
Empat tahun kemudian...
Semua hal sulit telah berlalu. Kini, mereka semua semakin bertambah besar dan dewasa. Jasmine bahkan sudah mengandung anak keduanya bersama Lauren, sedangkan Karen belum lama ini telah menikah dengan Andrew, sang pujaan hatinya.
Clarissa termenung di bawah payung bewarna biru yang terpasang di lokasi syutingnya. Hari ini adalah hari ke lima Clarissa menjadi artis setelah kelulusannya bulan lalu.
"Hai, Sa. Ini untuk kamu." Seorang pria menyodorkan segelas minuman favorite Clarissa.
Clarissa mendongakkan pandangannya. Seorang pria tampan berdiri tepat di depannya.
"Kamu..."
"Riko. Aku pemain baru disini. Nanti aku bakal jadi suami kamu di film," ucap Riko sok akrab.
Clarissa hanya meresponnya dengan anggukan.
"Tapi, aku malah berharap menjadi suami kamu di rl tau," lanjutnya lirih.
Uhuk uhuk...
Clarissa tersedak minumannya saat samar-samar mendengar ucapan Riko.
"Apa?" Tanya Clarissa.
"Enggak kok. Aku hanya bercanda. Btw, kamu sudah punya pacar?" Tanya Riko.
Clarissa hanya menggelengkan kepala.
"Wahh sayang sekali. Cewek secantik kamu malah masih jomblo," timpalnya.
Clarissa hanya menanggapinya sekadarnya.
"Sa, ngomong gitu kek. Jangan lugas lugas banget jadi cewek. Berasa ngobrol sama tembok!" Protes Riko.
"Maaf sebelumnya. Saya tidak kenal anda dan anda tiba-tiba memberi saya minuman dengan harga selangit ini? Apa itu pantas?" Tanya Clarissa.
"Apa yang ga pantas? Bahkan, membelikanmu mobil mewah atau rumah saja pantas," gombalnya.
Clarissa menyeringai sambil menatap kearah lain.
Modus klasik cowok,~Batinnya dalam hati.
"Lalu, darimanakah anda kenal saya? Mulai nama hingga kesukaan saya?" Tanya Clarissa dengan tatapan dinginnya. Dia benar-benar risih akan kehadiran Riko tiba-tiba disana.
"Ayolah. Kamu adalah anak dari Tuan Wisnu Wijaya, tentu saja itu sangat mudah mendapatkan informasi kecil dari google. Bukankah itu normal? Maaf, aku sedikit kepo tentang privasimu. Tapi, sejak pertama kali aku melihatmu, aku sudah jatuh hati padamu," ungkap Riko.
__ADS_1
Namun, Clarissa tidak menggubrisnya. Dia masih mengingat ucapan Wisnu kala itu.
"Ohh," responnya dingin.
"Btw, boleh minta nomor kamu? Ig? Fb?" Tanya Riko.
"Jika kamu serius dengan saya. Cari saja sendiri." Clarissa berdiri dan pergi meninggalkannya.
"Oh, btw thanks untuk minumannya."
Riko menyeringai melihat kepergian Clarissa dari belakang.
"Semakin kau dingin kepadaku, semakin aku ingin mendapatkanmu dan membuatmu bertekuk lutut dan memohon untuk menjadi milikku. Setelah itu, aku dapat menghempaskanmu kapan saja jika tujuanku telah berhasil. Sudah banyak sekali artis baru modelan sepertimu, Clarissa. Kau pikir, aku tidak mengetahui masa lalu ibumu?" Gumam Riko.
Riko meletakkan gelas minumannya yang telah kosong dan ikut merapat dengan tim untuk melakukan adegan syuting selanjutnya.
...*...*...
Karen dan Andrew pergi berbulan madu untuk yang pertama kalinya. Karena kesibukan Andrew pasca menikah, bulan madu mereka tertunda unthk beberapa saat.
"Sayangku, kita mau pergi kemana?" Tanya Andrew.
"Uhmm. Keknya ke pusat perbelanjaan deh,mas. Aku mau beli barang-barang yang lucu. Keknya sekalian deh aku mau barang-barang buat hias kamar kita, kamar anak-anak kita, terus banyak deh," celoteh Karen bersemangat.
"Udah nurut aja sih," protes Karen.
Akhirnya, Andrew mengalah pada istrinya. Mereka pergi ke sebuah pasar oleh-oleh. Terdapat begitu banyak jajanan khas negeri itu. Bukan hanya itu, berbagai pakaian khas, pernak pernik, dan hal lainnya.
