Kasian Bersatu

Kasian Bersatu
#2. SMA Bintang Harapan


__ADS_3

...****************...


Setelah berjam-jam perjalanan, akhirnya Naiva pun sampai di Jakarta.


"Selamat siang, pak Yuda. " ucap salah satu pria yang menyapa mereka.


Pria itu bernama Pak Deddy, asisten ayah Naiva yang kebetulan saat ini tinggal di Indonesia. Pak Deddy sudah menyiapkan rumah milik keluarga Girvalatya.


"Saya sudah mengurus semuanya pak. Termasuk pendaftaran nona di SMA barunya. "


"Bagus, nanti kasi tau aja dia. "


"Ayah udah daftarin aku? " /nada kaget


"Iya. Kamu kan harus tetep sekolah, nak. Besok kamu langsung sekolah, kalau mau pacaran minimal pinter, biar kalau diajak kemana-mana mikir dulu. " sindir ayahnya.


"๐˜“๐˜ˆ๐˜Ž๐˜๐˜ˆ๐˜• ๐˜š๐˜๐˜ˆ๐˜—๐˜ˆ ๐˜ ๐˜ˆ๐˜•๐˜Ž ๐˜”๐˜๐˜•๐˜›๐˜ˆ ๐˜—๐˜ˆ๐˜Š๐˜ˆ๐˜™๐˜ˆ๐˜• ๐˜š๐˜๐˜?!! " ๐Ÿ’ข batin Naiva.


.


.


.


[Rumah keluarga Girvalatya]


Tanpa basa-basi Naiva membawa barang-barangnya ke kamarnya yang ada di lantai dua. Kamar Naiva disini lebih besar dibandingkan di Australia, hal inilah yang membuat Naiva merasa lebih betah lagi tinggal di Indonesia.


"Bu, ibu tau gak, ayah daftarin aku di SMA mana? " tanya Naiva.


"Hm.. kalau gak salah namanya sih Harapan Harapan gitu. "


"SMA Harapan? ๐˜’๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜š๐˜”๐˜ˆ ๐˜Œ๐˜ญ๐˜ช๐˜ต. " batin Naiva sembari menelan ludah.


Naiva merasa kalau sekolahnya kali ini lebih elit dibandingkan dengan di Australia. Naiva tau betapa seramnya bersekolah di sekolah favorit atau mahal.


.


.


Sorenya, Naiva dan ayahnya pergi ke sekolah untuk mengurus seragam Naiva. Mereka pergi dengan menaiki mobil, jarak dari rumah ke sekolah tak begitu jauh, sehingga Naiva tak perlu khawatir terlambat.


.


[SMA Bintang Harapan]


"๐˜Ž๐˜Œ๐˜‹๐˜Œ! ๐˜Ž๐˜๐˜“๐˜ˆ๐˜’! " ฮฃ(โ—ะดโ—) !!


Para murid baru saja pulang, Naiva masuk ke gerbang sekolah dengan perasaan canggung. Maka dari itu Naiva hanya menunduk dan berusaha untuk tak melihat tatapan murid-murid di sana.


.

__ADS_1


.


[Ruang Guru]


"Ini, besok nak Naiva bisa langsung bersekolah. Untuk SPP nya dibayar per-bulan 2.000.000. " ucap seorang guru wanita.


"2 ๐˜‘๐˜œ๐˜›๐˜ˆ?!! ๐˜š๐˜๐˜ˆ๐˜“๐˜ˆ๐˜•!! ๐˜”๐˜Œ๐˜•๐˜‹๐˜๐˜•๐˜Ž ๐˜›๐˜–๐˜— ๐˜œ๐˜— ๐˜Ž๐˜ˆ๐˜”๐˜Œ!! "


"Baik, terimakasih bu. Mohon bimbingan dan kerjasamanya. "


"Baik. "


/jabat tangan/


Naiva tak habis pikir ayahnya akan mendaftarkan-nya ke sekolah--yang bagi Naiva adalah sekolah perampok. Meski Naiva belum tau fasilitas lengkap-nya. Tapi guru tadi bilang kalau akan ada seorang murid yang akan mendampingi Naiva besok di hari pertamanya.


"Kamu jangan buat masalah ya, bisa gawat kalau semisalnya masuk BK. "


"Santai aja, aku kan anak baik-baik~ "


"Iya.. iya.. kamu mau beli sesuatu gak? Mumpung kita di luar. "


"Nggak deh yah, kita pulang aja. "


"Oke deh. "


"๐˜Ž๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฐ๐˜ฅ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ! ๐˜‰๐˜ช๐˜ด๐˜ข-๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜š๐˜—๐˜— 2 ๐˜‘๐˜ถ๐˜ต๐˜ข, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ฐ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฐ๐˜ฑ ๐˜ถ๐˜ฑ-๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ฅ! " /jengkel


"Gimana? udah liat sekolahnya? " tanya ibu.


"Udah kok. " saut Naiva sembari mengambil susu di kulkas.


"Gimana menurut kamu? "


"Bu, itu sekolah pe-ram-pok! " tegas Naiva sembari menunjuk kearah pintu keluar.


"Ha? "


"Kalau SPP nya aja sampai 2 jutaan, berarti itu sekolah anak kaya-raya kan?! Ibu tau gimana tuan putri kayak mereka ada, aku gak yakin bisa betah di sana. " oceh Naiva.


