
...****************...
Setelah berjam-jam perjalanan, akhirnya Naiva pun sampai di Jakarta.
"Selamat siang, pak Yuda. " ucap salah satu pria yang menyapa mereka.
Pria itu bernama Pak Deddy, asisten ayah Naiva yang kebetulan saat ini tinggal di Indonesia. Pak Deddy sudah menyiapkan rumah milik keluarga Girvalatya.
"Saya sudah mengurus semuanya pak. Termasuk pendaftaran nona di SMA barunya. "
"Bagus, nanti kasi tau aja dia. "
"Ayah udah daftarin aku? " /nada kaget
"Iya. Kamu kan harus tetep sekolah, nak. Besok kamu langsung sekolah, kalau mau pacaran minimal pinter, biar kalau diajak kemana-mana mikir dulu. " sindir ayahnya.
"๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐?!! " ๐ข batin Naiva.
.
.
.
[Rumah keluarga Girvalatya]
Tanpa basa-basi Naiva membawa barang-barangnya ke kamarnya yang ada di lantai dua. Kamar Naiva disini lebih besar dibandingkan di Australia, hal inilah yang membuat Naiva merasa lebih betah lagi tinggal di Indonesia.
"Bu, ibu tau gak, ayah daftarin aku di SMA mana? " tanya Naiva.
"Hm.. kalau gak salah namanya sih Harapan Harapan gitu. "
"SMA Harapan? ๐๐ข๐บ๐ข๐ฌ ๐๐๐ ๐๐ญ๐ช๐ต. " batin Naiva sembari menelan ludah.
Naiva merasa kalau sekolahnya kali ini lebih elit dibandingkan dengan di Australia. Naiva tau betapa seramnya bersekolah di sekolah favorit atau mahal.
.
.
Sorenya, Naiva dan ayahnya pergi ke sekolah untuk mengurus seragam Naiva. Mereka pergi dengan menaiki mobil, jarak dari rumah ke sekolah tak begitu jauh, sehingga Naiva tak perlu khawatir terlambat.
.
[SMA Bintang Harapan]
"๐๐๐๐! ๐๐๐๐๐! " ฮฃ(โะดโ) !!
Para murid baru saja pulang, Naiva masuk ke gerbang sekolah dengan perasaan canggung. Maka dari itu Naiva hanya menunduk dan berusaha untuk tak melihat tatapan murid-murid di sana.
.
__ADS_1
.
[Ruang Guru]
"Ini, besok nak Naiva bisa langsung bersekolah. Untuk SPP nya dibayar per-bulan 2.000.000. " ucap seorang guru wanita.
"2 ๐๐๐๐?!! ๐๐๐๐๐๐!! ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐ ๐๐๐๐!! "
"Baik, terimakasih bu. Mohon bimbingan dan kerjasamanya. "
"Baik. "
/jabat tangan/
Naiva tak habis pikir ayahnya akan mendaftarkan-nya ke sekolah--yang bagi Naiva adalah sekolah perampok. Meski Naiva belum tau fasilitas lengkap-nya. Tapi guru tadi bilang kalau akan ada seorang murid yang akan mendampingi Naiva besok di hari pertamanya.
"Kamu jangan buat masalah ya, bisa gawat kalau semisalnya masuk BK. "
"Santai aja, aku kan anak baik-baik~ "
"Iya.. iya.. kamu mau beli sesuatu gak? Mumpung kita di luar. "
"Nggak deh yah, kita pulang aja. "
"Oke deh. "
"๐๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ฐ๐ฐ๐ฅ ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ! ๐๐ช๐ด๐ข-๐ฃ๐ช๐ด๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐๐๐ 2 ๐๐ถ๐ต๐ข, ๐ฌ๐ข๐ญ๐ฐ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฎ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ช๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ต๐ฐ๐ฑ ๐ถ๐ฑ-๐ช๐ฏ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฅ๐ช๐ข๐ฎ๐ฐ๐ฏ๐ฅ! " /jengkel
"Gimana? udah liat sekolahnya? " tanya ibu.
"Udah kok. " saut Naiva sembari mengambil susu di kulkas.
"Gimana menurut kamu? "
"Bu, itu sekolah pe-ram-pok! " tegas Naiva sembari menunjuk kearah pintu keluar.
"Ha? "
"Kalau SPP nya aja sampai 2 jutaan, berarti itu sekolah anak kaya-raya kan?! Ibu tau gimana tuan putri kayak mereka ada, aku gak yakin bisa betah di sana. " oceh Naiva.
