Kasian Bersatu

Kasian Bersatu
#6. Bunga yang hancur


__ADS_3

...****************...


Setelah istirahat murid-murid kembali ke kelas masing-masing untuk melanjutkan pelajaran. Sementara itu, Anak-anak OSIS sibuk dengan rapat mereka tentang perlombaan yang akan diadakan.


[Ruang OSIS]


*cklek.


/pintu terbuka/


"Dasar anak-anak itu, padahal sudah diberi kemudahan tapi malah protes. "


{Desi Mutia - Sekretaris satu (2 - E)}


"Wajar lah, kalau tidak sesuai dengan ekspektasi mereka. Tapi ya~ yang namanya keputusan ya keputusan, kan? Ketua OSIS~ "


{Yoga Aditya - Sekretaris dua (2 - F)}


"Berisik kalian. Lagian keputusan ini berdasarkan hasil voting anak-anak itu. Jika aku tak menurutinya mungkin saja sekolah ini sudah lama hancur. "


[Zacky Fedora - Ketua OSIS (2 - J)}


"Ketua~ tidak baik terlalu menurut pada mereka. Mereka hanya memanfaatkan dirimu. "


{Ribby Septian - Wakil Ketua OSIS (2 - B)}


"Cerewet! Kalian tak pernah berhadapan langsung dengan mereka, mana tau tentang hal ini. Mereka sangat menyeramkan, kalau menolak sedikit nyawaku jadi taruhannya! " bentak Zacky.


"Kalau begitu serahkan pada Diana saja. Masa iya dia tak bisa membujuk kakaknya. "


{Yunda Mulyani - Bendahara dua (2 - I)}


"Rasanya mustahil, memangnya apa yang bisa dilakukan oleh anak itu? " ucap Zacky.


"Hei.. hei~ dia juga bagian dari keluarga Wijaya tau. Kalau bisa berteman dengannya, mengurus orang-orang dari keluarga Wijaya juga bakal mudah, kan? " ucap Ribby.


Tanpa mereka sadari, Diana sudah mendengar semuanya dari luar. Diana yang awalnya ingin masuk ke ruangan memutuskan untuk kembali ke kelasnya.


Sama seperti bunga yang tumbuh di lingkungan buruk, harus bertahan hidup sendirian tanpa bantuan orang lain, beberapa orang menganggap bahwa bunga itu spesial. Tapi disisi lain, melihat latar belakang bunga itu membuat orang-orang menjauhinya.


*notif pesan


"๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ ๐˜ด๐˜ข๐˜ข๐˜ต ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ?! "


"๐˜‹๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ณ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ! ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ด?!! "


Diana terdiam di toilet, melihat seluruh pesan yang ia abaikan dari kedua orang tuanya.


"๐˜“๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข.. ๐˜ซ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ด๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜“๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ค๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ. "


Dalam pikiran Diana, hujan turun setiap harinya. Membasahi dirinya dengan cacian dan makian. Setiap kali Diana berusaha untuk bangkit selalu ada yang berusaha menjatuhkannya.


Beberapa orang yang menyukai Diana juga mulai menganggapnya biasa saja. Hal ini tak lain karena gosip yang disebarkan dari mulut ke mulut.


Disaat ia terpuruk dengan seluruh tekanan, Diana hanya bisa mengeluarkan ekspresi datarnya.


[Toilet Perempuan]


"Hei, kau dengar soal Diana? "


"Amel bilang dia orang yang tak berperasaan. Jadi selama ini dia cuma pura-pura baik? "


"Lagian, kalian dengar soal kakaknya yang katanya berandalan itu kan? Aku tak pernah melihat kakaknya. "


"Mungkin saja dia sudah dibuang. Memang paling benar yang mendapatkan harta lebih banyak itu kak Reza. "


Diana termenung, mendengar seluruh gosip yang ia dengar.


"๐˜‹๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ต๐˜ข๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฐ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข..? "


.


.


.

__ADS_1


[2 - A]


"Hei, sudah dengar tentang Diana belum? " ucap Rena.


"Diana? "


Liana mendekatkan dirinya. Tak lama pintu kelas terbuka dan-.


"HAI SEMUA! "


"LIAN?!! "


*PLAK!


/suara pukulan/


"Aduh.. " (เฅ‚หƒฬฃฬฃฬฃฬฃฬฃฬฃ๏ธฟห‚ฬฃฬฃฬฃฬฃฬฃฬฃ เฅ‚)


"G*bl*k! Lo gak masuk 3 hari masih bisa senyam-senyum gini?!! "


"Daripada aku nangis. "


"Ck."


....


"Ngomong-ngomong katanya kamu tinggal di rumah Reza, kenapa? " tanya Naiva.


"Papa sama mama lagi sibuk di luar kota. Aku di titip di rumahnya Reza. "


"Yang bener aja.. " ๅ‡ธๅ‡ธ


Dengan kembalinya Lian ke sekolah, menambah keceriaan di wajah mereka. Mereka berempat kembali bersama.


.


.


.


"Iya, kata Liana dan Rena sekarang tak ada yang memperdulikannya lagi di sekolah. " ucap Naiva.


Naiva dan Lian duduk berdua di kursi yang ada di halaman sekolah. Mereka membicarakan tentang anak OSIS bernama Diana.


