Karma Peninggalan Mama

Karma Peninggalan Mama
Lamaran


__ADS_3

Eren membelalakkan mata tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.


A-apa? Jadi... jadi, wanita sialan ini... Ha-hamil? Dan itu anak aku?~Batin Lauren.


Dengan susah payah, pria itu menelan ludahnya.


"Jasmine, apa itu benar?" Tanya Lauren memberanikan diri.


"Apa kau yakin itu anakku?" Lanjutnya.


Jasmine menyeka air matanya.


"Kau pikir aku cewek murahan? Jika bukan karena kamu yang memaksa membawaku ke kamar waktu itu, kau pikir aku akan kehilangan mahkotaku?"


Pedih rasanya saat Lauren menanyakan hal tersebut. Hatinya terasa seperti disayat dengan pisau tajam yang bahkan lebih sakit dibandingkan dengan pedang.


Apa dia akan lari dari tanggung jawab?~Batin Jasmine sambil mengelus perutnya.


"LA-U-REN, Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang dikatakan oleh mereka itu benar?" Tanya Eren. Mata pria itu mulai memerah. Emosinya bahkan telah mencapai puncaknya. Kobaran api pun menyala di dalam dirinya. Hanya saja, Eren masih memiliki kemampuan yang hebat dalam pengendalian dirinya.


Sedangkan Lauren hanya terdiam saja tanpa merespon apapun. Tubuhnya mulai gemetar saat mendapatkan tekanan dari Eren yang sungguh mengerikan.


"Jawab Papa, Lauren. JAWAB!" Bentak Eren.


"A-aku bingung harus menjawabnya bagaimana. Ya. Memang benar Olen yang merenggut kesuciannya. Pada malam itu, setelah pertunangan Karen dan Andrew. Aku melakukannya karena terlampau emosi. Aku khilaf,pa. Maafkan aku." Lauren berlutut dihadapan ayahnya.


Bughhh


Eren memukul putranya untuk memberinya pelajaran.


"Maaf? Tidak. Kau harus tanggung jawab kepadanya baru Papa akan memaafkanmu," ucap Eren.


"Kau sudah dewasa, Olen. Kau harus bertanggung jawab dengan apapun yang telah kau lakukan. Papa capek, papa mau istirahat dulu di dalam."


Kekecewaan di hati Eren begitu mendalam kepada Lauren. Namun, dia tak mampu mengungkapkannya pada anaknya. Dia merasa telah gagal menjaga dan mendidik putranya. Dia benar-benar tidak menginginkan kesalahan yang diperbuatnya dulu, kini diulangi kembali oleh kedua anaknya.


...*....*...

__ADS_1


Dua bulan kemudian...


Sesuai kesepakatan, hari ini adalah hari dimana Lauren akan melamar gadis yang telah mengandung benih cintanya.


"Kak, lu keren," puji Karen.


"Btw pucet amat. Gerogi ya? Nih tanya sama pakarnya." Karen mendorong maju Andrew yang berada disebelahnya.


"Tch, apaan sih? Btw, kalian ga kerja?" Tanya Lauren.


"Mana mungkin kami kerja kalau tau kak olen mau lamaran. Arghh akhirnya aku bisa nikah sama sayangku!" Seru Karen.


"Nikah aja pikirannya. Kerjaan lu tuh urusin!" Lauren mengacak-acak rambut Karen.


"Auhhh! Kak Olen!" Pekik Karen.


"Aku udah rapi kek gini malah diberantakin. Aku laporin papa lho," ancamnya.


"Laporin aja ble ble," ucap Lauren sambil menjulurkan lidah kepada adiknya.


Tak berselang lama, Eren pun muncul dengan setelan formal dan kacamata hitamnya.


"Pa, kenapa papa akhir-akhir ini dingin banget sih? Maafin lah kak Olen. Lagipula, dia mau bertanggung jawab kan?" Bujuk Karen.


"Sudah hampir terlambat. Jangan membuat orang lain menunggu." Eren tidak menggubris ucapan dari Karen. Pria itu berlalu menuju mobilnya.


Mereka bertiga saling bertatapan dan Lauren terpaksa menghela nafas kasar. Dia tahu apa yang dilakukannya sungguh keterlaluan. Dia yang baru berusia belum genap 18 tahun itu sudah merusak masa depan seorang gadis yang bahkan berusia lebih tua darinya.


Dalam perjalanan menuju rumah Jasmine, mereka berempat hanya terdiam tanpa kata. Bahkan, Karen yang biasanya ramai saja tak berani membuka suara. Suasana canggung tercipta, gadis cantik itu hanya dapat menggenggam erat tangan Andrew dan pasrah disebelahnya.


