
"Jangan!" Pekik Karen saat tangan Lauren tengah memegang kacamatanya dan hendak melepasnya.
Andrew yang mendengarkan suara pekikan Karen pun langsung menyusul ke arahnya, namun hal terduga terjadi diantara mereka.
"Hei cewek cupu, kemari..." ucapnya terputus saat dia merasa kepalanya yang tiba-tiba pusing.
Andrew menjatuhkan dirinya di bahu Karen. Gadis itu spontan langsung menangkapnya.
"Hei cowok playboy, lu kenapa? Berat tau," ucap Karen sambil menahan beban Andrew.
"Kak, bantuin!" Seru Karen.
Namun, belum sempat dirinya membantu Karen, tangannya kembali di tarik oleh beberapa ibu-ibu penggemar gilanya.
"Ehh Lauren ahhh!"
Karen hanya dapat menepuk dahinya dan membopong Andrew pergi menjauhi kerumunan itu dengan tubuh mungilnya.
"Astaga. Kau habis makan apa sih? Berat banget?" Tanya Karen ditengah perjalanan.
"Jangan banyak bac*t. Kalau ga ikhlas nolong jangan ngomel. Pusing nih kepala!" Bentak Andrew.
"Udah di tolong ga tau diri pula. Btw, kamu mau dibawa kemana nih?" Tanya Karen.
"Ke kamar VVIP yang disediakan om Wisnu," ucap Andrew.
...*...*...
Di aula utama Cafe Wisnutama...
Tibalah saatnya untuk sesi meniup lilin di atas kue yang akan dilakukan oleh Clarissa. Clara dan wisnu mendampingi satu-satunya buah hati mereka bersama-sama.
Clarissa tersenyum lebar sangat bahagia. Ini adalah kali pertamanya dia meminta untuk dirayakan setelah sekian abad lamanya.
Aku tak pernah menyangka bila merayakan ulang tahun itu semembahagiakan ini~Batin Clarissa.
"Tiup lilinnya, tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang juga. Sekarang... ju-ga... sekarang... ju... ga." Semua orang menyanyikan lagu legendaris itu bersama-sama. Clarissa meniupnya kencang dan diiringi dengan tepukan tangan yang meriah setelahnya.
"Sekarang tibalah saatnya bagi nona muda Wijaya untuk memotong kuenya dan diberikan kepada orang yang paling spesial," ucap si pembawa acara.
Clarissa mengikuti setiap arahan yang diberikan. Potongan pertamapun sudah berada dalam genggamannya.
"Akan diberikan kepada siapakah suapan pertama tersebut. Deng deng deng deng," ucap pembawa acara.
__ADS_1
Clarissa berjalan kearah Clara yang berdiri di samping Wisnu.
"Suapan pertama, sasa berikan untuk mama karena mama adalah mama paling sempurna bagi sasa," ucap Clarissa.
Clara menerima suapan tersebut, namun hal tak terduga pun terjadi disana. Clara batuk hebat dan dari hidungnya pun keluar darah segar yang tidak ada hentinya hingga membuatnya lemas dan tak sanggup untuk menopang dirinya. Sesuatu terjadi padanya.
"Clara!! Clar? Please, jangan nakut-nakutin aku," ucap Wisnu menangkap Clara yang terjatuh dengan tepat waktu.
"Wisnu, Sasa, kalian adalah harta paling berharga yang pernah aku miliki. Namun, maaf aku tidak bisa menemani kalian lebih lama lagi. Sampaikan permintaan maafku kepada Eren, Lauren dan Karen yang menyebabkan keluarga mereka berantakan dulu," ucap Clara sebelum dirinya tak sadarkan diri.
Eren dan Lauren yang awalnya sedang asyik menyantap hidangan yang ada di tangan mereka, kini netra mereka terfokus kepada kerumunan orang disana yang nampak panik dan kuwalahan.
"SIAPKAN MOBIL DAN KITA KE RUMAH SAKIT SEKARANG!" Pekik Wisnu yang sambil menggendong Clara menuju mobilnya. Pria itu melintasi Eren dan Lauren disana.
"Pa, ada apa dengan Tante Clara?" Tanya Lauren.
"Entahlah, lebih baik kita ikut mereka," Balas Eren.
Eren dan Lauren meletakkan makanan mereka di meja dan pergi membuntuti Wisnu dari belakang.
"Lalu, bagaimana dengan Karen? Dia masih disana," ucap Lauren.
"Sudahlah. Papa akan mengatur orang untuk menjemputnya," ucap Eren yang kemudian berfokus pada jalanan di depannya.
...*...*...
Wisnu turun dari mobil dan sesegera mungkin menggendong Clara untuk mendapatkan pertolongan pertama secepatnya.
