KAU YANG DIPERUNTUKKAN BERSAMAKU

KAU YANG DIPERUNTUKKAN BERSAMAKU
jawaban


__ADS_3

Hasan ingin menjawab pertanyaan Kei. Semoga Kei mengerti dengan penjelasan Hasan.


"Kei Tuhan ku Allah subhanahu wa ta'ala yang maha pengasih lagi maha penyayang bersemayam di atas Arsy dan-"


"Tunggu!"


"Ya?" Sejujurnya Hasan tidak suka jika sedang berbicara terutama sedang menjelaskan dipotong.


"Di atas itu di mana dan aku tidak tahu apa itu Arsy dan bersemayam itu maksudnya duduk bukan?"


"Di atas itu di langit dan aku tidak mengetahui apa yang dimaksud Arsy Allahu a'lam. Namun, apa yang sudah di terangkan oleh Al-Qur'an kita harus menerimanya tidak perlu menanyakannya karena itu akan menjadi suatu perdebatan dan apa yang kita bicarakan tentang sifat Allah subhanahu wa ta'ala kita jangan menambahkannya dari pikiran sendiri. Itu akan mudah bagi kita untuk terperangkap dalam perangkap yang telah kita buat. Dan aku hanya ingin mengikuti apa yang dikatakan dalam Al-Qur'an karena itu lebih selamat."


"Oh itu mengapa ketika kalian berdoa telapak tangan kalian ke atas? Karena Tuhan kalian di atas? Ooh aku mengerti dan jika dia berada di langit seharusnya dia tahu bukan bahwa kalian berada dalam kesulitan. Kenapa tidak menolongnya?"


"Aku ingin menjelaskan tapi aku minta tolong untuk tidak di potong." Hasan bersikap ramah seperti biasanya, dia harus mencontohkan sikap seorang muslim yang telah dia pelajari. Tidak boleh ada pemaksaan dan harus selalu bersikap lembut.


"Baiklah." Kei suka saat ada berbicara dengannya dengan penuh kesopanan dengan tulus selama ini mereka yang bersikap sopan karena statusnya yang sebagai ketua Yakuza yang paling di seganin dan takuti.


"Allah subhanahu wa ta'ala maha mendengar dan maha melihat. Tapi tidak sama dengan kita karena tidak ada satupun yang serupa dengannya. Dan allah subhanahu wa ta'ala lebih mengetahui apa yang terjadi kepadaku. Dan aku percaya bahwa Allah subhanahu wa ta'ala pasti menolongku." Memberi jeda sebentar karena Hasan melihat Kei yang hendak berbicara.


"Tapi kenyataannya akulah yang menolongmu." Kei membanggakan dirinya.


"Kau menolongku karena-" Sedikit menggoda pada ketua Yakuza ini.


"Ya ku akui karena Hani." Jujur Kei


"Aku tidak mengerti kenapa nee-chan ku bisa ikut campur dalam masalah Yakuza. Menurut mu apakah dia perempuan yang jahat?"


"Tentu tidak! Aku menolongnya karena dia perempuan yang unik yang pernah aku temui. Kebaikannya yang tulus dan ikhlas dalam menjalankan semua perintah dari Tuhannya. Padahal banyak muslim tapi belum ku temui seperti Hani mungkin karena Agamamu yang terlalu mengekang kaum perempuan."


Mengekang? Hasan sungguh tidak suka mendengarnya.


"Walau aku tahu perintah itu untuk kebaikannya sendiri." Lanjut Kei.


"Nah aku yakin semua masalah yang terjadi pada kami saat ini pasti ada hikmahnya. Dan pertemuan kalian dan cara berpikirmu pada nee-chan ku semoga ada jawabannya. Percaya pada ketetapan Allah subhanahu wa ta'ala akan berbuah manis dan untuk masalah ini aku sangat kesulitan untuk meminta tolong kepada pihak polisi tapi aku di permudahkan dengan adanya kau, dan ini bukan karena kau tapi jalan yang sudah di tetapkan oleh Allah. Dan aku yakin walau aku menolak untuk kau tolong pasti kau akan tetap menolongnya." Hasan tersenyum tapi kali ini senyumnya memiliki makna lain.


"Seandainya kalian tidak bertemu mungkinkah hal ini terjadi?" Lanjut Hasan dengan pertanyaannya.


Hidayah hanya milik Allah dan manusia hanya sebagai perantaranya saja. Seperti halnya Kei saat ini, secara tidak sadar dia sudah di berikan Hidayah hanya saja dia harus bisa membuka mata dan hatinya lebar-lebar agar bisa menerimanya.