Sesekali, Andrew melirik kearah Karen. Dia khawatir gadis itu melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dia lakukan.


"Kau tenang saja,ok? Aku ada disini. Tidak ada hal yang dapat terjadi," ucap Andrew menenangkan.


Karen hanya mengangguk untuk meresponnya.


Sedangkan itu, disisi lain...

__ADS_1


Clarissa dan Wisnu tentu saja tidak akan ketinggalan dalam acara besar yang akan dilaksanakan. Selain Lauren adalah anak dari sahabatnya, Jasmine pun adalah sahabat baik Clarissa.


"Sa, papa tunggu om Eren di depan ya. Kamu tenangin Jasmine dulu. Pasti nanti ada perdebatan dan pecahnya air mata," pesan wisnu.


"Ok pa," ucap Clarissa.


Wisnu menuju ke halaman depan rumah Jasmine yang tak begitu besar. Jika dibandingkan dengan Lauren dan Clarissa, Keluarga Jasmine jauh dari kata kaya versi mereka. Bahkan, kekayaan Jasmine pun tak mampu mencapai ⅛ kekayaan yang dimiliki kedua keluarga besar tersebut.


Suara mobil mewah terdengar di depan rumah Jasmine. Eren dan yang lainnya telah tiba. Mereka semua turun dengan membawa seserahan dan hal lainnya untuk diberikan kepada Jasmine serta keluarganya.


"Wisnu," panggil Eren.


Wisnu menepuk pundak sahabatnya untuk menguatkan.


"Aku mengerti dengan apa yang kau rasakan dan khawatirkan. Jangan takut, ada aku disini. Tidak akan ada hal fatal apapun yang akan terjadi. Masuklah," bisik Wisnu kepada Eren menenangkannya sekaligus mempersilahkan masuk.


Kedua orang tua Jasmine keluar dari kamar mereka dengan setelan rapi milik Wisnu yang dipinjamkannya kepada mereka.


Hufttt... Eren sempat menghela nafas sebelum dirinya membuka ucapannya kali ini.


"Saya, Eren William selaku orang tua dari Lauren William, meminta maaf sebesar-besarnya atas perilaku anak saya kepada anak kalian. Hari ini kami datang untuk melamar putri bapak dan ibu sebagai rasa tanggung jawab dari kami..."


Belum sempat Eren menyelesaikan perkataannya, air mata dari ibu Jasmine telah berderai begitu saja membuat Eren benar-benar tak tega melihatnya. Pria itu pun tak sanggup untuk menyelesaikan kata-katanya.


"Bapak Eren yang terhormat, karena anak anda yang selalu anda bangga-banggakan ini, Jasmine berubah karena dia. Dia jadi pemurung. Anda pikir menjadi mama muda adalah hal yang mudah dan kalian dengan semudah itu mengucapkan maaf? Tidak, tidak. Saya tidak akan mempermudah kalian!" Protes Ayah Jasmine.


Eren telah menduga hal itu akan terjadi. Namun, hal tersebut jauh lebih baik dibandingkan yang dia bayangkan.


"Saya tahu itu dan saya tahu ini adalah kesalahan anak saya. Namun, saya kesini juga untuk bertanggung jawab. Mohon jangan mempersulit niat tulus dan baik kami. Jika ada hal yang kalian inginkan, kami sebisa mungkin akan menurutinya," ucap Eren bernegosiasi.


"Sebagai orang tua, tentu saja kami mengharapkan yang terbaik untuk putri kami satuu-satunya. Untuk keputusan lebih lanjut, biarkan Jasmine yang memilih. Saya tidak ingin memaksanya," jawab Ayah Jasmine.


Pria paruh baya itu memanggil anaknya untuk datang. Dengan didampingi oleh Clarissa, Jasmine pergi menuju ruang tamu rumahnya. Lauren yang sedari tadi menundukkan kepalanya, kini dia dengan berani dan yakin menatap wanita dihadapannya.


"Sayang, mereka telah setuju untuk bertanggung jawab. Bagaimana keputusanmu?" Tanya Ayah Jasmine.


Jasmine menyeka air matanya. Dia mengangguk setuju dengan pinangan Lauren kepadanya.

__ADS_1


"Ya. Aku setuju. Lagipula, aku tidak ingin menjadi egois," jawab Jasmine.


"Tapi, dia saja baru lulus dan kamu saja lulusnya masih lama. Bukankah dia tidak bisa membahagiakanmu? Bagaimana dengan anak kalian?" Tanya ayah Jasmine yang meragukan masa depan mereka.


__ADS_2