"Aku pernah dengar dari mamanya Reza, kalau Diana itu dipaksa untuk jadi manusia. "


"Ha? "


"Dibandingin kakaknya Diana yang udah terkenal sebagai aib keluarga Wijaya. Berbeda dengan Diana yang dulu, ia yang sekarang lebih dikucilkan lagi. Tapi Diana itu sangat baik, bahkan di tengah-tengah pengucilan-nya, ia tetap membantu orang lain. Ah~ benar-benar gadis yang hebat. "


"Aku gak habis pikir ada cewek kayak dia. Hei, kira-kira kalau kita ajak dia mau gak temenan sama kita? "


"Mustahil."


"Ha?!! mustahil?! "


"Orang tuanya itu galak tau, apalagi ibu tirinya. "


"I-ibu tiri?! "


"Iya, ibu kandung Diana sudah lama meninggal. Oh, ibunya yang sekarang orang Indonesia kok, makanya galaknya minta ampun. "


"Jangan bercanda. " ๐Ÿ’ข


"Aku serius. " ๅ‡ธ


"Terus soal kakaknya dia? "


"Itu sih kurang tau. Ada yang bilang kakaknya pindah kewarganegaraan, ada juga yang bilang kalau kakaknya ada di klub malam. "


"Kakaknya itu cewek?! "


"Cowok. "


"Oh.. "

__ADS_1


"Naiva pasti kasihan dengannya bukan? Aku juga merasa kasihan dengannya. Hanya saja Diana bukan tipe orang yang mudah bergaul, keadaan-lah yang memaksanya untuk seperti sekarang ini. "


Naiva ingin mengetahui lebih banyak tentang sosok Diana. Karena bagi Naiva ini tidak adil! Hanya karena gosip seseorang bisa mudah dikucilkan, Naiva membenci hal itu. Untuk itu Naiva memutuskan untuk menemui Diana di kelasnya, keesokan harinya, sendirian.


.


.


.


[2 - C]


"๐˜๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ, ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ-๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด๐˜ต๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฅ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ด-๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ด๐˜ช. "


Naiva berdiri di depan kelas Diana, dari jendela Naiva melihat Diana yang sedang duduk di bangku pojok depan sembari membaca buku. Naiva mengatur napas dan mengetuk pintu, kemudian masuk ke kelas.


*tok *tok *tok


/ketukan pintu/


"Permisi.. "


"Hm? " Diana menoleh ke arah Naiva.


"Apa kita bisa bicara.. Diana? "


Sebenarnya Naiva tak bermaksud untuk ikut campur urusan keluarga Wijaya. Saat Naiva di rumah kemarin, ia tak sengaja mendengar ayahnya berbicara lewat telpon.


Dalam pembicaraan ayahnya terselip kerjasama antara keluarganya, Girvalatya dan keluarga Wijaya. Tapi kerjasama ini terpaksa ditunda karena wilayah yang ingin mereka bangun adalah milik sekelompok gangster, dan salah satu gangster di sana adalah anggota keluarga Wijaya.


"Apa yang ingin kamu bicarakan? " tanya Diana.


"Begini.. apa-. A.. pa.. " nada bicara Naiva mulai gugup.


"Oh ya, kamu Naiva bukan? Anak pindahan waktu ini. Aku sering mendengar tentangmu tapi hampir tak pernah bertemu. " ucap Diana dengan senyuman.


Sapaan hangat dari Diana membuat Naiva semakin ragu untuk mempertanyakan masalah keluarganya. Naiva akhirnya memutuskan untuk mengalihkan topik.


"Apa kita bisa berteman? " ucap Naiva dengan nada panik.


"Teman? Tentu saja. " *senyum


"Makasih.. "


Tangan Naiva gemetar dan berkeringat saat hendak menjabat tangan Diana, sepertinya Diana tak mempermasalahkan hal itu. Tapi jauh dalam lubuk hati Naiva, ia masih merasa bersalah harus meragukan orang sebaik Diana.


"๐˜‹๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ด๐˜ฐ๐˜ง๐˜ต ๐˜จ๐˜ช๐˜ณ๐˜ญ. " batin Naiva sembari berusaha memalingkan pandangannya.


Pada akhirnya, Naiva kembali ke kelasnya dan berharap kalau dirinya tak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi.


"๐˜‘๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ, ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜‹๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ? ๐˜‘๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜บ๐˜ข. ๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ-๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฏ. " (เฅ‚หƒฬฃฬฃฬฃฬฃฬฃฬฃ๏ธฟห‚ฬฃฬฃฬฃฬฃฬฃฬฃ เฅ‚)


Naiva duduk di kursinya dengan ekspresi penuh kekecewaan pada diri sendiri.


"Naiva kenapa? " tanya Liana


"Gatau. " saut Rena


"Paling salting sama kak Danny. " ucap Lian yang sedang bermain game dengan Rena.


Sontak setelah mendengar nama "Danny" Naiva langsung beranjak dari kursinya dan menghampiri Lian di pojokan.


*BRAG!


/memukul meja/


"Anjing copot! " (*Lian_-)


"Maksud kamu siapa?! " tanya Naiva sembari mendekatkan wajahnya pada Lian.


...****************...


Quotes :


โ€œPoker face hanya sebuah jalan untuk balas dendam. Kenapa ada gadis yang menggunakannya seperti dirimu?!โ€ -Zacky Fedora

__ADS_1


__ADS_2