
Dimana Bayiku?
#fiksi
Part 9
Pov : Irgi
Mencari orang pintar di daerah tempat kami tinggal sedikit sulit. Tetapi aku berhasil menemukannya berkat sebuah grup di media sosial. Aku pun membawa istriku mendatangi tempat orang pintar yang dimaksud. Meskipun tubuh dan pikiranku menolak. Karena aku bukanlah tipe orang yang percaya terhadap hal tak bisa dijelaskan dengan logika.
"Silahkan masuk! " Kata seorang lelaki yang terlihat berusia lebih muda dariku. Ia berpakaian rapih dan elegan, tak berbeda jauh dengan pakaian yang sehari hari kupakai ke kantor. Ruangan yang kami masukipun tak terlihat berasap dan dipenuhi benda-benda ritual. Lalu kami dipersilahkan duduk.
"Mas Irgi dan mba Mia. " Tebak nya, atau ia sudah membaca formulir yang kami isi di meja pendaftaran dengan menyetorkan sejumlah uang yang ternyata tak sedikit.
"Betul Ki... Eh Maaf. Kak..." Kataku canggung memanggil orang pintar yang jauh dari ekspektasi yang kubayangkan.
"Panggil saja mister Leo, saya belum aki-aki " Katanya sambil tersenyum. Wajah bersih dan terawatnya membuat ia lebih cocok sebagai sales properti.
"Mister tolong temukan anak saya." Kata Mia langsung ke pokok permasalahan.
"Baik, jadi mba dan mas ini ingin mencari anaknya ya. Sebentar, saya lakukan penerawangan. " Katanya santai. Setelah mengetahui maksud dan tujuan kami.
Mister Leo kemudian memejamkan mata sambil melipat tangannya. Sambil berkonsentrasi ia pun mulai mengajukan beberapa pertanyaan.
"Kapan anda terakhir melihat anak kalian " Tanya mister ini seolah anak kami hilang disaat kami sibuk mengabaikannya.
"Kemarin mister. " Jawab Mia.
"Hmmm... Hmmm... Oke baik.... " Katanya seolah paham dan mengerti sesuatu. Lalu dia kembali membuka matanya.
"Mba ini sedang diikuti sosok ghaib. Kira-kira beberapa hari yang lalu mba mengalami sebuah kejadian atau tragedi dalam hidup mba ya? "
Penerawangan macam apa ini? Pikirku setelah mendengar perkataan si Mister. Tentu saja orang yang mendatangi orang pintar, pasti karena mengalami sesuatu yang ghaib, atau hal yang tak pernah terjadi sebelumnya dalam hidup mereka. Sungguh pandai sekali mister ini memaikan kata. Mempermainkan kepercayaan kami.
"Benar mister. Saya mengalami kecelakaan mobil. " Jawab Mia membenarkan prediksi mister.
"Mba begitu dekat dengan kematian, sehingga mahluk ghaib itu mengikuti karena dapat merasakan aura mba." Kata mister menambahkan.
Setiap orang yang mengalami kecelakaan sudah pasti dekat dengan kematian. Logika selalu berfikir demikian. Maaf mister anda salah orang. Aku tak akan segampang itu kau bodohi. Tetapi aku memilih bersabar, demi keinginan Mia, demi memenuhi janjiku padanya.
"Benar Mister saya sempat mengalami koma. " Jawab Mia dengan lugu. Memberikan semua informasi yang harusnya diterawang sendiri oleh mister.
"Lokasi kecelakaan yang mba alami itu angker. Sering terjadi kecelakaan disana. Ada penunggu yang sering meminta korban anak-anak. "
Kali ini aku berfikir dan aku benar benar yakin, bahwa mister Leo ini orang pintar. Ia rajin membaca informasi dan dengan mudah mengetahui lokasi mana yang sering terjadi kecelakaan di daerah kami. Akupun pernah membaca berita kecelakaan istriku di sebuah situs online, media itu mengkaitkan musibah yang dialami Mia dengan kecelakaan sebelumnya dibumbii hal berbau mistis. Membacanya sungguh membuatku kesal dan marah.