"Sayang, udah dong belanjanya. Tanganku sama Grace sudah ga muat nih," keluh Andrew dengan segerombol barang belanjaan Karen di tangannya.
"Tch,itu cuman alasan kamu aja kan? Ngomong aja kamu ga mau beliin buat aku. Kamu sayang uang kamu dibandingkan aku." Karen melipat kedua tangannya merajuk. Andrew mendengus kesal sambil menatap tingkah Karen yang semakin ke kanak-kanakan.
"Hufttt. Aku ga tau aku harus gimana bicara sama kamu. Aku benar-benar tidak bisa menolakmu,tapi lihatlah Grace." Andrew melirik kearah Grace yang bermandikan keringat.
"Ya udah, nyewa jasa panggul aja," ucap Karen tetap tidak mengubah keputusannya.
"Nyari dimana sayang? Disini tuh jarang ada kayak gitu," jawab Andrew.
"Gamau tau pokoknya aku mau belanja sepuasnya hari ini," timpal Karen.
"Hufttt baiklah." Andrew akhirnya pun menyerah.
...*...*...
"Three, two, one, action," ucap sutradara.
__ADS_1
Clarissa dengan gaya dinginnya sangat cocok dengan perannya saat ini. Istri yang dinikahi secara sirih oleh seorang pria tampan dengan kontrak pernikahan yang sama sekali tidak adil baginya, membuat Clarissa sangat tersentuh dibuatnya.
Semua berjalan dengan sempurna. Hanya dengan satu tarikan nafas, adegannya bersama Riko telah usai.
"Cut!" Seru sutradara memberitahukan untuk berhenti.
Sutradara itu bahkan terkesima dengan akting Clarissa. Dia menghampiri Clarissa hanya sekadar untuk memujinya.
"Wow. Kamu artis baru,tapi kamu benar-benar hebat. Memang layak menjadi nona muda Wijaya. Kau sama seperti papamu." Sutradara menepuk pundak Clarissa lemah.
"Thank u," timpal Clarissa.
"Untuk segmen yang kedua, Clarissa bersama dengan Natasha beradu akting," ucap sutradara.
Wanita cantik dengan kaki jenjang yang mulus menghampiri sutradara tersebut. Dia adalah Natasha Hirata, wanita berketurunan Jepang yang selalu menjadi ikon utama di film itu.
"Hai pak," sapa Natasha.
"Hai cantik." Sutradara melihatnya tanpa berkedip,namun Clarissa masih fokus pada buku skenario di tangannya.
Ohhh. Pantas saja dia selalu mendapatkan peran yang enak. Aku bahkan terancam tadi. Ternyata, dia menggunakan tubuh liarnya itu untuk menggoda para sutradara.~Batin Clarissa masih sambil membaca adegan selanjutnya.
Berbeda dengan Natasha menatap sutradara yang terkesan lembut dan elegant, Natasha menatap Clarissa penuh dendam. Matanya yang menyorot tajam dan bibirnya yang seakan tak kuasa menahan untuk mengkritiknya, membuat Clarissa tidak nyaman.
Apa ini hanya perasaanku saja? Mengapa dia menatapku seperti itu? Kita bahkan tidak saling mengenal, mengapa dia seperti menatapku sebagai musuh?~Batin Clarissa.
"Hai anak baru," ucapnya setengah nyinyir.
Clarissa mencoba tidak menggubrisnya. Dia benar-benar malas untuk berbasa-basi dengan wanita munafik sepertinya.
"Katakan pada intinya saja. Katakan saja apa yang ingin kakak katakan," ucap Clarissa arogan.
"Cihh, hanya seorang junior saja sudah belagu. Apa belum pernah disiksa?" Sindir Natasha.
Clarissa menutup buku skenarionya dan beranjak dari tempatnya, menyetarakan dirinya dengan Natasha yang berdiri tepat di depannya.
"Saya sudah terbiasa dengan bullyan apapun itu. So, jangan berharap anda bisa menyakiti saya," ucap Clarissa beranjak pergi.
"Sial!" Umpatnya.
"Heh, dasar anak pelakor. Lihat saja, aku akan kembali mengingatkan publik tentang masalah waktu itu. Bukan, tapi memberitahukan kepada publik. Aku yakin tidak semua orang disini mengetahuinya," gumam Natasha.
Natasha tersenyum licik saat menatap kepergian Clarissa ke tempat syuting selanjutnya.
"Aku akan membuatmu tidak betah di industri hiburan dan memilih untuk keluar selamanya dari sini. Siapa suruh kau berani-beraninya menggoda Riko."
__ADS_1