
****************
Setelah semua orang dibubarkan, Diana menyempatkan diri untuk menghampiri Naiva dan mengajaknya bicara.
"Naiva. "
"Uh? " Naiva berbalik badan.
"Bisa kita bicara sebentar? "
"Lian, kamu duluan aja. "
"Oke. "
Mereka berbicara di kursi yang ada di halaman sekolah.
"Kamu suka sama kak Danny, kan? " tanya Diana sembari memegang kepalanya.
"Uh! Kok kamu tau?!! " /blush
"Hahahaha. Santai aja, aku gak sebar kok. Pas Lian minta data anak Atletik, rasanya kayak ada yang aneh. Itu cuma tebakan aja kok, ternyata beneran ya. "
"Y-ya.. "
Wajah Naiva memerah.
"๐๐ฏ๐ต๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐จ๐ข๐บ๐ข ๐ฃ๐ช๐ค๐ข๐ณ๐ข ๐๐ช๐ข๐ฏ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ถ๐ฃ๐ข๐ฉ ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ฏ๐ฐ๐ฏ-๐ง๐ฐ๐ณ๐ฎ๐ข๐ญ. " batin Naiva.
"Aku juga suka dia kok. "
!! (ใoใ๏ผ)
"Ma-maksudmu?!! "
"Tapi sekarang aku serahkan padamu, semangat ya. Kak Danny itu orangnya misterius, dia tidak begitu suka bicara dengan orang lain, apalagi perempuan. "
ฮฃ(๏พะ๏พ๏ผ) !
"Tapi jangan khawatir. Aku yakin, kak Danny pasti akan membalasnya. Intinya jangan mau kalah. "
"Uh! Diana.. kamu-. "
Diana memeluk Naiva, tapi Naiva sadar akan air mata Diana yang keluar.
"Ternyata memang sulit move on ya. Aku gak habis pikir kalau ada orang lain yang suka sama kak Danny. " ucap Diana dengan nada terisak, berusaha untuk menahan tangisnya.
Naiva memeluk Diana.
"Iya."
"Kalau semisalnya nanti aku kembali, pastikan kalian sudah berpacaran, ya. "
(ใoใ๏ผ) !!
"I-iya.. " โ(เนยบยบเน)!!
Mereka saling melepas pelukan, Diana menghapus air matanya dengan tissue, lalu mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Itu adalah sebuah liontin.
"Ini punya kak Danny, aku gak yakin dia masih ingat atau tidak. Tapi yang pasti.. liontin ini punya dia.. tolong kasih ke dia, ya. " *senyum
Dengan begitu, Diana akhirnya pergi dari SMA Bintang Harapan. Beberapa hari setelah kepergiannya, posisinya digantikan oleh murid pindahan kelas 1. Meski awalnya mendapatkan kritikan dan respon negatif, tapi Zacky selalu ketua OSIS berhasil meyakinkan orang-orang untuk mempercayainya. Ialah Aurora Sandro, putri dari CEO grup Sandreas di Jepang.
"Kayaknya aneh banget gak sih? " tanya Rena sembari mengerutkan alisnya.
"Apanya? " (*Liana)
"Pasti soal anak OSIS baru itu kan? " (*Reza)
Gang Reza jadi semakin sering berkumpul dengan circle Liana.
"Yuya kok lama? "
"Kenapa tanya dia? "
"Uhuy~ ada yang cemburu. " goda Hendra.
"Jelaslah! Memangnya lo gak cemburu liat pacar lo nanyain cowok lain? "
"Oke gak jadi, maaf. " ucap Lian.
"Sumpah! Kalau mau pacaran, pliss! jangan disini! " ucap Liana dengan nada jijik.
"Orang yang gak pernah pacaran diem aja. " ejek Reza.
__ADS_1
"Reza! Ngomong lagi ku sikat mulutmu! " ancaman dari Liana.
.
.
.
[10 tahun yang lalu]
Pagi hari di sebuah taman bermain, yang tak jauh dari pusat perbelanjaan besar. Diana yang saat itu berusia 7 tahun sedang duduk di taman sembari memakan roti dengan minuman soda di sebelahnya.
Diana sangat lahap memakannya, itu adalah roti kedua yang ia makan. Karena situasi di rumah yang gak stabil membuat Diana tidak punya mood untuk makan di rumahnya. Karena itulah kadang setiap pulang sekolah ia menyempatkan diri untuk makan di luar. Tempat favorit Diana adalah taman, karena baginya segala keceriaan selalu berada di sana.
*Bug!