"Benar mister saya bertemu dengan arwah anak kecil di tempat itu semalam. Dan sosok menyeramkan tiba-tiba mengejar kami berdua. " Jawab istriku membuatku kaget.
Sebab yang aku ketahui semalam Mia berada di pemakan umum dekat rumah. Apakah istriku sedang berhalusinasi?
"Penunggu disana sedikit kesal karena tidak mendapatkan tumbalnya, tetapi sosok yang mengikuti mba lebih berkeinginan kuat mendapatkan apa yang ia cari, jika mba lemah dan kalah dari nya, ia akan mendapatkan apa yang ia inginkan." Kata mister menjelaskan panjang. Seperti mengarang sebuah cerita misteri.
Aku salut akan kepintaran Mister Leo ini. Kulihat Mia mencoba mencerna perkataan mister. Ia membisu dan berusaha mencari jawaban dalam pikirannya. Kasihan kamu Mia. Sekarang giliran aku bertanya pada si orang pintar ini. Jika jawabanmu salah maka tamat riwayat mu.
__ADS_1
"Apa yang ia inginkan mister. Apa yang sosok ghaib itu inginkan dari istriku? " Kataku bertanya seolah percaya padanya.
"Ia menginginkan anak kalian. " Jawab nya dengan ekspresi meyakinkan dan sedikit empati kepada kami.
Dasar penipu!. Tentu saja kau akan berkata begitu. Kau tahu maksud dan tujuan kami sejak awal. Kau tahu istriku yang sedang terguncang jiwanya menanyakan anaknya, tetapi kau melakukan kesalahan. Kau tidak mengetahui kesedihan kami yang baru saja kehilangan anak kami. Kau gunakan anak kami untuk mengisi kantong mu. Aku merasa jijik dengan manusia dihadapanku ini.
"Cukup! Ayo Mia kita tinggalkan tempat ini. " Kataku mengajak Mia.
" Tapi Mas. Mister belum memberitahu apa yang harus kita lakukan. " Kata Mia menolakku.
"Sudah cukup Mia tidak perlu kita dengarkan lagi perkataannya. " Kataku pada Mia. Tetapi Mia bersikares.
"Katakan Mister. Tolong katakan apa yang harus saya lakukan? Kata Mia memaksa melanjutkan, sementata Mister melihat sikapku dengan tatapan heran dan marah.
" tidak ada yang bisa kita lakukan, mba harus merelakan apa yang terjadi. " Jawab Mister dengan dingin.
Seperti mendapat harapan palsu mia pun langsung menangis tak terima.
"Tidak, saya tidak mau menyerah Mister saya akan lakukan apapun. " Kata Mia sambil menangis.
Aku membangunkan Mia yang tak lagi mampu untuk berdiri. Kemudian kuajak dia untuk meninggalkan tempat tak berguna ini. Tetapi kemudian tiba-tiba mister menghentikan kami.
"Tunggu. Dia menginginkan sebuah pertukaran. Dia akan mengembalikan apa yang dia ambil jika....... "
"Hentikan omong kosongmu dasar penipu!! Saya tidak akan memberi sepeserpun uang, kau bodohi kami dan kau permainkan kami!!! " Kataku marah.
Darah ku mendidih. Tanpa memikirkan keadaan Mia yang semakin lemah, dia masih berusaha untuk menguras uang kami. Jika tidak segera ku hentikan, ia akan terus meracuni pikiran Mia. Dan ia akan mengarang cerita agar Mia mau melakukan apapun yang ia inginkan. Dan dia dapat menguras uang kami dengan mudahnya.
"Tetapi nyawa istri mas sedang dalam bahaya, mas tidak tahu apa yang saya ketahui. Mungkin mas pikir mas mengetahui semuanya. Berfikirlah dengan jernih saran saya pada mas."
