
Di rumah Paman Roy...
"Sekarang, kita mau apa?" Tanya Karen.
"Bikin makanan lah!" seru Andrew.
"Katanya mau jualan makanan," imbuhnya.
"Ya iya. Tapi kan... mau bikin apa?" Tanya Karen.
"Udahlah coba-coba aja dulu," jawab Andrew.
Andrew dan Karen memulai memakai appron mereka dan mengambil segala bahan dan tempat yang mereka butuhkan. Mereka mencari segala ide kekinian yang memungkinkan dagangan mereka laris. Tentu saja, dengan sedikit bumbu rahasia di dalamnya.
"Sayang, kamu bisa aduk ini kan?" Tanya Andrew.
Aduhh. Ketahuan ga ya kalau aku ga pernah pakai mixer? Aku bahkan ga pernah masak...~ Batin Karen.
"Humm, serahkan saja padaku," ucap Karen sok bisa.
Karen mulai menyalakan mixernya dan boom. Seluruh bahan yang berada di mangkok tersebut melayang ke mukanya.
"Ahh. Andrew tolong!" Jeritnya.
Andrew dengan sigap menyaut mixer dari tangannya dan mematikannya.
"Sudah mati..." Kata-katanya terhenti saat dia melihat wajah Karen yang penuh dengan tepung.
"Pfttt. Bwahahaha." Andrew tertawa terpingkal-pingkal.
"Andrew! Ihh ga lucu tau," ucap Karen.
"Tunggu tunggu." Andrew mengeluarkan ponselnya dari dalam kantongnya.
Cekrek cekrek
Andrew mengambil kesempatan ini dan memotret Karen sebanyak mungkin.
"Ahh. Mau ngambek sama Andrew," ucap Karen yang beranjak ke kamar mandi.
...*...*...
Clarissa mempersiapkan diri untuk terbang kembali ke negara tempat dia tinggal dulu.
"Sa, sudah semua?" Tanya Wisnu.
"Sudah pa," jawab Clarissa.
"Yuk, kita berangkat," ucap Wisnu.
Mereka membawa seluruh koper mereka dan barang-barang mereka selama tinggal disana. Tidak terlalu berat bagi mereka untuk meninggalkan tempat yang besar dan mewah itu, karena tak ada satupun kenangan spesial disana. Hati mereka pun telah siap sepenuhnya untuk kembali ke kehidupan lamanya.
Clarissa menghubungi Daniel berkali-kali, namun tetap tak ada jawaban darinya.
Tch, dia kemana sih? Kenapa ga jawab pesan aku?~Batin Clarissa.
Sedangkan itu, di tempat Daniel berada.
"Kak El, kau begitu tampan. Bolehkah aku pulang bersama dengan kakak?" Tanya seorang wanita, teman baru Daniel.
"Boleh dong cantik. Kebetulan hari ini ga ada ekstra basket," ucap Daniel.
"Rumahmu memangnya berada dimana?" Tanya Daniel.
"Windsor Cambridge Park," jawabnya.
Lama perjalanan antara New Zealand dan USA membuat Clarissa mengantuk sesaat. Dia tertidur sambil bersandar di kursinya yang empuk dan nyaman hingga dirinya tiba di USA sesuai dengan keinginannya.
"Hoammm. Capek sekali," gumam Clarissa.
__ADS_1
Dia turun dari pesawat dan mengikuti langkah Wisnu untuk keluar dari bandara.
"Sa, ayo ambil barang-barangnya. Kita kan harus mampir ke apartmentmu untuk menata barang," ucap Wisnu.
"Siap bos," jawab Clarissa.
...*....*...
Wisnu yang baru saja mengambil barang-barangnya, langsung menyalakan ponselnya dan menelepon sahabatnya.
📱Drttt drttt...
"Wisnu, tumben telepon," gumam Eren saat melihat nama yang tertera di ponselnya.
"Halo, nu. Ada apa?" Tanya Eren.
"Ren, lu ada dimana?" Tanya Wisnu.
"Di kantor. Kenapa?" Jawabnya.
"Gue udah pulang. Jemput dong," jawab Wisnu dengan kekehan kecil dibelakang.
"Apa? Ke USA? ok ok. Aku langsung meluncur sekarang sama Olen," ucap Eren yang lalu memutuskan teleponnya.
Beberapa menit kemudian...
"Welcome back,bro. Lama tak nampak." Eren menghamburkan pelukannya kepada Wisnu.
"Gimana sama Karen dan Lauren?" Tanya Wisnu.
"Kami baik om," jawab Lauren.
"Tunggu... mana si bontot? Biasanya dia suka ngintil mulu," ucap Wisnu.
"Kami kan tadi dari kantor langsung cuss kemari. Nanti aja lah saat kami pulang kami sampaikan," ucap Eren.
...*...*...
"Ayah, sini," teriak Karen
"Humm, ada apa sayang?" Tanya Paman Roy.
"Cobain deh makanan Karen," ucap Karen sambil menyodorkan makanannya.
Paman Roy mengambil sendok dan sumpit dari tangan Karen dan mencicipi hidangan lezat yang dibuat wanita itu. Hidangan khas tempat tinggalnya dulu.
