silahkan ditunggu ya pak. " Kata suster itu menjawab.
"Mas... Maksudnya apa? " Kata Mia terkejut menyadari niat ku membawa nya ke rumah sakit.
"Mas jahat!! Mas menuduhku gila? " Katanya marah padaku.
__ADS_1
"Dengar dulu Mia.. " Aku berusaha menjelaskan tetapi Mia memotong.
"Mas!!! Bayi kita hilang mas! Dan aku tidak gila, aku tahu siapa yang mengambil bayiku. Mas bilang mas percaya padaku? Aku sudah punya bukti mas. Sekarang ponselku hilang entah dimana. Aku menyimpan bukti itu diponselku. Aku menncarinya dari.... "
Belum sempat menyelesaikan perkataannya, Mia tiba-tiba bergegas berlari keluar. Aku pun mengejarnya dan kudapati dia sedang bersama seorang satpam rumah sakit. Seorang paruh baya dengan kumis tebal di wajahnya.
"Tanya bapak ini mas. Kemarin aku kesini dan aku melihat rekaman cctv di rumah sakit ini. Bapak ini tahu sosok yang mengambil anak kita. " Katanya sambil menunjuk wajah bapak itu.
Bapak itu tidak bergeming dia hanya diam tak mengucapkan sepatah katapun.
"Maaf Pak istri bapak kenapa? " Tanya bapak itu padaku. "Pak saya tidak mengerti apa-apa. " Wajah bapak itu mendadak panik sekaligus bingung. Mia menatap bapak itu dengan tatapan tajam.
Aku segera menarik istriku dan meminta maaf pada bapak itu. Tetapi Mia malah berteriak.
"Tentu saja dia tidak berani bercerita. Dia tidak mau semua orang tahu mas! Dasar pembohong!" Umpatnya kepada bapak itu.
"Mia tolong. Tenangkan dirimu. " Kataku tak kuasa menghadapi Mia yang sudah diluar kendali.
"Ikut aku mas, kita cari suster itu. " Katanya samil menarik tanganku.
Kemudian kami sudah berada di ruang rawat persalinan. Menemui seorang suster yang bernama Marni. Suster itu terlihat terkejut melihat kedatangan kami.
"Suster tolong ceritakan tentang Yuni pada suami saya. " Kata Mia.
"Maaf ibu siapa? Dan ada perlu apa? " Jawab suster itu.
"Ceritakan semua tentang Yuni! kenapa dia menghantui rumah sakit dan mengganggu bayi bayi di sini."
Suster itu terlihat kebingungan kemudian tiba-tiba ekspresi wajahnya berubah menjadi terkejut karena menyadari sesuatu.
"Yuni Itu Mbak kunti? " Katanya spontan kemudian segera menutup mulutnya.
Aku mulai mencium keanehan di sini. Kemudian suster itu terlihat menjaga sikapnya lagi. Seolah tidak terjadi apa-apa. Kuputuskan untuk terlibat pada masalah siapa Yuni sebenarnya?. Sejak semalam memang Mia selalu menyebut nama Yuni. Akhirnya akupun bertanya.
"Mba kalau ada hal yang perlu diceritakan, tolong katakan langsung! saya mohon. "
Kemudian suster itu mengajak kami ke tempat lain, tempat sepi dimana dia bisa leluasa berbicara. Lalu ia pun mulai bercerita.
"Yuni adalah pasien tabrak lari yang meninggal di rumah sakit ini. Nyawanya tak tertolong.....tetapi sebenarnya Yuni bukan tidak tertolong... Kami tidak berniat menolongnya waktu itu.. " Cerita suster Marni sambil mengingat kejadian lalu.
"Maksud suster apa?" Tanyaku tak mengerti.
" Yuni sempat melahirkan di rumah sakit ini. Tetapi anehnya tidak ada keluarga yang menemani dan menjenguknya. Kecurigaan kami pun benar, ternyata Yuni berniat kabur meninggalkan bayi nya di sini." Lanjut nya bercerita.
__ADS_1
"Sungguh kami tak menyangka, tiba-tiba dia datang kembali dalam kondisi terluka karna mengalami kecelakaan. Tetapi pihak kami yang kesal dengan perbuatan yuni seperti setengah hati ingin menolongnya. Akhirnya kami tak sengaja melakukan kesalahan. " Jelas suster itu sambil gemetar mengingat peristiwa mengerikan yang terjadi.
Nyawa seorang pasien melayang karena terabaikan. Aku jadi membayangkan. Mungkin Mia akan bernasib sama kalau saja dulu aku meninggalkannya dan melahirkan anak kami sendirian.
"Jadi dia meninggal dan arwah nya mencari anaknya di rumah sakit ini suster? " Kata Mia menyimpukan.
"Awalnya saya juga tidak mengerti, sampai akhirnya ibu mengatakan kalau mba kunti itu adalah Yuni. Saya jadi menyimpulkan seperti itu. " Katanya meyakinkan kami.
"Lalu dimana bayi nya suster. Mengapa dia menginkan anak saya? " Tanya Mia putus asa.
Semua yang diceritakan suster seperti nyata dan memiliki hubungan. Hanya satu hal yang tidak bisa dijelaskan. Dan aku harus pastikan kebenarannya. Akupun bertanya pada suster marni.
"Apakah suster benar melihat arwah Yuni? " Tanyaku padanya menegaskan.
"Iya pak, saya melihat Yuni hampir setiap hari di rumah sakit ini." Jawabnya yakin tanpa ragu sedikit pun.
" Benarkan mas? Aku tidak gila. Sekarang mas boleh percaya padaku. " Kata nya sambil berlalu meninggalkan ku dengan tatapan kecewa.
Mia berjalan cepat tanpa menoleh, sedangkan aku masih bersama suster Marni. Kemudian kuberikan pertanyaan terakhir pada suster Marni. Pertanyaan yang akan menjelaskan mengapa semua cerita yang dikatakan nya tak masuk akal menurutku.
"Apakah suster melihat anak kami? Apakah anak kami masih hidup? "
Suster Marni terdiam sejenak kemudian dia membelalakan matanya terkejut.
***
Aku berlari menyusul Mia. Mia sudah hampir meninggalkan Rumah sakit sampai akhirnya aku berhasil menghentikannya di parkiran.
"Mia tunggu. Jangan tinggalkan mas. "
"Aku mau mencari Nuno mas. Aku tidak ingin bertengkar saat ini, Nyawa Nuno lebih penting dari apapun mas. " Jawab Mia.
Melihat sorot matanya yang penuh harap, perasaanku menjadi lemah. Akupun mengalah demi dia.
"Mas antar kau mencari orang pintar. Tetapi dengan satu syarat. Kau harus mau diperiksa dokter. " Kataku memberi jalan keluar.
"Mas aku tidak gila. " Jawab Mia sambil menghela nafas seolah lelah dengan sikapku.
"Karena itu kau tidak akan apa-apa disana, aku hanya menghawatirkan kesehatanmu. Lakukanlah demi Nuno." Kataku membujuk.
"Baiklah aku mau diperiksa demi Nuno. Bukan demi mama!! " Jawabnya ketus dengan sorot mata tajam.
"Sekarang antar aku mencari Orang pintar! " Kata nya memberi perintah.
__ADS_1
Lalu kami berdua pun pergi meninggalkan rumah sakit. Mencari keberadaan orang pintar yang aku sendiri tak tahu harus mencari kemana?.
Bersambung....