
Keesokan harinya...
Karen dan Andrew bersiap untuk pergi ke kampus bersama. Mereka mempersiapkan barang dagangan mereka untuk mereka jual hari ini.
"Semoga hari ini laris ya,Drew," ucap Karen.
"Aamiin. Pasti laris lah. Kan aku cogan," balas Andrew percaya diri.
"Cihh. Kalau bukan karena kasihan sama tuh cewek gak tau diri, aku juga ogah nerima kamu," ucap Karen.
Andrew memeluk Karen dari belakang dan mengusap-usapkan wajahnya ke tubuh mungil nan wangi milik Karen.
"Ayolah sayang. Masa sih udah dua tahun berlalu kamu ga ada rasa gitu sama aku?" Tanya Andrew.
"Enggak!" Jawab Karen menusuk hati.
Karen pergi meninggalkan Andrew untuk mengurusi kesibukannya sendiri.
"Andrew, ayo cepatlah. Keburu telat nih. Aku ada matkulnya pak Renald!" Seru Karen dari ruang tamu.
"Oh ok. Siap!" Balas Andrew dengan hormat kepada Karen.
...*....*...
Hari ini adalah hari pertama kali Clarissa di kampus barunya. Dia menengok sekeliling berharap dapat berjumpa dengan Lauren disana. Kali ini, Wisnu sengaja membelikan sebuah mobil terbaru yang mini dan elegant, pas untuk Clarissa seorang.
"Tuan muda datang. Tuan muda datang!" Seru beberapa mahasiswa di berbagai jurusan.
Sudah dapat dipastikan itu adalah Lauren yang baru saja tiba dengan sebuah mobil sport yang baru ia beli kemarin dengan hasil jeri payahnya sendiri.
"Wow, Lauren tampak begitu keren," gumam Clarissa.
Clarissa turun dari mobil hanya sekadar untuk bertegur sapa dengan pria tampan dihadapannya itu.
Lauren memarkirkan mobilnya dan turun dengan kaca mata hitamnya. Sungguh menarik perhatian.
"Hai Lauren," sapa Clarissa.
"Hai," jawab Lauren singkat dan dingin seperti biasa.
Lauren pergi meninggalkan Clarissa menuju ruang kelasnya dengan tas yang hanya ia sampirkan di salah satu pundaknya. Semua orang meleleh melihatnya, bahkan beberapa ada yang berdecak kagum atas ciptaan tuhan yang sempurna.
Clarissa merasa malu karena telah diperlakukan dingin bak orang asing oleh Lauren. Dia menundukkan pandangannya dan berjalan menuju fakultas Business and Management, tempat dimana dia akan melanjutkan studinya, satu fakultas dengan Lauren tentu saja.
__ADS_1
Pria ini... Apa dia harus bersikap dingin kepadaku? Setidaknya, beri aku muka lah. Bagaimana pun aku besar bersamanya dan adiknya,~Batin Clarissa
"Oh iya ya, seharusnya kan Jasmine juga waktunya masuk kuliah. Dia dikampus mana ya?" Gumam Clarissa sendirian.
Clarissa mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi sahabat lamanya.
"Halo Jas. Kamu gimana kabarnya? Kamu kenapa lama ga telepon aku sih?" Tanya Clarissa berbasa-basi.
"Hahaha. Baik. Kamu juga bukannya begitu? Apa kabar juga kamu Sa? Udah balik ke Amrik kan?" Tanyanya balik.
"Baik juga. Ya. Aku sudah balik ke Amrik. Terus,kamu kuliah dimana? Harusnya kan tahun ini adalah tahun ajaran baru untukmu juga," ucap Clarissa.
"Aku di MIT, jurusan Manajemen Bisnis," jawabnya.
"Wah kebetulan kita satu fakultas. Nanti kita ketemuan yuk di food court," ucap Clarissa.
"Ok, nanti aku share lock," jawabnya.
Clarissa mengakhiri teleponnya, sedangkan Jasmine masih sibuk membaca pengumuman penting di website milik universitas hingga tanpa sadar dia bertabrakan dengan seseorang.
Brakkk...
Buku di tangannya jatuh berantakan di tanah. Pria dengan kaca mata hitam itu menatap tajam kearahnya dan membuka kacamatanya. Siapa lagi kalau bukan Lauren.
"Kamu punya mata?" Tanya Lauren kasar.
"Saya yang menabrak kamu?" Lauren menyangkutkan kacamatanya di saku jas miliknya.
