
Kediaman baru William...
Saat tiba di rumah, Eren mengajak kedua anaknya ke ruang tengah, ruang dimana biasanya mereka mengobrol sambil menonton televisi kesayangan mereka. Eren duduk dihadapan keduanya layaknya sedang berada di ruang interogasi kepolisian.
"Katakan sekarang. Apa maksud dari perkataan Olen tadi?" Tanya Eren memulai interogasi.
"Kemarin, Olen kan lihat Karen memapah pria itu. Pria tampan yang merupakan kakak tingkat Alen dikampusnya. Pria itu terlihat mabuk dan setelahnya, aku tidak melihat Karen lagi dan kita pun akhirnya pergi ke rumah sakit saat melihat tante Clara tiba-tiba jatuh sakit," jawab Lauren.
"Apa itu benar,Alen? Papa tidak pernah mengajarkanmu untuk berbohong. Apa kamu lupa pesan mama?" Tanya Eren tegas.
"Jika memang itu benar,.mengapa Olen tidak berbicara ke papa? Papa tidak bisa tidur semalaman," ucap Eren dengan nada sedikit kecewa.
"maaf pa. Olen juga baru inget,"jawabnya.
Sekujur tubuh Karen sudah bergetar. Dia terlihat ketakutan. Eren yang menyadarinya pun langsung merasa bersalah.
Apa aku terlalu keras ya?~Batin Eren.
Eren menghela nafas panjang. Dia tersenyum sesaat sebelum memulai pembicaraannya.
"Maafkan papa ya. Papa terlalu keras sama kamu. Kamu cerita saja yang sebenarnya dan anggap kami sebagai temanmu," ucap Eren lebih lembut.
Tangis Karen pecah saat mendengar kata-kata Eren. Dia benar-benar tak tahu harus bercerita ke siapa dan harus bagaimana.
"Maafkan Alen,pa. Alen tau Alen salah. Alen terlalu bodoh, terlalu mudah untuk diperdaya. Alen benci pria itu. Pria baj*ngan itu. Hiks hiks." Karen memeluk erat Eren dan meluapkan seluruh isi hatinya.
"Apakah dia melakukan sesuatu?"tanya Eren.
"Kami..." ucapnya terhenti saat Eren menutup mulutnya dengan satu jari tangannya.
"Ga perlu dijawab. Papa sudah tahu apa yang terjadi. Papa akan protes ke dia dan minta pertanggung jawabannya,"ucap Eren dengan mata yang mulai memerah.
"Ja-jangan."Karen menarik tangan Eren.
"Aku... aku tidak ingin menikah dengannya," ucap Karen lirih.
"Baiklah, papa tidak akan memaksa. Olen sini sayang," ucap Eren sambil mengajak Lauren untuk bergabung bersama mereka.
"Pokoknya, papa hanya megharapkan yang terbaik untuk kalian. Papa ingin kalian mendapatkan seorang jodoh yang baik, seperti mama kamu," ucap Eren.
__ADS_1
"Aku pengen punya suami kek papa. Baik, bisa jaga anak, kaya, keren. Pokoknya the best deh," ucap Karen.
Sontak, Eren langsung duduk tegak dan melihat kearan Karen.
"Tidak. Papa tidak mengizinkan kamu mendapatkan jodoh seperti papa. Papa akui papa memang seorang Ayah yang baik dan perhatian sama kalian. One of the best dad lah. Namun, papa bukanlah suami yang baik. Papa yang menyebabkan mama kalian tiada. Papa yang bersalah. Papa yang ninggalin mama. Papa yang..." Eren menangis saat mengingat kejadian waktu itu.
"Sttt, sudah pa. Semua orang ada masa khilaf. Namun, bagi mama, bagi Alen dan kak olen, papa yang terbaik," ucap Karen menghibur Eren.
...*....*...
Satu bulan kemudian...
Hari demi hari Clarissa dan Wisnu jalani hanya berdua. Clarissa mulai menyesuaikan dirinya dengan lingkungan barunya. Dia memiliki banyak teman, banyak kenalan dan juga banyak penggemar,karena kecantikannya.
"Hai Sasa. Kamu mau jadi pacar aku?" Tanya seorang pria yang tiba-tiba berlutut dihadapan Clarissa.
Entah sudah berapa kali hari ini dia ditembak dan menolak pria. Dia benar-benar telah bosan dengan semuanya. Perkataan gombal itu, perkataan yang hanya manis dibibir, itu membuatnya semakin muak.
