
"Perlu anda ketahui ya. Anda bukanlah selingkuhannya satu-satunya. Jadi, ku pikir lebih baik aku mundur daripada harus diselingkuhi apalagi selingkuhannya kayak mbaknya yang bahkan jauh dari standard," ucap Clarissa balik mengejek.
Luna mengepalkan tangannya dan wajahnya pun mulai memerah geram.
"Kau! Berhenti!" Pekiknya.
Clarissa tak menggubris ucapannya dan dia terus melangkah maju dengan menahan air matanya yang hampir jatuh.
Luna berlari kecil dan menggenggam tangan Clarissa erat hingga Clarissa meringis kesakitan.
"Lepaskan aku cewek,zalang!" Pekik Clarissa.
Sedangkan Daniel, dia hanya terlihat kebingungan disana.
Wisnu pun berkeliling mencari keberadaan Clarissa hingga dirinya mengerti anaknya sedang ditindas oleh seseorang yang tidak dikenalnya.
"Huh!" Pekik Clarissa menghempaskan tangan Luna hingga terjatuh ke bawah.
"Jangan pernah lu gangguin gue atau lu akan menyesal!" Clarissa melayangkan sebuah ancaman kepadanya.
Luna tentu saja tidak tinggal diam. Dia bangkit dari tempatnya, membalikkan tubuh Clarissa dan bersiap untuk menamparnya.
"Hentikan!" Bentak Wisnu sambil memegangi tangan wanita itu.
Clarissa yang menutup matanya ketakutan pun perlahan mundur digantikan oleh Wisnu disana.
"Berani-beraninya kamu mau memukul anak saya!" Seru Wisnu.
"Ampun om. Tapi, dia duluan yang mulai," ucap Luna sambil melemparkan kesalahannya kepada Clarissa.
"Gimana aku ga mulai coba? Kamu duluan yang nyakitin aku, ngata-ngatain aku. Memangnya, salah jika aku membela?" Ucap Clarissa.
"Kamu tahu saya bisa menuntutmu agar dikeluarkan dari apartment ini?" Tanya Wisnu.
"Om. Jangan dong om. Saya kan sudah bayar juga saya harus tinggal dimana lagi?" Daniel merengek di bawah kaki Wisnu.
"Jangan percaya sama dia,sayang. Bisa jadi kan dia kong kali kong sama si cewek zalang ini." Luna menunjuk kearah Clarissa.
"Halo,Ren." Wisnu langsung melaporkan masalah itu kepada sang pemilik utama gedung tersebut.
"Ada apa,nu? Kenapa ga balik-balik?" Tanya Eren di penghujung telepon.
"Sasa ditindas sama penghuni apartmentmu dan sekarang mereka malah melawanku balik. Boleh aku minta tolong?" Tanya Wisnu.
"Humm, silahkan saja," jawab Eren.
"Usir mereka dari apartmentmu. Aku akan menanggung biaya kerugian mereka!" Seru Wisnu yang sedang emosi.
"Siapa pemiliknya?" Tanya Eren.
"Daniel Ruffig." Wisnu mematikan ponselnya dan tersenyum licik kepada mereka.
Eren tidak tinggal diam sampai disitu. Dia langsung menelepon bagian resepsionis untuk segera mengganti kode kamar milik Daniel dan mengeluarkan semua barang-barangnya. Sedangkan, Wisnu dan Clarissa kembali ke kamar mereka untuk menenangkan hatinya.
__ADS_1
...*...*...
Di rumah paman Roy...
"Hoammm." Andrew menguap karena kelelahan.
Tak berselang lama kemudian, Andrew telah tertidur pulas di sofa.
"Yahh, dah tidur aja nih anak," gumam Karen.
"Drew, kamu tidur di kamar aja ya, kamarku," bisik Karen lirih di telinga Andrew.
"Kamarmu yang mana,sayang? Aku gapapa kan nginep disini? Kamu tahu sendiri orang tuaku sedang marah. Mereka pasti akan mengusirku," ucap Andrew.
Anak yang malang. Dia benar-benar kasihan. Bahkan, dalam keadaan bangkrut sekalipun, orang tuanya lebih mementingkan gengsi dan ego dibandingkan dengan kebahagiaan anaknya hingga anaknya harus lontang-lantung seperti ini. Namun, ini semua juga Andrew lakukan demi aku. ~Batin Karen saat menatap wajah tampan Andrew.
"Aku izin ayah dulu,ya? Kamu masuk dulu saja di kamar itu." Karen menunjuk kearah kamar yang bercatkan warna merah muda.
