Karma Peninggalan Mama

Karma Peninggalan Mama
Janji Suci


__ADS_3

"Huwahhh. Sayang, lelah sekali," keluh Lauren kepada Jasmine.


"Cihh, sayang sayang. Sejak kapan kita sepakat manggil sayang? Pacaran aja kaga," ketus Jasmine.


"Jangan ketus-ketus gitu dong, sayangku." Lauren mengeluskan kepalanya di badan Jasmine.


"Ehh cowok tengil, sejak kapan lu jadi begitu manja? Ga cocok tau ga?" Seru Jasmine.


"Tch, berisik ah. Bawel amat jadi cewek. Lu sekarang udah jadi istri gue, jadi serah gue lah," timpal Lauren tidak mau kalah.


"Ya deh. Serah lu aja!"


...*...*...


Matahari telah menyembunyikan parasnya dibalik gunung maupun bukit indah di penghujung sana. Bulan sabit yang terlihat dipelataran, kecil namun tetap bersinar terang dengan diiringi dengan bintang disekitarnya. Clarissa termenung menatap langit sambil beberapa kali menghela nafas kasar, meratapi hidupnya.


Huftt. Kenapa ya semua orang begitu beruntung? Jasmine, dia telah mendapatkan Lauren. Aku tahu Lauren adalah pria baik yang bertanggung jawab. Sudah dipastikan hidupnya akan bahagia. Karen, dia bahkan berusia setahun dibawahku,tapi dia begitu beruntung mendapatkan Andrew yang begitu mencintainya. Dia begitu dimanjakan. Sedangkan aku? Aku ini apa? ~Batin Clarissa.


Tok tok tok...


Suara ketukan pintu terdengar disana. Atensi Clarissa telah berubah melirik kearah pintu kamarnya.


"Sayang, papa izin masuk." Suara Wisnu terdengar di ambang pintu. Sedangkan Clarissa sambil berlari kecil, dia menyeka air matanya.


"Ya, pa. Sebentar. Sasa kunci," Timpalnya.


Ceklek...


"Sasa, ada apa sayang? Kau menangis?" Tanya Wisnu. Wisnu menakup wajah Clarissa lembut dan menghadapkannya padanya.


"Sa, dengerin papa sayang. Kamu kan masih sekolah. Waktumu masih panjang. Lebih baik kamu fokus pada karirmu dulu,sukses baru mikirin nikah. Papa ga mau kamu terjerat dengan pria baj*ngan seperti El itu. Sekarang bukan jamannya nikah muda,Sa. Sekarang jamannya seorang wanita jadi business woman," tandas Wisnu.


Clarissa merenungi ucapan Wisnu. Ada benarnya yang dikatakan ayahnya. Dia menghela nafas.


"Sekarang, Sasa harus buktikan ke papa, ke mama kalau Sasa pantas mendapatkan pria terbaik sama seperti Jasmine. Nak, tidak semua wanita memiliki nasib baik seperti Jasmine. Walau dia hamil diluar nikah, kebetulan sekali anak itu milik Lauren. Coba milik pria lain, entah bagaimana nasibnya," lanjut Wisnu.


Clarissa masih bergeming pada posisinya.

__ADS_1


"Ya, Sasa ngerti pa. Makasih sudah mengingatkan Sasa, " ucap Clarissa.


Wisnu memeluk Clarissa dan gadis itu membalas pelukannya.


"Intinya, apapun yang terjadi, kamu harus kasih tau papa ya. Kamu masih punya papa dan kamu adalah harta papa paling berharga. Papa sangat beruntung punya kamu sayang." Wisnu mengecup kening anaknya dengan penuh kasih sayang.


"Walau dulu papa mendapatkanmu dengan cara yang salah, namun papa masih sangat beruntung papa ga lagi hidup sendirian di dunia ini."


"Sasa juga beruntung banget punya Ayah kayak papa. Papa tuh yang terbaik bagi Sasa."


