Karma Peninggalan Mama

Karma Peninggalan Mama
Musuhku Pasangan Hidupku


__ADS_3

"Om tenang saja. Saya dapat menjamin untuk Lauren. Dia bukan pria yang seperti itu." Clarissa mulai angkat bicara untuk meyakinkan ayah dari Jasmine.


"Lauren memang baru lulus dan fakta yang akan membuat anda terkejut adalah bukan hanya Jasmine aja yang belum siap secara umur dan mental. Bukan hanya Jasmine yang akan menjadi orang tua muda, tapi dia juga," ucap Clarissa sambil melirik ke arah Lauren.


"Maksudnya?" Ayah Jasmine mengernyitkan dahinya.


"Bestie, kita duduk dulu yuk," ajak Clarissa.


Clarissa mendudukkan Jasmine tepat disebelah Lauren. Mata mereka saling memandang. Ada rasa canggung diantara mereka. Musuh bebuyutan mereka kini akan menjadi pasangan hidup mereka, sungguh seperti mimpi yang nyata.


"Pria ini(menunjuk kearah Lauren), sepantaran dengan kita. Bahkan, dia lebih muda daripada Jasmine," ucap Clarissa.


"What?!" Pekik mereka berdua terkejut.


"Ya. Kala itu, dia yang seharusnya masih SMA sudah merasakan bangku kuliah. Sekarang, dia juga sedang menggeluti bisnis yang dia bangun sendiri. Tentu saja, dengan hasil keringatnya sendiri saat kuliah tanpa bantuan dari ayahnya. Jadi, Sasa pikir Lauren memang layak bahkan sangat layak untuk menjadi suami dari Jasmine," ucap Clarissa yang berhasil membuat kedua orang tua Jasmine bungkam memikirkan apa yang diucapkannya.


Sebenarnya, Dialah yang dirugikan disini. Dia yang begitu sempurna. Tampan, kaya, pekerja keras dan dia mendapatkan segalanya saat dia masih muda. Dia adalah bintang inspirasi semua orang. Sedangkan aku? Bagaimana mungkin aku bisa menandinginya?~Batin Jasmine.


"Kenapa kau menatapku seperti itu? Ga sabar ya pengen jadi istriku?" Bisik Lauren.


"Cihh, pede amat!" Pekik Jasmine yang tanpa sadar masih banyak orang disekitarnya.


"Ehhh..."


Jasmine tersadar akan ucapannya.


Sial! Gegara dia aku jadi harus malu dihadapan semua orang. ~Batin Jasmine.


Lauren terkekeh pelan melihat wajah Jasmine yang mulai memerah. Kedua orang tua semakin yakin akan keputusan mereka untuk menikahkan anak semata wayangnya bersama dengan anak dari keluarga nomor satu di Amerika.


"Pa, sepertinya Jasmine memang bisa bahagia dengan bocah itu. Biarkan saja," bisik Ibu Jasmine meyakinkan sang suami.


"Baiklah."

__ADS_1


"Ok. Karena kedua belah pihak telah setuju, maka mari kita adakan pernikahan ini secepatnya. Saya tidak mau Jasmine menanggung malu keadaannya yang sekarang," ucap Ayah Jasmine.


"Kami terserah kepada Lauren dan Jasmine sendiri. Lebih cepat lebih baik," timpal Eren.


"Pa, om, saya mengusulkan tanggal 24 bulan depan, bagaimana?"tanya Lauren.


"Ya, Karen setuju," celetuk Karen menyelat ucapan mereka.


"Tanggal 24 adalah tanggal spesial bagi kami. Itu adalah hari dimana mama kami berulang tahun. Untuk mengenangnya, kalian boleh memilih untuk menikah di tanggal tersebut," lanjut Karen menjelaskan.


"Ok. Tanggal 24, kami akan bersiap mulai sekarang. Selamat tuan William, kita akan menjadi besan." Ayah Jasmine menjabat tangan Eren dan Eren hanya membalasny dengan senyuman sebelum pergi dari kediaman mereka.


"Pa. Olen disini dulu ya. Ada banyak hal yang harus Olen perbincangkan dengan Jasmine," izin Lauren.


"Hum. Jika begitu, kami pamit pulang dulu. Omong-omong, dimana Wisnu?" Tanya Eren sambil celingukan mencari keberadaan Wisnu.


"Ba!" Seru Wisnu mengejutkan semua orang.


"Papa!" Pekik Clarissa protes akibat dia juga terkejut dibuatnya.


"Ya, ya. Terserahmu saja. Apa kau mau mampir ke rumah?" Tanya Eren.


"Boleh. Sebentar, aku tanya ke Sasa."


"Sa," panggil Wisnu.


Clarissa membalikkan badannya.


"Sasa mau tetap disini dulu atau ikut papa ke rumah om Eren?" Tanya Wisnu.


"Ikut papa aja deh. Nanti kalau Sasa disini malah jadi nyamuk," ucap Clarissa menyindir kedua orang yang akan segera menikah itu.


"Hum. Good. Anak papa semakin dewasa," puji Wisnu.

__ADS_1


"Yuuk ikut papa!"


Wisnu merangkul Clarissa menuju mobil Eren.


"Hai kak Sa. Lama tak bertemu. Kak, Gimana kabarnya akhir-akhir ini? Kuliahnya lancar kan?" Tanya Karen tanpa jeda.


"Tch, kebiasaan kamu tuh, Ren. Gimana aku jawabnya coba?"


Suara kekehan mereka berdua memenuhi mobil yang hampir saja senyap itu.


"Ok. Aku ya seperti yang kamu lihat. Baik, tapi masih jomblo. Padahal, kedua sahabat aku juga sudah tunangan satunya malah sudah akan menikah bulan depan," curhat Clarissa.


"Yang sabar ya kak. Lagipula, kakak kan masih muda, masih umur 18 kan sama kayak kak Olen," ucap Karen.


"Enak kayak kakak juga. Jadi bisa fokus sama karir sampai cukup usia untuk menikah. Tuhan pasti akan berikan yang terbaik untuk kakak." Karen berusaha untuk menyemangati Clarissa agar dia tidak malu dengan nasibnya saat ini. Clarissa terenyuh dengan ucapannya. Dia tersenyum lebar memberikan keceriaan kepada orang sekitarnya.


"Lalu kamu? Gimana sama tesnya? Gara-gara Jasmine, ak sampai lupa dengan tesmu" Tanya Clarissa.


"Lancar kak. Aku lulus. Aku juga sudah kerja selama dua bulan belakangan. Andrew selalu mengantarku dan lalu bekerja dengan fokus"


"Ahh sayang, aku sayang banget deh sama kamu." Karen memeluk Andrew yang sedang menyetir,namun pria itu malah terlihat biasa saja.


"Ahem!" Eren berdehem sangat keras.


"Karen, Andrew, apakah kalian pikir ini sudah sedikit keterlaluan? Kita bertiga jomblo lho," ucap Eren dengan raut wajah serius.


"Hahaha Hahaha."


Karen tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi ayahnya.


"Pa, ekspresi papa sama ucapan papa ga singkron. Lucu sekali, " ucap Karen yang masih diselingi dengan tawanya.


"Tch tch tch, terus saja menertawakan papa," protes Eren.

__ADS_1


Clarissa dan Wisnu hanya dapat ikut terkekeh dan menggelengkan kepala melihat tingkah unik dari kedua Ayah dan anak ini. Sedangkan, Andrew fokus menyetir.


__ADS_2