"Please dokter, selamatkan istri saya," ucap Wisnu masih dengan tatapan paniknya.
Clarissa terduduk diam lemas disana. Mulutnya komat-kamit melantunkan setiap doa yang dapat ia lakukan. Air matanya tak henti-hentinya berderai dalam diam. Hatiny sakir, hancur saat melihat lagi dan lagi ibundanya terbaring lemas tak berdaya di ruang gawat darurat.
Sedangkan itu, Eren dan Lauren berlarian di koridor rumah sakit. Mereka sempat ketinggalan jejak Wisnu dan Clarissa akibat macetnya jalan hari ini.
"Permisi, saya izin bertanya, pasien atas nama Clara Ishabela ada di ruangan apa ya?" Tanya Eren.
"Yang baru saja tiba itu lho sus," imbuhnya.
"Oh, ibu Clara masih mendapatkan perawatan intensif di ruang IGD," Jawab seorang administrator yang sedang bertugas disana.
"Baik, terimakasih," ucap Eren yang langsung berlari menuju ke arah IGD di rumah sakit tersebut.
Mereka berdua melihat Wisnu yang sedari tadi mondar-mandir di sekitaran pintu IGD,sedangkan Clarissa masih duduk lemas dan menangis disana. Eren dan Lauren saling bertatapan dan mereka mengangguk bersamaan.
__ADS_1
"Lu harus tenang,bro. Clara kuat. Dia pasti baik-baik saja," ucap Eren yang berniat menenangkan.
"Ya,aku tahu aku tidak pandai dalam menenangkan hati seseorang. Tapi, lu harus percaya sama diri lu sendiri. Harus percaya sama Clara ya," Imbuhnya.
Wisnu tak kuasa menahan air matanya. Ia memeluk sahabatnya yang sempat pecah hanya karena wanita.
"Thanks bro." Wisnu berucap lirih di pundak Eren. Eren merasakan pundaknya yang mulai basah,namun dia membiarkannya. Dia pernah berada di posisi itu. Bedanya, dia belum sempat menebus semua kesalahannya kepada wanita itu, wanita yang telah ia hancurkan berulang kali hanya demi seorang wanita yang tidak bisa ia lupakan.
Wisnu melepas pelukannya. Dia mengusap pelan air matanya dan berusaha untuk tegar.
"Tadi, Clara mengatakan sesuatu yang membuatku takut..." Wisnu menceritakan segalanya kepada Eren. Eren hanya meresponnya dengan anggukan dan wajah seriusnya.
Sedangkan itu, Disisi lain...
Lauren berada disamping Clarissa. Menenangkan gadis cantik yang sedang menangis sesenggukan itu. Pria dingin itu hanya menenangkannya dengan menyediakan bahunya sebagai bahan sandaran.
"Lauren, apa kau pikir mama akan baik-baik saja?" Tanya Clarissa ditengah keheningan diantara mereka. Clarissa masih bersandar di pundak bidang milik Lauren.
"Hmm," jawab Lauren seperti biasa.
"Gimana kalau sampai mama kenapa-napa? Terus gimana sama Sasa? Sasa akan kesepian dong," ucap Sasa yang berpikir berlebihan.
Lauren membungkam mulut Clarissa dengan satu jari tangannya, jari telunjuk miliknya, ia letakkan tepat di depan mulut merah merekah wanita itu.
"Cukup ya. Aku membenci kata-kata pesimis itu. Hal itu belum tentu terjadi,ok? Sekarang berdoalah dan jangan berpikir yang tidak-tidak, "ucap Lauren tegas.
Nyali Clarissa untuk mengajak bicara Lauren sekaligus mengusir keheningan diantara mereka pun kembali menyiut saat mendengar ucapan Lauren yang dingin dan tegas.
Hingga beberapa saat kemudian, dokter keluar dari ruang IGD, tempat di mana Clara berada saat ini.
"Disini, siapakah keluarga dari pasien?" Tanya seorang dokter yang baru saja keluar dari ruangan.
"Saya dok. Saya suaminya," ucap Wisnu.
"Nyonya Clara telah siuman dari komanya. Sepertinya, ada sesuatu yang ingin disampaikan," ucap dokter.
Wisnu langsung menerobos masuk ke dalam dan diikuti dengan Clarissa. Lauren dan Eren menunggu di luar ruangan.
"Tolong, bawa aku ke makam Kaira," ucap Clara.
"Untuk apa?" Tanya Wisnu heran.
"Ku mohon. Sekali saja. Terakhir kalinya," ucap Clara.
__ADS_1
Wisnu mendengus kasar.
"Baiklah. Bersiaplah. Aku akan meminta izin kepada dokter," ucap Wisnu sambil berlalu pergi.