
Di mana Bayiku?
Part 5
Fiksi
Pov : Mia
Keesokan harinya aku terbangun kebingungan. Kata mas Irgi aku pingsan di depan kamar. Mas Irgi terus menjagaku semalaman. Ku lihat Nuno sudah berada di sisiku. Melihatnya tertidur manja di tengah kami berdua, perasaanku bercampur aduk, aku lega melihat anakku sekaligus merasa aneh. Peristiwa semalam benar-benar teror nyata yang mengerikan. Tetapi pagi ini mendadak semua terasa normal kembali.
"Irgi, cepat berangkat, papa sudah menunggu. " Kata mama. "Mobil mu sudah dibawa Yanto ke bengkel. " Kata mama tiba-tiba masuk ke kamar.
Melihat mama aku teringat mama yang muncul semalam. Apakah itu benar mama? Tanya ku dalam hati.
"Hari ini Irgi tidak ngantor saja bu, temani Mia dlu. " Jawab suamiku.
" Tidak Irgi, kamu sudah banyak cuti, lagi pula untuk apa mama pagi-pagi sekali kau minta pulang ke rumah. " Kata mama kesal. Ternyata mama benar-benar tidak ada di rumah semalam. Dan sosok itu memang sangaja menyerupai mama.
" Ok. Irgi berangkat Ma. Titip Mia ya ma." Kata mas Irgi mengalah. Dia pun mengecup keningku dan beranjak. Sampai diambang pintu kamar ia berhenti sejenak. Terlihat wajahnya yang kelelahan memandangku penuh cemas.
"Sudah pergi sana!! Jangan khawatir! mama jaga istrimu. " Teriak mama. Lalu mama mengantar mas Irgi ke luar.
***
Hari sudah siang, namun aku masih berdiam diri di kamar, karena trauma dan tak berani meninggalkan Nuno. Di kamar, aku banyak berpikir. Mencerna semua kejadian aneh yang kualami. Aku memikirkan Sosok itu yang mengikutiku dan menerorku sampai ke rumah. Mengapa sejak awal hanya aku yang merasakan keberadaannya? Sedangkan mas Irgi tidak. Dan mengapa sosok itu mengincar anaku?
__ADS_1
Ku ambil ponsel dan ku kirim pesan pada mas irgi. Kuputuskan untuk bercerita padanya.
"Mas aku ingin menceritakan sesuatu. "
"Ada apa sayang? . Cerita saja. "
"Nanti saja mas di rumah. "
"Baik , hari ini mas pulang cepat. "
Setelah mengirim pesan kugendong anakku dan aku pergi ke ruang makan karena perutku terasa lapar. Di meja makan aku melihat mama yang sudah menyelesaikan makannya.
"Makan lah Mia sejak pagi kau diam saja di kamar. " Kata mama padaku.
Mama terlihat enggan. Ia sama sekali tak menatap Nuno cucunya. Seingatku belum sekalipun aku melihat mama menggendong cucunya. Malah sosok menyerupai mama yang menggendong manja Nuno. Apakah mama masih bersikap dingin?
" Kamu ini!. kenapa tidak ditinggal saja di kamar kalau repot. " Katanya ketus.
Aku mengelus dada mendengar nya. Ku gendong kembali Nuno.
"Taruh di kamar! . Biar mama yang jaga." Perintahnya.
Lalu mama segera menuju kamar dan aku mengikutinya di belakang. Ku letakan Nuno di ranjangnya dan mama hanya duduk di pinggir ranjangku dan menyuruhku segera makan. Selesai makan kudengar Nuno menangis. Aku segera ke kamar. Dan ku lihat mama hanya diam saja tak menggubris anakku. Ya tuhan ternyata hati mama masih sekeras batu. Dia hanya baik di depan mas Irgi. Aku kesal sekali dan kuputuskan untuk melakukan sesuatu nanti.
***
__ADS_1
Sore hari mas Irgi sudah pulang. Dia menepati janjinya untuk pulang cepat. Lalu akupun segera mengajaknya ke kamar untuk menceritakan apa yang kualami sejak di rumah sakit. Kukatakan padanya aku sangat takut terjadi sesuatu pada Nuno. Mas Irgi berkata, aku harus banyak istirahat. Mungkin karena aku dalam kondisi lemah sehingga aku mengalami hal itu. Perkataan mas Irgi membuatku ragu apakah dia percaya atau tidak dengan yang kuceritakan. Aku pun meminta padanya untuk mengantar ku pada orang yang mengerti benar akan hal ini.
"Maksudmu orang pintar?? Mia, kamu cukup banyak berdoa saja sayang. Tenangkan pikiranmu! " Jawab mas Irgi.
Aku harus menelan kenyataan menghadapi semua ini sendiri. Karena begitu malam tiba sosok itu menganggu lagi.
Mas Irgi yang kelelahan setelah kemarin malam menjagaku, sudah tidur lebih awal. Ketika itu masih pukul 8 malam. Aku hendak ke toilet tetapi tak tega membangunkan mas Irgi. Terpaksa aku meninggalkan Nuno. Lagi pula aku hanya pergi ke toilet pribadi di kamarku. Jika terjadi sesuatu pasti akan terdengar olehku.
Baru semenit aku berada di dalam. Lampu toilet mati. Aku pun bergegas keluar dari kamar mandi ketakutan. Tetapi pintu kamar mandi tak dapat dibuka. Aku terkunci di dalam kamar mandi. Aku berteriak meminta tolong sambil menggedor pintu. Tetapi mas Irgi seperti tidak mendengarku. Terdengar suara sosok itu menertewakanku.
Hi.. Hi... Hi... Hi.. Hi..
Cukup lama aku terkurung dan disiksa rasa takut olehnya. Kemudian aku teringat pesan mas Irgi. Aku tenangkan pikiranku dan tiba2 tiba saja pintu terbuka membuatku jatuh terdorong ke depan.
Aku bangun dan melihat kesekelilingku. Dimana aku? Ini bukan kamarku? Aku berada di tempat lain. Dan aku ingat benar tempat ini. Ini ruang bayi di rumah sakit tempatku dirawat. Ruangan sunyi dengan banyak ranjang bayi yang kosong. Lalu terdengar suara tangis bayi. Aku seperti dejavu dengan kejadian malam itu di ruang bayi. Kuhampiri bayi yang menangis itu. Dan memang Itu bayi yang sama yang menagis di malam itu. Ditempat yang sama pula sosok itu pun muncul melihatku. Kali ini dia tidak tertawa. Dia menangis. Suara tangisannya lebih menyeramkan membuatku merasa tercekik kehabisan nafas mendengarnya.
Ini hanya mimpi. Aku mencoba meyakinkan diriku sendiri ini tidak nyata. Lalu sosok itupun mendekatiku darah segar mengalir dari perutnya seperti luka tusuk yang baru terbuka. Menetes membanjiri lantai dan mengalir mengenai kakiku.
"Mau apa kau? Mengapa kau terus menggangguku.? "
Sosok itu tidak menjawab dan malah tangisannya semakin menjadi-jadi. Aku memjamkan mata berharap segera bangun, berharap ini segera berakhir, karena aku sudah tidak dapat berpikir akan hal yang nyata ataupun tidak. Lalu aku teringat akan mas Irgi dan Nuno. Ku tenangkan pikiranku dan berdoa. Akhirnya suara tangisan itu pun hilang.
Aku membuka mata dan aku sudah berada di kamar ku lagi. Malam itu terasa panjang. Aku tak henti berdoa sampai aku tertidur di sisi mas Irgi dan Nuno.
Bersambung..
__ADS_1