"Hei~ gak ada salahnya nyoba sayang~ "
"Lagian kenapa sih gak omongin dulu sama aku?! Kebiasaan deh, ayah sama ibu selalu aja ngelakuin apapun sesuai keinginan kalian! Aku gak suka, ngerti? "
"Huh.. iya deh.. iya.. "
Naiva menaruh gelas di wastafel dan pergi menaiki tangga dengan perasaan jengkel dan kesal.
"Yaampun anak itu.. " ucap sang ibu dengan ada pasrah.
Naiva mengunci pintu dan berbaring di kasurnya.
__ADS_1
"๐๐ข๐บ๐ข๐ฌ๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฌ๐ฆ๐ต๐ฆ๐ณ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ฆ๐ฉ ๐ต๐ข๐ฅ๐ช.. " batin Naiva.
Naiva membuka laptopnya dan mencari di internet tentang SMA yang dipilih oleh ayahnya.
>๐๐ผ๐ฐ ๐ฑ๐๐๐๐๐๐ ๐ท๐๐๐๐๐๐, ๐๐ผ๐ฐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐.
> ๐๐ผ๐ฐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐ผ๐ฐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ 98 .
> ๐ผ๐๐๐๐ ๐๐ผ๐ฐ ๐ฑ๐๐๐๐๐๐ ๐ท๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐.
> ๐น๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐ ๐๐ผ๐ฐ ๐ฑ๐๐๐๐๐๐ ๐ท๐๐๐๐๐๐.
/berita/
"๐๐ฆ๐ฃ๐ข๐จ๐ช๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ด๐ข๐ณ ๐ด๐ช๐ฉ ๐ฃ๐ข๐จ๐ถ๐ด ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ข.. ๐ฆ๐ฌ๐ด๐ฌ๐ถ๐ญ-๐ฏ๐บ๐ข ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ฃ๐ข๐ฏ๐บ๐ข๐ฌ ๐ฅ๐ช๐ด๐ช๐ฏ๐ช. ๐๐ถ๐ฉ.. ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐บ๐ข ๐จ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ถ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ช๐ฏ ๐ฅ๐ช๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ฑ๐ณ๐ฆ๐ด๐ต๐ข๐ด๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐ซ๐ข ๐ฌ๐ข๐ฏ? ๐๐ช๐ด๐ข ๐ข๐ซ๐ข ๐ข๐ฏ๐ข๐ฌ-๐ข๐ฏ๐ข๐ฌ ๐ฅ๐ช ๐ด๐ข๐ฏ๐ข ๐ฏ๐จ๐ข๐ซ๐ข๐ฌ ๐ณ๐ช๐ฃ๐ถ๐ต ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ข. " ๐ข
Entah kenapa pikiran Naiva selalu terbayang dengan betapa buruknya anak-anak di SMa itu.
Selama di Australia, Naiva juga bersekolah di sekolah yang bisa dibilang sekolah elit. Naiva mendapatkan perlakuan buruk dari beberapa teman perempuannya. Tapi itu tak membuat Naiva berkecil hati. Naiva bukan gadis yang pendiam, yang mudah tunduk dengan orang lain.
*tok *tok *tok
/ketukan pintu/
"Naiva? " ibu masuk dengan membawakan biskuit ke kamar Naiva.
Dengan sigap Naiva langsung menutup laptopnya dan berdiri menghampiri ibunya di depan pintu.
"Kenapa bu? "
"Huh.. ibu udah pikirin. Kalau semisalnya kamu gak betah seminggu ada di sana, ibu ama ayah janji bakal mindahin kamu ke sekolah lain. Sesuai, dengan keinginan kamu. " ucap ibu.
"Bener ni? Yakin gak paksa-paksa kau lagi? "
"Iya sayang. Karena gimanapun, kamu harus di kedepankan. "
"Oke, aku setuju. " ucap Naiva dengan tersenyum
Akhirnya, Naiva mencoba untuk merasakan sensasi sekolah barunya. Esoknya, ia pergi ke sekolah dengan diantar oleh Pak Deddy menggunakan mobil. Sementara itu ayahnya sudah berangkat duluan dengan menaiki taxi.
"Bagaimana perasaan nona di hari pertama Nona? " tanya Pak Deddy.
"Hm? Oh, ya.. biasa aja. " ucap Naiva dengan ragu.
"Oh.. " balas Pak Deddy sambil tersenyum.
"๐๐ฆ๐ฎ๐ฐ๐จ๐ข ๐จ๐ข๐ฌ ๐ข๐ฅ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ค๐ข๐ณ๐ช ๐ณ๐ช๐ฃ๐ถ๐ต. " batin Naiva.
...****************...
Quotes :
__ADS_1
โMenghargai setiap perasaan dimulai dari bagaimana caramu menanggapi respon negatif yang diberikanโ -Pak Deddy