"Hei~ gak ada salahnya nyoba sayang~ "


"Lagian kenapa sih gak omongin dulu sama aku?! Kebiasaan deh, ayah sama ibu selalu aja ngelakuin apapun sesuai keinginan kalian! Aku gak suka, ngerti? "


"Huh.. iya deh.. iya.. "


Naiva menaruh gelas di wastafel dan pergi menaiki tangga dengan perasaan jengkel dan kesal.


"Yaampun anak itu.. " ucap sang ibu dengan ada pasrah.


Naiva mengunci pintu dan berbaring di kasurnya.

__ADS_1


"๐˜’๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช.. " batin Naiva.


Naiva membuka laptopnya dan mencari di internet tentang SMA yang dipilih oleh ayahnya.


>๐š‚๐™ผ๐™ฐ ๐™ฑ๐š’๐š—๐š๐šŠ๐š—๐š ๐™ท๐šŠ๐š›๐šŠ๐š™๐šŠ๐š—, ๐š‚๐™ผ๐™ฐ ๐š™๐š’๐š•๐š’๐š‘๐šŠ๐š— ๐š™๐šŠ๐š›๐šŠ ๐šŠ๐š”๐š๐š˜๐š› ๐š๐šŠ๐š— ๐šŠ๐š๐š•๐šŽ๐š ๐š๐šŽ๐š›๐š”๐šŽ๐š—๐šŠ๐š•.


> ๐š‚๐™ผ๐™ฐ ๐š’๐š—๐š’ ๐š–๐šŽ๐š›๐šž๐š™๐šŠ๐š”๐šŠ๐š— ๐šœ๐šŠ๐š•๐šŠ๐š‘ ๐šœ๐šŠ๐š๐šž ๐š‚๐™ผ๐™ฐ ๐š๐šŽ๐š›๐š‹๐šŠ๐š’๐š” ๐š๐šŽ๐š—๐š๐šŠ๐š— ๐š—๐š’๐š•๐šŠ๐š’ 98 .


> ๐™ผ๐šž๐š›๐š’๐š ๐š‚๐™ผ๐™ฐ ๐™ฑ๐š’๐š—๐š๐šŠ๐š—๐š ๐™ท๐šŠ๐š›๐šŠ๐š™๐šŠ๐š— ๐š”๐šŽ๐š–๐š‹๐šŠ๐š•๐š’ ๐š–๐šŽ๐š–๐šŽ๐š—๐šŠ๐š—๐š๐š”๐šŠ๐š— ๐š™๐šŽ๐š—๐š๐š‘๐šŠ๐š›๐š๐šŠ๐šŠ๐š— ๐š•๐š˜๐š–๐š‹๐šŠ ๐š๐šŽ๐š‹๐šŠ๐š ๐š๐šŠ๐š— ๐š‹๐šŽ๐š›๐š™๐šž๐š’๐šœ๐š’.


> ๐™น๐šž๐šŠ๐š›๐šŠ ๐šž๐š๐šŠ๐š–๐šŠ ๐š๐š’๐š–๐šŽ๐š—๐šŠ๐š—๐š๐š”๐šŠ๐š— ๐š˜๐š•๐šŽ๐š‘ ๐šœ๐š’๐šœ๐š ๐š’ ๐š‚๐™ผ๐™ฐ ๐™ฑ๐š’๐š—๐š๐šŠ๐š—๐š ๐™ท๐šŠ๐š›๐šŠ๐š™๐šŠ๐š—.


/berita/


"๐˜š๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜ณ ๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข.. ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ด๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ญ-๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช. ๐˜๐˜ถ๐˜ฉ.. ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜บ๐˜ข ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ต๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ? ๐˜‰๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ-๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข. " ๐Ÿ’ข


Entah kenapa pikiran Naiva selalu terbayang dengan betapa buruknya anak-anak di SMa itu.


Selama di Australia, Naiva juga bersekolah di sekolah yang bisa dibilang sekolah elit. Naiva mendapatkan perlakuan buruk dari beberapa teman perempuannya. Tapi itu tak membuat Naiva berkecil hati. Naiva bukan gadis yang pendiam, yang mudah tunduk dengan orang lain.


*tok *tok *tok


/ketukan pintu/


"Naiva? " ibu masuk dengan membawakan biskuit ke kamar Naiva.


Dengan sigap Naiva langsung menutup laptopnya dan berdiri menghampiri ibunya di depan pintu.


"Kenapa bu? "


"Huh.. ibu udah pikirin. Kalau semisalnya kamu gak betah seminggu ada di sana, ibu ama ayah janji bakal mindahin kamu ke sekolah lain. Sesuai, dengan keinginan kamu. " ucap ibu.


"Bener ni? Yakin gak paksa-paksa kau lagi? "


"Iya sayang. Karena gimanapun, kamu harus di kedepankan. "


"Oke, aku setuju. " ucap Naiva dengan tersenyum


Akhirnya, Naiva mencoba untuk merasakan sensasi sekolah barunya. Esoknya, ia pergi ke sekolah dengan diantar oleh Pak Deddy menggunakan mobil. Sementara itu ayahnya sudah berangkat duluan dengan menaiki taxi.


"Bagaimana perasaan nona di hari pertama Nona? " tanya Pak Deddy.


"Hm? Oh, ya.. biasa aja. " ucap Naiva dengan ragu.


"Oh.. " balas Pak Deddy sambil tersenyum.


"๐˜š๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜จ๐˜ข ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ต. " batin Naiva.


...****************...


Quotes :

__ADS_1


โ€œMenghargai setiap perasaan dimulai dari bagaimana caramu menanggapi respon negatif yang diberikanโ€ -Pak Deddy


__ADS_2