"Sorry. Tapi, aku tidak dalam masa ingin berpacaran," jawab Clarissa sopan.
"Baiklah. Kau tunggu,Sasa. Aku akan menaklukan hatimu!" Seru pria itu sambil meninggalkan kelas.
Kelas nampak sudah mulai ramai. Jam masuk pun semakin dekat, namun para wanita tukang rumpi itu malah sama sekali tidak memedulikannya. Mereka mengerubungi Clarissa dan menatapnya penuh arti.
"Sa, lu normal kan?" Tanya seorang wanita tomboy yang tiba-tiba menyeletuk tanpa tahu menyaring.
"Cil, julid banget pertanyaannya." Seorang teman lainnya menepuk pundak Cilla, mengingatkannya.
"Aku kepo. Dia tidak pernah menerima seorang pria pun yang menembaknya. Bahkan, dia tidak melirik seorang pria pun disini," jawab Cilla.
"Ayolah,Cil. Kamu juga begitu kan?"ucap Angela memutar ucapan Cilla.
"Enggak lah. Setidaknya, kalian tau aku menyukainya." Cilla melirik kearah pria paling pendiam di kelas mereka.
Mereka bersama-sama tertawa terbahak-bahak,sedangkan Cilla hanya memancungkan bibirnya.
Hingga seorang pria tampan mencuri perhatiannya.
Tampan sekali... Walau tidak setampan Lauren,tapi dia adalah pria tertampan kedua yang pernah aku temui. Tentu saja, Papa dan Lauren yang pertama.~Batin Clarissa.
__ADS_1
"Ahem." Seorang temannya brrdehem disampingnya.
"Apa sih, Ngel?" Ucap Clarissa salah tingkah.
"Kamu tiba-tiba berhenti tertawa dan ternganga setelah melihat kak El. Suka ya" Ucap Angel menggoda Clarissa.
Wajah Clarissa memerah padam. Dia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Selamat pagi adik-adik. Kami dari Tim basket putra, telah sepakat untuk membentuk Tim basket untuk putri. Jika ada yang ingin mendaftar, silahkan keluar kelas untuk menyebutkan nama. Thank u," ucap Daniel, pria yang telah mencuri perhatian Clarissa.
Mata Clarissa tak lepas darinya. Dia terus menatapnya.
"Siapa sih dia? Kenapa aku tidak pernah melihat?" Tany Clarissa ingin tahu.
"Namanya Daniel, kakak kelas kita. Dia itu ketua Tim basket dan pria paling tampan di sekolah kita," jawab Cilla.
"Oh gitu. Dia memang tampan. Pria ketiga paling tampan menurutku," ucap Clarissa.
"Ketiga? Siapa pertama dan kedua?" Tanya Angel.
"Pertama tentu saja ayahku. Wisnu Wijaya. Kedua adalah Lauren William,"jawab Clarissa tanpa beban.
"Huftt, jadi kangen dia. Gimana kabarnya ya?" Gumam Clarissa.
"Tunggu. Lauren William? Kek kenal namanya," ucap Cilla sambil mengingat-ingat.
"Ga mungkin kan dia tuan muda William yang terkenal itu kan? Anak dari presdir Eren William yang sangat terkenal itu." Angel menebak dengan benar.
"💯 untuk Angel! Itu memang dia." Angel terpelonjak kaget.
"Kaget gue bazheng!" Seru Angel sambil memukul pundak Clarissa pelan.
"Hehe." Clarissa terkekeh.
"Kamu kenal sama tuan muda? Astaga. Aku fans beratnya lho!" Ucap seorang gadis yang tiba-tiba datang.
"Ceritain gimana kamu kenal dia," ucap gadis itu.
"Ya simple. Aku sama dia dari negara yang sama. Dulu kecil, aku sama dia tinggal di Indo. Orangtua ku, mama dan papa, adalah teman dekat om Eren. Mereka sering datang,bahkan janjian untuk tinggal di Amrik bareng. Tapi, ada urusan mendadak yang mengharuskan kami pindah kesini," ucap Clarissa.
__ADS_1
"Oh gitu toh."
Bel sekolah akhirnya berbunyi. Clarissa telah memutuskan untuk bergabung di tim basket putri. Dia mendaftarkan namanya, Cilla dan Angel. Cilla ikut basket dengan alasan pria pendiam yang ia sukai pun diketahui juga bergabung dalam organisasi ini,sedangkan Angel dengan alasan untuk tebar-tebar pesona dihadapan para pria tampan.