Kasian Bersatu

Kasian Bersatu
#11. Perasaan Naiva


__ADS_3

...****************...


Malam yang gelap dengan hujan deras yang jatuh, di rumah keluarga Girvalatya, Naiva sedang duduk di meja belajarnya--di kamar. Naiva memandangi liontin yang Diana berikan padanya. Dalam diri Naiva terbenang perjuangan Diana mendekati Danny.


"Dia pasti orang yang sabar. " gumam Naiva.


.


.


.


Naiva turun ke bawah untuk mengambil segelas susu di dapur. Ia melewati ruang kerja ayahnya, di sana ada pak Deddy dan ayahnya yang tampak sedang kebingungan dalam mengurus keluarga Wijaya. Ya.. masalah bisnis antara keluarga Wijaya dengan keluarga Girvalatya memang tak bisa dianggap remeh. Karena ayah Naiva, yaitu pak Yuda sudah mengeluarkan banyak uang dalam bisnis ini.


Naiva memutuskan untuk pura-pura tak mengetahuinya. Karena.. bisa apa seorang gadis SMA? Belajar bisnis saja tidak pernah.


Setelah mengambil segelas susu dari kulkas, Naiva kembali ke kamarnya, dengan melewati ruang kerja ayahnya. Tapi kali ini ibunya juga berada di sana, tampak ibunya sedang berusaha menenangkan ayahnya. Saat itulah Naiva berfikir, kalau keluarga Wijaya memang keterlaluan!


"๐˜—๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ด ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜™๐˜ฆ๐˜ป๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต ๐˜ข๐˜ค๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ข๐˜ณ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. ๐˜‹๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜‹๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ˆ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข, ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜š๐˜”๐˜ˆ ๐˜‰๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. " batin Naiva sembari menaiki tangga.


.


.


Sanjaya Wijaya, kepala keluarga Wijaya saat ini. Ia memimpin sejumlah perusahaan besar di berbagai wilayah. Memang gak dapat dipungkiri kekayaannya seberapa, dan juga betapa sibuknya dirinya.


Tapi dibalik itu semua, ia adalah pria tak berperasaan. Ia beranggapan tentang tugas seorang wanita, dan juga dengan tega menyingkirkan anggota keluarga yang menurutnya beban di keluarga Wijaya. Ia memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, Handi Wijaya yang merupakan ayah Erik dan Diana, anak keduanya Sean Tohir Wijaya yang adalah ayah Reza, lalu putra ketiganya, Ardian Wijaya, putra yang ia buang dari keluarganya karena menentang perintahnya. Selain itu ia juga beranggapan kalau putra bungsunya tak akan mampu menjadi pewaris karena tak punya bakat apapun dalam berbisnis.


Semua orang tau kalau ayah Naiva adalah CEO yang jenius, baginya melahirkan satu anak bukan masalah. Berbeda dengan pandangan keluarga Wijaya yang menganggap kalau ayah Naiva tak mengerti apapun tentang karir.


.


.


(*sebelumnya..)


Beberapa tahun yang lalu, pak Yuda bertemu dengan Pak Jaya di sebuah hotel di Australia. Mereka membicarakan bisnis besar yang menghabiskan miliaran rupiah.


"Sulit jika Anda tak memiliki anak laki-laki. Apa kelak Anda ingin memberikan kekayaan Anda pada orang lain? " tanya pak Jaya.


"Naiva punya bakat dalam bidang bisnis, saya yakin kelak ialah yang akan mengurus perusahaan kami. Tapi jika semisalnya Naiva tak tertarik, tak menutup kemungkinan kalau pasangannya kelak tidak bisa mengurus perusahaan kami. " jelas pak Yuda.


"Apa yang membuat anda yakin akan hal itu? Bagaimana kalau semisalnya pria yang Anda percaya justru mengkhianatimu Anda? "


"Tenang saja, hal yang Anda khawatirkan tidak akan terjadi. Karena bagaimanapun, manusia hanya berpihak pada yang kuat. "


"Hm? Maksud Anda? " Pak Jaya menaikan alisnya.


Pak Yuda meminum kopi yang disuguhkan, lalu melanjutkan pembicaraan.


"Saya ingin proyek ini akan jadi proyek terbesar id Indonesia, sehingga kelak baik keluarga Wijaya maupun Girvalatya akan terkenang. "


Sayangnya, tawaran mulia yang disepakati kini dicampakkan begitu saja oleh keluarga Wijaya.


Naiva menceritakan hal ini pada Lian, kemudian Lian yang kasihan pada keluarga Naiva akhirnya menceritakannya pada Reza.


....


(*kamar Reza)


"Reza."


"Apa? " /meminum bir


"Keluarga Wijaya belum meneruskan proyeknya? "


"Uh! Ha? maksud kamu? "


"Uh. Kamu.. udah omongin hal ini sama keluarga kamu? "


"Ck. Pak tua itu, sudah bau tanah masih saja egois. "


Reza beranjak dari kasurnya dengan perasaan kesal. Lian yang tau kekesalan Reza segera menghentikannya sebelum menjadi bencana.


"Tunggu Reza, jangan sekarang. "

__ADS_1


"Apanya? Kamu tau gimana pak tua itu kan? "


"Tapi masih bisa diomongin baik-baik kok. Ini udah malem, ya? Jangan marah. "


"Ck. Kamu yang mulai kamu yang ngelarang. " ucap Reza sembari berjalan menuju kasur.


Reza berbaring di kasurnya dan menghidupkan televisi.


