
Dimana Bayiku?
Part 13 End
Pov: Mia
Aku tersadar dan sudah berada di rumah sakt. Mas Irgi terlihat tertidur di sebelahku dengan tangannya yang diperban. Apa yang terjadi? Mengapa aku masih hidup? Tak lama mas Irgi pun bangun.
"Mia syukurlah kau sadar. " Katanya tersenyum.
"Mengapa aku disini mas? "
"Kau selamat Mia. "
"Bagaimana mungkin aku selamat mas? mobil kita meledak. "
"Mas pun tak percaya Mia. Tetapi saat mobil itu meledak. Tiba -tiba kau sudah tidak berada di dalam. Dan kemudian aku menemukanmu terbaring di bawah pohon dengan selamat. "
Aku selamat? Bagaimana mungkin aku selamat dari kejadian itu. Sosok itu sudah mencengkramku dan hendak membawaku sebagai tumbalnya tetapi kemudian aku masih hidup.
Aku ingat mendengar suara tangis Nuno yang membuatku mencoba berusaha melepaskan diri. Kemudian aku jatuh dan tak mengingat apa apa lagi.
"Sudah lah jangan dipikirkan. Yang penting kau selamat Mia." Kata mas Irgi melihatku kebingungan dan berfikir keras.
"Mas aku tidak mau di sini. Aku tidak mau kembali ke rumah sakit ini. " Kataku meminta.
"Kenapa.Mia? " Tanya mas Irgi.
"Aku trauma mas, aku tak ingin mengalami hal buruk lagi. " Jawabku.
"Kau memang sedang berada di rumah sakit lain Mia. " Kata mas Irgi membuatku heran.
Kemudian mas irgi mengajakku jalan sebentar mencari udara segar di taman rumah sakit.
"Selamat pagi mba Mia."
Seorang suster menyapaku dengan hangat di lorong. Kali ini lorong tampak begitu cerah dan tak mencekam. Ternyata benar aku memang sudah berada di rumah sakit lain. Perasaanku lega sekali. Kemudian aku sampai di taman. Lalu aku melihat bermacam orang yang betingkah aneh. Ada yang terlihat murung dengan tatapan kosong ada pula yang terlihat riang seperti anak kecil meskipun usianya sudah tua.
"Mas aku dimana? " Tanyaku.
"Dengarkan Mas Mia. Sebelum mas menjawab pertanyaanmu. " Kata mas Irgi membuatku curiga.
"Mas mau mengatakan apa" Kataku.
" Mia.. Kau harus dengarkan mas baik baik. Anak kita sudah tidak ada. Dia sudah meninggal saat kau lahirkan di rumah sakit. Sekarang kau harus menerima kenyataan ini Mia. Aku sangat sayang padamu. Mama , papa dan ira. Kami. Semua sangat menyayangi kamu . "
Mas irgi menjelaskan tetapi aku menolak mempercayainya.
__ADS_1
"Tidak Mas. Nuno anakku masih hidup. Kau juga melihatnya kan? Kau melihat Yuni, mengapa sekarang kau berubah lagi mas." Tanyaku kecewa.
"Tidak Mia aku percaya padamu. Semua yang kau alami benar terjadi. Hanya saja mas dan lainnya tidak bisa melihat Nuno yang kau lihat". Jelas mas irgi.
" Maksud mas? Di rumah sakit kamu menggendong Nuno mas. Di rumah pun kau membantuku merawat Nuno. Mama, papa dan Ira mereka juga... "
"Maaf Mia... Kami hanya berpura pura demi kamu. Kalau bukan karna mama, mas tidak akan sadar kalau yang mas lakukan ke kamu itu salah. Mas menutupi kenyataan yang sebenarnya darimu"
Berpura -pura? Jadi selama ini aku memang gila? Dunia seakan runtuh dihadapanku.Aku menangis terisak. Mas Irgi memeluku. Kemudian aku melihat gelang pasien yang kukenakan bertuliskan Rs Jiwa Darma Grahita. Aku terkejut ketika aku menyadari dimana aku sekarang.