"Uh! " /berdiri
"Gawat-. Kabur!! "
"HEI ANAK-ANAK B*D*H! SINI KALIAN!! "
Sekelompok anak-anak yang sedang bermain bola tak sengaja melambungkannya ke arah seorang pedagang minuman yang berada dekat dengan Diana. Karena hal itu Diana juga kena imbasnya.
Diana akhirnya bangun dan memutuskan untuk mencari tempat lain.
.
*cling.
/benda bersinar/
Sampai Diana tiba di area yang digunakan bermain oleh anak-anak tadi. Mata Diana terkena sinar yang ternyata beras dari sebuah liontin di dekat kakinya.
.
"Uh? " Diana pun mengambil liontin itu.
"Kembalikan. " ucap seorang anak laki-laki.
"Uh! "
"Kamu tuli? perlu aku minta pake cara kasar? "
"Ma-maaf.. ini.. "
"Jangan ngambil barang yang bukan punya kamu. "
"Liontin itu punya kamu? "
"Uh! Jelaslah! Buktinya aku minta ke kamu! Kamu g*bl*k ya?! " anak laki-laki itu memarahi Diana dengan umpatan kasar.
Jelas itu bukan kata-kata yang anak kecil katakan. Banyak orang-orang di sekitar yang mendengarnya, mereka mulai berbisik-bisik mengenai anak itu.
"Pasti orang tuanya tak mendidik dengan baik. "
"Anak seperti itu biasanya sering dapat kekerasan dari orang tua. "
"Huh.. anak yang malang. "
"Tch. Ambil saja sana! " /melempar Liontin ke wajah Diana.
"Tunggu! Ini-! "
Di liontin itu, terukir inisial huruf "D". Ukirannya begitu indah, sampai Kelas 1 SMP, Diana menyadari kalau nama anak itu adalah Danny Mahesa.
"Kak Danny ganteng tau~ "
"Iya aku tau, dia yang pakai kacamata itu kan? "
"Tapi aku denger dia brokenhome tau. "
"Kasihan banget ya~ "
Pembicaraan tentang Danny Mahesa sangat mudah ditemui. Diana tak sempat berbicara dengan Danny karena halangan yang terus terjadi. Tapi Diana terus menyimpan liontin itu.
Perlahan.. Diana mulai menaruh perasaan pada Danny. Entah kenapa saat Danny lulus rasanya berat bagi Diana untuk melepas kepergiannya. Saat hendak bicara dengan Danny, Diana dihalangi oleh beberapa siswi yang membencinya.
Pada akhirnya, Diana harus menunda perasaannya pada Danny.
.
.
__ADS_1
[umah keluarga Wijaya]
"Jangan pernah percaya dengan laki-laki. "
"Uh! "
"Termasuk ayah, dan juga aku, jika kau lengah pada akhirnya kau hanya akan dimanfaatkan. "
(*bicara lewat telpon)
"Ja-jadi.. aku.. tidak boleh mempercayai kakak? "
"Anggap saja begitu. Jadi jangan hubungi aku lagi, kau harus bisa mencari jati dirimu sendiri, buatlah keputusanmu sendiri. "
"Uh! Kakak-. "
(*telpon terputus)
"๐๐ข๐ญ๐ถ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฏ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฉ๐ถ๐ฃ๐ถ๐ฏ๐จ๐ช ๐ฌ๐ข๐ฌ๐ข๐ฌ. ๐๐ฌ๐ถ ๐ต๐ข๐ฌ๐ถ๐ต.. ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ข๐ฌ๐ถ๐ต ๐ซ๐ช๐ฌ๐ข ๐ฌ๐ข๐ฌ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ข๐ด๐ข ๐ณ๐ช๐ด๐ช๐ฉ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ. ๐๐ฌ๐ถ ๐ณ๐ข๐ด๐ข ๐ฌ๐ข๐ฌ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ. "
.
.
.
Memasuki tahun menengah atas, saat kelas 1 Diana kembali dipertemukan dengan sosok Danny, di SMA favorit yang ia incar sejak SD.
Bertemu dengan orang yang kamu suka di sekolah yang sama denganmu, bukankah itu mimpi semua orang?
Kali ini Diana berusaha sebisa mungkin untuk bisa berbicara dengan Danny. Tapi bak lukisan di pasir yang selalu hilang disapu ombak, usaha Diana tak kunjung berhasil. Diana tak menyerah, ia akhirnya menemukan cara kedua, yaitu bergabung dengan OSIS. Dengan begitu, Diana bisa berbicara tanpa alasan yang jelas.
