Kasian Bersatu

Kasian Bersatu
#9. Poker face


__ADS_3

...****************...


[Rumah keluarga Girvalatya]


"Pak, apa bapak ingin membatalkan proyeknya? " ucap Pak Deddy sembari menyuguhkan kopi kepada pak Yuda.


"Huh.. para yakuza itu benar-benar membuat kewalahan. Pak Jaya juga tidak mau membicarakannya. " ucap pak Yuda yang sudah sangat pasrah dengan keadaan.


"Apa mungkin sekarang pak Jaya sudah tak menginginkan kerjasama dari kita lagi? "


"Kalau itu memang terjadi, aku akan menghabisi orang tua sialan itu! " alis pak Yuda mulai mengkerut, terlihat dendam diantara pak Yuda dan Pak Jaya.


Pak Jaya adalah CEO Grup Santhi yang berdiri di Bali, sekaligus kepala keluarga Wijaya saat ini.


"Ayah, ada telfon dari pak Jaya. " ucap Naiva.


"Kebetulan sekali, biar saya yang angkat. "


"Tidak, biar aku saja. " pak Yuda beranjak dari kursinya.


Naiva melihat ayahnya yang nampak sedang kesal.


"Ayah ada masalah? " tanya Naiva pada pak Deddy.


"Soal proyek dengan keluarga Wijaya, sepertinya pak Jaya Ingin membatalkannya. Tak ada respon dari keluarga Wijaya tentang proyek itu. " jelas pak Deddy.


Naiva ingin membantu ayahnya, tapi ia tau kalau tak ada yang bisa ia perbuat.


Tak lama, Lian mengirimkan beberapa foto dalam bentuk file kepada Naiva.


"๐˜“๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ..! " (โ—โ€ขแด—โ€ขโ—)


(Lian orang yang niat)


Naiva merasa bahagia saat mendapatkan foto-foto Danny. Naiva juga curhat kepada Lian tentang masalah pekerjaan ayahnya, Lian mengerti lantaran Reza juga menceritakan hal yang sama. Hal ini sangat janggal karena rumornya, yakuza turut serta dalam hal ini. Dan satu hal yang bisa dicurigai adalah ibu keluarga Yamaguchi Ayumi.


"๐™บ๐šŠ๐š๐šŠ ๐š๐šŽ๐šฃ๐šŠ ๐š”๐šŠ๐š”๐šŽ๐š” ๐™ณ๐š’๐šŠ๐š—๐šŠ ๐š’๐š๐šž ๐šข๐šŠ๐š”๐šž๐šฃ๐šŠ. "


Naiva tak percaya saat membaca pesan dari Lian. Tapi setelah Lian menjelaskannya, Naiva mulai merasa harus mempercayainya.


"๐˜’๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ณ.. " Naiva terdiam sejenak, duduk di sofa sembari mengetuk-ngetuk kepalanya.


"๐™บ๐šŠ๐š๐šŠ๐š—๐šข๐šŠ ๐™ณ๐š’๐šŠ๐š—๐šŠ ๐š™๐šŽ๐š›๐š๐š’ ๐š๐šŠ๐š›๐š’ ๐š›๐šž๐š–๐šŠ๐š‘. "


"HA?!! "


Entah kenapa gosip selalu menyebar dengan cepat.


Di rumah Diana, ia sibuk membereskan barang-barangnya. Memasukan baju dan semua barang yang ia punya ke dalam koper dan tas.


"hiks.. nona.. kenapa.. nona mau pergi..? " salah seorang pelayan yang sering mengurus Diana menghampiri Diana di kamarnya.


Diana tersenyum dan membalasnya..


"Bi Susi, lain kali aku akan mampir kok. Aku cuma mau papa bisa menikmati masa-masa bahagianya. Aku rasa wanita itu tak salah untuk papa. "


"Tapi nona, ini kan rumah nona! "


"Ini rumah papa, kalau kakak pulang kemungkinan ini jadi rumah kakak. Sejak awal aku memang tak mendapatkan apapun selain perhiasan mama dan pakaian mama. " ucap Diana sembari tersenyum.


"Nona.. hiks.. " Bibi Susi memeluk Diana dengan erat sembari menangis karena harus berpisah dengan Diana.

__ADS_1


Diana termenung dalam pikirannya, melihat bibi Susi yang menangis, serta mengingat seluruh kenangannya di kamar itu bersama ibunya dulu, rasanya sangat hangat.


(*sebelumnya..)


"Kamu, pindah aja ke Amerika. " ucap pak Handi yang sedang duduk di meja makan sembari membaca koran.


Diana syok! Meski begitu ia mengerti kenapa ini semua terjadi. Diana melirik ke arah tangga dan terlihat jelas bahwa bu Kinal berdiri di sana sembari tersenyum smirk.


(*sekarang..)


Diana akan pindah besok, karena itulah besok dia akan melepas jabatannya sebagai OSIS di sekolah.


"๐˜‰๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ, ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข. "


"Uh! "


Diana teringat akan sesuatu! Suara yang begitu lembut, membelai kepalanya, dan menghangatkan dirinya, itu adalah suara ibunya!


"๐˜‹๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข, ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต. ๐˜›๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ, ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ-๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. ๐˜๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต, ๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ณ ๐˜ง๐˜ข๐˜ค๐˜ฆ. " Kata-kata sang ibu yang selalu diingat oleh Diana sampai saat ini, dan biasanya pertahankan sampai saat ini.


.


.


.


Naiva tak menyangka kalau Diana akan keluar secepat ini, Reza datang ke rumah Diana untuk membicarakan hal ini. Meski begitu Diana tetap bersikeras ingin pergi ke Amerika dengan alasan pendidikan di sana lebih baik. Nada bicara Diana yang seolah-olah meyakinkan bahwa ia yang bersikeras ingin pergi ke Amerika, membuat Reza jengkel. Di malam itu juga, Reza pergi mencari Erik.


