
Di jam pelajaran pertama, guru meminta Naiva untuk pindah ke bangku dekat jendela karena permintaan temannya. Naiva akhirnya duduk di bangku pojok yang mengarah ke halaman sekolah.
"Oke, buka halaman 56. " ucap guru.
"Kita jadi duduk lebih dekat. " ucap Rena dengan senyuman.
"Iya. " balas Naiva dengan senyuman.
Guru menulis di papan sementara itu Naiva mengeluarkan buku catatannya dan mencatat materi hari ini.
"Oke, ini adalah pelajaran yang akan keluar saat ulangan nanti. Pastikan kalian mempelajarinya dengan baik. "
"Baik, bu! "
Guru pun mulai menjelaskan materi yang ia tulis di papan.
Naiva mulai merasa bosan berada di kelas. Naiva mengarahkan pandangannya ke arah jendela, melihat murid kelas lain sedang olahraga di halaman. Pandangan Naiva tertuju pada murid yang sedang berlari di halaman.
"Uh! "
Naiva terdiam, tatapannya hanya tertuju pada laki-laki itu. Jantung Naiva berdegup kencang, ia mulai merasakan perasaan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya--bahkan saat menonton film sekalipun.
"๐๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ.. ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช ๐ช๐ฏ๐ช ๐ณ๐ข๐ด๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฃ๐ฆ๐ฅ๐ข..! " batin Naiva seolah-olah meyakinkan dirinya sendiri bahwa laki-laki itu satu-satunya!
Naiva berusaha untuk tetap fokus pada pelajaran. Sesekali ia melirik keluar untuk memastikan bahwa laki-laki itu benar adanya, dan benar ada di sana. Naiva mulai tak fokus dengan pelajaran dan hanya memandang keluarga Jendela. Rena yang menyadari hal itu langsung menendang kaki Naiva perlahan.
"Aw-. "
"Shh.. "
"Rena, Naiva? Kenapa itu? " tanya guru.
"Bu-bukan apa-apa, bu. "
"Perhatikan papan! "
"I-iya.. " saut Naiva dengan gugup.
"Jangan bengong makanya. " bisik Rena.
Naiva iseng melihat ke arah jendela, akan tetapi lelaki itu sudah tak ada di halaman.
"Huh.. ๐ค๐ข๐ณ๐ข ๐ฅ๐ช๐ข ๐ฎ๐ช๐ฏ๐ถ๐ฎ ๐ข๐ช๐ณ ๐ถ๐ฏ๐ช๐ฌ. " batin Naiva.
"Sekian pelajaran hari ini, di pertemuan selanjutnya kita buat kelompok. Sekarang 1 kelompok isinya 4 orang. " ucap guru.
"Bu guru, minggu depan itu ada perlombaan.. jadi.. "
"Ibu tau, makanya kalian ibu suruh membuat kelompok. Guru olahraga akan mengurusnya, karena kelas ini isinya orang-orang pemalas semua jadi mau tak mau harus dilakukan pemaksaan. "
"HA?!! "
"Suruh ada kelompoknya Liana, bu! " teriak salah satu siswa.
"Heh! main suruh-suruh aja, gua pukul nangis lo entar! "
"Liana." ucap bu guru dengan nada tegas.
(ใoใ๏ผ) !
"iya bu.. "
"Huh.. tapi Lian sedang sakit, mana mungkin bisa mewakili lomba olahraga besok. " ucap salah satu siswi di kelas.
"Khusus kelas 2 akan ada 4 perlombaan. Lomba lari estafet 2 orang dan bela diri satu orang. Lalu akan ada lomba memanah. "
"Kenapa memanah, bu?! Bukannya ada lomba pidato? " tanya Rena.
__ADS_1
"Entahlah, ini pilihan anak-anak OSIS. "
"OSIS emang brengsek!! "
"Setuju! "
Beberapa murid mulai mengatakan keburukan OSIS saat ini.
Hal ini dikarenakan adanya kecurangan yang dilakukan oleh ketua OSIS terdahulu, yang menyebabkan seluruh anggota OSIS terlibat. Awalnya para guru dan murid sudah mengabaikan masalah itu. Masalah baru muncul ketika ketua OSIS yang baru menjabat, dan kini organisasi itu semakin di benci oleh para murid.
"Tapi ada satu anggota yang baik menurut ku. "
"Oh, iya.. gadis dari kelas 2 - C itu kan? "
"Iya. "
Naiva mendekatkan dirinya dengan Rena.
"Siapa? "
"Anak kelas 2 - C, dia sepupunya Reza. " jelas Rena.
"Reza pacarnya Lian?! "
"Iya. Banyak murid yang suka dia. Menurutku sendiri dia baik kok orangnya, dia juga ramah, meski tidak begitu pintar di kelas tapi dia orang yang genius. "
"Keren.. " (@ใปะดใป@๏ผ!
"Masalahnya ya, dia gak dapet posisi ketua OSIS. "
"Loh? Kenapa gitu? "
"Katanya karena gak di dukung orangtuanya. Kakaknya itu lulusan disini, dulu kakaknya itu katanya berandalan, makanya gak cocok sama Reza. Ya.. intinya keluarga dia itu rumit. " jelas Rena.