"๐๐ฐ๐ฅ๐ฐ๐ฉ๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ.. ๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ด๐ช๐ฃ๐ถ๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ช๐ฌ๐ช๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ญ๐ข๐ช๐ฏ ๐ฅ๐ช๐ฃ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ช๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช๐ข? ๐๐ฑ๐ข ๐ฎ๐ถ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ช๐ฏ ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ค๐ฐ๐ค๐ฐ๐ฌ ๐ด๐ฆ๐ซ๐ข๐ฌ ๐ข๐ธ๐ข๐ญ? "
"๐๐ฌ๐ถ ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ฌ๐ข๐ฌ ๐๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต๐ฌ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ซ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฌ. ๐๐ฌ๐ถ ๐ฉ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฃ๐ช๐ค๐ข๐ณ๐ข ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ข๐ด๐ข๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ. "
.
.
.
"Data anggota atletik aku kirim lewat chat ya. "
"Oke, makasih Diana. " ucap Lian dengan senyuman.
Diana terdiam sejenak sembari mencari file di HP nya.
"Oh ya, kenapa kamu tiba-tiba minta data anak atletik? Reza kan ikut basket. "
"Oh, itu ya.. temanku yang minta. "
"Oh.. ๐ต๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ ๐บ๐ข.. "
"๐๐ข๐ข๐ต ๐ช๐ต๐ถ๐ญ๐ข๐ฉ ๐จ๐ข๐ฅ๐ช๐ด ๐ช๐ต๐ถ ๐ฎ๐ถ๐ฏ๐ค๐ถ๐ญ.. ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ณ๐ข๐ด๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ฎ๐ถ๐ฏ๐ฅ๐ถ๐ณ ๐ด๐ข๐ซ๐ข. ๐๐ข๐ช๐ท๐ข ๐ ๐ถ๐ต๐ข ๐๐ช๐ณ๐ท๐ข๐ญ๐ข๐ต๐บ๐ข, ๐ฑ๐ถ๐ต๐ณ๐ช ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ด๐ฆ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐๐๐. ๐๐ฆ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฉ๐ช๐ฅ๐ถ๐ฑ๐ฏ๐บ๐ข ๐ต๐ฆ๐ณ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต ๐ด๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ต ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ฎ๐ถ๐ณ. "
"๐๐ฌ๐ถ.. ๐ฎ๐ถ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ช๐ฏ ๐ข๐ฌ๐ถ.. ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฅ๐ช๐ต๐ข๐ฌ๐ฅ๐ช๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ด๐ข๐ฎ๐ข ๐ฌ๐ข๐ฌ ๐๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ. ๐๐ถ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ช๐ฏ ๐๐ข๐ช๐ท๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ช๐ต๐ข๐ฌ๐ฅ๐ช๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ, ๐ซ๐ช๐ฌ๐ข ๐ช๐ต๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ข ๐ต๐ข๐ฌ ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฑ๐ช๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ฏ ๐ญ๐ข๐ช๐ฏ ๐ญ๐ข๐จ๐ช.. ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ถ๐ฏ๐ฅ๐ถ๐ณ. "
.
.
[Bandara]
"Makasih ya, bi Susi. "
"Nona.. Nona jaga diri ya. Hiks.. hiks.. "
"Iya, aku pasti jaga diri kok. " *senyum
Disaat Diana pergi, hanya bibi Susi yang menemaninya di bandara. Kedua orang tuanya tak hadir, tapi Diana tak mempermasalahkannya.
"๐๐ข๐ฌ๐ข๐ฌ.. ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต ๐ฌ๐ฆ๐ฑ๐ถ๐ต๐ถ๐ด๐ข๐ฏ. ๐๐ฑ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ณ๐ถ๐ต ๐ฌ๐ข๐ฌ๐ข๐ฌ ๐ฌ๐ฆ๐ฑ๐ถ๐ต๐ถ๐ด๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ ๐ช๐ฏ๐ช ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ? " /meneteskan air mata
"Nona.. "
Diana mengusap air matanya dan tersenyum ke arah bibi Susi.
"Aku berangkat ya, bi. "
Senyuman yang ceria datang dari wajah Diana yang biasanya terlihat murung saat di rumah. Hak itu membuat bibi Susi semakin tak rela melepas kepergian Diana, tapi di lain sisi bibi Susi juga tak dapat menyangkalnya.
...****************...
__ADS_1
Quotes :
โHanya karena sudah membantu orang, kau pikir dirimu sudah berbuat baik? " -Erik Kai Wijaya