Karma Peninggalan Mama

Karma Peninggalan Mama
Pinggiran


__ADS_3

Karen dan Andrew telah bersiap di tempat mereka. Mereka bersama dengan David membopong sebuah meja belajar untuk diletakkan di pinggiran jalan menuju kampusnya. Mereka mulai menjajakan berbagai makanan dan juga tentunya es yang beberapa hari terakhir menarik perhatian Karen.


"Apa itu?" Tanya Andrew.


"we call it bubble gum ice," jawab Karen.


"Es permen karet. Kamu coba deh," ucap Karen.


Andrew mengambil sedikit dari es yang baru saja dibuat oleh Karen.


"Humm, enak banget. Manis kek kamu," ucap Andrew.


"Cihh, gombal. Cepat pasarkan," ucap Karen.


"Btw, kamu dapat resep ini darimana?" tanya Andrew.


"Youtube," jawabnya singkat.


"Ya tau, tapi kan es aneh macam nih kamu dapat ide darimana?" Tanya Andrew.


"Ini adalah es yang sempat viral kala itu di surabaya, Indonesia. Aku pernah tinggal disana saat masalah terjadi di keluargaku. Rumit lah pokoknya," jawab Karen.


Andrew terdiam sejenak. Memang benar dia tak pernah nampak sosok ibunda Karen di rumahnya walau hanya sekadar fotonya.


Paman Roy memang tidak pernah menikah semasa hidupnya. Dia mengabdi pada Wisnu dan menjaga keluarga Wisnu dengan aman. Selebihnya, ia gunakan waktu tersebut untuk beribadah dan bersedekah.


Mereka berdua berteriak-teriak memasarkan dagangannya. Semua orang yang penasaran langsung melihatnya.


"Apa? Andrew berjualan dengan wanita itu? Ini pasti demi wanita cupu itu. Sialan! Andrew kita yang begitu elegant bahkan disuruh jualan di pinggir jalan!" Seru salah seorang fans berat Andrew.


"Kita kasih pelajaran untuk wanita itu. Tapi, aku ingin coba bagaimana rasanya masakan buatan Andrew," ucap Wanita itu sambil tersenyum sendiri membayangkan.


Tak butuh waktu lama, antrean panjang telah memadati ruas jalan sekitaran kampus. Mayoritas pembelinya adalah wanita dan Andrew menggunakan ketenarannya untuk menarik perhatian.


Dia bahkan memaksa semua anggota BEM untuk membeli dagangannya.


"Awas aja kalian kalau gak beli, gue kick dari BEM," ancam Andrew di group chat.


...*...*...


Beberapa saat kemudian...


Suasana lambat laun menjadi sepi,namun barang dagangan mereka masih tersisa sedikit.


"Kita dapat hasil lumayan hari ini. Tapi, belum habis semua. Keknya, kita harus memasarkannya hingga keluar fakultas deh," ucap Karen.


"Tapi kan kita ini bahkan sudah di luar kampus?"

__ADS_1


"Iya, tapi tidak semua orang mengetahuinya. Kau coba pikir pake sesuatu kek," ucap Karen.


"Aku membawa.... tara... ini toa." Andrew mengeluarkan toa yang baru saja dibelinya kemarin.


"Ayo semuanya di beli di beli!" Teriak Andrew.


Beberapa gadis terlihat tengah melewati lapaknya. Tak kekurangan akal, Andrew mendekati mereka dan menggunakan wajah tampannya.


"Suit suit." Andrew bersiul kepada beberapa wanita itu.


Andrew mengenakan kacamata hitamnya dengan sekumtum mawar yang entah didapatkan darimana itu di mulutnya.


"Cewek," panggil Andrew.


Tentu saja, hal itu menyita perhatian mereka.


"Sayang, ayo mampir dong ke kedai kecil abang yang serbaguna ini. Ada es jenis baru lho yang pastinya bikin nagih," ucap Andrew.


Karen menepuk dahinya saat melihat kelakuan doinya itu. Entah sejak kapan Andrew segila itu. Namun faktanya, itu benar-benar mengundang perhatian publik.


"Sayang, bantu aku dong ini rame banget. Kuwalahan aku," ucap Andrew yang terlihat panik.


"Ogah. Siapa suruh tadi genit-genit. Kamu aja jarang kasih aku bunga." Karen melipat tangannya dan memalingkan pandangannya.


Andrew berdiam sebentar dan menghela nafas.