Satu hal yang membuat Reza yakin kalau Erik ada di Jakarta adalah, karena pembatalan proyek.


"๐˜š๐˜ช ๐˜‰*๐˜ซ*๐˜ฏ๐˜จ*๐˜ฏ! ๐˜‹๐˜ช๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ณ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ณ?! " batin Reza.


Reza berusaha menghubungi nomor lama Erik.


"Uh? "


Diana keluar dan menghampiri Reza.


"Percuma kakak mau nyari kak Erik. Kalau kak Erik pulang, papa bisa-. "


"Terus kamu mau rahasiain ini dari Erik?! Kamu mau dia tiba-tiba pulang ngeliat adiknya udah di Amerika? Gak! Seengaknya dia tau tentang keluarganya. "


"Kakak sendiri.. kenapa kakak gak mikirin keluarga kakak aja? " tanya Diana dengan nada ragu.


"Ha? "


"Kakak kan bakal jadi penerus Grup Santhi, kenapa kakak malah mentingin keluarga buangan sih? "


"Diana-. "


"Kak, tolong. Please, kali ini aja biarin aku yang ngurus keluarga aku. "


"Heh! Yang kayak gini kamu sebut keluarga? Keluarga apa?!! Kamu pikir dengan kamu bicara baik-baik orang-orang bakal ngerti maksud kamu? Enggak Diana! Kamu gak bisa terus kayak gini! "


"Tapi-. "


"Kamu tau dimana Erik sekarang? Enggak kan? kamu pikir keluarga kamu hancur cuma gara-gara kamu lahir? Kenyataannya ini semua karena Erik. Kalau Erik gak mukul temen-temennya mungkin semua ini gak bakal terjadi. "


Diana terdiam sesaat.


"Kalau gitu terserah kakak. Tapi aku akan tetap pergi ke Amerika. " tegas Diana.

__ADS_1


"Diana kamu jangan egois! "


"Kakak sendiri yang bilang, kalau keluarga aku itu menyedihkan! Kalau gitu biarin aku pergi kak! "


"Uh! "


"Aku mohon.. kakak jangan halangi aku lagi. "


Reza menahan amarahnya dan air matanya. Reza memeluk Diana dengan erat, mereka sudah seperti saudara kandung. Reza tak ingin Diana pergi.


Keputusan yang begitu mendadak memang membuat semua orang kaget.


Besoknya, acara pelepasan dilaksanakan. Meski banyak yang tak peduli, tapi acara ini harus tetap dilaksanakan.


Zacky menjabat tangan Diana dan mendekatkan dirinya ke telinga Diana.


"Hentikan poker face itu, menjijikkan tau. " bisik Zacky dengan nada mengancam.


"Sudahlah.. "


"Kau ingin terus memasangnya? Orang-orang Amerika gak akan menyukainya. "


Zacky sebelumnya pernah tinggal di Amerika, mendengar ucapan itu Diana tersenyum dan menjawab..


"Aku tidak lahir untuk disukai. " ucap Diana sembari tersenyum tipis.


Setelah semua anggota OSIS mengucapkan selamat, selanjutnya adalah pidato singkat dari Diana.


"Selamat pagi, yang saya hormati, para guru, anggota OSIS, teman-teman semuanya dan juga anggota staf sekolah. " sapa hangat dari Diana.


"Dia beneran mau pindah? " tanya Naiva.


"Mendadak ya? Kata Reza Diana egois, tapi aku yakin Diana gak mau ngerepotin siapapun lagi. " ucap Lian.


"Berdirinya saya disini, untuk menyampaikan beberapa hal. Pertama, saya ingin mengucapkan terimakasih bagi seluruh keluarga besar SMA Bintang Harapan, atas kehormatan dan bimbingannya selama saya bersekolah disini. Kedua, perilah perpindahan saya, saya ingin menegaskan bahwa hal ini tidak ada hubungannya dengan keluarga saya. "


"Uh! "


"Serius? "


"Jadi dia yang mau pindah, gitu?


"Serius ni? "


/bisik murid-murid/


"Ketiga.. saya ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya atas seluruh kesalahan yang pernah saya buat. Selama bersekolah disini saya sadar akan satu hal, bahwa mempertahankan adalah hal yang utama. Sebagai contoh mungkin mendapatkan ranking 1 adalah hal yang mudah, akan tetapi rintangan selanjutnya adalah mempertahankan. Begitu sulit rasanya mencoba mempertahankan orang-orang untuk selalu berada di sisi kita. Tapi percayalah, akan selalu ada seseorang yang berada di sisimu. Tak perlu banyak orang, cukup satu orang saja untuk membuat seseorang bahagia. Sekian dari saya, sekali lagi saya ucapkan terimakasih. " *bungkuk


Naiva menepuk tangannya, Lian tersenyum dan ikut menepuk tangan atas pidato Diana. Liana dan Rena, begitu pula geng Reza juga turut serta, dan tak lupa, sang ketua OSIS, Zacky Fedora.


*prok..! *prok..! *prok..!


/suara tepuk tangan/


Perlahan semua orang mulai menepuk tangan untuk pidato Diana.


"Aku jadi ingat pidato pertamanya saat ingin menjabat. " ucap Lian.


Naiva mengarahkan pandangannya pada Lian, dan berfikir bahwa pidato pertama Diana pasti sangat luar biasa.


...****************...

__ADS_1


Qoutes :


โ€œJangan menjadi badut dengan membahagiakan orang lain! " -Reza Wijaya


__ADS_2