"Mungkin karena masalah harta juga. Keluarga Wijaya itu orang kaya semua tau. Sampai-sampai ada yang buat julukan ๐๐ฉ๐ฆ ๐๐ฐ๐ญ๐ฅ ๐๐ช๐ซ๐ข๐บ๐ข. " ucap Liana yang duduk di belakang Naiva.
"Iya, keluarganya itu punya bisnis di berbagai dunia. Mulai dari Eropa, Amerika, di Afrika juga ada. " ucap Rena sembari menghitung menggunakan jarinya.
"๐๐๐๐๐! " ฮฃ(โะดโ)
Naiva jadi penasaran dengan gadis yang diceritakan oleh teman-temannya. Tapi yang membuat Naiva lebih penasaran lagi adalah tentang laki-laki yang ia lihat tadi.
*KRINGG!!
/bel istirahat/
"Hari ini mau beli apa? " tanya Rena.
"Aku beli roti aja deh. " saut Liana.
"Kalau kamu Nav? "
"Hm.. mungkin aku beli nasi paket C aja kali. "
"Paket C kan isinya dikit, yakin mau beli yang itu? "
"Harganya juga lebih mahal tau. " jelas Liana.
"Ya udah gak papa, toh juga pakai uangku. "
"Ya udah.. "
Mereka bertiga berjalan menuju kantin sekolah.
Keluarga Wijaya adalah salah satu keluarga yang memberikan sponsor kepada SMA Bintang Harapan. Disisi lain keluarga ini punya bisnis di bidang jasa dan fashion yang dikelola oleh anggota keluarganya masing-masing. Keluarga Wijaya juga kerap menyumbangkan uang ke panti asuhan dan membantu orang-orang yang kekurangan. Tapi dibalik itu semua, ada persaingan ketat yang dilakukan oleh sesama anggota keluarga.
"Hei! "
__ADS_1
"Apa?! " Saut Liana dengan nada membentak.
"Lian minta catatan hari ini. "
"Oh.. nanti kita kasih ke dia. " ucap Rena.
"Nggak! Aku aja yang kasi, mana catatannya? "
"Kok maksa?! Mau keliatan kayak pahlawan di depan Lian? " ejek Liana.
๐ข
"Mending lo nurut deh, jangan buat orang emosi. "
"Ba~cot. Lo pikir gua takut? Kalau semisalnya gua gak mau ngasih gimana? "
"Gua kakak kelas lo b*ngs*t. " ๐ข
"Dibiarin? " bisik Naiva pada Rena.
"Biarin aja. " saut Rena.
"Gua udah minta baik-baik! "
"Bukunya masih gua pakai sampai pulang! "
*plak! *brug!
"Uh! "
Tak jauh dari tempat mereka duduk, nampak seorang gadis yang tersungkur di lantai. Lalu ada beberapa murid disekelilingnya yang nampak sengaja mentertawakan-nya.
"Apaan nih~ kok OSIS makan disini? " tanya salah satu siswi dengan nada mengejek.
"Pasti kesulitan bergabung dengan anggota OSIS lainnya, memang sih anggota OSIS itu isinya orang-orang gak berperasaan. "
Gadis itu berdiri dengan raut wajah datar seolah-olah tak memperdulikan kata-kata mereka. Naiva melihat gadis itu.
"Amel! " benyak Reza.
"Uh! Rez-. ๐๐ช๐ข๐ญ๐ข๐ฏ ๐ข๐ฅ๐ข ๐๐ฆ๐ป๐ข ๐ญ๐ข๐จ๐ช. "
Amelia citra Lestari, dan juga teman-temannya Olivia Dewi, dan Callysta Yohana. Mereka bertiga adalah bad girl SMA ini.
"Dia Diana, adik sepupunya Reza. " ucap Rena.
Naiva teringat dengan anak OSIS yang pernah Rena katakan.
"๐๐ฌ๐ถ ๐ฑ๐ช๐ฌ๐ช๐ณ ๐ฅ๐ช๐ข ๐ด๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ต ๐ฅ๐ช๐ด๐ถ๐ฌ๐ข๐ช, ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฏ๐บ๐ข๐ต๐ข ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฎ๐ถ๐ณ๐ช๐ฅ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ช๐ฏ๐บ๐ข. "
Mereka tampak sedang membicarakan sesuatu.
"Aku kecewa padamu Reza! " ucap Amel dengan nada kesal.
Mereka bertugas pergi. Sementara itu Diana membungkuk dan pergi meninggalkan Reza.
"Diana Yuki Wijaya, namanya keren. " ucap Naiva.
"Kalau tidak salah ibunya itu orang Jepang asli. Beruntung banget deh~ " ucap Liana.
"Beberapa murid memang benci dengannya, tapi entah kenapa dia seperti bukan manusia. " ucap Rena.
"Iya juga.. tatapannya begitu dingin, dia juga tak banyak bicara. " ucap Naiva sembari mengetuk-ngetuk pipinya dengan telunjuk.
Quotes :
โAKU BENCI DENGAN SI POLOS INI!!โ -Amelia Citra Lestari
__ADS_1