"Aku menger-"


Drrrt


"Sebentar." Ujar Kei pada Hasan dengan mengangkat teleponnya.


"Ya Rusel?"


"Aku ingin di pindahkan tempat pertemuan kita."


"Kenapa? Bukankah itu tempat yang kau tentukan."


"Aku tidak mau tempat yang terpasang bom menjadi tempat pertukaran adikku."


"Bom?"


"Haha lucu jika kau pura-pura tidak tahu"


"Tapi-"


Tuut


Tut


Tuut


"Kuso!" Umpat Kei saat sambungan telepon itu terputus.


"Ada apa?" Tanya Hasan.


Bukannya menjawab, Kei malah berlari keluar tidak peduli barang-barang yang dia tabrak. Saat sudah sampai di tempat aula dia tidak melihat siapa pun, setidaknya ada satu orang. Kemana mereka?


Mengambil pistol yang ada di saku jasnya. Dan-


Prannk


Semua barang yang ada di bidikan Kei hancur. Bahkan vas bunga yang seharga harga ginjal pun hancur.


"Dimana kalian, bren*s*k"


Tidak ada sahutan, Kei membidik lampu besar yang ada di atas.


"Apakah kau tidak bisa mencarinya? Daripada membuat kekacauan"


Kei menengok ke belakang dan melihat Hasan yang sedang memegang lututnya dengan nafas tersengal-sengal.


"Tidak!" Bentak Kei yang sudah tersulut emosi.


"Hei gila! Kau punya kaki kenapa kau hanya berlari sampai aula? Larilah keliling rumah jika kau tidak mau maka jual rumah ini dan beli rumah yang lebih kecil."


Kali ini Megumi yang angkat bicara, dia dengan lidahnya sudah biasa berbicara pedas kepada sang kakak.


"Berisik!"


Door


Hasan menengok ke belakang tepat pada anak tangga yang terdapat Megumi yang sedang memegang lengan kanannya dengan raut wajah kesakitan.


"Sshht ka-kau?" Megumi jatuh terduduk. Hasan segera berlari ke sana.


"Berhenti" teriak Kei.

__ADS_1


Hasan pun menghentikan larinya, dan berteriak balik pada Kei.


"Dia adikmu! Kenapa kau melukainya?"


"Bukan kau yang berhenti" ujar Kei kalem, dia berjalan menghampiri Megumi.


"Tapi-" Kei mengelus rambut pirang adiknya itu sama seperti miliknya. "Kau adikku, berhentilah drama"


"Aaaw" Kei menjewer telinga adiknya itu. "Di mana mereka?" Tanya Kei pada adiknya, dia yakin Megumi pasti tahu.


"Lepaskan dulu" Megumi menepis kasar tangan kakaknya. "Mereka di lapangan sedang dihukum jii-san"


"Jii-san ada di sini?"


Megumi malas berkata berulang kali, dia pun berjalan menghampiri Hasan.


"Hasan, Takashi juga dihukum"


"Kenapa dihukum? Memangnya dia melakukan apa?" Tanyanya.


Megumi hanya melihat kakaknya itu, dia bingung harus menjelaskannya seperti apa. Karena dia sendiri tidak tahu masalah para Yakuza ini, ia hanya menikmati uang yang diberikan kakaknya itu.


"Ikut aku" ujar Kei sambil berjalan cepat ke lapangan.


Saat di lapangan, dia melihat anak buahnya sedang tiduran di atas aspal tanpa pakaian atas. Dan lebih parahnya yaitu Takashi yang sudah terikat dengan baju koyak yang terdapat darah. Dicambuk kah?


Kei melihat sekeliling mencari pamannya itu. Dengan suaranya yang keras sambil mengoceh tentang Takashi dia langsung tahu di mana pamannya itu. Dia sedang duduk di kursi taman sambil menikmati jus jeruknya.


"Jii-san" teriak Megumi sambil berlari ke pamannya.


"Kenapa kau lama sekali di dalam? Jii-san hampir saja bosan hanya melihat mereka"


"Hehe gomen, tadi aku di dalam bertemu nii-san jadi yaa biasa pertengkaran saudara"


"Kei kemarilah" teriak pamannya itu sambil mengangkat jusnya.


Bukannya menghampiri sang paman dia memilih ke Takashi. Dibantu dengan Hasan dia melepas ikatan Takashi.


"Bawalah dia masuk" perintah Kei pada Hasan.


.


.


.


.


.


"Apakah perempuan itu sudah sadar?" Tanya Rusel pada Agnes yang kebetulan lewat di depan kamar mereka.