"Maaf.. besok aku masakin bekal deh. "


"Iya.. iya.. " /mencubit pipi Lian.


Reza mencoba menggoda Lian yang pipinya sudah menggembung karena merasa bersalah.


"Oh ya aku belum mengerjakan PR. " ucap Reza yang sudah terbaring mengantuk di kasur.


"Mau aku buatkan? "


"Tidak, besok saja di sekolah. "


"Yakin? Besok hari rabu, kamu kan piket. "


"Santai~ aku bisa atasi kok. "


"Yaudah.. kalau gitu selamat tidur. "


"Iya. "


Lian mematikan lampu dan tidur di samping Reza.


.


.


Di rumah keluarga Girvalatya, ibu Naiva masuk ke kamar Naiva dan melihat putrinya yang masih terjaga.


"Sayang? belum tidur? "


"Ibu..? "


"Bukan apa-apa sih.. cuma aku belum ngantuk aja. "


"Tidur sana, ngantuk gak ngantuk kamu harus tidur. Nanti bisa gawat kalau kamu telat. "


"Iya sih.. "


"Eh, btw gimana PDKT-nya? " goda Sang ibu.


"Ibu..! Sabar dikit dong! "


"Iya.. iya.. buruan dong, nanti keburu diambil orang lain. "


ฮฃ(โ—ะดโ—)


"Yaudah kamu tidur ya, good night honey~ "


Ibu Naiva pun akhirnya keluar dari kamar. Candaan yang terdengar serius itu membuat Naiva semakin overthinking. Untuk meredakan otaknya, Naiva memutuskan untuk tidur.


.


.


.


Keesokan harinya, di sekolah.


"Naiva, kamu belum memilih ekstrakurikuler yang ingin kamu ikuti. " ucap guru dengan nada tegas.


"Akan segera saya pilih bu! "


"Cepat, jika tidak kamu akan kesulitan dengan rapotmu nanti. "


"Ba-baik.. "


*KRINGG!!

__ADS_1


Di jam istirahat, Naiva melihat daftar ekstrakurikuler yang ada. Sulit bagi Naiva untuk memutuskannya.


"Join klub ku aja, kerjaannya gampang kok. " ucap Lian.


"Klubmu itu kan ngurusin perpustakaan, aku gak mau. " tegas Naiva.


"Okey.. yang penting kita ke kantin dulu yuk, Liana sama Rena masih ke toilet, supaya gak kehabisan makanan. "


"Huh.. iya.. iya.. "


Dalam perjalanan menuju kantin, beberapa siswa nampak berlarian ke arah kantin.


"Hei! Top Three Klub lagi bertengkar nih!! " teriak seorang siswa yang berdiri di depan kantin.


Dan benar saja, terjadi kericuhan yang melibatkan ๐™๐™ค๐™ฅ ๐™๐™๐™ง๐™š๐™š ๐™†๐™ก๐™ช๐™— ๐™Ž๐™ˆ๐™‹ ๐˜ฝ๐™ž๐™ฃ๐™ฉ๐™–๐™ฃ๐™œ, ya.. kira-kira begitulah sebutannya. Meliputi tim basket, tim silat, dan tim atletik.


"(DIA JOIN?!!) " (ใ€‡oใ€‡๏ผ›)


"Danny itu ketua tim atletik. " ucap Lian


"Apa?! "


Lian berlari ke arah gerombolan itu.


"Uh? Woy Rez, tuh. " bisik Hendra sembari mengarahkan matanya kepada Lian.


"Uh? Lian..? "


"Lian bentar-! " teriak Naiva.


Naiva terlambat menghentikan Lian yang sudah terlanjur pergi menemui Reza. Lian pergi ke arah gerombolan itu, membuat Naiva ikut menyusul Lian.


"Rez, pergi yuk. " *senyum


"Tunggu bentar, aku masih ada urusan. "


"Aku mohon, ayo. "


"Hah.. yaudah. "


"Lo mau pergi gitu aja? Bucin amat~ " ejek Kenzo.


"Maaf ya Ken, bertengkar-nya lain kali aja~ " ucap Lian dengan nada polos.


"Hmph. Aku heran, cewek kayak kamu masih aja mau sama playboy kayak dia. Udah gitu nyapa-nyapa cowok lain lagi, suka ama cowok lain. Murahan banget! "


*BUG!!


/suara pukulan/


"Huh!! " Lian syok!


"Reza! "


Reza melontarkan pukulan yang membuat Kenzo tersungkur di lantai.


"Apaan? Cuma segini kemampuan anak silat? "


"Tch. "


Kenzo bangun dan membalas pukulan Reza. Reza menangkis pukulan dan menyerang balik. Pertengkaran mereka semakin heboh dengan anggota tim lain yang ikut-ikutan berkelahi.


"Reza!! "


"Lian, udah! " Naiva menarik tangan Lian agar tak ikut pergi ke arah gerombolan.


"HEI! HEI!! STOP!! " beberapa guru datang dan menghentikan berusaha perkelahian.


Pukulan Kenzo melesat ke wajah Reza yang membuat bibirnya berdarah. Reza tak tinggal diam dan membalas pukulan yang Kenzo berikan.


Sementara itu Danny dan tim atletik yang terlibat, terpaksa harus ikut-ikutan berkelahi karena desakan tim silat dan tim basket.


...****************...


Quotes :

__ADS_1


โ€œSapaan orang baik jangan dianggap remeh! " -Reza Wijaya


__ADS_2