"Sabar ya mbak-mbak cantik, mas-mas ganteng dan ibu-ibu yang mempesona. Tangan saya cuman dua. Mohon pengertiannya ya," ucap Andrew.


"Iya bener," timpal beberapa orang disana.


Andrew memaksakan untuk tersenyum kepada mereka.


Tak berselang lama kemudian...


Dagangan Andrew dan Karen telah ludes sepenuhnya. Inilah saat yang tepat bagi Andrew untuk mengatasi kengambekan seorang Karen yang sangat sulit untuk diuraikan.


"Sayang..." ucap Andrew lembut.


Andrew memegang pundak milik Karen dan mengendus-endus leher miliknya. Tentu saja, Karen luruh dibuatnya.


"Maafin aku ya, please," ponta Andrew.


Netranya membulat sempurna, kerlingan mata itu, mata biru yang bening sebening samudra, membuat Karen tidak bisa berkata lagi. Karen menghela nafas dan menoleh kearahnya.


"Baiklah," ucapnya pasrah.


"Anak ganteng, masih ada gak esnya? Atau makanannya yang manis itu?" Tanya seorang ibu yang baru saja datang.

__ADS_1


"Maaf bu. Sudah habis semuanya. Besok ibu datang kemari lagi. Kita akan jual setiap harinya kok," ucap Andrew.


"Oh begitu ya. Baiklah. Besok jangan lupa sisakan satu untuk ibu ya." Ibu itu berlalu pergi setelah meninggalkan pesannya.


Andrew dan Karen saling menatap, lalu membereskan semua barang-barang mereka.


"Syukurlah, hari ini kita dapat untung banyak. Kita bisa simpan ini sedikit demi sedikit untuk biaya kuliahku dan...," ucap Andrew terhenti.


"Dan apa?" Tanya Karen penasaran.


"Dan untuk biaya pernikahan kita dong pastinya," jawab Andrew.


"Ya kalau kita jodoh, kalau enggak?" Tanya Karen.


"Kalau enggak ya aku akan memaksakan kehendak untuk menikah lari denganmu. Pokoknya harus kamu, sayang." Andrew mengusap-usapkan wajahnya ke badan Karen dengan manja.


"Cihh. Siapa tadi yang menggoda cewek lain sekarang malah gombalin aku lagi. Dah lah aku balik dulu," ucap Karen merajuk.


"Yahh, ngambek. Sayang, kan tadi udah aku jelasin sih!" Seru Andrew yang sama sekali tak digubris oleh Karen.


Andrew merapikan semua barang dan mengembalikan ke tempat asalnya sendirian.


...*....*...


Clarissa termenung di bangku kelasnya. Dia masih memikirkan perihal Daniel. Dia bahkan Samar-samar mendengar seseorang yang menelepon Daniel hari ini memanggilnya sayang. Apakah mungkin bila dosennya memanggil mahasiswanya dengan sebutan sayang?


Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan padamu. Aku benar-benar begitu lemah untuk menolakmu, tapi begitu sakit untuk menerimamu kembali. Sampai kapan kau akan membohongiku begini?~Batin Clarissa bertanya-tanya.


Perhatian Clarissa teralihkan saat dirinya teringat bila dia telah meninggalkan Jasmine sendirian di kantin.


"Oh ya, jasmine!" Pekik Clarissa yang lalu langsung berlari ke arah kantin sebelum bel masuk sekolah berbunyi.


"Huh, benar-benar menyebalkan! Menjijikkan!" Jasmine menggerutu sepanjang jalan hingga tanpa sengaja dia bertabrakan dengan seorang wanita yang sedang berlari ke arahnya.


Brukk.


"Oh maaf," ucap mereka berdua bersamaan.


"Jasmine!"


"Sasa!"


"Kebetulan kita ketemuan disini. Maaf ya aku tadi langsung pergi meninggalkan kamu," ucap Jasmine.


"Ini juga salahku. Aku terkejut saat pria itu tiba-tiba datang kemari dan aku langsung kembali ke kelas deh," ucap Clarissa.


"Cowok tadi itu siapa? Kamu belum cerita apapun ke aku lho," ucap Jasmine.

__ADS_1


"Ya. Gimana nanti pulang ngampus kamu main ke apartmentku? Papa kan kalau siang biasanya lagi kerja," ucap Clarissa.


"Ok deh. Nanti kita pulang bareng ya," jawab Jasmine.


__ADS_2