
...****************...
Hanya dengan sedikit kata-kata manis dan rayuan, para gadis akan mulai mendekati Reza. Ciri khas dari keluarga Wijaya sendiri ada pada potensi setiap anak.
Reza adalah cucu dari kepala keluarga saat ini, ayahnya adalah anak kedua dari kakeknya. Bagi orang-orang keluarga Wijaya adalah keluarga yang makmur dan damai hanya karena dilimpahi oleh kekayaan.
Bagi Reza sendiri keluarga itu tak lebih seperti keluarga b*d*h.
Esoknya, adalah hari Sabtu, dimana pada murid akan libur. Lian diajak keluar oleh Reza untuk sekedar berkeliling. Reza tidak mengizinkan Lian untuk pulang ke rumahnya, karena Reza tau apa yang akan dilakukan oleh papanya Lian pada Lian. Hal itu juga mengingatkan Reza pada sepupunya, dan itu sangat janggal di pikiran Reza.
"Kau tau bagaimana Diana bukan? Papa dan mamanya mengacuhkannya. Jujur aja sebenernya mereka gak berniat punya anak cewek. " ucap Reza.
Reza mengendarai motor dengan Lian yang duduk dibelakangnya. Reza juga menjelaskan kalau kedua orang tuanya dulu begitu saat pertama kali Lian datang ke rumah, tapi ia berhasil meyakinkan kedua orang tuanya. Reza yang pemberontak bisa dengan mudah mengatakan ini-itu tanpa harus berkata banyak di depan kedua orang tuanya.
Mereka mampir ke salah satu restoran untuk makan siang.
"Sekarang ditambah kakaknya pergi, rasanya keluarganya makin hancur. "
"Soal proyek pembangunan keluarga Wijaya, bagaimana? "
"Oh.. itu dibatalkan. Aku yakin ini ulah Erik si*l*n itu. "
Erik Kai Wijaya, kakak dari Diana. Saat putus sekolah ia tak pernah pulang lagu ke rumah. Di sela-sela kebencian kedua orang tuanya pada adiknya, Erik justru pergi meninggalkan keluarganya.
Ayahnya adalah anak pertama, karena itulah sebuah harapan besar pada Erik untuk menjadi penerus keluarga. Faktor lainnya adalah karena ketidakcocokan Erik dengan ibu tirinya, sama seperti Reza yang pemberontak, hanya saja Erik lebih ganas. Ia tak segan-segan bertengkar di manapun, tanpa memikirkan perasaan orang yang ia ajak berdebat.
Kemudian hal yang terjadi justru lebih buruk lagi. Diana yang sebelumnya tak dapat perhatian dari kedua orang tuanya, kini semakin dicampakkan oleh urusan bisnis. Belum lagi tentang rumor yang disebar oleh Amel dan gengnya. Meski begitu Diana bukan orang yang suka membalas dendam, "Ini hanya sekedar candaan" begitu pikir Diana.
"Trus kamu pernah dapet chat dari Erik? "
"Enggak, malah gak pernah sama sekali. Gila tu anak, dia gak mikir apa sama adiknya sendiri. "
"Apa Erik dan Diana punya masalah? "
"Mana mungkin, Diana saja jarang bicara dengan keluarganya. Apalagi Erik, tapi Erik dulu peduli sama Diana. " jelas Reza.
"Kalau Erik memang peduli, dia pasti bakal pulang, kan? " ucap Lian dengan nada ragu sembari memalingkan wajahnya.
"Mungkin. "
Disisi lain, di rumah keluarga Wijaya, tepatnya di rumah Diana. Kedua orang tuanya bertengkar karena sangat ayah yang ketahuan selingkuh dengan wanita di klub malam.
"DASAR B*J*NG*N! KAU KIRA KAU HEBAT?!! KAU PIKIR WANITA ITU BISA MENGIMBANGIKU?!! " bentak seorang wanita yang masih menggunakan pakaian kantor.
"Setidaknya dia lebih baik dibandingkan dirimu! "
Tiga orang yang berada di ruang tamu, Pak Handi, bu Ratna, dan wanita simpanan pak Handi, bu Kinal. Sekitar 3 orang pelayan berusaha melerai mereka, disisi lain, Diana hanya lewat seolah-olah hal itu tak pernah terjadi.
"๐๐ข๐ญ๐ข๐ถ ๐ฅ๐ช๐ช๐ฏ๐จ๐ข๐ต ๐ญ๐ข๐จ๐ช, ๐ข๐บ๐ข๐ฉ ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ด๐ฆ๐ณ๐ช๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฌ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข. ๐๐ฃ๐ถ ๐ต๐ช๐ณ๐ช๐ฌ๐ถ ๐ด๐ข๐ข๐ต ๐ช๐ฏ๐ช ๐ฅ๐ถ๐ญ๐ถ๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ด๐ฆ๐ญ๐ช๐ฏ๐จ๐ฌ๐ถ๐ฉ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ข๐ฎ๐ข. ๐๐ฏ๐ฆ๐ฉ, ๐ช๐ฏ๐ช ๐ฅ๐ฆ๐ซ๐ข๐ท๐ถ. ๐๐ถ๐ข๐ด๐ข๐ฏ๐ข ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ-๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ถ๐ด๐ข๐ฉ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ฆ๐ณ๐ข๐ช-๐ฏ๐บ๐ข, ๐ช๐ฏ๐ช ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ข ๐ฅ๐ฆ๐ซ๐ข๐ท๐ถ. "
Diana menaiki tangga dan pergi ke kamarnya. Melewati kerumunan pertengkaran, di rumah sebesar itu dengar suara bentakan dan teriakan, rasanya berada dalam gua yang bergema.