"Sholat? Maksudmu sembahyang?"


"Iya"


"Jika sudah selesai persiapkan diri kalian kita akan segera berangkat"


"California?" Tanya Agnes memastikan.


"Tidak! Kita akan ke Hokaido"


"Lho? Masih di Jepang?" Ujar Agnes kecewa.


"Apa kau  pikir ini untuk berlibur?"


"Hmm ti-tidak, Ano maksud ku i-itu" Agnes gugup ingin bicara apa, karena sebenarnya dia ingin sekali satu kali saja naik pesawat. Ke Hokaido naik kereta juga cepat.


"Sudahlah kau siapkan saja diri, perlengkapan kalian sudah disiapkan oleh maid"


Rusel melanjutkan jalannya. Dia ingin segera di adakan rapat dengan anak buahnya, dia hanya berniat untuk menukarkan adiknya itu tanpa niat apapun. Tapi pria licik itu beraninya menaruh bom, bagaimana jika adiknya terjebak di sana.


' assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh' 


Hani selesai dengan sholatnya, sedangkan Agnes yang berada di belakangnya hanya melihat Hani yang sedang berdoa.


"Apa yang kau doakan" tanya Agnes sambil melipat selimut di kasur.


"Ini rahasia di antara kami"


"Kami?"


"Aku dan Rabb ku" ujar Hani dengan senyumnya. "Biarkan aku bantu." kata Hani yang melihat Agnes sedang membersihkan kain di lantai. "Kau masih membuatnya?" Tanya Hani yang melihat jilbab yang pas dengan dirinya. "Maaf aku merepotkan."


"Kau ini bicara apa? Aku juga tidak ada kegiatan tau dan yang seharusnya minta maaf itu aku." kata Agnes kesal pada dirinya sendiri, jika dia sudah bebas dari Rusel dia berjanji akan menghabisi kakaknya yang telah berani menjadikan dirinya sebagai pembayaran hutangnya.


Hani yang melihat Agnes kesal pada dirinya sendiri menjadi tidak enak, karena dia tahu pasti ada masalah yang dihadapi Agnes yang membuat dia melakukan hal ini.


"Kapan kita berangkat?" Tanya Hani yang sudah selesai membereskan kain di lantai.


"Mungkin sore nanti."


Krrrrtt


Suara deritan pintu mengundang mata Agnes dan Hani. Melihat sang pelaku yang ternyata orang itu tidak asing lagi bagi mereka. Dan Agnes mendengus kesal melihat Rusel yang main asal masuk saja. Bahkan dia melempar tas yang terlihat besar pada Hani. Hani yang tidak siap dengan lemparan itu hampir saja jatuh.


"Cepat, kita harus berangkat." Ujar Rusel acuh dengan melangkahkan kakinya keluar kamar.


"Kau lihat pria itu? Dia tidak memiliki etika sama sekali." Gerutu Agnes.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


"Ada apa ji-san kemari?" Tanya Kei saat sudah di depan pamannya.


"Yamato suruh mereka masuk." Perintah Kei pada Yamato yang berdiri di samping pamannya. Anak buahnya pun mengikuti Yamato untuk masuk ke dalam mansion.


"Aku ingin membenarkan jalan yang seharusnya bagi Yakuza." Sang paman dengan santai menyesap jusnya. Sedangkan Megumi sedang asik bermain gedegetnya, meng-upload beberapa foto dirinya bersama sang paman yang baru saja dia ambil.


"Ji-san lihat langsung ada yang komentar, mereka penasaran sama wajah ji-san." Megumi merenggut kesal karena setiap dia foto bersama kakaknya maupun pamannya pasti di suruh dipotong bagian kepalanya atau tidak kasih sticker.


"Oh ya?" Respon pamannya yang ikut melihat beberapa komentar bersama Megumi.


"Megumi kau ikut masuk ke dalam." Perintah sang kakak yang tentu saja langsung dituruti.


Segala perintah kakaknya selalu ia lakukan karena itu pesan sang ibu tercintanya. Tapi terkadang dirinya juga pernah membangkang pada kakaknya dan jika ada keributan pasti kakaknya akan mendiamkan dirinya bahkan pernah sampai 3 bulan. Dan selama itu kartu kreditnya di blokir, hidup tanpa kakaknya dia bisa tenang tapi tanpa kartu kredit? Ingin rasanya ia mengambil salah satu aset rumah kakaknya lalu di jual.


"Megumi menurut seperti biasanya ya? Di usia 21 tahun bahkan dia sudah menyelesaikan sarjana kedokterannya. Tapi sayang dia tidak pernah ingin jadi dokter, apa kau yang menyuruhnya untuk ambil jurusan itu?"