Suasana haru pun tercipta. Mereka saling berpelukan untuk waktu yang lama seakan tidak mau dipisahkan. Hingga malam pun semakin larut memaksa mereka harus tertidur agar mereka mendapatkan stamina untuk berpura-pura kuat besok.


...*...*...


Keesokan paginya...


Lauren telah bersiap dengan kemejanya. Dia sudah memutuskan untuk berangkat ke kantor lagi mulai hari ini.


"Lauren, izinkan aku untuk melanjutkan studiku ya," pinta Jasmine.


Lauren menelan roti yang sudah terlanjur masuk ke mulutnya.


"Ya. Aku yakin. Kamu lihat sendiri kan aku sehat," bujuk Jasmine.


"Hufftt, baiklah. Tapi, kamu harus mau ditemani oleh pengawal yang aku sewa,ok?"


"Pengawal? Bukankah itu sedikit tidak nyaman?" Jasmine membayangkan ada dua pria kekar selalu mendampinginya. Itu akan benar-benar sangat tidak nyaman.


"No no. Mereka tidak akan selalu terlihat dibelakangmu. Mereka akan mengawasimu diam-diam,"Jawab Lauren dengan tangannya yang mengacak-acak rambut Jasmine.


"Humph. Baiklah."


...*...*...


Jasmine bersiap untuk berangkat sekolah setelah dia meminta cuti selama beberapa bulan. Dia sedari tadi masih berada dalam kamarnya, menghadap ke kaca dan berulang kali menatap dirinya yang semakin melebar. Beberapa pakaiannya pun sudah tidak muat pada tubuh mungilnya sambil menggerutu mengomeni bentuk tubuhnya sendiri.


Krekkk...

__ADS_1


Suara pintu terbuka terdengar di telinga Jasmine. Sontak, wanita itu menghadap ke arahnya.


"Sayang, mau bareng tidak? Kenapa masih belum siap?" Lauren datang dan langsung memeluk Jasmine dari belakang.


"Dihh, manja!" Celetuknya.


"Ya kan manja sama istri sendiri gapapa. Kan kita juga sudah halal," tandas Lauren.


Jasmine memutar kedua bola matanya sebelum dia pergi dari pelukan Lauren.


"Ren, ini sudah jam berapa? Jangan peluk lagi lah!" Seru Jasmine protes.


"Ga mau. Maunya sama ayang."


"Iya deh iya. Nanti pulang aku dari kampus kamu boleh manja sepuasnya,tapi jangan lupa jemput aku."


Memang ya lelaki. Mulutnya selalu manis. Tapi anehnya, wanita tidak akan bisa menolaknya, Batin Jasmine sambil melirik ke arah Lauren yang berbaring diatas ranjang.


"Sayang, kenapa kok berantakan banget?" Tanya Lauren.


"Badanku makin besar, melar. Mana cukup pakaianku yang dulu," jawab Jasmine.


"Nanti sepulang sekul, skuyy kita beli."


"Terserah," jawab Jasmine singkat.


Jasmine meletakkan segala peralatan yang dia butuhkan untuk dirinya bersekolah. Dia menghampiri Lauren yang masih terbaring di ranjang dengan ponsel di tangannya.


"Yuk berangkat," ajak Jasmine.


Lauren tiba-tiba menarik tangan Jasmine hingga wanita itu jatuh tepat di atasnya. Wajah Jasmine memerah seperti tomat membuat Lauren lapar akan dirinya.


"La-lauren, jangan macam-macam. Aku akan telat!" Pekik Jasmine melakukan penolakan pada suaminya.


"Haha. Aku hanya menggodamu. Wajahmu yang begitu... aku menyukainya," bisik Lauren.


"Yuk!" Serunya.

__ADS_1


Mereka berdua berangkat dari rumah Jasmine menuju ke tujuan mereka masing-masing.


__ADS_2