"HEI ANAK P*L*C*R! APA KAU TAK PUNYA SOPAN SANTUN?! Ayahmu membuat masalah disini, kau tau?!! "
__ADS_1
"๐๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ๐ฏ๐บ๐ข.. ๐ด๐ช๐ข๐ฑ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฑ*๐ญ*๐ค*๐ณ? "
Diana mengabaikan suara yang memanggilnya, berusaha untuk melupakan suara itu, membuangnya sejauh yang ia bisa.
Sampai tiga hari kemudian, surat cerai resmi dikeluarkan.
Di hari Selasa, di tengah hujan, ibu tirinya pergi dan digantikan oleh seorang wanita dari klub malam. Dia jauh lebih buruk daripada ibu tiri sebelumnya. Entah kenapa semua masalah selalu diadukan pada ayahnya, entah itu memang kesalahan dirinya sendiri atau kesalahan Diana, atau itu kesalahan yang disengaja atau tidak. Karena terpaut usia 15 tahun, sifatnya seperti anak-anak.
*Plak!
/tamparan/
"Pergi ke kamarmu! Kau tak boleh pergi dari rumah ini!! " bentak sang ayah.
Diana memegang pipinya yang merah.
"๐๐ฆ๐ฃ๐ช๐ฉ ๐ฌ๐ฆ๐ณ๐ข๐ด ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ฃ๐ช๐ข๐ด๐ข๐ฏ๐บ๐ข.. " batin Naiva.
"APA KAU TULI?!! APA SEKARANG PUTRIKU SUDAH BERANI MELAWAN?!! "
"Papa, biasanya seorang ayah tak akan menampar putrinya. Hanya orang tua yang sudah terbawa nafsu yang berani melakukan itu. " ucap Diana dengan nada lembut dan polos.
Tapi bukannya sadar, ayahnya justru memukul pipi Diana yang membuat darah keluar dari mulutnya.
"Jangan sok menasehati! "
"Sayang~ sudah, mungkin ini memang salahku. " ucap wanita itu dengan nada menggoda.
Diana hanya diam. Mungkin memang benar ia takut, tapi..
"HEI! "
"Papa, papa belum membayar SPP-ku selama 2 bulan. Harus ku taruh dimana mukaku sebagai OSIS? "
"Ha?! "
"Tapi paman sudah membayarnya, aku juga sudah bekerja paruh waktu untuk mengganti uang paman. Papa sudah tidak perlu khawatir lagi, aku akan mengurus diriku sendiri. "
"Uh! "
Diana meraih tangan ayahnya, mendekatkannya ke dahi.
"Permisi.. " ucap Diana yang kemudian pergi melewati ayah dan ibu barunya.
.
.
.
[3 tahun yang lalu]
Di sekolah, saat Diana menduduki kelas 2 SMP.
__ADS_1
"Kamu tau Diana kan? Kalau gak salah dia dari keluarga kaya raya. "
"Ohh, iya. Kenapa? "
"Kayaknya dia gak keliatan kayak orang kaya. Cara dia ngomong juga biasa saja. "
"Iya sih. Aku pernah dibayarin makan sama dia. "
"Kok bisa? "
"Waktu itu uangku ketinggalan di kelas, terus dia yang bayar makananku di kantin. Pas mau dibalikin dia nolak, katanya gak papa. "
"Bagus dong. "
"Dia beneran baik ya. Tapi kenapa malah banyak musuh sih? "
"Kayak gak tau cewek di sekolah kita aja. Kalau cemburu ya jalan satu-satunya nge-bully. "
"Aneh ya~ "
Beberapa siswa nampak membicarakan Diana di toilet sekolah.
Diana saat itu sedang berada di perpustakaan, duduk di pojokan sembari membaca buku Novel tentang keluarga.
"Diana? "
"Ng? "
Salah seorang guru wanita menghampiri Diana, ia adalah guru yang menjaga perpustakaan, Bu Dian.
"Kamu belum mau pulang? "
"Saya mau diam disini dulu.. apa boleh? "
"Boleh kok, ibu ada disini sampai jam setengah empat. "
"Terimakasih, bu guru.. "
Bu Dian adalah guru konseling sekaligus penjaga perpustakaan. Bu Dian adalah guru yang paling mengerti Diana. Semuanya berawal dari nama mereka yang lumayan mirip, lalu bu Dian mulai perhatian dengan Diana, Diana juga merasa nyaman dengan bu Dian di sisinya. Entah kenapa Bu Dian mengingatkan Diana dengan ibunya, Yamaguchi Ayumi.
Tapi setiap orang yang Diana rasa nyaman, selalu pergi begitu saja. Bu Dian menjadi korban pelecehan seksual yang dilakukan oleh guru olahraga di sekolah. Karena hal itu bu Dian terpaksa pindah ke Kalimantan, tempat asalnya. Lalu Diana, kembali sendiri, seorang diri di sekolah itu.
Karena tak ada yang mau berteman dengannya, beberapa orang-orang menyalah-artikan kebaikan Diana.
"Caper! "
"Sok baik. "
Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang iri dengan prestasi Diana, atau dengan laki-laki yang banyak mengincar Diana. Diana dianggap terlalu cari perhatian karena membantu banyak laki-laki. Padahal mereka tak melihat sisi lain dari tindakan Diana.
...****************...
Qoutes :
__ADS_1
โPerasaan dan sifat orang berbeda-beda, karena itulah cara membantunya-pun berbedaโ -Diana Yuki Wijaya