"Baiklah. Aku tidur duluan. Night sayangku," ucap Andrew dengan diakhiri sebuah kecupan manis di dahi Karen.
"Too," balasnya.
...*...*...
Eren telah melakukan hal yang diminta oleh Wisnu.
"Hiks hiks. Ayah. Kenapa laki-laki itu brengjek? Kenapa kalian itu suka sekali menipu wanita? Meninggalkan mereka disaat mereka sayang-sayangnya?" Tanya Clarissa melayangkan protes.
"Sini anak papa. Jangan nangis ya, pria sepertinya tidak pantas mendapatkan air mata anak papa yang cantik," ucap Wisnu.
"Sa, Nu, aku pulang dulu ya," ucap Eren.
Clarissa menyeka air matanya untuk sesaat dan melepaskan pelukannya.
"Hati-hati dijalan om, Lauren," ucap Clarissa.
"Aku antar ya," Lanjutnya menawarkan diri.
"Ga perlu. Kalian prepare saja untuk besok," ucap Eren sambil berlalu pergi.
...*...*...
Beberapa saat kemudian...
"Kok sepi? Alen belum pulang?" Tanya Eren.
"Kemana dia?"
"Alen di rumah paman Roy pa," jawab Lauren.
"Ngapain?"
"Bikin kue sama Andrew katanya."
__ADS_1
Eren mengeluarkan ponselnya dan sesegera mungkin menelepon Karen, sang anak.
"Halo, kamu dimana sayang? Sudah jam berapa ini?" Tanya Eren.
"Aku di rumah Paman Roy pa. Sepertinya, aku tidak bisa pulang malam ini,"jawab Karen.
"Kenapa?" Tanya Eren.
"Andrew ketiduran..." Jawab Karen lirih.
"Astaga, kenapa bisa?"
"Ya sudah kalau begitu. Kamu jangan nakal ya, jangan gangguin paman Roy." Eren menghela nafas panjang.
"Baik pa."
Eren langsung memutuskan teleponnya. Baru kali ini anak gadisnya tidur di rumah orang lain dan demi orang lain. Entah harus sampai kapan drama ini akan terjadi. Bahaya jika itu akan berlangsung selamanya. Eren memijat keningnya yang pening sejenak sambil terduduk di sofa ruang keluarga.
"Papa kenapa? Mau olen bikinin teh?" Tanya Lauren.
"Humm. Boleh," jawab Eren.
"Olen, apakah kau akan meninggalkan papa sama seperti Karen?" Tanya Eren tiba-tiba.
"Apa maksud papa? Karen kan tidak meninggalkan papa." Tentu saja, Lauren membela sang adik.
"Memang tidak. Tapi, dia agak berubah. Waktunya untuk bercanda bareng kita, bareng papa berkurang," ucap Eren sendu.
Lauren meninggalkan dapur dan pergi memeluk papanya.
"Kan masih ada Olen? Lauren ga akan pacaran sebelum Olen bisa sukses, sesukses papa," ucap Lauren.
"Oh ya, Lauren mau cerita sama papa," ucap Lauren tiba-tiba.
Eren langsung membenarkan posisi duduknya, dia menoleh hampir 180° ke arah Lauren berada sekarang.
"Ada apa? Kenapa terlihat serius? Olen jatuh cinta?" Tanya Eren to the point.
"Apa sih pa? Olen serius," jawab Lauren sambil melipat kedua tangannya.
"Terus apa dong?"
"Lauren buka bisnis pa. Bisnis jasa menggambar dan merancang apapun. Olen menggunakan koneksi papa di kantor untuk memasarkannya. Ya, syukurlah Olen sudah dapat penghasilan pa." Lauren bercerita.
"Berapa?" Tanya Eren.
"Modal yang dikeluarkan Olen ga banyak. Cukup untuk membeli internet data (kuota), kertas, pena, pencil warna dan alat lukis lainnya. Kurang lebih hanya sekitar 500 dollars sih pa," ucap Lauren.
"Berapa lama hingga balik modal?" Tanya Eren.
"Dalan beberapa hari menjualnya, aku sudah mendapatkan modal itu dan keuntungannya. Apalagi, masalah desain interior rumah dan eksterior. Mereka paling laris," ucap Lauren bangga.
"Aku berencana membuka gallery di sekitar kantor papa. Boleh ya?" Tanya Lauren.
__ADS_1
"Humm. Minta paman Rangga membantumu," jawab Eren.
"Thank u papa." Lauren menghamburkan pelukannya kegirangan.