Karma Peninggalan Mama

Karma Peninggalan Mama
Mengetahui Fakta


__ADS_3

Karen telah tiba di rumah Paman Roy, pengawal pribadi Wisnu sekaligus pekerja di rumahnya. Karen tanpa ragu mengetuk rumah pria itu.


Tok tok tok


"Paman, aku masuk ya," ucap Karen.


"Iya. Masuk saja nona," ucap paman Roy.


"Setelah ini, Andrew akan datang. Paman jangan lupa ya," ucap Karen.


"Siap non," jawab Paman Roy.


Tak berselang lama, suara motor telah tiba di depan rumah paman Roy. Karen tetap mengenakan baju kuliahnya tadi.


"Karen! Karen! Kamu di rumah kan?" Tanya Andrew.


"Iya. Masuklah," jawab Karen.


Huftt. untung saja masih sempat,~Batin Karen sambil menghela nafas lega.


Andrew melepas sepatunya dan langsung duduk di samping Karen.


"Om," sapa Andrew.


"Nak, ayah masuk dulu ya. Ayah buatin jus jeruk untuk nak Andrew dulu," ucap Paman Roy.


"Iya, ayah."


Paman Roy beranjak dari tempatnya. Kini tinggallah Andrew dan Karen disana.


"Karen. Maafkan aku. Sepertinya, aku sudah tidak bisa lanjut kuliah," ucap Andrew langsung berterus terang.


"Apa? Tapi, mengapa?" Tanya Karen.


"Papa bangkrut. Aku bahkan tidak bisa membayar untuk skripsi dan uang semester semester depan," jawab Andrew.


Andrew menunduk malu. Karen mengerti dengan persis bagaimana rasanya menjadi Andrew sekalipun dia tidak pernah merasakan jatuh miskin sejak dia kembali bersama ayahnya.


Karen memegang pipi Andrew dan menghadapkannya kepadanya.


"Hei, apa ini Andrewku? Andrew yang ku kenal?" Tanya Karen.


Andrew menatapnya dengan mata yang setengah berkaca-kaca.


"Jangan menyerah,ok? Aku yakin kau pasti bisa. Bangkitlah," ucap Karen.


Bahkan kak olen saja bisa mendirikan perusahaannya sendiri tanpa uang sepeserpun dari Papa,~Batin Karen.


"Aku memiliki uang tabungan. Kau bisa meminjamnya untuk membayar kuliah dan modal usaha. Aku akan membantumu memasarkannya,ok?" Ucap Karen menyemangati.


"Benarkah?Enggak enggak. aku pria. Mana mungkin aku meminta uang pada wanita?" ucap Andrew mengurungkan niatnya.


"Kamu sudah membiayai uang kuliahku selama beberapa semester ini. Anggap saja sebagai ini aku mengembalikan utangku," ucap Karen.


"tidak. Aku ikhlas memberikannya padamu." Andrew tetap bersikukuh menerimanya.


"Terima ga? kalau ga mau mending kita putus aja. Aku ga mau ya punya pria yang gampang nyerah dan mementingkan harga dirinya dibandingkan dengan sekolah!" Seru Karen setengah mengancam.


Andrew terdiam sejenak. Ada benarnya yang diucapkan oleh Karen. Dia akan menjadi kepala punggung rumah tangga mereka. Mau diberi makan apa Karen jika dirinya tidak memiliki penghasilan yang sepadan.

__ADS_1


"Baiklah aku akan menerimanya. Tapi, aku akan menganggap ini sebagai hutang. Kalau sudah Ada uang, aku akan menyicilnya perlahan," ucap Andrew pasrah.


"Tapi, jangan putusin aku..." Andrew menatap Karen dengan mata berkaca-kaca untuk yang kedua kalinya. Ada serangan mendadak menusuk jantungnya. Andrew benar-benar imut kali ini hingga membuat Karen tak dapat berkutik.


Karen hanya dapat.menanggapinya dengan anggukan.


"Terima kasih!" Seru Andrew. Andrew memeluk Karen dengan erat.


"An-andrew. Lepaskan. Sesak,"ucap Karen.


Andrew melepaskan pelukannya.


"Sayang, kenapa kau mempercayaiku? Bagaimana jika aku mengkhianatimu?" Tanya Andrew tiba-tiba.


Karen tersenyum kepadanya dan berkata


"Patrick pernah berkata:'Mempercayaimu adalah keputusanku dan membuktikan bila itu adalah suatu kesalahan adalah pilihanmu'," ucap Karen sederhana.


"So, kupikir kau mau mengkhianatiku atau tidak, itu adalah pilihanmu," imbuhnya.


Andrew berlinang air mata. Dia tak percaya jika dirinya mendapatkan sebuah berlian setelah sekian lama mencarinya. Walau Karen selalu mendapatkan penghinaan dari ibunda Andrew, namun wanita itu sama sekali tidak membalasnya.


"Terimakasih,Sayang. TERIMAKASIH." Andrew memeluk Karen erat.


...*....*...


Andrew membawa Karen menuju rumahnya untuk mengambil beberapa perlengkapan yang diperlukan untuk memulai usaha kecil-kecilan mereka. Andrew memutuskan untuk menggambar.


"Aku pulang," ucap Andrew saat dia menginjakkan kakinya di rumahnya.