Dengan sombongnya Master Leo memberiku nasihat. Tatapan matanya tegas dan terlihat meyakinkan. Tetapi aku sudah terlanjur muak dan tak ingin melihat wajahnya. Segera kubawa istriku pergi tempat itu
***
Hari sudah sore ketika aku kembali membawa Mia ke rumah sakit. Untung Nya aku masih bisa menjadwalkan ulang pengobatan Mia. Ia terlihat semakin lemah saja. Ia menolak makan dan minum sejak pagi tadi. Ku jelaskan kondisi Mia pada dokter. Kemudian dokter mengajukan beberapa pertanyaan padaku. Masalah berat apa saja yang dialamai Mia selama ini yang mengganggu pikirannnya.
Kemudian dokter sampai pada sebuah kesimpulan.
Mia mengalami depresi yang sangat berat. Ia banyak mengalami tekanan dan kerap memendam perasaannya. Perasaan itu pun terakumulasi. Lalu kehilangan anak menjadi guncangan hebat yang membuat pikirannya tak stabil. Dalam bawah sadar pikiran nya, ia menolak kenyataan yang sebenarnya. Karena anaknya adalah segalanya bagi nya.
"Kondisi ibu Mia sangat serius pak, saya akan meresepkan obat, tetapi yang paling penting ibu Mia ini harus didampingi terus, halusinasi yang dialami bisa membahayakan. Saat ini memang kita tidak bisa langsung mengatakan pada ibu hal yang sebenarnya, karena akan menimbukan syok mental yang parah, secara perlahan kita akan memberitahunya nanti. Saya sarankan untuk jadwal rutin setiap hari. " Dokter menjelaskan.
" Dokter.. Mungkinkah istri saya berniat ingin mengakhiri hidupnya?" Tanyaku membayangkan kemungkinan buruk yang terjadi.
"Mengalami depresi bisa membuat siapa saja melakukan hal diluar kontrol dirinya pak. " Jawab dokter.
Aku syok mendengar nya. Ku ingat semalam aku hampir saja menabrak istriku yang tiba-tiba muncul melompat ke jalan. Ketika istriku yang sejak tadi berada di ruang terpisah dengan kami datang, aku segera memeluknya. Sungguh berat cobaan yang sedang kualami, setelah aku kehilangan anakku, aku tak ingin kehilangan istriku.
"Mas aku tidak apa apa kan mas? " Katanya padaku.
"Ayo kita cari Nuno mas. "
"Kita pulang sayang, kamu harus istirahat. Besok kita cari lagi anak kita. " Jawab ku lembut.
__ADS_1
***
Malam ini istri ku tertidur nyenyak di kamar setelah meminum obat. Aku menemui Ziana di ruang keluarga. Ia datang sejak sore bersama Tante Mer. Mereka datang untuk memberi kami dukungan moril. Mama terlihat senang dengan kedatangan mereka.
"Kau tampak lelah Irgi." Kata Ziana memberiku perhatian.
"Beristirahatlah sebentar, akan ku temani kau melepas stress. Bagaimana kalau kita pergi ke kafe. Disana sedang ada band favoritmu yang tampil. " Katanya. Tetapi aku menolak.
"Tidak Zi terimakasih. Aku bisa mengatasinya."
"Jika ada masalah, biasanya kau akan curhat padaku, belakangan ini kau seolah menutup diri. Kau tak pernah balas pesanku dan kau selalu menghindar. Kenapa Irgi? Apa aku melakukan kesalahan padamu?" Tanya ziana meminta penjelasan akan sikapnyang dingin.
"Kita sudah dekat sejak kecil Irgi. Meski akhirnya semua tidak berjalan seperti yang sudah direncanakan, setidaknya kau tidak menjauhiku karna istrimu. " Katanya.
"Zi sejak kecil aku sudah menganggapmu seperti adiku, mama sangat menyayangimu seperti juga ibumu menyayangiku. Hanya saja kita memang tidak berjodoh. Aku mengerti perasaanmu. Tetapi sekarang sudah menjadi kewajibanmu juga untuk mengerti perasaan Istriku." Kataku padanya. Tetapi malah membuatnya salah paham.
"Maksudmu? Apa kau menyalahkan ku atas apa yang menimpa istrimu irgi? Sudah ku katakan Mia pencemburu, ia tidak suka dengan kedekatan kita. " Jawabnya.
