
Sheila benar-benar melaporkan hal tersebut kepada kepala rektor.
Sheila membuka pintu ruang rektor sesukanya, karena dia memiliki akses untuk itu.
"Paman, hiks hiks," teriak Sheila.
"Ada apa? Kok nangis?" Tanya rektor.
"Tunggu, kenapa jalanmu pincang? Lalu. Kenapa tubuhmu penuh luka, tanganmu pun retak. Ada apa ini?" Tanyanya lebih lanjut.
"Huhu, paman harus memberikan keadilan untukku. Karen yang melakukannya, paman. Dia merebut Andrew dan bahkan memukuliku dengan kejam. Dia benar-benar seorang mahasiswi ga tau diri," jawab Sheila.
"Karen? Dia angkatan berapa? Jurusan apa?" Tanya rektor.
"Dia satu jurusan denganku, jurusan Hubungan Internasional. Angkatan tahun ini. Dia mahasiswi termuda di angkatannya," jawab Sheila.
"Baiklah. Berhubung dekat, aku akan memanggilnya kemari," ucap sang rektor.
Beberapa saat kemudian...
"Iya pak, ada apa memanggil saya?" Tanya Karen saat tiba.
Karen melirik ke arah Sheila yang menyeringai dan menatap senang ke arahnya. Dia mengira dia telah berhasil memiliki kartu as yang dapat menyingkirkannya.
Bodoh! Jika kamu tidak melaporkanku, aku juga tidak akan mengadukanmu. Namun, sudah menjadi seperti ini, terpaksa aku harus meminjam kekuatan papa sekalian saja mengusir rektor pilih kasih ini.~Batin Karen
"Sheila sayang, kamu keluar dulu ya. Ini uang dari paman. Kamu beli apapun yang kamu suka, namun sebelumnya pergilah dulu ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut," ucap pamannya.
"Baik, paman."
Sheila belum berlalu dari sana. Dia masih berdiri di depan pintu ruangan pamannya. Dia ingin mendengarkan secara langsung Karen di DO dari universitasnya, menanggung malu dan dijauhi oleh Andrew.
"Kamu tahu kesalahan kamu?" Tanya pak rektor.
"Saya melihat Sheila disini dan saya mengetahui hubungan anda dengan dia. Jadi, pasti anda mau mengeluarkan saya seperti yang dia ucapkan, bukan?" Tanya Karen to the point.
Benar-benar gadis bebal! Dia bahkan berani berbicara seperti itu ke saya. Namun, gadis di usianya bahkan tidak akan setegas ini. Siapa sebenarnya orang tua gadis ini? Aku tidak menemukan data apapun tentangnya lebih lanjut.~Batin Pak Rektor.
"Benar, ini adalah surat dari saya. Mulai hari ini, kamu bukan mahasiswi di kampus ini," ucap Pak rektor sambil menyodorkan secarik kertas.
Karen mengambil kertas itu dari tangannya. Sebenarnya, sakit hatinya saat menerimanya, namun dia harus tegar.
Hahaha. Mampus kau! Huh, sekarang aku akan pergi shopping dulu. Bye bye.~Batin Sheila.
__ADS_1
Sheila telah pergi dari sana, sedangkan Karen masih membaca surat yang berada di tangannya.
"Okay. Berani bertaruh? Saya jamin, bukan saya yang keluar dari universitas ini. Namun, Sheila oh dan juga anda. Saya akan membuat anda kehilangan pekerjaan anda," ucap Karen dengan tatapan mengintimidasi.
"Hahaha. Kamu pikir ka.u siapa? Sudahlah, jangan membual. Kemasi barang-barangmu dari sini," ucap pak rektor.
"Sttt. Jangan banyak bicara," ucap Karen.
Karen menelepon Eren yang masih berada di kantornya. Karen hafal betul jika sekarang adalah jam istirahat ayahnya.
"Papa huhu. Pa..." ucap Karen dalam telepon.
"Karen, ada apa nak? Seseorang menindasmu? Kau tidak biasanya menangis. Katakan pada papa, ada apa?" Tanya Eren panik.
"Alen dikeluarkan pa huhu," ucap Karen mengadu.
"Apa? Siapa yang berani melakukannya?!" Pekik Eren.