"Sepertinya bukan itu yang harus kita bahas ji-san." Kei mengepalkan tangannya kuat-kuat, bahkan rahangnya sudah mengeras. Dia kesal lagi-lagi pamannya ini ikut campur dalam masalah keluarganya. Apa dia tidak puas dengan harta yang telah ia beri, sebuah villa di Roma dan juga pulau mini di Netherlands.


"Daripada kau mengurusi jalang itu lebih baik kau urusi adikmu."


"Brengsek." Sudah tidak perlu batasan keluarga lagi, mulut pria ini perlu dirobek. Kei terus memukul pamannya membabi buta dia tahu siapa yang di maksud jalang.


Aneh sangat aneh saat Kei tidak merasakan adanya perlawanan dari pamannya itu. Kei menghentikan pukulannya dan mengelap telapak tangannya yang terdapat darah pada jas hitamnya.


Dilihat pamannya hanya tertawa lalu mengelap hidungnya yang terdapat darah dengan sapu tangannya yang selalu ia bawa dalam kantung jasnya.


"Hah Kei kenapa kau memukul ku? Wah keponakan ku ini semakin kuat ya." Kei hanya diam tidak ingin menyahuti pertanyaan pamannya itu, bukankah itu sudah jelas jika dirinya tidak suka jika Hani di sebut dengan sebutan perempuan kotor.


"Kau sepertinya tidak suka jika aku menyebutnya sebagai jal~ baiklah-baiklah aku tidak akan menyebutnya seperti itu." Mendapat tatapan membunuh dari keponakannya itu membuat nyali dirinya menciut. Tapi walau bagaimanapun dirinya tidak boleh terlihat lemah.


"Aku akan memanggilnya Hani sebagai kelompok pembunuhan berantai. Mengatas namakan surga dengan pembunuhan itu, ibumu mati karena kelompok ******* itu."


Kei menatap tidak percaya pada pamannya. Ia tahu pamannya itu suka menghasut seseorang.


"Itu hanya kecelakaan." Dirinya sangat tahu bahwa kemata ibunya itu karena kecelakaan.


"Kecelakaan? Setahu ku kecelakaan itu karena tidak sengaja. Tapi pengeboman itu di rencanakan bahkan itu perintah dalam agamanya. Bukankah kau percaya jika jalang itu selalu mematuhi perintah Tuhan-Nya?"


Kali ini pamannya tersenyum licik saat tidak ada respon sama sekali saat dia memanggil perempuan itu dengan sebutan kotor.


"Sumimasen" ujar seseorang dengan membawa ponselnya pada Kei. Dan raut takut-takut dia berbicara gugup pada ketuanya itu. "Kiyoshi-sama Rusel menelepon tentang pertukaran Ayako-san dengan Han-"


"Matikan." perintah Kei dengan raut datarnya. "Jangan pernah menerima telepon itu lagi."


TBC


.


.


.


.


.


.


.


(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.


Asy-Syura Ayat 11 


Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy. Tidak ada bagi kamu selain dari pada-Nya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa'at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?


As-Sajdah Ayat 4


dalil dari hadits Mu’awiyah bin Al Hakam As Sulamiy dengan lafazh dari Muslim,


“Saya memiliki seorang budak yang biasa mengembalakan kambingku sebelum di daerah antara Uhud dan Al Jawaniyyah (daerah di dekat Uhud, utara Madinah, pen). Lalu pada suatu hari dia berbuat suatu kesalahan, dia pergi membawa seekor kambing. Saya adalah manusia, yang tentu juga bisa timbul marah. Lantas aku menamparnya, lalu mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan perkara ini masih mengkhawatirkanku. Aku lantas berbicara pada beliau, “Wahai Rasulullah, apakah aku harus membebaskan budakku ini?” “Bawa dia padaku,” beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berujar. Kemudian aku segera membawanya menghadap beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya pada budakku ini,


أَيْنَ اللَّهُ


“Di mana Allah?”


Dia menjawab,


فِى السَّمَاءِ


“Di atas langit.”


Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi, “Siapa saya?” Budakku menjawab, “Engkau adalah Rasulullah.” Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ


“Merdekakanlah dia karena dia adalah seorang mukmin.”


Adz Dzahabi mengatakan, “Inilah pendapat kami bahwa siapa saja yang ditanyakan di mana Allah, maka akan dibayangkan dengan fitrohnya bahwa Allah di atas langit.


Terimakasih atas waktu kaliaaan

__ADS_1


__ADS_2