Mia menghormati mu sebagai sahabatku, Mia juga menghormati mu sebagi orang yang sudah kami anggap seperti keluar sendiri. Sekarang giliranmu untuk menghargai perasaannya Zi, kau juga seorang wanita bukan? Dan Ini bukan kesalahanmu ini kesalahan ku yang tidak peka terhadap istriku, jadi sekarang aku sedang mencoba menghargai istriku. Jangan salah paham. " kataku. Lalu aku pergi meninggalkannya.
Aku melangkahkan kaki ku menuju halaman. Kemudian aku tenangkan pikiranku disana. Sekarang apa yang harus kulakukan? Pikirku. Tiba tiba Ira datang menghampiriku. Ia memperlihatkan ponselnya.
"Lihat ka. Foto Nuno untuk kita pajang di buku yasin nanti. Sebentar lagi 7 hari peringatan nya Nuno. Aku ingat aku mengambil foto nuno sebelum dimakamkan. " Kata adiku.
Kutatap wajah anaku yang seperti sedang tertidur, damai sekali. Hatiku pun terasa perih kembali.
"Gantengnya....lihat kak ada tanda lahir di wajah Nuno. " Kata Ira tersenyum.
Aku terkejut. Tiba tiba aku ingat Mia pernah mengatakan hal yang sama tentang wajah Nuno. Ku pandangi lagi kembali foto Nuno. Semua nya benar, waktu itu Mia mendeskripsikan wajah Nuno seperti melihat anaknya sendiri. Padahal ia tidak sempat melihat wajahnya. Bagaimana mungkin?
Apa selama ini Mia memang tidak sedang berhalusinasi. Kemudian aku teringat ponsel yang Mia cari. Ia mangatakan sesuatu tentang bukti. Aku bergegas menuju kamar.
"Mas mau kemana? " Tanya Ira heran melihatku tiba-tiba pergi meninggalkannya.
Sesampai nya dikamar aku segera mencari ponsel Mia. Aku membuka semua laci dan alangkah terkejutnya aku ketika menyadari sesuatu. Mia sudah tidak ada lagi ditempat tidur. Aku berlari ke kamar menanyakan pada mama dan tante Mer yang sejak tadi duduk di ruang tengah.
"Mama melihat Mia? "
"Loh bukannya sedang tidur di kamar? " Kata mama heran.
"Mia hilang lagi Ma "Kataku berteriak membuat panik semua orang.
Semua pun terkejut dan mencari Mia di dalam rumah. Tidak ada seorang pun yang melihat Mia pergi. Aku dan Ira yang sejak tadi berbicara di luar pun tidak melihat nya keluar rumah. Jantungku berdegup kencang, ku rasakan panik yang begitu hebat. Kemudian aku kembali ke kamarku mengambil dompet untuk bergegas mencari Mia di luar. Tiba-tiba kakiku seperti menendang sesuatu. Ternyata itu adalah ponsel Mia yang terjatuh di bawah tempat tidur.
Segera ku carger ponsel itu. Baterai terisi sangat lambat sampai aku dapat mengaktifkan ponsel itu. Lalu aku berhasil menghidupkannya. Terlihat pesan masuk dan panggilan tak terjawab yang menumpuk, kemudian segera ku buka galery dan kutemukan sebuah video yang direkam pada waktu kemarin.
Aku syok melihat rekaman itu. Sosok Yuni terlihat jelas dalam rekaman sedang mengikuti kami di rumah sakit. Kini logikaku tak dapat menjelaskan semuanya. Semua yang dikatakan Mia benar,dan sekarang Mia menghilang secara misterius, semua hal yang tidak masuk akal ini menyadarkanku, bahwa aku memang tida mengetahui segalanya.
"Bodoh kau Irgi. " Kataku kesal dengan diriku.
Aku harus melalukan sesutu sebelum semuanya terlambat pikirku, segera ku berlari mengambil kunci mobil dan pergi mencari Mia.
-bersambung-
__ADS_1