"Pak Rektor. Tadi, keponakannya mau menjebak Alen di kamar mandi dan mau menyebarkan foto ++Alen hiks hiks."
Karen sangat jago dalam hal ini.
"Baiklah, tunggu papa disana," ucap Eren yang lalu memutuskan teleponnya.
"Rangga, buatkan surat pemecatan untuk rektor sialan itu dan surat pengeluaran keponakannya. Kurang ajar benar mereka," ucap Eren geram.
"Oh ya jangan lupa laporkan saja pada polisi perbuatan mereka. Berani-beraninya mereka membuat masalah dengan Alen kecilku," titah Eren emosi.
Beberapa menit kemudian...
Eren telah tiba di kampus dimana Karen berada. Dia tanpa ragu langsung menuju ke ruang rektor. Hal tersebut tentu saja menarik perhatian orang terutama para guru yang lewat.
"Tuan, ada apa tuan kemari?" Tanya salah seorang dekan disana.
"Saya ingin bertemu dengan rektor," tegas Eren.
"Mari, ikut saya," ucap dekan itu.
Tok tok tok. Dekan tersebut mengetukkan pintu ruangan rektor untuk mewakilinya.
"Siapa?" Tanya pak rektor.
"Ini saya pak, bu Rosemarry," ucap dekan tersebut.
__ADS_1
"Masuk," ucap Pak Rektor.
"Silahkan, tuan. Saya tinggal dulu," ucap bu Rosemarry.
"Thanks," balas Eren singkat.
Saat Eren masuk dan pak rektor melihatnya, pria itu dengan sigap berdiri dan menghampirinya.
"Ehh tuan William. Ada apa tuan kemari?" Tanya Pak Rektor.
Keringatnya telah membasahi tubuhnya. Dia mengerti dengan persis bila Eren akan datang hanya saat situasi penting atau saat terjadi kesalahan.
"Silahkan duduk tuan," ucap pak rektor.
Cihh. Penjilat. Tadi, marah-marah. Pas lihat papa langsung kicep kek kerupuk melempem.~Batin Karen.
"Ga perlu," ucap Eren singkat.
"Ada apa tuan kemari?" Tanya pak rektor.
Eren menggerakkan satu jarinya, mengisyaratkan kepada Rangga untuk memberikan surat yang telah ia buat.
"Apa ini tuan?" Tanya pak rektor.
"Silahkan, bapak buka sendiri," ucap Rangga.
Saat Pak rektor membuka kedua kertas tersebut, dia langsung terduduk di kursi belakangnya.
"A-apa maksudnya ini? Kenapa saya dipecat? Kenapa saya... keponakan saya juga dikeluarkan?" Tanya Pak rektor.
"Pfttt, bodoh! Apakah itu tidak terlalu jelas?" Tanya Karen yang menghampiri Ayahnya.
"Kau tahu dengan jelas jika keponakanmu menjebak putriku di kamar mandi. Kau melihat video lengkapnya, namun malah tidak memberikan keadilan bagi putriku. Kau egois," ucap Eren.
Apa? Sheila mengatakan dia hanyalah seorang gadis miskin yang orang tuanya tidak jelas. Aku memeriksanya pun tidak ada data lebih lanjut darinya. Mengapa dia tiba-tiba adalah seorang anak konglomerat?~Batin Pak Rektor.
"Hari ini, aku ingin mengadakan upacara pelepasan jabatan rektor secara tidak terhormat darinya. Kamu kumpulkan semua mahasiswa yang berada di kampus ini dan sediakan juga secara online,"tegas Eren.
"Baik tuan," balas Rangga.
Rangga melaksanakan perintahnya. Sesuai kesepakatan, Karen memasuki barisan para mahasiswa dan berpura-pura seperti tidak mengenal ayahnya.
Huhu, apakah itu haram bagi seorang ayah untuk memeluk anaknya sendiri? Apakah haram bila aku ingin mengakui anakku di hadapan publik? Mengapa bahkan aku harus berpura-pura tidak mengenalnya?~Batin Eren.
__ADS_1
Hal itu tentu saja menjadi berita terpanas di negeri itu. Upacara berjalan dengan sebagaimana semestinya, sedangkan Sheila masih belum mengetahui hal tersebut.