"Mas.. Aku tidak gila mas. Aku tidak gila.. " Kataku sambil menangis kemudian aku dorong tubuh mas Irgi hingga ia terjatuh.
"Pergi aku tidak ingin melihatmu!!!. "
Aku mengusirnya. Aku yang syok dan masih tidak bisa menerima kenyataan menolak kehadirannya. Aku ingin sendiri. Biarkan aku sendiri. Jika memang Nuno tidak ada lagi aku sudah tidak menginginkan apapun. Kemudian mas Irgi pun mengalah dengan sikapku. Ia pamit dan menitipkanku pada suster. Sebelum pergi ia memberikan ponsel ku yang hilang.
"Kembalilan padaku Mia. Kau harus sembuh demi Nuno, Mas percaya padamu. " Katanya padaku.
****
Sudah 2 hari aku menyendiri di rumah sakit. Aku menolak dikunjungi siapapun. Mataku menatap kosong setiap pohon yang ku lihat di rumah sakit. Sekarang aku malah menunggu kedatangannya. Aku berharap Yuni datang. Aku berharap suatu saat dia akan muncul di sana. Di pohon besar sambil menggendong anakku. Aku sangat merindukan anaku. Tetapi mereka tak pernah muncul sejak kejadian malam itu.
Kemudian aku teringat ponsel ku. Aku ingat aku memiliki rekaman yang menampakan wujud Yuni. Aku merekamnya agar mas Irgi percaya padaku bahwa aku tidak gila. Kulihat kembali rekaman itu. Aku ingat tiap adegannya. Aku berjalan di lorong bersama mas irgi dan sosok yuni terlihat mengikuti kami di belakang. Kutatap dengan fokus Nuno yang sedang ku dekap. Aku ingin lihat wajahnya karena aku sangat merindukanya. Aku pun tercengang dengan apa yang kulihat.
Aku terlihat hanya memeluk sebuah guling kecil.
Aku melihat Nuno yang seketika berubah menjadi guling saat sosok Yuni mengikuti kami pulang dari rumah sakit.
Kemudian aku ingat dan merasa bersalah kepada mama yang pernah kukasari karna tidak ingin menggendong Nuno. Akupun sadar mama melakukannya karna mama tidak ingin melihatku menderita seperti itu.
Aku juga teringat ekspresi wajah pak kumis dan pak udin satpam yang memperlihatkan rekaman cctv rumah sakit padaku. Mereka terlihat terdiam saling bertatapan ketika aku memberitahu mereka bahwa anaku yang mereka lihat hanya sebuah guling sedang diincar yuni.
Kemudian Yuni. Sosok yang selama ini menghantuiku. Aku sadar selama ini ia hanya ingin memperlihatkan padaku hal yang sebenarnya. Ia tunjukan padaku hal hal yang mengerikan itu. Aku ingat sebuah makam yang pernah ia tunjukan.
"Tidak ada yang bisa kita lakukan. Mbak Mia harus mengiklaskan apa yang terjadi. " Begitu perkataan mister Leo yang kuingat. Sama dengan yang suster Marni katakan bahwa aku harus mengikhlaskan apa yang terjadi dan mempasrahkan diriku.
Sekarang aku merasa seluruh beban terangkat. Kesedihanpun tumpah dan membuatku berserah diri akan apa yang telah kualami. Kemudian aku teringat mas Irgi. Dan aku segera menelponnya.
"Halo." Terdengar suara mas irgi menjawab.
"Mas aku ingin mengunjungi makam Nuno. "
Pintaku pada mas Irgi.
****
Dokter mengijinkanku pulang karena aku sudah berdamai. dengan diriku. Aku sudah menerima kenyataan kematian anaku. Kemudian mas Irgi membawaku pulang dan mengantarku ke makam Nuno. Aku berlutut di pusara anaku. Mas irgi merangkulku dari belakang menguatkanku.
__ADS_1
"Nuno sayang. Maaf kita harus berpisah nak. Kita sudah berjuang bersama sama. Mama menyayangi mu lebih dari apapun tetapi tuhan lebih menyayangimu. Mama ikhlaskan kamu nak." Kataku tak kuasa menangis.