"Gimana? Enak gak?" Tanya Karen.
"Ini... hummm. Enak sekali," ucap paman Roy memuji.
"Benarkah?" Tanya Karen dengan mata berbinar.
Paman Roy hanya menggangguk.
"Asyik! Kita berhasil sayang!" Seru Karen.
Andrew menanggapi Karen dengan senyuman.
"Sayang, apa kamu ga malu jualan sama aku kek gini?" Tanya Andrew tiba-tiba membuat keheningan sementara.
"Apa sedari tadi kamu terdiam karena kau memikirkan ini?" Tanya Karen.
Andrew mengangguk.
"Ya. Jujur saja, aku benar-benar gak enak sama kamu. Dimana-mana, cewek itu selalu menuntut untuk beliin ini itu, harus pakai mobil, harus gini harus gitu. Mantan-mantanku pun dulu juga begitu...," ucap Andrew melirih.
"Jangan bandingkan aku sama mereka. Mereka memang mata duitan, matre. Ya, Ga munafik sih aku juga suka diperhatikan kamu kek gitu dulu. Dibeliin makanan kesukaan aku, makanan mewah,dll. Tapi, bukan berarti aku akan menuntutmu untuk selalu begitu. I chose you not because of who you are, I chose you because it's you," ucap Karen.
"Seharusnya yang tanya tuh aku. Kamu anak orang kaya dulu. Apa kamu yakin?" Tanya Karen.
__ADS_1
"Kalau kamu yakin, kenapa aku enggak? Toh ini semua demi aku, demi kita. Aku akan berusaha keras agar sukses dan bisa meminangmu," ucap Andrew.
"That's what I'm waiting for." Mereka berpelukan dalam waktu yang lama.
...*....*...
Eren dan yang lainnya telah tiba di apartment baru milik Clarissa. Mereka mengambil kunci dari resepsionis dan menuju ke kamar milik Clarissa. Namun, saat di koridor, mereka berpapasan dengan Daniel yang sedang menggandeng mesra seorang wanita cantik disana.
"Kak el," sapa Clarissa yang setengah terkejut.
Daniel yang melihatnya pun langsung melepas tangan wanita itu.
"Ohh, jadi beberapa hari ini gak jawab telepon aku karena ini? Bagus kamu kak, bagus," ucap Clarissa sambil menyilangkan tangannya.
"Sa, dengerin penjelasan aku." Daniel terlihat panik disana. Disatu sisi cewek cantik di sebelahnya, disisi lain ada Clarissa yang sedang memergokinya.
"APA ini maksudnya mas? Katanya mas Daniel jomblo?" Tanya cewek itu protes.
"Heh cewek miskin. Ngapain lu ganggu-ganggu cowok gue," ucap wanita itu dengan songongnya.
"Sadar ga sih lu atas perbuatan lu?" Tanya Clarissa yang tak kalah menyolotnya.
"Tunggu, apa maksudmu cowokmu?"
"Kak, apa ini maksudnya? Setahun lamanya aku menunggumu dan ini balasanmu terhadapku? Okay, jika itu maumu. So good bye." Clarissa meninggalkan kedua pasangan baj*ngan itu.
"Oh ya. Siapa namamu?" Tanya Clarissa yang tiba-tiba berhenti.
"Luna. Catat baik-baik ya," ucap wanita itu.
"Luna..." Clarissa mengulanginya lagi.
Clarissa mengeluarkan ponselnya, memotret mereka berdua dan langsung memostingnya.
Cekrik
"Done ya. Kita impas," ucap Clarissa sambil menunjukkan ponselnya.
"Kamu! Apa yang kamu katakan? Siniin ponselnya!" Seru Luna.
"Cihh, siapa lu nyuruh-nyuruh gue?" Tanya Clarissa.
"Gue? Calon istri Daniel. Mau apa lu?" Tanyanya balik.
"Lagian ya, lu tuh ga sederajat sama Gue. Gue cantik, bohai, kaya lagi. Lu?" Ucap Luna mengejek.
"Ya ya ya. Terserah. Kalau memang anda secantik, sebohai bahkan sekaya yang anda bilang, ngapain juga mau sama cowok brengjek umbar janji kek dia." Clarissa menunjuk kearah Daniel.
...*....*...
Wisnu, Eren dan Lauren telah sampai tepat di depan kamar Clarissa. Namun, mereka baru menyadari sang empunya apartment, wanita cantik yang akan meninggali ruang itu tidak ada disamping mereka.
"Lho, Sasa kemana?" Tanya Wisnu.
"Bukannya tadi dia di belakang? Kok gak ada?" Tanya Eren.
"Yaudah ya. Kalian masuk dulu. Aku cari dia," ucap Wisnu.
"Humm, baiklah. Hati-hati," ucap Eren.
...*...*...
Terimakasih untuk para pembaca setia yang masih terus mengikuti cerita kisah percintaan mereka.
Jangan lupa like, komen, vote, gift dan share ya. Setiap dukungan sungguh berarti bagi otor🤗🤗
Salam hangat
Ajeng Rizqita/Prince Philip
__ADS_1