"Kau! Ngapain kamu kesini?" Seru mama Andrew tiba-tiba saat melihat Karen dari belakang.


"Hai tante. Saya kesini untuk menemani Andrew mengambil barang-barangnya," jawab Karen sopan.


"Kau, wanita miskin, kau hanya membawakan kesialan bagi anakku. Sejak bersamamu, Andrew mengalami banyak musibah," lanjutnya.


"Pfttt. Tante hidup di zaman apa sih? Saya memang miskin dan tidak berduit seperti dengan wanita kaya lainnya. Namun, setidaknya saya masih mau menemani Andrew dari nol hingga dia sukses bukan hanya menemaninya saat dia sukses saja dan meninggalkannya saat susah." Karen menatap mama Andrew tanpa ragu.


Kenapa Andrew ga cerita sih kalau dia mau dijodohkan?~Batin Karen.


...*...*...


Andrew telah rampung membereskan segala yang ia butuhkan. Entah apa saja yang ia bawa, namun dia seperti orang yang akan pergi dari rumah.


"Astaga, kamu bawa apa aja? Banyak sekali!" Seru Karen terkejut.


"Kamu akan mengetahuinya nanti. Ayo kita berangkat," ucap Andrew sambil menggandeng tangan Karen.


"Humm."


"Sayang, maaf ya. Dulu aku selalu menjemputmu pakai mobil, kamu ga kepanasan, kulitmu juga ga akan terbakar. Ehh sekarang malah berubah 180°. Emang ya Tuhan itu maha membolak-balikkan segalanya," ucap Andrew.


"Apa sih? Kau pikir sebelumnya aku naik apa? Aku malah pakai ojek tau," balas Karen dibarengi dengan kekehan kecilnya.


"Ya udah ah. Buru jalan sebelum malam ini," lanjut Karen.


...*...*...


New Zealand High School...

__ADS_1


Hari ini adalah jadwal terakhir Clarissa ujian sekaligus pengumuman diterimanya mahasiswa baru di perguruan tinggi di Amerika, tepatnya di Harvard University, sesuai dengan keinginannya. Kebetulan sekali Daniel,pujaan hatinya, juga bersekolah disana saat ini. Daniel berkata bila dia akan memasuki jurusan Hubungan Internasional, sama seperti yang diambil oleh Karen kali ini.


"Sa, kamu deg-degan gak? Kan kamu bentar lagi pengumuman" tanya Cilla.


"Tentu saja. Ini aku sudah login, tinggal tunggu hasilnya keluar deh," ucap Clarissa sambil menunjukkan.


"Terus kamu? Kamu mau kuliah dimana habis ini?" Tanya Clarissa.


"Canterbury," jawab Cilla singkat.


"Kapan mulai tes ujian masuk?" Tanya Clarissa.


"Tiga hari lagi. Doakan ya," ucap Cilla.


"Pasti."


Ting!


Sebuah notifikasi masuk ke ponsel Clarissa. Dia langsung membukanya dengan cepat.


Ku mohon HI harvard, ku mohon.


Clarissa menanjatkan doa dalam hatinya.


Sayangnya, harapannya pupus saat dia melihat bila dirinya di terima di Massachusetts Institute of Technology jurusan Entrepreneurship and Innovation.


"Yahh, aku ga keterima di Harvard. Ga bisa ketemu kak El," ucap Clarissa kecewa.


"Terus? Kamu keterima dimana?" Tanya Cilla.


"MIT," jawab Clarissa singkat.


"Bagus dong? Bukannya Tuan Muda juga bersekolah disana?" Tanya Cilla.


"Aku sudah tidak ada perasaan padanya. Lagipula, dia selalu menganggapku sebagai adiknya," Jawab Clarissa.


"Sudahlah. Bersyukur saja. Toh juga masih satu kota kan?" ucap Cilla.


"Hummm. Yeah. Kau benar," ucap Clarissa.


...*...*...


Sekarang adalah waktunya bagi Clarissa untuk pulang. Seperti biasa, dia hanya disambut oleh Bibi, karena Wisnu masih sibuk mengawasi Resto dan pengelolaan keuangan di berbagai outlet miliknya.


"Sasa pulang," ucap Clarissa dengan nada malas.


Namun, ia baru menyadari bila suasana rumahnya begitu hening dan menegangkan seperti tidak ada kehidupan.


"Halo? Bi?" Panggil Clarissa yang berkeliling rumahnya.


Rumahnya begitu besar hingga menggema ke seluruh bagian. Hingga dirinya mencapai ruang tengah...


"KEJUTAN!!" Teriak Wisnu dan Bibi dengan kue tart dengan hiasan lilin diatasnya.


"Selamat ya anak papa sudah diterima di salah satu perguruan tinggi terbaik di dunia. Papa bangga sama kamu," ucap Wisnu.


"Lho? Papa kok tau?" Tanya Clarissa.


"Kamu tidak kenal siapa papa kamu?" Tanya Wisnu, lalu memeluk anaknya itu.

__ADS_1


"Ya deh iya. Papa Sasa adalah papa paling hebat sedunia," ucap Clarissa yang membalas pelukannya.


Mereka makan bersama di taman belakang rumah mereka dan menikmati malam bersama.


__ADS_2