" Nuno juga sangat menyayangimu." Kata mas Irgi.
Aku tahu dia ingin menghiburku. Tetapi ia melanjutkan perkataannya dengan serius. Dan membuatku terkejut.
"Aku menemui kembali mister Leo 2 hari yang lalu ketika kau di rumah sakit. Aku percaya padamu Mia. Semua yang kau alami memang benar terjadi. Kau memang benar melihat semuanya. Termasuk Nuno anak kita yang selalu menemanimu. Dia bukan halusinasimu. "
"Maksud mas?" Tanyaku tak mengerti.
Kemudian dia mengeluarkan ponselnya. Ia perlihatkan foto bayi yang menjadi walpaper ponselnya.
"Itu Nuno mas. " Kataku terharu melihat wajah anaku yang kurindukan.
"Benar Mia. Semula Mas tak percaya tetapi ketika Ira menunjukan foto ini. Wajah Nuno yang belum pernah sekalipun kau lihat hingga dimakamkan. Kau dapat mengenalinya dengan jelas. "
"Jadi selama ini... "
" Ketika kau kecelakaan di lokasi itu, kau kehilangan Nuno. Tetapi Nuno kembali padamu. Menemenami dalam wujud roh yang hanya bisa kau lihat sendiri. Karena itu sosok penunggu marah padamu. Kau yang masih dalam keadaan depresi hampir saja dibuat melakukan bunuh diri. Tetapi sosok Yuni selalu menjaga Nuno dan membantu kita. "
"Karna itukah malam itu ia mengikuti kita. Karna itukah dia selalu berusaha mengatakan padaku bahwa nuno sudah tidak ada. "
"Benar Mia. Dia ingin menjaga anak kita. Karena itu ia tidak pernah muncul lagi setelah malam mengerikan itu. Dia ingin kau mengikhlaskan Nuno. "
Semua memang terasa masuk akal. Kemudian aku teringat perkataan mister yang belum sempat diselesaikanya. Aku bertanya tanya dalam hatiku. Lalu sesuatu terlintas dalam pikiranku.
"Mas antar aku ke panti asuhani Amanda. "
"Kenapa Mia? Semua sudah berakhir Mia. "
"Belum mas. Petunjuk terakhir belum diselesaikan. " Kataku pada mas Irgi.
Kami berdua pun segera menuju panti asuhan setelah mengucapkan selamat tinggal pada anak kami. Letak panti asuhan hanya berjarak 5 km . Tak membutuhkan waktu lama kami pun sudah tiba di sana. Kemudian kami mengutarakan maksud kedatangan kami untuk melihat bayi yang dirawat di panti kepada pemilik panti.
Dan akhirnya akupun bertemu kembali dengan bayi itu. Bayi yang sempat kususui di ruang bayi. Aku ingat aku memeluk bayi itu ketika Yuni hendak mengambilnya dariku.
"Mas Irgi... Yuni akan mengembalikan apa yang telah hilang mas. Kebahagiaan kita yang telah hilang. Akan ditukar dengan kebahagiaan baru.. " Kataku pada mas Irgi.
Aku gendong bayi itu dalam dekapanku. Kemudian mas Irgi seolah mengerti maksudku. Ia mendekat dan memeluk aku dan bayi yang kugendong.
"Siapa namanya Mia? " Tanya mas Irgi.
Kemudian kami berdua pergi menemui kembali pemilik panti. Dan mengatakan keinginan kami untuk mengasuh anak Yuni. Mas irgi sedang berbicara mengenai proses adopsi dengan pemilik yayasan ketika aku tak sengaja melihat sosok Yuni. Ia berdiri di bawah pohon tersenyum padaku dengan wajah keibuanya sambil menggendong seorang anak.
Anaku Nuno
-tamat-
__ADS_1
Terimakasih untuk admin. Terimakasih untuk pembaca cerita saya. Mohon maaf untuk kelebihan dan kekurangannya. 😃