"Kamu tidak sadar dengan apa yang kamu lakukan? Kau berjalan dengan bermain ponsel. Dimana etika berjalanmu itu,huh?" Seru Lauren.
"Lalu, kenapa tidak menghindar?" Tanya Jasmine dengan nada semakin meninggi.
"Ahh sudahlah, saya capek melayani cewek gak jelas kayak kamu. Menyebalkan," ucap Lauren sambil pergi.
"Dasar cowok brengjek! Siapa juga yang mau berurusan dengan cowok brengjek sepertimu?!" Umpat Jasmine.
Jasmine memungut bukunya dan meletakkan ponselnya dalam sakunya dan berlalu pergi dari tempat yang sangat menyebalkan baginya itu.
Huh, pertama kali masuk kuliah sudah bertemu dengan pria menyebalkan! Tch, apanya yang tuan muda. Kelakuannya bahkan tak layak untuk statusnya. Kenapa waktu itu aku malah malu-malu terhadapnya ya? Jika tau dia setengil ini, aku juga ga usah segan sama dia,~Batin Jasmine di sepanjang perjalanan. Setiap orang yang melewatinya menoleh ke arahnya, mulutnya yang komat-kamit sendiri itu, membuat orang lain tertawa kecil saat melihatnya.
"Yeee. Siapa kalian? Ngapain lihat-lihat gue sebegitunya?!" Celetuk Jasmine yang mengagetkan mereka.
"Cihh, dasar orang stress!" umpat seorang gadis yang baru saja lewat di depannya.
__ADS_1
"Tch, sial! Sial! Sial!" Umpat Jasmine.
...*...*...
Lauren telah tiba dikelasnya. Dia terduduk dengan kaki di atas meja dan sebuah ilalang dimulutnya. Entah darimana dia mendapatkannya, yang jelas dia begitu kesal setelah kejadiannya dengan Jasmine pagi ini.
"Selain Alen, baru kali ini aku bertemu dengan wanita yang begitu jutek padaku. Semua wanita bahkan mengejar-ngejarku dan berteriak namaku di depan umum. Itu menjijikkan, menyebalkan. Namun, dia berbeda. Dia begitu... menarik!" Lauren menurunkan kakinya dan memainkan pen di tangannya dengan senyuman licik di raut wajahnya.
Sedangkan itu, Clarissa telah tiba di kelas barunya. Peraturan utama masuk kelas adalah memperkenalkan diri di hadapan semua orang dan tentu saja Clarissa melakukan hal tersebut dihadapan semuanya.
"Perkenalkan saya adalah Clarissa William Wijaya,putri tunggal dari Wisnu Wijaya. Berumur 18 tahun, tahun ini dan lulusan New Zealand High School," ucap Clarissa memperkenalkan diri.
Semua orang mengalihkan pandangan mereka. Beberapa dari mereka mungkin mengenalnya saat dia masih bersekolah di Amerika.
"Kamu sa? Kamu kembali?" Tanya seorang teman Clarissa semasa SMA.
Clarissa menjawabnya dengan anggukan.
Kali ini, dia mendapatkan banyak teman bahkan dihari pertamanya di kampusnya. Bukan karena tanpa alasan, tentu saja itu semua karena dia adalah anak orang kaya.
Setelah selesai memperkenalkan diri, Clarissa mencari bangku tempatnya untuk duduk.
Humm, enaknya duduk dimana ya?~Batin Clarissa.
"Sini sa, Sama aku aja," ucap teman Clarissa tadj
"Clar, kita kan teman lama. Yuk kita duduk berdampingan. Nanti aku kasih kamu contekan deh," timpal seorang lainnya
"Jangan mau sama dia, dia hanya akan memanfaatkanmu!"
"Enak aja. Memangnya kamu tidak akan memanfaatkannya? Cih, dasar munafik!"
"Wleee!" Wanita itu menjulurkan lidah kepada temannya yang lain.
Clarissa hanya terdiam melihat perdebatan diantara mereka. Kepalanya dibuat semakin pusing hanya untuk hal sepele.
"Sudah sudah, aku akan duduk di depan Sini bersama dengan," ucap Clarissa membuat dua wanita itu kecewa.
Clarissa duduk tepat disamping pria berkaca mata yang terlihat cupu,namun tampan.
"Hai, siapa namamu?" Tanya Clarissa menyapa.
"Anthony," jawab pria itu singkat.
__ADS_1
Hal itu tentu saja mengejutkan Clarissa.
Ternyata, dia adalah pria yang dingin. Kupikir dia adalah pria polos yang menggemaskan,~Batin Clarissa.